cerita sudah tidak lengkap, banyak editan dan diacak🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isuthy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku
Setelah beberapa lama , bibirnya puas menjelajah , dan tangannya bergerilya ****, akhirnya Arselli tersadar berusaha menahan dirinya lebih lanjut , dengan nafas terengah dan naik turun dia bangun dari posisinya. Dengan wajah yang sudah merah padam karena dipenuhi dengan nafsu yang membara.
Untunglah saat itu belum sampai sejauh itu , pria itu berhasil mengendalikan dirinya.
Lama memejamkan matanya, Alessya tersadar karena tidak terjadi apapun selanjutnya. Pakaiannya masih utuh menempel di tubuhnya.
Dengan tubuh yang gemetaran , perlahan menenangkan dirinya , menenangkan ritme jantungnya yang sempat berantakan dan menenangkan nafasnya yang tersengal , sembari membuka matanya perlahan menatap Arselli yang telah beringsut bangun dari posisinya tadi. Menyisakan bibir merah yang membengkak dan leher dengan tanda kemerahan.
Beringsut dia memperbaiki posisi duduknya di sofa , menjadi duduk yang manis, merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan dengan tangan yang bergetar , walaupun masih menahan gemuruh di dadanya .Menundukkan kepalanya dalam menutupi wajahnya yang memucat dengan jari tangan bertautan kencang.
Menatap lamat gadis itu , Arselli sadar Alessya sedikit ketakutan saat itu. Dan ia tahu Alessya sangat pandai untuk menahan dirinya walaupun terlihat jelas dari wajahnya yang pucat dan tangannya yang tidak henti bergetar.
Ini pengalaman pertama bagimu Alessya ? Maafkan aku seharusnya aku bisa menahan diriku dengan lebih baik.
Arselli tidak mengira bahwa Alessya ternyata sepolos itu , mengingat adegan ****** pertama mereka di dalam mobil Alessya begitu agresif dan ekspresif seperti sudah berpengalaman , walaupun sedikit aneh karena saat itu bibir dan lidah Alessya begitu kaku. Tapi kenyataan yang baru dia sadari sekarang Alessya adalah seoang gadis polos yang tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini.
Maafkan aku Alessya , aku sungguh tidak tahu.Aku fikir kau seperti wanita yang lainnya yang pernah aku kenal sebelum - sebelumnya.
Arselli memang bukan pria fanatik yang menuntut kevirginan seorang gadis , apalagi dia di besarkan dan menghabiskan banyak waktu di luar negeri yang sedikit banyak menganut *** bebas , walaupun dia tidak seliar itu , tapi dia juga tidak terlalu menuntut gadis yang menjadi pasangannya nanti harus seorang gadis virgin. Yang dia inginkan hanyalah cinta ,kesetiaan , dan kecocokan diantara mereka.
Dan saat ini , dia menjalin hubungan dan mencintai Alessya. Mengetahui gadis ini masih polos bukankah itu sebuah Jack Pott.
Aku semakin mencintaimu saja Alessya !!
Cara pandangku kepadamu semakin berubah, kau memang sangat berharga dan pantas untuk dihargai.
Arselli beringsut berdiri ." Kau ingin pulang , Alessya ? Aku akan mengantarmu , bersiaplah . " Sembari mengecup lembut kening gadis itu , berusaha menenangkan situasi malam itu yang sedikit memanas. Menghambur pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan hawa panas yang menjalar di tubuhnya, menenangkan dan merapikan dirinya yang berantakan .
Alessya mengerti dengan situasinya. Jika mereka terus bersama malam ini , bukan tidak mungkin hal yang tidak diperbolehkan akan terjadi sebelum waktunya. Dia tersenyum mengerti dan semakin mencintai kekasihnya itu yang mampu menjaga kehormatan dirinya disaat dirinya sendiri tidak mampu dan hampir menyerah. Menyerah untuk menjaga kehormatan dan mahkotanya yang sangat berharga bagi setiap wanita.
***
Keheningan kental terasa di dalam mobil itu , dalam perjalanan pulang ke kontrakan Alessya. Mereka memilih diam untuk mendinginkan suasana malam itu , terlebih Arselli, rasa bersalah tengah berkecamuk di dadanya. Belum lagi rasa dingin yang menyeruak di tubuhnya kala tadi dia harus mendadak mandi air dingin di tengah malam begini. Arselli bahkan belum sempat mengeringkan rambutnya yang basah karena harus bergegas untuk mengantar Alessya pulang ke kontrakannya.
Kikuk dan canggung menjadi satu , apalagi Alessya. Kejadian seperti tadi adalah hal baru baginya , pengalaman pertama dalam hidupnya. Kondisi finansial yang serba kekurangan yang dia rasakan semenjak usia remajanya , tidak memungkinkan baginya untuk mengenal apa itu cinta ataupun pacaran.Pria satu- satunya yang sempat sangat dekat dengannya hanyalah Reynald , kakak kelasnya saat di SMA yang sekaligus menjadi sahabatnya sejak saat itu. Dia memang pernah memendam perasaan kepada pria itu , yang jelas - jelas sudah sedari dulu pria itu menyukai Alessya .Hanya saja menurut Alessya , Reynald terlalu berharga untuk dijadikan pacar yang akhirnya akan berakhir putus dan mengakibatkan hubungan persahabatan erat mereka menjadi renggang. Sehingga dia menepis dalam - dalam perasaan itu. Dan sampai dia bertemu dengan Arselli , Alessya memang belum pernah berpacaran , karena terlalu sibuk belajar untuk meraih beasiswanya dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.
Berbeda dengan Arselli yang sedikit lebih berpengalaman dengan beberapa wanita .Apalagi dulu dia sempat tinggal di luar negeri ,di Paris, negara tempat ibunya berasal. Yang sedikit banyak telah mengenal *** , bahkan sempat melakukannya dengan mantan kekasihnya sebelumnya yang kala itu masih sama - sama berkuliah.
" Maafkan aku . " Terucap lembut, meraih sebelah tangan Alessya ke dalam genggamannya , lalu mengecup lembut tangannya itu.
Alessya yang masih diam terpaku menatap ke luar jendela , terenyuh mendengar ucapan dari pria yang sangat dia cintai itu. Menoleh ke arah Arselli dan mengutarakan sesuatu yang sudah ada di benaknya sedari tadi.
" Terimakasih karna telah menahan dirimu...terimakasih untuk tetap menjaga kehormatanku disaat aku lengah . " Dengan bola mata yang berkaca-kaca menatap dalam mata pria itu .
" Aku berjanzi Alessya..kita hanya akan melakukannya setelah kita resmi menikah ."
Mengecup lembut lagi tangan gadis itu yang sedari tadi belum dia lepas dari genggamannya samasekali.
Alessya tersenyum , perlahan menganggukkan kepalanya. Memikirkan mungkinkah mereka akan menikah , sementara ada ibunya Arselli yang tidak menyukai hubungan mereka.
" Kau yakin kita akan menikah ? " dengan senyum yang dipaksakan menyembunyikan kecemasan yang bisa saja terlihat di wajahnya.
Arselli menghela nafasnya dalam. " Aku akan berusaha Alessya , percayalah padaku. "
Dengan penuh harap dan doa bahwa semua itu akan terjadi , semoga ibunya merestui hubungan mereka itu.
Alessya tersenyum kecut , seolah tidak yakin dengan jawaban Arselli. Mendadak kecemburuan menguasainya tatkala sosok Clara terlintas di fikirannya. Lagi-lagi malam itu memanas kali ini kecemburuan yang merajai.
" Kau akan menghadiri pesta ulang tahun Clara ? " terngiang ucapan Clara yang menyebut Arselli sebagai tamu spesialnya nanti.
" Aku terpaksa hadir , acaranya bertepatan dengan launching produk terbaru perusahaanku , Alessya. " Jawab Arselli terbata takut-takut Alessya marah.
" Perusahaanmu ? " merasa aneh.
" Ibuku yang merencanakan semua itu. " Tidak sadar ucapannya seperti menabuh genderang perang bagi Alessya.
Alessya mendelik marah. Dia memalingkan muka dari Arselli .Air matanya menetes perlahan tak terbendung , dan pria itu masih tidak menyadarinya.
Bahkan ibumu sampai turun tangan mempersiapkan pesta untuknya , bukankah itu bukti bahwa ibumu lebih menyukai Clara .
Aku benar - benar seperti butiran debu Russel.
" Kau akan datang ? " Tanya Arselli pada Alessya.
" Aku lihat kau sedikit dekat dengan Clara ". Masih menyetir mobilnya.
" Tidak. Aku tidak akan tahan melihatmu dengannya nanti. " Tersenyum sarkasme.
Arselli menatap Alessya , melihat matanya yang sendu seperti habis menangis.
Arselli hanya diam dan mengerti , dia tahu ini pasti akan sulit.
" Percayalah , aku hanya mencintaimu , Alessya. Dan berjanzilah untuk slalu menggenggam tanganku , apapun yang terjadi nanti. "
Alessya terdiam sesaat.
" Semoga aku bisa , Russel. " Dengan nada suara yang dingin menjawab ucapan Arselli.
" Aku yakin kau bisa , Alessya. " Mengusap lembut kepala Alessya.
Arselli terus melajukan mobilnya sedangkan Alessya memutar kepalanya , kembali menatap ke luar jendela. Menuju ke kontrakan nya yang sederhana itu , sangat berbeda jauh dengan tempat tinggal Arselli kekasihnya.
***
Alessya berjalan gontai menuju teras kontrakannya , langkahnya terhenti ketika melihat sebuah paper bag tergantung di gagang pintu kamar kontrakannya.
Beringsut mengambil paper bag itu , karena terlampau penasaran. Terdapat sebuah pesan yang tergantung pada tali paper bag itu.
**To.. Alessya
I Miss u , my best friend.
Call me please !!
from Diana**
Alessya terpaku menatap pesan itu.
Hatinya menghangat seketika .Dia tersenyum kecut , memikirkan bisa -bisanya dirinya melupakan persahabatan mereka selama ini , hanya karena sebuah masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan apabila dibicarakan dengan baik-baik.
Bukankah Diana adalah sahabat baiknya , sahabat yang selalu ada dalam suka maupun duka untuk dirinya.
Dia segera masuk ke kontrakannya setelah membuka kunci pintu yang sedikit berkarat itu. Mengeluarkan ponsel dari dompetnya dan menghubungi Diana. Beringsut duduk di atas ranjang kecilnya.
" Alessya " . Terdengar suara Diana menjawab panggilannya.
" Alessya " . Ulangnya karena tidak kunjung mendapat jawaban dari sahabatnya itu.
" Din..." seperti biasa , Alessya selalu memanggil Diana seperti itu.
" Kau baik-baik saja ? Maaf...aku sangat sibuk akhir-akhir ini."
" Tidak, kau tidak salah Din."
" Apa yang terjadi ? Kenapa aku merasa kau menghindariku ? Apa kau sakit ? hmm ? " Diana bertanya bertubi - tubi mencurahkan semua pertanyaan yang bergumul di benak fikirannya selama beberapa hari terakhir.
" Aku tidak sakit Din."
" Lalu ?? "
" Ada sedikit masalah. "
" Masalah apa , Alessya ? Kenapa tidak bercerita padaku ? "
" Aku masih bingung , Din "
" Ceritakan padaku , Alessya ."
" Kau yakin ? "
" Tentu saja , bukankah kita bersahabat."
" Baiklah , kita bertemu besok di kampus . Kau ada kelaskan besok ? "
" Ada .Baiklah besok kita bertemu Ok.Kau harus menceritakan semuanya padaku. "
" Ok...oh iya terima kasih makanannya , Din , kau memang sahabatku yang terbaik "
" Alessya...kau tahukan aku sangat menyayangimu...semua itu bukan apa -apa."
" Ya...tapi tetap aku harus berterimakasih banyak padamu Din....."
.....
....
.....
***
🖤
🖤
🖤
Jangan lupa like , rate , dan vote.
Kritik dan saran ditunggu.
Cerita ini murni hanya fiktif , murni dari khayalan sang penulis yang terlalu banyak menonton film dan drama Korea ; -)
mampir ya thor
menikmati dulu karyamu ...