Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VI - Bantuan Diam-Diam
Rapat CSR (Corporate Social Responsibility) berjalan seperti biasa — laporan realisasi dana, evaluasi program beasiswa, presentasi rencana ekspansi bantuan kesehatan untuk tahun depan.
Radit duduk di kursi utama, mengangguk pada waktu yang tepat, memberi arahan yang terdengar meyakinkan meski separuh pikirannya masih memikirkan hasil tender yang belum juga diumumkan. Ketika direktur rumah sakit bertanya pendapatnya soal anggaran tambahan untuk unit kardiologi, ia menjawab tanpa ragu — dan dalam beberapa menit, ia akan mengerti kenapa jawaban itu terasa begitu personal.
Rapat baru saja bubar ketika sepotong percakapan dua perawat di meja resepsionis membuat langkahnya terhenti.
"...kasihan, anaknya udah nyari dana ke mana-mana, tapi jalur prioritas kan mahal. Nama pasiennya Sulastri Handayani."
Nama itu menghantam sesuatu di dadanya. Ibu Kirana. Perempuan yang dulu selalu menyuguhkan sup ayam untuknya ketika ia terserang flu di tengah musim ujian, yang pernah bilang dengan mata berbinar bahwa Radit calon menantu yang ia idamkan.
Ia berbalik. "Maaf, saya dengar nama Sulastri Handayani. Boleh saya lihat berkasnya sebentar?"
Perawat itu langsung membuka sistem. Di sana, tertulis jelas:
*Kirana Ayu Pradipta, **penanggung jawab pasien.*
Radit menatap layar itu lama. "Kondisinya gimana?"
"Komplikasi jantung, Pak. Perlu kateterisasi segera, tapi keluarganya belum bisa penuhi biaya jalur prioritas. Kalau lewat jalur reguler, antriannya tiga minggu."
Tiga minggu. Radit tahu persis apa artinya tiga minggu bagi jantung yang melemah.
Ini bukan lagi urusannya. Tujuh tahun sudah cukup lama untuk siapa pun berhenti merasa bertanggung jawab atas hidup orang yang pernah mereka tinggalkan. Tapi bayangan Kirana yang begitu tegar di depan dewan investor minggu lalu, kini harus menghadapi krisis ibunya sendirian, membuat sesuatu di dalam dirinya menolak berjalan pergi.
"Pindahkan ke jalur prioritas," katanya. "Atas nama program CSR."
"Baik, Pak. Perlu saya cantumkan sumber donasinya di surat konfirmasi?"
Kalau Kirana tahu bantuan ini datang darinya, ia yakin Kirana akan menolak mentah-mentah, bahkan mungkin merasa terhina.
"Nggak usah. Proses aja sebagai bantuan yayasan biasa. Saya nggak mau ini diketahui siapa pun, termasuk keluarga pasien."
Perawat itu mengangguk, matanya menyipit sedikit, mungkin bertanya-tanya kenapa CEO Wibowo Group begitu peduli pada satu pasien sampai minta dirahasiakan. "Baik, Pak. Saya proses sekarang."
"Satu lagi." Radit menambahkan sebelum perawat itu sempat berbalik. "Kamar pasiennya di lantai berapa?"
"Lantai tiga, Pak. Kamar 308."
Ia tidak berniat ke sana. Tapi kakinya membawanya ke lift, menekan tombol angka tiga sebelum pikirannya sempat membantah.
Ia berhenti di depan pintu yang setengah terbuka, tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu. Di dalam, Sulastri tertidur dengan wajah pucat, selang infus terpasang di lengannya. Di kursi tunggu samping ranjang, Kirana melamun, kepalanya miring dalam posisi yang pasti membuat lehernya sakit, rambut sedikit berantakan, jejak air mata yang sudah mengering di pipinya.
Ini bukan Kirana yang ia lihat di ruang presentasi minggu lalu. Ini Kirana yang lelah, yang untuk sekali ini tidak sanggup menyembunyikan berat beban yang ia panggul sendirian.
Radit ingin masuk. Ingin menyemangatinya dan bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tahu, kalau Kirana terbangun dan mendapatinya di sana, semua yang baru saja ia atur diam-diam akan berantakan.
Ia berdiri di sana beberapa detik, lalu berbalik, berjalan menjauh sebelum ada yang melihatnya.
Dalam perjalanan pulang, ia meminta sopirnya melewati rute yang lebih panjang, jalan menuju kampus lama. Kafe kecil tempat mereka biasa mengerjakan tugas bersama masih berdiri di sana, papan namanya sudah berganti warna, tapi bentuknya tak banyak berubah. Radit menutup mata sejenak, menepis gelombang nostalgia yang lewat di pikirannya. Satu kabar sederhana soal kesehatan seorang wanita yang pernah menganggapnya anak sendiri, ternyata cukup untuk merobohkan pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun.
Ia masih ingat persis malam itu, tujuh tahun lalu, duduk di meja yang sama dengan Kirana, tangan bertautan di atas meja kayu yang penuh coretan pena mahasiswa lain. Ia ingat bagaimana ayahnya menelepon, bagaimana dua kata tegas dari ujung telepon mengubah seluruh arah hidupnya dalam semalam. Ia tidak pernah cerita ke siapa pun, bahkan ke Farrel, apa yang dikatakan Hartono malam itu. Beberapa rahasia terasa terlalu berbahaya untuk dibagi, bahkan pada sahabat paling dekat sekali pun.
Mobil melewati kafe itu tanpa berhenti, dan Radit membiarkan kenangan itu tertinggal di belakang, setidaknya untuk sementara.
...****************...
Sore itu, di ruang kerjanya, Farrel menemukannya menatap kosong ke layar laptop yang sudah tidak menyala lagi.
"Lu kenapa?" Farrel duduk di kursi seberang meja, menaruh setumpuk dokumen tender yang harus ditandatangani. "Dari tadi diem aja."
"Gua bantu seseorang di rumah sakit tadi." Radit menghela napas. "Ibunya Kirana. Sakit jantung, butuh tindakan cepat."
Farrel mengangkat alis. "Dan lu bantu diam-diam?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena ibunya nggak pernah salah apa-apa sama gua, Rel. Dia nggak pantas kena getah dari keputusan yang gua ambil tujuh tahun lalu."
"Kalau Kirana sampai tahu ini, dia bisa lebih marah, bukan makasih." Farrel memperhatikan wajah sahabatnya. "Lu tahu kan, dari cerita lu dulu, Kirana bukan tipe orang yang suka merasa berutang budi. Apalagi sama orang yang pernah nyakitin dia."
"Gua tahu. Makanya gua minta dirahasiain."
Farrel menggeleng pelan. "Lu masih belum bisa lepas dari dia, ya? Tujuh tahun, Dit."
"Ini bukan soal itu."
"Radit." Suara Farrel melunak. "Gua kenal lu lama. Gua inget persis gimana hancurnya lu waktu mutusin hubungan itu, meskipun lu nggak pernah cerita alasannya ke gua sampai sekarang. Jadi jangan bilang ini bukan soal itu."
Radit tidak menjawab, hanya menatap keluar jendela ke arah Jakarta yang mulai memasuki senja.
Ponsel di mejanya bergetar. Satu nama muncul di layar, membuat bahunya menegang.
Ayah.
"Radit," suara Hartono tajam meski cuma lewat telepon. "Ibu Valerie tadi telepon Ayah, tanya soal detail acara lamaran minggu depan. Kamu udah koordinasi sama wedding organizer?"
"Belum sempat, Yah. Minggu ini masih fokus sama hasil tender Cakra Investindo."
"Tender itu penting, tapi jangan sampai kamu lupa yang lebih penting. Aliansi sama keluarga Hendrawan bisa nyelamatin ekspansi kita ke Kalimantan. Jangan main-main."
"Aku nggak main-main, Yah."
"Bagus. Karena Ayah nggak mau denger lagi kabar soal kamu berkeliaran ke tempat-tempat yang nggak perlu." Ada jeda, seolah Hartono tahu lebih banyak dari yang ia katakan. "Fokus sama yang ada di depan mata kamu."
Sambungan terputus sebelum Radit sempat bertanya apa maksud kalimat terakhir itu.
Farrel, yang masih duduk di seberang meja, memperhatikan raut wajah sahabatnya berubah. "Ayah lu tahu?"
"Gua nggak tahu," Radit menjawab pelan, jantungnya masih berdegup cepat. "Tapi kalau dia tahu, ini bakal jadi masalah yang jauh lebih besar."
Farrel tidak menjawab, hanya menatap sahabatnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara kasihan dan waswas.
"Terus rencana lu apa?" Farrel akhirnya bertanya, suaranya lebih pelan. "Diem-diem bantu dia terus, sambil di sisi lain lu nikah sama Valerie bulan depan? Lu pikir itu bakal berjalan lama, Dit?"
Radit tidak punya jawaban untuk itu. Ia menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasakan lelah yang bukan cuma soal jam kerja panjang hari itu. "Gua nggak tahu, Rel. Gua cuma tahu gua nggak bisa diam aja waktu tahu ibunya sakit."
"Itu jawaban orang yang masih peduli , Dit." Farrel berdiri, mengumpulkan dokumen tender yang belum sempat ditandatangani. "Gua nggak akan maksa lu buat jujur sekarang. Tapi cepat atau lambat, lu harus milih, Dit. Nggak bisa dua-duanya."
Setelah Farrel pergi, Radit duduk sendirian, memikirkan ulang nada suara ayahnya. Hartono bukan orang yang biasa mengucap kalimat sembarangan. Kalau ia sampai menyebut soal "berkeliaran ke tempat-tempat yang nggak perlu," berarti seseorang sudah melapor — entah siapa, entah sejak kapan.
Ia menepis pikiran itu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia terlalu paranoid. Tapi instingnya berbisik hal lain: apa pun yang terjadi tujuh tahun lalu antara ayahnya dan keluarga Pradipta, belum benar-benar selesai.
...****************...
Ketika matahari sudah tenggelam di ufuk barat, sebuah pesan masuk dari staf rumah sakit yang ia percaya.
Pasien Sulastri sudah dipindahkan, operasi kateterisasi jantung untuknya sudah dijadwalkan besok pagi.
Semoga lancar.
Radit membalas singkat, sebelum meletakkan ponselnya di meja nakas.
Ia berbaring, menatap kegelapan di kamarnya, memikirkan wajah Kirana yang terduduk di kursi tunggu itu — lelah, tapi masih berjuang keras untuk mempertahankan semua yang ia punya. Ia tidak menyesali keputusannya siang ini, apa pun konsekuensinya nanti.
Dari laci meja nakas, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sudah lama tidak ia sentuh. Di dalamnya, sebuah gelang manik-manik sederhana, agak pudar warnanya, hadiah yang pernah Kirana buat sendiri untuknya dulu. Ia tidak pernah bisa membuang benda itu.
Ia menutup kotak itu, mengembalikannya ke laci, dan mematikan lampu.
Yang tidak ia tahu, esok pagi, satu kalimat ringan dari seorang perawat yang bermaksud baik akan membongkar semua yang ia usahakan untuk sembunyikan.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪