Dunia Anindya hancur ketika calon suaminya Yudhistira tidak datang ke pernikahan mereka. Rasanya seperti mau kiamat ketika tiba-tiba ayahnya memaksa untuk mengganti mempelai pria dengan Rio sahabatnya sendiri. Pernikahan tanpa cinta harus mereka jalani. Meski pada akhirnya cinta itu muncul seiring berjalannya waktu. Tapi di hadapan teman kerja ,mereka harus menyembunyikan identitas pernikahan mereka. Sampai Vino direktur perusahaan itu menyukai Anindya. Prahara mulai muncul...dan memporak porandakan biduk rumah tangganya. Mampukah mereka bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lastri Azahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Vino menyadari sepertinya ada yang salah dengan ucapannya barusan. Dia menutup mulutnya. Menyesali apa yang telah keluar dari bibirnya.
Dia melihat Anindya yang tersenyum sinis. Dia tahu Anindya pasti kecewa.
" Anindya dengarkan dulu penjelasan aku " Vino menatap wajah Anindya gusar.
" Uppss salah paham deh. " Cindy menutup mulutnya. Dia menepuk pundak Vino.
" Selesaikan masalahmu, aku mau pulang dulu. " Cindy berlalu pergi dengan temannya itu dan membiarkan Vino yang terdiam dalam kebingungan.
" Aku mau pulang " Anindya cemberut.
" Nin aku pengen ngomong dulu sama kamu" Vino bersikeras, dia ingin menyudahi kesalah pahaman diantara mereka. Tapi rupanya Anindya sudah terlanjur marah. Wajahnya sudah menunjukkan rasa kecewa yang amat besar.
" Aku mau pulang sekarang. " Anindya menambah penekanan dalam nada suaranya. Ia berdiri dan meraih tasnya bersiap untuk pergi.
Vino panik. Ia mengeluarkan sepuluh uang seratus ribuan dan di taro diatas meja untuk membayar bill makanannya. Dengan terburu ia mengikuti langkah Anindya keluar restoran.
" Nin kamu harus tahu cerita sebenarnya, ada satu hal yang belum kamu ketahui. " cerocos Vino ketika sudah berada di dalam mobil menuju pulang.
Anindya hanya terpaku seperti tidak ada hasrat lagi untuk meladeni Vino.
" Kami hanya tunangan pura-pura untuk menyenangkan orang tua kami masing masing. Dan harus kamu ketahui kalau Cindy tidak suka laki laki. " Vino menjelaskan apa yang seharusnya Anindya tahu, terserah Anindya percaya atau tidak.
Anindya terperanjat mendengar penjelasan Vino. Tapi hatinya tidak ingin percaya begitu saja dengan semua perkataan Vino. Bisa saja Vino bohong untuk menutupi kesalahannya. Lagian apa hubungannya informasi Vino barusan dengan dirinya.
" Aku tidak ingin kamu salah paham Nin. Hubungan aku dan Cindy hanya sebatas status. " Vino gusar melihat Anindya yang sepertinya masih belum mempercayai ucapannya.
" Ya sudah itu hak kamu kok,,, sebenarnya aku tidak ada hubungannya dengan itu semua. " ucap Anindya datar.
" Tapi aku sukanya sama kamu Nin. " Vino tiba tiba.
Pernyataan Vino barusan membuat Anindya memijit pelan pelipisnya. Ini apalagi, pikirnya. Kejutan yang Vino berikan malam ini benar benar membuat kepalanya pusing.
Vino menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi. Anindya hanya terdiam tak memberi respon.
" Maaf kalau kamu berpikir cara ini tidak elegan untuk menyatakan cinta,jujur ini diluar rencanaku. " Vino mendesah.
Anindya diam terpaku, bingung harus bicara apa. Semua ini serba mendadak bagi dia.
" Bagaimana Nin, apa kamu mau terima aku?" Vino tak sabar ia menatap lekat wajah gadis di sampingnya.
Anindya jadi salah tingkah. Jujur dia ingin bilang status dia yang sebenarnya tapi takut itu semua akan berdampak buruk bagi dia dan Rio nantinya. Anindya tertunduk dalam kebingungan.
"Nin. " Vino masih menatap Anindya menunggu jawaban darinya.
" Maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang. " Anindya lirih.
Vino menarik nafasnya dalam dalam. Ada kekecewaan yang berusaha dia tutupi. Tapi Ia juga sadar kalau ini terlalu mendadak. Dan dia juga paham bagaimana perasaan Anindya sekarang. Seandainya Cindy tidak muncul malam ini mungkin Ia pun akan menunda dan mencari waktu dan cara yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Anindya.
Ah sial, kenapa skenario bisa berubah secepat ini, jangan kan Anindya, aku saja terkejut. Batin Vino.
" Ya sudah, aku ingin kamu pikirin semuanya baik-baik, dan aku tunggu jawaban kamu secepatnya. " Vino akhirnya menyerah dan memberi Anindya waktu. Semoga saja dia mendapatkan jawaban memuaskan. Vino melajukan kembali mobilnya menuju rumah Rio.
Tak ada pembicaraan lagi diantara kedua. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Anindya masih tak percaya kalau Vino baru saja menyatakan perasaannya padanya. Sejujurnya Anindya suka sosok Vino yang ceria, melindungi dan tampan. Tapi sudah ada Rio di hidupnya kini. Dia juga berpikir kalau perbedaan kasta antara dirinya dan Vino terlalu jauh.
Memang dari segi harta, rupa, dan jabatan wanita mana yang tidak tergiur melihat Vino. Bahkan dirinya pun sejujurnya menyukai Vino. Ah, shit Anindya kenapa jadi ngelantur gini? Lagi lagi Anindya memijit pelipisnya.
Sudah sampai.
Vino memarkir mobilnya di depan rumah Rio. Dia membuka pintu mobil dan mempersilakan Anindya turun. Sebenarnya malam ini Vino memperlakukan Anindya bak seorang putri di kerajaan dongeng. Perlakuan Vino yang lembut dan romantis sungguh membuat hatinya meleleh.
Rio yang sudah menunggu di depan pintu melihat Vino dengan tatapan nanar. Anindya terlihat begitu bahagia malam ini. Membuat kegusaran dalam hatinya bertambah.
" Terima kasih Rio sudah mengizinkan Anindya keluar denganku. " Vino sedikit berbasa basi.
Rio menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Rasanya ingin meninju muka atasannya itu. Ya Tuhan api cemburu sudah membakar hatinya kini.
" Terima kasih Vino. " Anindya menatap Vino yang bersiap untuk pamit. Vino membalasnya dengan sebuah senyum manis yang membuat jantungnya berdegup kencang.
*****
" Bagaimana makan malamnya?" tanya Rio penasaran. Anindya masuk ke dalam kamarnya dan duduk di atas kasur.
" Pasti menyenangkan ya? " Rio terus menyelidik.
Anindya tidak menjawab pertanyaan Rio dia malah sibuk membuka aksesoris yang menempel di tubuhnya,menyeka make up yang menempel di wajahnya. Rio di buatnya makin penasaran.
" Nin"
" Biasa saja Rio, seperti makan malam pada umumnya. " Anindya berbohong. Dia tidak ingin membuat Rio kepikiran.
" Oohh,,, Vino tidak macam macam kan sama kamu? "
" Ya ampun Rio, emang aku cewek apaan? " Anindya sedikit kesal dengan sikap Rio yang dinilainya terlalu over.
" Iya aku percaya sama kamu tapi aku tidak percaya sama Vino." Rio memangku tangan dan mengerucutkan bibirnya.
Anindya tertawa melihat kelakuan Rio. Walaupun ia tahu Rio merajuk saat ini.
" Tidak ada yang terjadi Rio sayang. " Anindya mecubit gemas pipi Rio. Laki laki itu menyunggingkan senyum, hatinya sedikit tenang dengan perlakuan Anindya barusan.
" Sudah sana keluar aku mau ganti baju dulu. " Anindya mendorong tubuh Rio keluar dari kamarnya.
" Ganti saja sih kenapa nyuruh aku keluar, aku kan suamimu. " Rio menggerutu di dorong keluar oleh Anindya.
" Enggak,,, aku malu. " Anindya mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Setelah Rio keluar,Anindya menyenderkan tubuhnya di pintu. Teringat Vino kembali hatinya jadi bimbang. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Rio dan Vino dua sosok laki laki yang baik di matanya. Sama sama istimewa di hatinya. Sadar Anindya Vino akan bertunangan , mau jadi apa hubunganmu dengannya kalau kamu menerima cinta dia? Anindya menggeleng kepalanya berusaha untuk mengusir pikiran pikiran nyelenehnya.
Tapi bayangan wajah Vino tak mau lepas dari ingatannya saat ini. Mungkinkah dia mencintai Vino. Anindya menarik rambutnya ke belakang. Dia benar benar frustrasi menghadapi semua masalah ini. Benar benar dilematis.
BERSAMBUNG
Anindya bingung nih mau pilih siapa😁, menurut readers mending pilih siapa ya? Komen dong siapa tahu jawabannya sama dengan Author 😁
Like
Komen
Vote
Rate
Selalu Author tunggu dari kalian. Bagi yang lupa like karena keasyikan baca boleh scroll lagi ke atas dan sematkan jempol cantik kalian. Emmmmuuuaaah.
mungkin karakter othornya gitu(•‿•)
izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta