NovelToon NovelToon
Sistem Pager Iblis

Sistem Pager Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : Pesan Pertama dari Sistem

Rasa pusing di kepala Lin Fan makin menjadi-jadi.

Penglihatannya berbayang, membelah bayangan pohon-pohon pinus raksasa di depannya menjadi dua.

Setiap kali kakinya melangkah menapak tanah hutan yang basah, rasa dingin menusuk menembus sol sepatunya.

Sfx: Krak... Krasak...

Suara ranting kering yang terinjak oleh langkah kakinya berbunyi nyaring memecah keheningan malam yang mulai turun.

Hutan terlarang ini terletak tepat di punggung desa, sebuah wilayah yang sejak kecil selalu diwanti-wanti oleh tetua kampung agar tidak dikunjungi.

Penduduk desa percaya bahwa siapa pun yang melangkah terlalu dalam ke balik ranting-ranting hitam hutan ini setelah matahari terbenam tidak akan pernah kembali dengan ingatan yang utuh.

Namun Lin Fan tidak punya pilihan lain saat ini.

Layar transparan berpinggiran merah menyala di depan matanya terus menghitung mundur dengan sangat kejam.

[Waktu Tersisa: 04 Menit 12 Detik]

[Segera Temukan Altars Kayu Hitam Di Pusat Hutan]

"Di mana... di mana altar itu..." bisik Lin Fan sambil memegangi dadanya yang terasa dihantam beban berbobot ratusan kilogram.

Napasnya memburu, keluar berupa kepulan uap putih tipis karena suhu udara di sekitar hutan yang mendadak merosot drastis.

Langkah kaki Lin Fan sempoyongan.

Ia menyapu semak belukar yang berduri menggunakan tangan telanjang, tidak peduli lagi ketika duri-duri tajam menggores kulit lengannya hingga berdarah.

Darah segar menetes dari lengan Lin Fan, jatuh membasahi dedaunan busuk di tanah.

Anehnya, begitu tetesan darah itu menyentuh tanah hutan, rerumputan di sekitarnya perlahan layu dan berubah warna menjadi hitam legam seketika.

Seolah-olah tanah hutan itu sendiri adalah makhluk hidup yang sedang menyerap energi dari darah Lin Fan.

Sfx: Greeek... Kreeek...

Suara gesekan kayu besar bersahut-sahutan dari arah atas pohon-pohon tua.

Lin Fan menengadah sebentar, namun kabut tebal berwarna abu-abu kehitaman menutupi pandangannya ke arah langit.

Ia tidak bisa lagi melihat bintang maupun bulan.

Dunia di sekitarnya seolah mendadak menyusut, hanya menyisakan dirinya dan jalur tanah sempit yang membawanya makin jauh ke dalam kegelapan.

[Waktu Tersisa: 02 Menit 05 Detik]

[Deteksi Keberadaan Altar: 50 Meter Di Depan Anda]

Lin Fan memaksakan kakinya untuk berlari.

Rasa lelah yang luar biasa mencoba merobohkannya, tetapi dorongan untuk bertahan hidup memaksa otot-otot buncit di kakinya bergerak lebih cepat.

Ia menembus tumpukan semak terakhir dan akhirnya sampai di sebuah area terbuka melingkar di tengah hutan.

Di tengah-tengah area terbuka tersebut, berdiri sebuah struktur tua yang tampak terbuat dari balok-balok kayu hitam yang sudah menghitam seperti arang.

Bentuknya menyerupai altar persembahan kuno dengan empat pilar kecil di setiap sudutnya.

Di atas permukaan altar kayu tersebut, terdapat ukiran cekungan berbentuk telapak tangan manusia yang dilapisi oleh warna merah marun kusam.

[Lokasi Dituju Berhasil Ditemukan]

[Silakan Letakkan Telapak Tangan Kanan Anda Di Atas Ukiran Altar]

[Proses Penagihan Bayaran Pertama Akan Segera Dimulai]

Lin Fan melangkah mendekati altar tersebut dengan tubuh gemetar hebat.

Hawa dingin yang menyengat memancar kuat dari permukaan kayu arang tersebut.

"Kalau aku melakukan ini... apa yang akan terjadi padaku?" gumam Lin Fan dengan suara parau.

Namun belum sempat ia berpikir lebih panjang, angka perhitungan mundur di layarnya sudah menyentuh sepuluh detik terakhir.

[00 Menit 05 Detik]

[00 Menit 04 Detik]

Rasa sakit yang sangat hebat tiba-tiba melilit jantung Lin Fan seolah-olah ada jemari tak kasatmata yang sedang meremas organ vitalnya itu dari dalam.

"Argh!" jerit Lin Fan sambil berlutut di depan altar.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia menempelkan telapak tangan kanannya tepat di atas ukiran telapak tangan di atas altar kayu hitam tersebut.

Zap!

Rasa panas menyengat langsung membakar kulit telapak tangannya.

Kulitnya seolah menempel erat pada permukaan kayu altar, menyerap seluruh kehangatan dari tubuhnya secara paksa.

Lin Fan bisa melihat garis-garis pembuluh darah di lengannya menonjol keluar dan berwarna kehitaman secara perlahan, bergerak naik dari pergelangan tangan menuju ke arah bahunya.

Sfx: Bzzzzzt!

Cahaya kebiruan bersampur merah menyala hebat dari selat-selat kayu altar tersebut.

Udara di sekitar area terbuka itu mendadak berguncang hebat, meniupkan dedaunan kering berterbangan membentuk putaran angin kecil di sekeliling Lin Fan.

[Proses Penagihan Bayaran Pertama: Dimulai]

[Menyerap Energi Vital Pengikat Kontrak...]

[Pengurangan Energi Vital: 15%]

[Status Fisik Pengguna Berubah: Terkuras / Lemah]

Lin Fan merasakan tenaganya menguap begitu cepat.

Matanya makin berat dan lututnya benar-benar tidak sanggup lagi menopang berat badannya.

Ia ambruk menyamping di atas tanah basah, namun telapak tangan kanannya masih menempel kaku pada permukaan altar seolah dikunci oleh kekuatan gaib.

Di saat kesadarannya berada di ambang batas antara pingsan dan terjaga, garis-garis teks transparan di depan matanya mendadak melebur.

Teks berwarna putih dan merah itu mencair, berubah menjadi gumpalan cairan tinta hitam yang mengapung di udara kosong.

Cairan tinta hitam itu meliuk-liuk membentuk wujud sepasang mata merah raksasa tanpa kelopak yang menatap lurus ke arah jiwa Lin Fan.

Sebuah suara gemuruh yang amat berat dan dalam bertiup langsung di dalam pikiran Lin Fan, bukan lewat telinganya.

"Anak cucu garis keturunan Lin..." gema suara tersebut.

Suara itu terdengar sangat kuno, seolah datang dari balik kuburan ratusan tahun lalu.

"Kamu telah membangunkan Pagar Iblis yang tertidur lelap di tanah ini..."

Lin Fan tidak bisa bersuara, tenggorokannya terasa tersumbat oleh hawa es yang membeku.

"Uang lima puluh ribu Yuan hanyalah setetes air dari samudra kekuatan yang kami miliki," lanjut suara itu dengan nada terkekeh pelan yang membuat bulu kuduk Lin Fan berdiri sempurna.

"Tetapi ingatlah, wahai pemuda yang terdesak..."

"Setiap dinding pagar yang kami bangun untuk melindungimu dan keluargamu, akan meminta darah dari musuh-musuhmu... atau darah dari dirimu sendiri jika kamu gagal memberi kami makan."

Sfx: Duuum!

Suara dentuman keras terdengar di dalam kepala Lin Fan, disusul oleh deretan teks baru yang mendadak memenuhi pandangannya.

[Pesan Sistem Terbuka: Peraturan Utama Pagar Iblis]

[1. Pagar Akan Melindungi Lingkungan Tempat Tinggal Dari Ancaman Gaib Dan Manusia Berpikir Jahat]

[2. Setiap Penggunaan Kekuatan Sistem Membutuhkan Tumbal Energi Vital Atau Jiwa Makhluk Hidup]

[3. Jika Pengikat Kontrak Mati, Sistem Akan Mencari Pewaris Garis Keturunan Lin Berikutnya]

[Peringatan Khusus: Jangan Biarkan Orang Luar Mengetahui Keberadaan Lontar Leluhur]

Suara gemuruh di dalam kepalanya perlahan memudar seiring dengan meredupnya sepasang mata merah tinta di udara.

Tekanan berat yang mencengkeram jantung Lin Fan perlahan-lahan mengendur.

Cengkeraman gaib pada telapak tangan kanannya di atas altar kayu terlepas secara tiba-tiba.

Lin Fan menarik tangannya kembali dan memeluk dadanya sendiri, terengah-engah menghirup udara malam yang dingin.

Ia melihat telapak tangan kanannya.

Di tengah telapak tangannya kini terdapat sebuah tanda seperti bekas luka bakar berbentuk lingkaran kecil dengan garis silang di tengahnya.

Tanda itu berwarna merah kehitaman, tampak menyatu sempurna dengan jaringan kulitnya.

[Penagihan Bayaran Pertama Selesai]

[Kondisi Tubuh Anda Telah Distabilkan]

[Sistem Pagar Iblis Tahap 1 Telah Aktif Sepenuhnya]

[Membuka Akses Fitur: Radar Ancaman Wilayah (Jarak 100 Meter)]

Lin Fan berusaha memaksakan tubuhnya untuk duduk bersandar pada salah satu pilar kayu altar.

Meskipun rasa sakit melilit jantungnya sudah hilang, tubuhnya terasa sangat lemas seolah-olah ia baru saja berlari maraton puluhan kilometer tanpa henti.

Wajahnya yang terpantul di layar ponsel tampak pucat pasi dengan lingkar hitam tebal di bawah matanya.

Ia terlihat seperti orang yang sedang sakit parah.

"Lima belas persen energi vital..." bisik Lin Fan sambil memegangi pipinya yang makin tirus.

Kalau hanya untuk melunasi utang sewa rumah sebesar dua puluh ribu Yuan saja ia harus kehilangan energi vital sebanyak ini, bagaimana dengan tugas-tugas sistem di masa depan?

Lin Fan menyadari bahwa dirinya kini telah terikat pada jalur tanpa jalan pulang.

Ia tidak bisa membatalkan kontrak ini, karena pembatalan berarti kematian mendadak bagi dirinya.

Satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah mengikuti permainan gila dari [Sistem Pagar Iblis] ini sambil mencari cara untuk mengendalikannya.

Sfx: Kruuuk...

Suara perut Lin Fan berbunyi nyaring, menandakan energi tubuhnya benar-benar telah terkuras habis oleh ritual persembahan tadi.

Lin Fan meraih tas selempang tuanya, memastikan gulungan lontar serat tua milik leluhurnya masih tersimpan aman di dalamnya.

Lontar itu terasa dingin dan tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Lin Fan pelan-pelan berdiri, menopang badannya menggunakan pilar altar sebelum akhirnya bisa melangkah dengan konstan.

Saat ia berbalik untuk berjalan kembali menuju pemukiman desa, ia melihat garis-garis hijau tipis mengapung di udara, membentuk sebuah peta mini di sudut pandangannya.

Peta mini itu menunjukkan posisi dirinya sebagai titik biru, sementara area sekitar rumahnya ditandai oleh lingkaran hijau samar yang menandakan wilayah Pagar Perlindungan Rumah.

Namun di luar lingkaran hijau tersebut, pada peta mini radar ancaman yang baru saja aktif, Lin Fan melihat dua titik merah kecil sedang bergerak perlahan mendekati area tepi desa.

Dua titik merah itu bergerak menuju ke arah satu tempat yang sangat ia kenal.

Rumah tempat ibu dan adiknya berada.

Mata Lin Fan membelalak lebar.

Rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya seketika menguap tergantikan oleh kejutan adrenalin yang dahsyat.

"Siapa mereka...?" batin Lin Fan dengan gigi terkatuk rapat.

Ia tidak membuang waktu lagi dan segera berlari menembus kegelapan hutan terlarang, kembali menuju rumahnya sebelum hal buruk terjadi pada keluarganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!