Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028
Sopir lama keluarga Yanto tidak tinggal jauh dari bekas sekolah dasar Keira.
Namanya Pak Darto. Usianya sudah lewat enam puluh, rambutnya putih di bagian pelipis, punggungnya sedikit membungkuk. Ia sekarang menjaga toko fotokopi milik anaknya di dekat kompleks sekolah swasta lama di Bintaro. Ketika Gio menyebut nama Keira, tangan lelaki itu langsung salah menekan tombol mesin fotokopi.
Kertas keluar kosong.
"Saya tidak tahu apa-apa," katanya terlalu cepat.
Rayhan berdiri di depan meja kasir kecil, tidak menaikkan suara. "Kalau Bapak tidak tahu apa-apa, tangan Bapak tidak akan gemetar begitu."
Pak Darto mematikan mesin. Anak perempuannya yang sedang menyusun buku latihan melirik bingung. Gio segera membeli satu pak amplop dan beberapa map, lalu memberi isyarat agar pembicaraan pindah ke warung kopi di sebelah.
Pak Darto akhirnya duduk di kursi plastik dengan wajah kusam.
"Sudah lama, Pak. Kejadiannya juga sudah selesai."
"Bagi Keira, tidak selesai," jawab Rayhan.
Lelaki tua itu menunduk.
Di meja, Gio membuka foto jadwal sekolah lama yang ia dapat dari arsip yayasan. Hari itu, Keira kelas tiga SD. Jam pulang pukul dua belas lewat tiga puluh. Biasanya sopir Yanto menjemput pukul dua belas empat puluh lima. Tetapi menurut catatan satpam, Keira keluar gerbang pukul satu lewat dua puluh, menunggu sendirian hampir empat puluh menit.
"Bapak yang bertugas menjemput?" tanya Gio.
Pak Darto mengangguk pelan. "Iya."
"Kenapa terlambat?"
Ia mengusap wajah dengan dua tangan. "Nyonya Meilan yang suruh."
Suara di warung kopi mendadak terasa jauh. Rayhan tetap diam, memberi ruang agar kalimat berikutnya keluar sendiri.
"Pagi itu Kiara demam tinggi. Saya sudah siapkan mobil mau antar Keira ke sekolah dan nanti jemput seperti biasa. Tapi siang-siang Nyonya telepon. Katanya saya jangan ke sekolah dulu. Tunggu perintah."
"Apa alasannya?"
"Katanya Kiara butuh saya antar obat ke klinik. Tapi ternyata obatnya sudah dibawa kurir. Saya tanya, 'Nyonya, Non Keira bagaimana?' Nyonya marah. Katanya, 'Anak itu bisa tunggu. Jangan selalu bikin dia merasa penting.'"
Rayhan menatap foto gerbang sekolah lama. Pagar hijau, pos satpam sempit, pohon ketapang di dekat trotoar. Ia membayangkan Keira kecil berdiri di sana, seragam putih merah, tas terlalu besar di punggung, menunggu mobil yang tidak datang.
"Lalu apa yang terjadi?"
Pak Darto menarik napas patah. "Ketika saya akhirnya sampai, Keira sudah tidak ada."
"Satpam?"
"Satpam bilang ada perempuan dan laki-laki menghampiri Keira. Mereka bilang disuruh Mama jemput. Keira awalnya menolak. Tapi mereka menyebut nama Kiara, bilang adiknya sakit dan Mama menunggu. Keira ikut."
Gio menulis cepat.
"Bapak lapor ke Meilan?"
"Saya langsung telepon. Nyonya diam lama sekali. Lalu dia bilang saya cari pelan-pelan dulu, jangan bikin ribut. Saya panik, Pak. Itu anak hilang. Tapi Nyonya bilang kalau sampai sekolah dan keluarga lain tahu, nama Yanto rusak."
Untuk pertama kalinya, suara Pak Darto pecah.
"Saya cari sendiri sampai sore. Baru malam Pak Fengky turun tangan. Itu pun setelah Kiara kejang lagi."
Rayhan mengangkat pandangan. "Kiara kejang?"
"Demamnya naik. Dokter datang dua kali. Nyonya Meilan menangis di kamar Kiara, terus bilang, 'Cari Keira. Kalau Keira pulang, Kiara pasti turun panasnya.'"
Gio berhenti menulis. "Jadi setelah Keira hilang, mereka baru benar-benar mencari karena kondisi Kiara memburuk?"
Pak Darto mengangguk.
"Berapa lama Keira hilang?"
"Hampir dua hari. Polisi tidak langsung dilibatkan resmi. Pak Fengky pakai orang luar, katanya biar tidak ramai. Mereka temukan Keira di terminal kecil arah Bekasi. Katanya hampir dibawa keluar kota."
Rayhan memejam sebentar.
Keira kecil, sendirian, hampir dua hari. Bukan sekadar tersesat. Bukan kecelakaan keluarga. Ada orang dewasa yang melihat bahaya datang dan memilih membiarkannya lebih lama karena malu, karena percaya, karena Keira bukan anak yang harus lebih dulu diselamatkan.
"Keira ingat?"
"Waktu pulang, dia demam juga. Diam terus. Kalau ditanya, cuma bilang dia mau pulang karena Kiara sakit. Nyonya Meilan memeluk dia di depan keluarga besar. Semua orang menangis. Tapi setelah tamu pulang..."
Pak Darto menggigit bibirnya.
"Lanjutkan," kata Rayhan.
"Nyonya menampar Keira. Katanya, 'Kamu tahu Kiara hampir mati karena kamu tidak ada?' Keira jatuh, tapi tidak menangis. Dia malah merangkak ke ranjang Kiara dan pegang tangan adiknya."
Gio menghela napas pelan, hampir tidak terdengar.
"Lalu?" suara Rayhan tenang, terlalu tenang.
"Besok paginya, demam Kiara turun. Dari situ semua orang di rumah makin percaya. Kalau Kiara sakit, panggil Keira. Kalau Keira pergi menginap sekolah, tidak boleh. Kalau Keira dapat hadiah, harus bagi Kiara dulu. Nyonya sering bilang, 'Jangan lupa siapa yang membuat kamu tinggal di rumah ini. Selama Kiara baik, kamu boleh baik.'"
Pak Darto mengangkat wajahnya. Matanya merah.
"Saya salah, Pak. Saya sopir, saya orang kecil, tapi saya tahu saya salah. Seharusnya saya jemput Keira meski Nyonya melarang."
Rayhan tidak segera menjawab.
Di luar, bel sekolah berbunyi dari kompleks lama. Anak-anak berseragam keluar bergerombol, suara mereka riuh, ringan, tidak tahu bahwa di salah satu meja warung kopi, satu masa kecil sedang diadili kembali.
"Bapak masih punya sesuatu dari hari itu?" tanya Gio.
Pak Darto ragu, lalu membuka dompet lusuh. Dari sela plastik buram, ia mengeluarkan potongan kertas kecil yang sudah dilipat berkali-kali.
"Saya simpan karena takut suatu hari saya lupa. Ini nomor mobil yang satpam tulis waktu orang itu bawa Keira pergi. Saya tidak berani kasih ke Nyonya. Waktu itu saya pikir, kalau benar mereka orang suruhan, saya bisa celaka."
Gio menerima kertas itu dengan sarung tangan tipis dari tasnya.
Nomor polisi itu masih terbaca sebagian.
Rayhan melihatnya, lalu berkata, "Mulai hari ini, Bapak jangan hubungi siapa pun dari keluarga Yanto."
"Pak..."
"Kalau mereka datang, hubungi nomor yang Gio berikan. Bapak akan dilindungi."
Pak Darto menunduk dalam-dalam. "Saya cuma berharap Keira sekarang hidup baik."
Rayhan berdiri. Dari balik kaca warung, ia melihat anak-anak dijemput orang tua mereka satu per satu. Ada ibu yang membetulkan kerah anaknya, ada ayah yang menaruh helm kecil di kepala putrinya. Pemandangan biasa itu tiba-tiba terasa seperti kemewahan yang pernah dirampas dari Keira.
"Dia hidup lebih baik sekarang," kata Rayhan. "Dan saya akan pastikan tidak ada lagi yang membuatnya membayar hidup Kiara."
Di mobil, Gio langsung memotret potongan kertas itu dan mengirimnya ke tim pelacak lama.
"Kalau nomor ini bisa ditelusuri, kita mungkin menemukan jaringan yang membawa Keira."
Rayhan menatap gerbang sekolah yang perlahan sepi.
"Telusuri," katanya. "Tapi satu hal sudah jelas."
Gio menoleh.
Rayhan menyimpan foto gerbang sekolah itu di ponselnya, bukan sebagai bukti hukum, melainkan sebagai pengingat.
"Meilan tidak kehilangan Keira hari itu. Dia melepaskannya."
Sore itu, ketika Keira menjemput Genki tepat waktu di TK Internasional, Genki berlari ke pelukannya sambil berteriak, "Kak Kei datang!"
Keira tertawa dan merapikan topi kecilnya. "Tentu datang. Kak Kei janji, kan?"
Dari mobil di seberang jalan, Rayhan melihat adegan itu dalam diam.
Janji sederhana seperti itu pernah gagal diberikan kepada Keira kecil.
Sekarang, ia akan memastikan setiap janji untuk Keira ditepati, bahkan yang tidak pernah sempat diminta olehnya.