Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Amanah dari Langit
Tiga tahun telah berlalu. Rumah di kawasan Dinoyo itu kini tampak lebih hidup. Jika dulu hanya ada deretan vas bunga dan laptop yang terbuka di sudut ruang tengah, kini di salah satu sudut rumah telah terpasang pagar pembatas kayu yang aman, dan di atas lantai terhampar karpet bermain yang empuk. Suasana rumah tidak lagi melulu tentang kesunyian yang syahdu, melainkan diselingi dengan tawa kecil dan langkah-langkah kaki yang sesekali berlari.
Sore itu, Kota Malang sedang dirundung hujan rintik-rintik yang menenangkan. Zaza berdiri di dekat jendela besar ruang keluarga, menatap butiran air yang jatuh membasahi taman kecilnya. Ia memegangi perutnya yang kini terlihat sedikit lebih berisi dari biasanya. Sebuah senyuman tipis, yang paling tulus yang pernah ia simpan, terukir di wajahnya.
Pintu depan terbuka. Bunyi gemericik kunci menandakan Rayyan telah kembali. Zaza segera berbalik, merapikan pashminanya yang agak miring sebelum melangkah menyambut suaminya. Rayyan masuk dengan kemeja yang sedikit basah di bagian bahu, namun wajahnya langsung cerah begitu melihat sosok Zaza.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Rayyan lembut, mencium kening Zaza sebelum meletakkan tas kerjanya. "Tadi di jalan hujan deras sekali. Kamu sudah makan?"
Zaza tersenyum, membantu Rayyan melepaskan jaket luarnya. "Sudah, Mas. Tadi sudah makan siang sama Umi yang mampir sebentar. Mas sendiri sudah?"
Rayyan mengangguk, lalu duduk di sofa panjang dengan napas panjang yang terdengar sedikit lelah namun puas. Ia menarik Zaza untuk duduk di sampingnya. "Sudah, di kantor tadi klien membelikan makan siang. Oh ya, ada surat dari penerbit tadi siang. Novel Membatasi Rasa cetakan kesepuluh akan segera rilis bulan depan. Mereka bilang animo pembacanya masih tinggi sekali."
Zaza mengusap lengan Rayyan dengan lembut. "Masyaallah, alhamdulillah. Semuanya karena rida Allah, Mas."
Rayyan menatap istrinya lekat-lekat. Matanya yang tajam namun teduh itu seolah sedang membaca sesuatu yang berbeda dari wajah Zaza hari ini. "Za, ada yang beda hari ini? Kamu terlihat lebih... tenang dari biasanya. Ada apa?"
Zaza merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mengambil sebuah kotak kecil berwarna biru dari balik bantal sofa dan menyodorkannya kepada Rayyan. Tangannya sedikit gemetar. "Ini... untuk Mas Rayyan. Mas ingat janji kita saat awal menikah? Bahwa setiap ujian yang kita lalui akan menjadi bekal untuk sesuatu yang lebih besar?"
Rayyan menerima kotak itu dengan dahi yang berkerut penasaran. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, terdapat sebuah test pack dengan dua garis merah yang sangat jelas, bersanding dengan sepasang sepatu bayi rajut berwarna putih.
Rayyan terdiam. Wajahnya membeku. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ia menatap benda di dalam kotak itu, lalu menatap Zaza, bergantian berkali-kali seolah sedang memastikan apakah ini nyata atau sekadar mimpi.
"Za... ini..." suaranya pecah. Air mata yang hangat tiba-tiba merembes keluar dari sudut matanya. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan, menatap Zaza dengan tatapan yang dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga. "Ini... benar, Za? Kita akan...?"
Zaza mengangguk, air matanya pun ikut luruh. "Alhamdulillah, Mas. Dokter bilang sudah masuk minggu kedelapan. Insyaallah, amanah dari langit akan segera hadir di antara kita."
Rayyan tidak lagi mampu berkata-kata. Ia langsung membawa tubuh Zaza ke dalam pelukannya yang paling erat. Ia mendekap istrinya begitu lama, seolah ingin menyalurkan seluruh emosi yang membuncah di dadanya. Ia menangis di bahu Zaza bukan tangis kesedihan seperti saat mereka diuji fitnah dulu, melainkan tangis kebahagiaan yang murni.
"Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih, Za," bisik Rayyan di sela isakannya. "Terima kasih sudah bertahan bersamaku. Terima kasih sudah menjadi perempuan yang menguatkanku saat aku hampir jatuh. Terima kasih... sudah menjemput amanah ini bersama-sama."
Zaza membalas pelukan itu, memejamkan mata dalam keheningan yang indah. Ia teringat kembali pada masa-masa saat mereka harus membatasi rasa demi menjaga keberkahan, saat mereka harus menahan gejolak hati di koridor kampus, hingga badai fitnah yang hampir meruntuhkan segalanya. Ternyata, semua itu hanyalah cara Tuhan untuk memproses mereka menjadi dua insan yang lebih layak untuk dititipi amanah sebesar ini.
"Mas ingat, kan? Dulu kita pernah bertanya-tanya, apakah jalan sunyi yang kita pilih ini akan berakhir bahagia?" Zaza berbisik pelan di sela pelukan mereka.
Rayyan melepaskan pelukannya, menangkup wajah Zaza dengan kedua tangannya, lalu mengecup kening istrinya dengan sangat lama. "Jalan itu tidak hanya berakhir bahagia, Za. Jalan itu justru baru saja dimulai. Dan aku berjanji, aku akan menjaga amanah ini, kamu dan anak kita nanti dengan seluruh sisa hidupku, sebagaimana aku menjaga hatiku untukmu."
Di luar sana, hujan deras perlahan reda, menyisakan langit sore yang cerah dengan semburat jingga yang mempesona. Di dalam rumah mungil itu, Rayyan dan Zaza duduk bersandar, tangan mereka bertaut erat. Mereka tidak lagi mencari jawaban atas pertanyaan tentang kebahagiaan, karena kebahagiaan itu kini sedang tumbuh perlahan di rahim Zaza, buah dari kesabaran, ujian yang berkelas, dan kesetiaan yang tak pernah luntur di atas sajadah-sajadah panjang yang mereka bentangkan bersama. Kisah tentang membatasi rasa telah mencapai pelabuhan terindahnya, dan kini, mereka siap melayari samudra kehidupan sebagai sebuah keluarga yang utuh, di bawah naungan kasih sayang-Nya yang tak bertepi.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe