Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Terbesar Chapter 3
Dimeja makan sudah ada sup kepiting, daging sapi lada hitam dan ayam cabe hijau. Prapta tertegun, Ia yang sedari pulang lebih banyak diam mendadak keheranan.
"Hari ini Kau masak semua makanan favoritku" Prapta menggumam.
Safana yang berdiri disebelahnya menarikkan kursi untuk suaminya duduk.
" Tidak boleh ya ?. Kalau tidak boleh nanti Safana suruh Sumi yang menghabiskan" Safana menggoda.
Prapta menoleh pada istrinya dan menarik tangannya untuk duduk di sampingnya.
"Terima kasih" Prapta diliputi haru. Ia hampir menangis melihat apa yang sudah dilakukan istrinya. Istrinya selalu berupaya untuk menyenangkannya sementara Ia selalu saja membuat pernikahan yang mereka jalani bersama berada diujung tanduk.
"Habiskan ya" Safana mengambilkan nasi dan lauknya
Prapta mengangguk pelan, dadanya terasa sesak menyadari bahwa sebentar lagi Ia akan melukai Safana untuk kesekian kalinya.
"Bagaimana hasil pemeriksaan Dokter tadi ?" Sambil menyantap hidangan makan malam yang dihidangkan Safana, Prapta bertanya
"Kata Dokter Aku sehat, tidak ada masalah kesehatan sama sekali."
Prapta menoleh tak percaya
"Bagaimana mungkin Kau sehat kalau Kau mual dan muntah hampir setiap hari.
Dokternya pasti asal-asalan memeriksamu. Lusa Kita cari dokter lain untuk mendapatkan second opinion" Prapta mengusulkan.
Safana hanya manggut-manggut saja dan mengulum senyum. Lusa sebelum mereka benar-benar ke Dokter, Ia akan mengabarkan berita gembira ini pada suaminya dan keluarga besar mereka.
Pembukaan galeri berlangsung meriah, Safana mendampingi Prapta memotong pita. Setelah itu mereka menyilakan manager intern, sosialita fashion dan rekan bisnis untuk menikmati peragaan busana batik didalam galeri sembari menikmati hidangan yang disiapkan.
Prapta memberi sambutan diatas panggung, istrinya bergabung dengan para tamu menikmati standing party yang diadakan.
Heidy yang menyadari Prapta masih diatas panggung mendekati Safana.
"Sudah lama ya Kita tidak bertemu" Heidy menyapa Safana dengan keramahan yang dibuat-buatnya.
"Iya Mba, apa kabar ?" Safana membalas sapaan ramah Heidy tanpa prasangka apapun.
"Baik. Lagi hamil nih, jadi agak nggak selera makan" Heidy meraih tangan Safana dan menempelkan diperutnya.
Prapta yang tengah memberi sambutan tak sengaja melihat. Ia dirambati kekhawatiran Heidy akan mengatakan tentang kehamilannya pada Safana.
"Lho, kapan nikahnya Mba ?. Kok nggak ngundang-ngundang ?" Safana menurunkan tangannya dan menatap heran.
" Mas Prapta memangnya nggak cerita ?" Heidy pura-pura bingung
"Cerita apa ?" Safana menoleh sekilas ke arah suaminya yang masih berada di atas panggung. Raut wajah Prapta tampak menegang saat memberi kata sambutan.
"Kalau bayi yang Saya kandung anak Mas Prapta. Kenang-kenangan Kami dari Maroko kemarin" Heidy tampak tenang mengatakannya.
Sebaliknya Safana yang mendengar terperanjat kaget, apa yang disampaikan Heidy seperti petir yang menyambar telinganya.
Safana berdiri mematung, melihat ke arah Prapta yang seperti terburu-buru ingin menyudahi sambutannya.
Ia mengerti sekarang kenapa Prapta pulang lebih awal dari schedule di Maroko, kenapa pria itu mendadak berubah baik padanya, kenapa Ia lebih perhatian. Prapta pasti ingin menembus rasa bersalahnya, pria itu mencoba menutupi kelakuannya.
Sesak didadanya tak lagi tertahankan, Safana membalikkan badan. Bergegas meninggalkan galeri. Ia tak perlu lagi penjelasan dari suaminya, Ia sudah cukup mengerti kalau Prapta tak mungkin berubah. Pria itu akan tetap menjadi lelaki yang sama sepanjang mereka menikah. Liar dan jauh dari jangkauannya.
"Taxi" Safana melambaikan tangan pada taxi yang melintas dimuka galery.
Taxi berhenti, Safana membuka pintu belakang dan masuk ke dalamnya.
“Cepat jalan Pak.“
Supir taxi yang usianya mungkin lima puluhan tersebut menurut.
“Kita kemana Bu ?” sambil mengemudikan mobilnya supir taxi melihat dari kaca spion.
“Jalan saja Pak“ Safana yang sedih tak ingin pulang, Ia mulai menumpahkan tangisnya.
Melihat perempuan yang menumpang taxinya menangis, si supir taxi mencoba bertenggang rasa. Ia terus mengemudi dan tak bertanya lagi mau kemana perempuan itu sebenarnya.
Ia biarkan perempuan itu menangis sementara Ia terus mengemudikan mobilnya mengelilingi ibukota.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya