Gimana jadinya jika seorang anak konglomerat menikahi seorang biduan dangdut karena perjodohan kakek mereka di masa lalu.
Kalau Indonesia punya Nela Kharisma, Tristan Trijaya punya Nala Kharina. Gadis delapan belas tahun yang suka dia panggil bocil, yang ternyata seorang biduan dangdut dan suka nyanyi di acara kawinan.
Tristan yang adalah pemimpin perusahaan kakeknya saat ini, harus mau menikah Nala atas dasar janji kakeknya pada sahabatnya (kakek Nala) yang sudah meninggal. Demi mempertahankan harta yang tidak akan dibiarkan jatuh ke tangan sepupunya sendiri yang juga adalah rival besarnya, Tristan setuju menikahi Nala meski ia sendiri sudah punya kekasih.
Tapi sikap Nala yang polos, apa adanya, dan punya badan bak gitar spanyol itu seringkali membuat Tristan hampir gila. Seatap dengan gadis itu bikin hidup Tristan jadi warna warni kayak balonku ada lima. Bisakah Tristan menahan diri dan melupakan perjanjian yang sudah ia buat dengan Nala?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Seindah Malam Pertama
"Biarin gue masuk!"
"Gak bisa, Non. Tolong jangan bikin keributan, Den Tristan sama Non Nala lagi di kamar."
Security dan pelayan yang ada di rumah Tristan berusaha menghalau kedatangan Ratu yang tiba-tiba malam itu. Tristan sama Nala masih di kamar, sedang berpelukan karena Nala baru pecah telor.
Maksud Tristan mungkin pengen istrinya istirahat dulu. Dia udah ketagihan sarang semut sempit dan sempat berdarah barusan, pengen nambah tapi pelayannya menekan bel berkali-kali.
"Ada apa sih?" tanya Nala sama Tristan. Tristan mengangkat bahu.
"Tunggu disini, ya. Gue lihat dulu."
Nala biarin Tristan memakai celana pendeknya. Ia sendiri masih berhias selimut, noda merah pertanda perawan udah pecah bikin Nala menggigit bibirnya sendiri, berusaha mengingat adegan yiha-yiha yang sempat bikin dia menjerit keenakan terus minta nambah.
"Kenapa sih, Bi?" Tristan yang baru aja berhasil menerobos sarang semut dan masih pengen diemut, jadi terganggu dengan kehadiran pelayannya.
"Maaf, Den. Itu, Non Ratu ada di depan. Ngamuk."
Tristan mengerang kesal. Ia melirik sebentar Nala yang sekarang lagi sembunyi di balik selimut. Mungkin malu kelihatan pelayan di rumah itu.
"Ngapain dia kesini, Bi?" tanya Tristan setengah berbisik.
"Mana Bibi tahu, Den. Gak mungkin kan cari Bibi." kata pelayan Tristan keki.
Ya iyalah, Bambang! Ngapain nyariin Bi Inem yang jelas bukan pelayan seksi? Mau ngulek cabe bareng?
"Ya udah, bentar lagi saya turun."
Perkara ngediemin Ratu bukan hal yang mudah. Perempuan yang akan diputuskannya itu punya temperamen susah diatur dan suka menang sendiri. Makanya, Nala bilang Tristan itu manusia bodoh, udah pernah diselingkuhin sama Ratu tapi masih aja keukeh mau jadiin pacar dunia akhirat. Dunia akhirat apaan? Dunia tipu-tipu iya.
"Nala, lo bisa gue tinggal bentar kan?" tanya Tristan sambil memakai bajunya kembali. Nala mengerutkan kening, tadi bukannya Tristan sendiri yang bilang mereka bakal duel sampai pagi? Ini belom juga larut malem udah mau ditinggalin aja.
"Tristan mau kemana?" tanya Nala rela gak rela.
"Ada urusan yang mesti gue selesaiin. Lo baik-baik ya disini, laper atau butuh apapun panggil aja bik Inem."
Tristan mencium kening Nala lalu segera turun ke bawah di mana Ratu sedang menunggu dirinya.
Nala sendiri akhirnya memilih memakai kembali baju tidurnya. Dia penasaran, Tristan mau kemana. Jadi Nala membuka tirai kamar sedikit dan terlihatlah Ratu juga Tristan ada di bawah. Dengan Ratu yang sedang memeluk Tristan erat.
Nala cuma mematung, memandang nanar Tristan yang akhirnya membelai rambut wanita yang sedang menangis itu. Nala mencengkram tirai, lututnya jadi lemes kayak gak ada tulang. Apalagi setelah Tristan masuk ke mobil Ratu, entah kemana mereka akan pergi.
"Harusnya Nala gak perlu percaya sama kamu." gumam Nala penuh kekecewaan. Terasa duri menghantam hatinya.
Nala membuka koper, memasukkan baju-bajunya ke sana. Lalu menyeretnya perlahan. Gak ada airmata, tapi Nala kecewa. Si polos baik hati, sang biduan dangdut yang sudah sukses ternoda oleh lelaki yang ternyata masih memendam perasaan pada perempuan lain.
Ia meraih jaket lalu memakainya pula. Gak sempat mau ganti baju lain. Dengan tertatih, Nala menarik koper itu lalu turun dari tangga dengan susah payah.
Nala mah gitu, udah lah dia lagi susah hati, ditambah turun bawa koper pake tangga melingkar yang tinggi dan banyaknya bukan main. Padahal ada lift di tengah-tengah. Gak papa, ini gak sebanding sama sakit hati yang Nala rasa.
"Beben." Nala mengetuk-ngetuk pintu kandang Beben. Terlihat anak monyet berpempers itu lagi asyik bobo ayun di pohon buatan. Beben membuka mata, dia ngantuk berat tapi begitu dengar suara Nala yang lesu kayak gak makan tiga hari, dia jadi bangun. "Ayo kita balik ke rumah. Ini bukan rumah kita."
Sedih banget gak sih dengarnya? Beben memandang kandang itu dengan sedih pula. Baru aja jadi monyet sultan sekarang balik lagi jadi monyet pinggiran. Nasib sedang apes tapi Beben gak mau Nala sendirian, jadi dia segera menghampiri Nala dan langsung naik ke gendongan tuannya itu.
"Nala mau pulang, gak mau lagi tinggal di sini. Laki-laki itu pembohong. Nala gak mau lagi."
Meski gak ngerti bahasa manusia, Beben ngangguk-ngangguk aja sambil memeluk Nala erat. Nala membawa Beben bersamanya.
"Non Nala, mau kemana Non? Jangan kemana-mana nanti Bibi dimarahin sama Den Tristan." Bi Inem datang tergopoh-gopoh.
"Gak papa, Bik. Nala kangen rumah, maaf ya Nala ngerepotin."
"Jangan ya Non, balik yuk ke kamar."
"Gak, Bi. Nala mau pulang. Rumah Nala ada di gang sempit dan banyak pohonnya. Bukan disini." Nala masih berusaha tersenyum padahal hatinya sakit.
Terus Nala melangkah, mantap meninggalkan rumah di malam pertama ia kehilangan kesuciannya. Hati Nala pedih, dikhianati di malam pertama saat ia sudah percaya dan yakin sama Tristan.
Beben menatap Nala sedih pula. Tapi bukan karena Tristan, karena dia lihat pisang yang udah disiapin pelayan buat dia pas lewat barusan. Dia pengen bawa dikit tapi gak enak sama Nala yang lagi sedih.
Jadi dia cuma bisa memandang pisang-pisangnya yang gak bakalan kemakan itu.
Besok mereka gak bakalan jadi sultan lagi. Mereka balik jadi dora the eksplorer. Dora lagi patah hati lebih tepatnya.
keren mah pokoknya, suka sama kosakata yg dipakek mak othor..
semoga selalu diberi kesehatan ya mak..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu dimanapun dirimu berkarya..
🙏🏻💪🏻😘😍🥰🤩💕💕💕