SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PREDATOR DI KEDALAMAN DAN NAMA YANG MATI
KREK!
Bunyi patahan tulang leher yang renyah menggema di dasar jurang tambang belerang yang gelap gulita.
Seekor Beast bawah tanah seukuran serigala, yang kulitnya dipenuhi sisik batu beracun, kejang sesaat sebelum akhirnya mati. Mata merah binatang buas itu mendelik ngeri, menatap sosok manusia yang baru saja meremukkan lehernya hanya dengan satu tangan.
Di dalam kegelapan pekat yang tidak berani dijamah oleh para pengawas kota, sosok pemuda bernama Tian Xue berdiri dengan napas teratur.
Tangan kanannya yang menembus leher Beast tersebut tidak terlihat seperti tangan manusia.
Kulit lengannya telah dilapisi oleh sisik-sisik hitam kusam. Ujung jemarinya mengeras menjadi cakar naga purba yang meneteskan darah panas sang monster.
Tanpa rasa jijik sedikit pun, Tian Xue merobek dada Beast tersebut.
Ia memusatkan insting purbanya, menyerap esensi darah murni dari jantung binatang buas itu. Darah segar itu langsung bereaksi, mendidih dan membakar sumsum tulangnya, memperkokoh kekuatan fisik Peringkat 3 yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
‘Masih belum cukup... Darah Beast bermutasi kotor ini terlalu lemah untuk memicu evolusi Garis Darah Naga Purbaku ke tingkat selanjutnya,’ batin Tian Xue dingin.
Dua belas tahun menjadi budak tambang kaum Low-Blood telah mengajarkan Tian Xue satu hal: Dunia ini adalah neraka, dan hanya iblis yang bisa selamat.
Di Benua Canglan, kasta garis darah adalah hukum absolut.
Klan Naga Murni berdiri pongah di puncak rantai makanan. Kaum Half-Dragon menjadi lintah darat berwujud pengawas kota. Sementara kaum Low-Blood dibiarkan membusuk di dasar tambang sebagai budak seumur hidup.
Tujuh belas tahun lalu, altar suci Klan Chi menolak Tian Xue sewaktu bayi.
Mereka membuangnya layaknya sampah, mengira darahnya mati. Mereka tidak pernah tahu bahwa altar rendahan buatan manusia pencuri darah itu mendadak membisu karena tidak sanggup menahan keagungan mutlak dari Garis Darah Naga Purba miliknya!
Srrr...
Dalam sekejap mata, cakar dan sisik naga di lengan Tian Xue menyusut kembali ke balik pori-pori kulitnya.
Ia mengusap sisa darah di tangannya menggunakan debu belerang, menyembunyikan hawa membunuhnya, lalu merayap naik ke permukaan tambang.
Di bawah terpaan cahaya bulan yang redup, Tian Xue kembali memasang topengnya.
Ia berjalan menyusuri pemukiman kumuh Low-Blood dengan langkah gontai, bahu yang sedikit membungkuk, dan pakaian lusuh yang dipenuhi debu batu. Sama persis seperti ribuan kuli tambang tak berguna lainnya.
Tidak ada satu pun pengawas yang menyadari bahwa pemuda gembel yang baru saja melewati pos penjagaan mereka adalah petarung mematikan setingkat Peringkat 3.
Langkah kaki Tian Xue akhirnya berhenti di halaman belakang sebuah rumah panggung kayu yang reyot.
"Tian'er..."
Sebuah suara serak dan sarat kelelahan menyambutnya dari ambang pintu.
Seorang wanita paruh baya bernama Sun'an melangkah pelan. Di pelipisnya terdapat sepasang tanduk kecil yang kusam, penanda bahwa ia adalah mantan Half-Dragon kasta pekerja yang telah kehilangan segalanya.
Di tangannya, terpangku sebuah nampan kayu berisikan semangkuk sup hangat dan segelas teh herbal.
"Ibu bawakan makanan kesukaanmu. Istirahatlah, Nak," ucap Sun'an seraya menyunggingkan senyum tulus yang memilukan.
Tian Xue menatap wanita tua itu. Tatapan matanya yang tadi di dasar tambang sedingin pembunuh bayaran, seketika melunak dan memancarkan kehangatan.
"Ya, Bu," jawab Tian Xue pelan.
Meskipun tidak ada setetes pun darah yang sama mengalir di antara mereka, Sun'an adalah satu-satunya alasan mengapa Tian Xue belum meratakan kota pengawas ini dengan tanah.
Sun'an meletakkan nampan di atas meja bambu. Namun, tangan kasarnya tampak gemetar. Raut wajahnya diliputi kecemasan yang teramat dalam.
"Tian..." panggil Sun'an pelan. Ia menggigit bibir bawahnya. "Tiga bulan lagi... kompetisi generasi muda Benua Canglan akan diadakan di wilayah luar gunung."
Sun'an tahu betul bahaya dari ajang akbar tersebut.
Kompetisi itu adalah panggung unjuk gigi bagi para keturunan Klan Naga Murni. Tempat di mana ras Half-Dragon dan Low-Blood hanya dijadikan samsak hidup, bahan cemoohan, atau daging giling untuk memuaskan ego para tuan muda klan.
Tian Xue melangkah mendekat. Ia meraih cangkir teh herbal, menyesapnya perlahan untuk membersihkan kerongkongannya dari debu belerang.
"Apa Ibu khawatir mereka akan menghinaku lagi?" tanyanya lugas, suaranya teramat tenang.
Sebelum Sun'an sempat menjawab, Tian Xue menurunkan cangkirnya, meraih jemari kasar wanita tersebut, dan menggenggamnya erat.
"Jangan khawatirkan apa pun, Bu. Hinaan orang-orang itu tidak akan pernah bisa menembus kulitku. Aku sudah terbiasa dengan darah dan rasa sakit."
Sun'an menatap sepasang mata anak angkatnya. Di sana tidak ada ketakutan, hanya ada sebuah telaga hitam yang tidak berujung.
"Ibu tahu... Ibu selalu percaya padamu, Tian'er."
Namun, Sun'an tidak akan pernah bisa membayangkan rencana gila apa yang sedang disusun oleh pemuda ini.
Tian Xue tidak berniat pergi ke panggung kompetisi itu untuk memohon pengakuan. Ia tidak akan pernah sujud di depan Klan Chi agar diterima kembali.
Tujuannya melangkah ke arena itu hanya satu:
Menginjak-injak harga diri seluruh klan teratas, membongkar kebusukan mereka, dan membungkam setiap mulut yang pernah menertawakan penderitaan ibunya!
Tian Xue menghela napas pelan. Ia melepaskan genggaman tangannya, menatap lurus menembus kegelapan malam, lalu kembali menatap Sun'an dengan binar mata yang amat serius.
"Bu... mulai sekarang, jangan pernah lagi memanggilku Tian'er."
Pemuda itu menghentikan kalimatnya sejenak.
"Panggil aku Xue Tian."
Jleb!
Kata itu terucap dengan nada pelan, tetapi dampaknya bagaikan godam besi yang menghantam dada Sun'an!
Wajah wanita tua itu seketika pucat pasi bagaikan mayat. Tubuhnya mematung kaku, napasnya tertahan erat, dan kakinya nyaris lemas.
Marga Xue.
Di seluruh penjuru Benua Canglan, di bawah kekuasaan absolut Empat Klan Naga Murni, marga itu adalah tabu terlarang paling berdarah!
Sebuah rahasia kelam tentang Penguasa Purba masa lalu yang sejarahnya telah dihapus secara paksa, dan keturunannya diburu hingga musnah. Menyebut nama itu secara terbuka sama saja dengan mengundang pembantaian massal!
"Tian'er!" bisik Sun'an dengan suara gemetar hebat. Matanya liar memindai sekeliling halaman belakang yang gelap. "Apa kau gila?! Apakah kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan?!"
Xue Tian tidak sedikit pun panik melihat reaksi ketakutan ibunya.
Pemuda itu justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis—senyuman iblis yang memancarkan tekad membaja dan kekejaman absolut.
"Ya, Bu. Aku tahu betul," jawabnya sangat tenang. "Aku tahu bahwa Marga Xue adalah tabu dan ancaman terbesar bagi para penguasa benua ini."
Xue Tian mendongak, menatap bulan sabit merah di atas langit Hutan Purba.
"Di luar sana, di hadapan anjing-anjing pengawas kota, aku akan membalikkan namanya menjadi Tian Xue..."
Tatapan mata pemuda itu mengeras, sedingin es abadi.
"...Sampai tiba harinya di mana aku memiliki kekuatan untuk menyandangkan marga sejati itu di atas langit benua ini, dan membuat para klan murni itu berlutut di bawah kakiku."
Xue Tian menatap lurus ke arah pintu panggung depan.
"Karena bagi diriku... Marga Chi sudah lama mati."