Season 1:
Dena, gadis yang baru saja menginjak bangku sekolah menengah atas. Ia harus pasrah saat sang Papa mengirimnya ke perkampungan? ya, tepatnya kampung sang Kakek. Di sana ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang terkenal di desanya. Terkenal bukan karena sifatnya yang kalem tapi nakal.
Diselingi kisah sang papa yang statusnya sebagai duda dipertemukan dengan seorang wanita yang juga sebagai karyawan di kantornya. Tidak disangka, putrinya lebih dahulu mengenal wanita itu. Dimulai dari perdebatan hingga berujung percintaan. Wira, sebagai papa Dena harus berjuang mendapatkan restu dari calon mertuanya. Statusnya sebagai duda yang menjadi permasalahan. Duda anak satu sedangkan sang wanita masih berstatus lajang.
Bagaimanakah Dena merajut kisah asmaranya dengan seorang pemuda dari kampung kakeknya?
𝗦𝗲𝗮𝘀𝗼𝗻 𝟮: (𝗠𝘆 𝗙𝗶𝗲𝗿𝗰𝗲 𝗕𝗼𝘀𝘀)
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Lo boong, Rel?!"
"Bukan gitu maksud gue." kilah Fairel mencoba mencari alasan.
"Terus gimana?"
"Y-ya. Gak gimana-gimana, gue gak mau ketinggalan mapel aja di sekolah. Udah kelas 12, gak boleh banyak bertingkah kata guru." sangkalnya yang memberi alasan cukup masuk akal.
"Tapi gak gitu juga kali, Rel. Kesehatan musti diutamain. Emangnya lo mau sakit-sakitan terus?" Fairel menggelengkan kepalanya lemah.
"Nah itu tau. Kalo sakit jangan dipaksain."
"Iya." jawabnya pasrah karena Dena mengomeli dirinya seperti seorang ibu. Fairel rindu itu, rindu sentuhan surganya.
"Sekarang gimana? Udah mendingan atau panasnya malah naik?" tanya Dena perhatian.
"Udah mendingan kok. Soalnya obatnya udah nemu."
"Obat?" beo Dena mengernyitkan dahinya. Keasyikan mengobrol sampai-sampai ia lupa memakan makanannya yang ia simpan di atas meja belajar tadi.
"Iya, lo obatnya, Na. Mungkin gue sakit karna kangen elo."
Dena membelalakkan bola matanya sempurna. Sungguh! Gadis itu seraya jantungan dibuatnya. Sampai-sampai lidahnya kelu, sulit untuk mengucapkan kata-kata.
Tangannya gemeteran sambil menahan nafas, wajahnya tentu jangan ditanya lagi seperti apa. Mungkin sudah berubah menjadi warna hijau.
Beruntung tadi Dicky dan Rafael sempat melipir memberi ruang untuk mereka berdua jadi tidak membuat Dena bertambah malu dibuatnya.
Gadis itu tertawa garing sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Hahahaa... apaan sih, Rel?! Kasihin aja lah handphonenya ke Dewi." ujarnya dengan nada meminta.
"No! Enggak! Temenin gue dulu sampe merem."
Whattt!!! Sampe merem??!! Gila kali lah ini Fairel. Umpatnya menggelengkan kepala.
"S-sam-pe me-rem...???"
"Iya. Kenapa?" jawabnya dengan begitu santai.
"Y-ya udah, merem aja sekarang." pinta Dena dengan nada bergetar.
"Gak ngantuk. Soalnya dari tadi udah tidur."
"Tidur, Rel! Biar cepet sembuh."
"Ada syaratnya... " ujar Fairel tersenyum di balik bibirnya yang pucat. Matanya sayu, tidak ada wajahnya yang dingin. Entah kena angin apa hingga Fairel berani berbuat seperti itu.
"Apa?" kepo Dena.
"Nyanyiin."
"Apa!!! G-gue gak bisa nyanyi, Rel." cerca gadis itu yang sudah pasti menolak.
"Tuh kan!" Fairel menelentangkan ponselnya hingga yang terlihat saat ini hanya langit-langit kamarnya. Jelas Dena bingung dibuatnya. Apakah secepat itu ia tidur?
"Rel, lo---udah tidur?" tanya gadis itu gegana. Nasib dirinya kalau sampai ditinggal tidur.
"Hmmm..." pemuda itu hanya bergumam tidak jelas.
"Udah tidur ya? Gue matiin deh."
"Jangan!" larang Fairel.
"Kirain udah tidur."
"Belum."
"Yaudahh... tidur aja dulu. Panggilannya aku matiin."
Tuttt
Panggilan terputus sepihak. Dena memegang dadanya yang terasa bergetar, jantungnya berdebar. Gadis itu senyum-senyum tidak jelas. Ia baru ingat, makan siangnya masih teronggok di atas meja. Mungkin sudah dingin tapi masih bisa dimakan kok. Gadis itu kembali mendudukkan dirinya ke atas kursi lalu melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda.
Bukannya tidak tahu menyanyi, namun Dena terlalu malu untuk melakukannya. Belum lagi itu nyanyi di depan cowok loh. Kalau di depan Papanya sih nggak malu ya, yang ada malah malu-maluin.
.
.
.
Malam hari menyambut, saat ini Dena tengah mengerjakan pr karena besok harus dikumpulkan. Sedikit malas memang tapi apalah daya.
"Tok... tok... tok..."
Suara pintu diketuk, dengan rasa malas dan sedikit tidak rela karena tinggal sedikit lagi tugasnya, Dena bangkit untuk membukakan pintu.
"Kenapa, Pa?" tanya Dena melihat wajah rupawan sang Papa yang kini menyambangi kamarnya.
"Kamu gak turun, Sayang?" tanya Wira, tumben-tumbenan sehabis makan malam putrinya malah kembali ke kamar. Biasanya mereka mengobrol di ruang tengah sembari menonton televisi.
"Nanti aja, Pa. Dena lagi ngerjain tugas, tinggal dikit lagi kok." jelasnya membuat Wira menganggukkan kepalanya paham.
"Yaudah, kalau gitu kamu kerjain aja tugasnya dulu. Kalau udah selesai langsung istirahat." balas Wira mengusap pucuk kepala Dena.
Dena mengangguk. Namun, nyatanya setelah merampungkan tugas-tugasnya, Dena malah turun ke bawah menemui Papanya yang kini duduk sendirian sambil menonton televisi.
Dena langsung mengambil duduk di samping Papanya dan ikut melihat layar televisi.
"Kok turun? Kan udah Papa bilang tadi langsung istirahat aja selesai ngerjain pr."
"Udah selesai, Pa. Lagian dikit juga pr-nya. Dena mau nemenin Papa di sini."
"Huummm... ada cerita apa hari ini?" tanya Wira yang seperti biasanya menanyakan aktivitas yang dilakukan putrinya saat berada di sekolah.
Dena teringat satu kejadian yang membuatnya tidak bisa berhenti tertawa. "Oh ya. Tadi pas istirahat kan Dena langsung ke kantin ya." gadis itu menjeda lalu melanjutkan saat Papanya memberi kode.
"Trus tuh, Papa tau Kingafiqq kan?" Wira menganggukkan kepalanya.
"Trus tuh kan Dena lagi duduk sama dia sambil nunggu makanan datang. Nah, ada tuh kakak kelas nyamperin Dena, udah gitu nempel-nempel sama Kingafiqq."
"Kamu cemburu?" tebak Wira memotong.
"Ih! Enggak lah. Dena belum selesai cerita loh ini. Papa udah main motong aja."
"Iya, maaf. Yaudah lanjut."
"Trus Dena dikacangin loh, Pa, ama mereka. Udah gitu main nyuruh Dena pergi padahal Dena belum abisin makanan. Trus Dena cepet-cepet tuh abisin makanan."
"Pas udah abis Dena pamit ke Kingafiqq, soalnya dia kan traktir Dena ya tadi. Sebelum Dena pamit tuh Dena sempat teriak bilang gini 'Semuanya, hari ini kalian boleh mesen apa aja. Kingafiqq kita yang ganteng akan nraktir' Dena bilang gitu, Pa. Dianya ngelotot tapi Dena langsung lari sambil ketawa." jelasnya sambil tertawa diujung kalimat. Alhasil tadi isi dompet mantannya itu ludes karena harus membayar semua jajanan murid yang berada di kantin saat itu.
Wira yang mendengarnya langsung tertawa terbahan. Tidak bisa membayangkan gimana ekspresi Kingafiqq saat itu yang harus membayar tagihan jajan semuanya.
"Kamu itu ada-ada aja, Sayang. Trus, dianya marah gak?" tanya Wira.
"Tadinya sih mau marah, tapi gak jadi, hehe."
"Kenapa bisa gitu?"
"Soalnya Dena tawarin buat jalan, eh dianya mau trus gak jadi marah deh sama Dena, hehe. " ujarnya tanpa melihat ekspresi Papanya saat itu.
"Astaga!!!" ingin sekali Wira mengumpat saat itu juga namun ia urungkan.
.
.
.
happy eid adha mubarak 🤗🤗🤗
kykny keluar dr judul ya,Thor...
🥰😊😊
Semangat tetap& Ttp semangat,Kak Thor!!!!💪💪🤺
udh dong mewek ya.
skrg bhgian ya plk dong thor
kok melo ya eps yg in
lain judl pun gak ap2 thor.
yg pnt arel sma dena
Disini aj laaa Ampe habis cerita Dena&Fairel..