Karena ingin dapat uang yang banyak tanpa ribet dengan keharusan punya keterampilan khusus, Asha akhirnya mau jadi tukang cuci pada sebuah keluarga kaya. Padahal dia punya ijazah SMA yang memungkinkan dia punya pekerjaan yang lebih baik dari sekedar tukang cuci.
Banyak kejadian yang terjadi selama dia menyembunyikan pekerjaan dari orangtuanya yang ada di kampung. Juga harus tetap cool saat ada teror menggemaskan dan nakal dari Arga, tuan muda di rumah majikan yang sedang patah hati karena tunangannya berselingkuh. Apalagi teror ciuman sesaat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma menyenangkan
Setelah Arga putus dari Chelsea tidak ada lagi wanita yang terlihat dekat dengannya. Entah Arga yang enggan atau memang tidak ada yang mendekatinya karena kadang dia nampak kaku.
Chelsea adalah satu-satunya wanita yang berada pada level tertinggi, yaitu sebagai tunangan. Arga memang tidak terlalu sering berdua dengan wanita tapi itu justru jadi titik terendah Arga dalam urusan cinta. Dia di tinggalkan saat dia sudah yakin Chelsea adalah orang yang tepat untuk ke jenjang berikutnya.
Bisa di bilang Arga termasuk lelaki yang baik hati. Walaupun kadang -bukan, tetapi sering- menyebalkan ke Paris, dia tahu Arga hanya iseng. Dia juga bisa berubah 180 derajat saat ada orang yang menggangggu keluarganya. Namun untuk dirinya sendiri, Arga tidak terlalu peduli.
Paris merasa iba. Apalagi saat Arga melihat Chelsea berdua dengan Evan -sahabatnya- Arga hanya diam. Melihat dari gelagat dan sikap mereka berdua yang mesra sudah jelas Chelsea selingkuh. Dia tidak marah. Menurut Paris seharusnya dia mendatangi Evan dan menghajarnya. Minimal pukulan di pelipislah..
Arga tidak begitu. Dia hanya membiarkan mereka berdua. Menurutnya, kalau memang Chelsea sudah berani berselingkuh dengan orang lain, berarti dia sudah rela di tinggalkan oleh dirinya. Makanya Arga hanya mendiamkan saja. Jadi Paris sangat ingin menghajar mereka berdua tapi itu tidak di lakukannya karena menghormati keputusan kakaknya. Ingin sekali Paris menarik rambut bergelombang Chelsea yang membuatnya semakin seksi itu sampai acak-acakan.
Paris melihat mereka berdua -Arga dan Asha- menutup mulut masing-masing. Suasana sangat sunyi. Kalau biasanya Paris banyak ngomong dan tanya ini itu. Namun setelah melihat tingkah kakaknya yang aneh dia jadi tidak leluasa juga. Apalagi dia jadi merasa terisolasi sendirian di belakang. Padahal mereka juga tidak sedang mengobrol berdua saja.
"Sunyi banget kayak kuburan," celetuk Paris.
"Kalau kamu mau teriak, teriak saja," ujar Arga ngasal sambil tetap memusatkan pandangan ke depan. Paris tersenyum. Dia jadi ingin tahu apa yang sedang di pikirkan oleh kakak tercintanya itu.
"Kenapa kakak enggak jadi keluar kota?" tanya Paris yang langsung di beri anggukan pelan oleh Asha tanpa sadar. Dia sudah bergembira hati saat mengira Arga sudah ada di luar kota. Ternyata tuan muda masih berkeliaran di rumahnya, bahkan mengekorinya saat Asha hendak keluar bareng Cakra.
"Masih ada perlu di sini," jawab Arga singkat.
"Pekerjaan, apa yang lain?" selidik Paris.
"Bermacam-macam keperluan. Kenapa kamu jadi tambah bawel sih, bayikk...?" protes Arga.
"Ingin tahuuu... Biasa saja. Ini bukan interogasi resmi. Jadi santai saja." kata Paris tahu Arga jadi enggak leluasa juga.
"Beneran, kita mau kemana sih?" Asha sadar lagi kalau hari ini dia mengajak Cakra untuk meneoati janjinya memberi makan tuh anak. Namun bila melihat semakin banyak anggota yang akan ikut acara makan-makan itu, dia akan semakin tenggelam dalam kekurangan tabungan.
Membuang kucing kecil malah dapat kucing persia dan anjing herder. Menolak Rike malah dapat tuan muda dan nona muda. Dimana mereka pasti enggan makan yang murah. Asha ingat saat di alun-alun kota. Arga mau makan nasi jagung, berarti dia juga mau makanan murah. Ini menggembirakan hati.
Cakra memang mengajaknya ke alun-alun kota. Disana banyak makanan murah. Sebenarnya Asha yang membimbing Cakra untuk mau dibelikan makanan disana. Dia juga menambahkan embel-embel mau di ajak main basket asal makan disana. Cakra yang maniak basket tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini. Asha mulai jarang mau kalau di ajak main basket.
"Alun-alun kota?" tanya Paris heran saat mobil sudah berhenti di tempat parkir. Untung saja Paris mengenakan pakaian yang casual. Jadi sangat nyaman saat berada di tempat ini.
"Untuk penumpang gelap jangan banyak berkomentar ataupun protes. Karena kita sudah berbaik hati tidak membawamu dengan meletakkan tubuhmu di dalam bagasi," Arga sudah mengatakan sindirannya. Sudut bibir Paris berkedut yang mengartikan dia mencibir.
Kita? Huh, lagaknya...
Asha tersenyum -lebih tepatnya meringis- merasa tidak enak ke nona mudanya karena sindiran Arga.
"Oke. Tidak masalah," Paris menanggapi dengan tenang. Di sini lumayan sepi. Namun tetap di anggap normal karena ini bukan weekend.
"Kalian janjian sama seseorang yah?" tebak Paris. Karena sepertinya bukan hanya mereka yang akan menikmati jalan-jalan ini.
"Iya." Kali ini Asha yang menjawab.
"Sama siapa kak?" Paris balik tanya ke Asha.
"Cakra." Paris mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian pandangannya mengarah ke Asha yang terlihat lebih fresh dengan penampilannya kali ini. Dia masih mengusung gaya santainya yang trendi. Terlihat sedikit seenaknya sendiri tapi justru terlihat menarik karena kakak pelayan ini jadi kelihatan cool. Di tambah dengan sikap Asha yang memang dasarnya cuek terlihat asyik.
"Ayo," ajak Arga yang entah kenapa jadi seperti tuan rumah yang membimbing tamunya. Padahal yang ada janji itu kan Asha. Akhirnya Asha hanya ikut saja tanpa memberikan petunjuk. Dia juga jadi seperti tamu yang mengekor di belakang Arga dan Paris. Entah kenapa jadi barisan seperti itu.
Seperti berurutan menurut siapa yang paling kuat. Arga, Paris dan terakhir tentunya pelayan mereka, Asha. Hahahaa... untuk urutan berjalan saja sudah tertata seperti ini. Kasta rendah ada di belakang sendiri. Untuk keluarga kekaisaran pasti ada di depan untuk memimpin. Begitulah adanya.
Asha jelas enggan harus berjalan sejajar dengan mereka. Memang sepertinya Asha berlebihan bila berpikir seorang pelayan harus berada di belakang, tapi kalau harus mengulang penempatan seperti di dalam mobil tadi dia sangat tidak mau. Bagaimana bisa pelayan berada di depan sementara majikannya di belakang. Kalau dia berprofesi sopir sih wajar. Karena tidak mungkin sopir ada di kursi belakang bukan...
Arga memutar tubuhnya dan melihat kebelakang. Ternyata Paris yang sedang berjalan tepat di belakangnya. Sejak tadi dia pikir orang yang ada di belakangnya adalah Asha, ternyata bukan.
"Ada apa?" tanya Paris yang heran melihat Arga berhenti.
"Tidak," jawab Arga tapi dengan mata melihat ke belakang, ke arah perempuan muda yang terlihat sibuk dan asyik memencet layar handphonenya dengan semangat. Duk! Karena tidak melihat kedepan dan hanya fokus pada benda yang di pegangnya, Asha menabrak dada tuan muda yang bidang.
Mata Asha mendelik dan mundur menjauh dari tubuh beraroma maskulin itu. Dia sangat terkejut. Alarmnya berbunyi dengan sangat terlambat. Tangannya langsung terjuntai kebawah untuk bersikap siap dan membiarkan handphonenya memperdengarkan bunyi-bunyian aneh. Arga melirik ke arah benda yang di genggam pada tangan kanan itu.
Kepala perempuan itu sedikit menunduk untuk menyembunyikan kekagetannya. Dari samping kelihatan kalau Asha sedang mengkerjap-kerjapkan mata.
"Rambutmu berantakan," ujar Arga memberitahu. Tanpa di kasih tahu, Asha ngerti dan bisa melihat dengan pasti ada beberapa anak rambut yang menjuntai di depan matanya. Menyolok matanya tanpa ampun meskipun dia sudah menunduk.
Lalu tangan sebelahnya yang tidak menggenggam apa-apa terulur ke atas, menyentuh rambut depannya yang sedikit berantakan karena tabrakan tadi. Membetulkan rambut itu dengan terburu-buru. Itu berani dia lakukan karena kalimat tuannya seperti sedang menyuruhnya melakukan itu.
Mata Arga masih memandang dia yang menunduk dan merapikan rambutnya. Paris tersenyum menahan geli lihat Asha yang gugup karena tidak sengaja menabrak kakaknya.
"Paris, kamu jalan di depan saja, biar aku yang di belakang," perintah Arga yang membuat Paris menghentikan gelak tawanya.
"Kenapa aku yang jalan di depan? Bukannya kakak yang punya rencana. Tidak masalah sih..., tapi mana bisa aku jadi penunjuk jalan," bantah Paris. Karena itu bukan bantahan seperti sikap Paris biasanya. Ini benar adanya. Gadis ini sampai saat ini saja belum paham mau kemana. Kakinya hanya mengikuti saja langkah Arga yang ada di depannya.
"Baiklah, Asha jalan di sampingku dan kamu di belakang," tegas Arga yang semakin membuat adiknya menatap heran dan membeliakkan mata.
Kenapa harus mengurusi hal sepele semacam itu sih. Dia sakit. Kakakku jadi sakit jiwa. Apakah gara-gara aku melarangnya bertemu Chelsea? Aduh jangan deh.
Sesaat tadi dan walaupun sekejap Asha bisa menghirup aroma tubuh itu. Aroma maskulin yang menyeruak menyentuh indera penciumannya. Dan saat ini dia masih teringat dengan aroma menyenangkan itu. Bukan Arga, tapi orang lain.
Kalau minum air putih 8 gelas sehari, itu sama saja kekurangan Cairan. Kalau misalnya nih, kita haus, terus jatah minum air putih sudah 8 gelelas, terus gimana? sementara kita haus nih 😁
Jadi lebih baik Minum Air putih sesuai kebutuhan tubuh saja kak, jika haus minum. Udah gitu Saja sih 😂😂😂
Sekarang, hanya boleh di Sebut "Kental Manis" saja. Tantapa embel-embel kata "Susu" di dalamnya. ini benar nih. 🙏🙏🙏😁