Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Telepon Malam Hari
'Tadi Martha. Sekarang dia. Ada perlu apa dia meneleponku?' gumam Jesslyn saat melihat nama Samuel yang kini tertera di layar handphone-nya.
"Halo, Tuan Lee."
"Nona Jiang, kau belum tidur?" tanya Samuel bersemangat.
"Jika aku tidur lalu siapa yang sedang menjawab teleponmu?" tanya Jesslyn dan Samuel pun terkekeh.
"Iya kau benar. Ehm, kau sedang apa?"
"Tuan Lee, cepat katakan ada perlu apa kau meneleponku malam-malam begini? Aku mengantuk dan ingin tidur."
"Mau kutemani kau tidur?"
"Tuan Lee!" teriak Jesslyn kesal karena Samuel selalu saja menggodanya, dan pria itu pun hanya tertawa.
"Baiklah, baiklah. Aku hanya bergurau saja."
"Jika tidak ada yang penting, aku tutup dulu."
Jesslyn pun langsung memutuskan panggilan telepon itu. Namun, dering handphone-nya pun kembali menyapa.
"Mengapa kau matikan teleponnya?"
"Kau mau apa?!"
"Aku mau kamu, Jessy."
"Tuan Lee, aku mohon jangan main-main lagi. Aku ingin istirahat!"
Sekali lagi Jesslyn kembali mematikan handphone-nya. Namun, Samuel belum menyerah. Ia pun kembali menelepon Jesslyn.
"Tuan Lee, sebenarnya kau mau apa?!" tanya Jesslyn penuh penekanan karena kesal.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam padamu."
"Ya, baiklah. Selamat malam. Dan jangan meneleponku lagi."
"Baiklah. Tunggu aku kembali, Jessy. Selamat malam," ujar Samuel yang kali ini ia sendirilah yang menutup telepon Jesslyn.
Jesslyn pun mengerutkan dahinya karena tak mengerti akan ucapan dan tingkah pria aneh itu. Ia pun segera meletakkan handphone-nya di atas nakas dan menarik selimutnya. Jesslyn memejamkan matanya saat dering menyebalkan itu kembali terdengar.
'Ya, Tuhan. Pria itu benar-benar gila.'
Jesslyn pun menutup telinganya dengan bantal, tetapi dering itu pun semakin berbunyi kencang di sunyinya malam. Dengan kesal, Jesslyn pun segera menjawab panggilan telepon itu.
"Berhenti menggangguku, Br*ngsek!" umpat Jesslyn.
"Apa?!"
Jesslyn pun segera bangkit duduk karena mendengar jika itu bukanlah suara Samuel. Ia kemudian melihat ID penelepon itu dan seketika merutuki dirinya.
'Ya, Tuhan, habislah aku.'
"Kau bilang apa tadi? Aku br*ngsek? Kau sedang mengumpatku?"
"Bukan! Bukan! Anda salah, Presdir Zhou. Aku bukan memaki Anda. Aku pikir Anda adalah orang lain."
Jesslyn pun menepuk-nepuk mulutnya dengan jarinya karena tanpa sengaja telah mengeluarkan kata-kata kotor tadi. Itu pun karena ia sedang sangat kesal.
"Apa ada orang yang mengganggumu? Apa kau sendirian di rumah? Di mana suamimu?"
"Tidak. Tidak. Aku tidak sendirian di rumah dan tidak ada yang menggangguku. Itu hanya sales asuransi saja," kilah Jesslyn, asal.
"Sales asuransi? Sales asuransi dari perusahaannya mana yang tidak beretika dan menelepon selarut ini?"
"Bagaimana dengan Anda? Bukankah Anda juga sedang meneleponku sekarang? Dapatkah aku mengatakan jika Anda tidak beretika?"
"Ehm, itu ... itu karena aku adalah atasanmu. Aku hanya ingin memastikan kau sudah kembali ke rumah dan tidur, bukannya malah pergi dan bermain di luar bersama dengan pria asing," kilah Jayden.
Sebenarnya ia hanya ingin mengetahui saja apakah Jesslyn masih bersama dengan Samuel, atau sedang dengan Peter sekarang? Namun, dari nada bicara Jesslyn, Jayden tahu jika wanita itu sedang sendirian.
"Hah?! Bermain dengan pria asing? Maksud Anda Tuan Lee?"
"Aku tidak kenal dan tidak peduli siapa orang itu. Pokoknya mulai besok, kau harus langsung pulang ke rumah saat jam kerjamu berakhir. Tidak boleh pergi dengan sembarang orang apalagi pria. Juga tidak boleh menerima telepon malam-malam dari pria asing."
Jayden berbicara panjang lebar dan membuat Jesslyn semakin kesal.
"Atas dasar apa Anda melarangku? Apa Anda juga melakukannya kepada sekretaris Anda yang lainnya?"
"Tentu saja tidak! Mereka dapat menjaga dirinya sendiri. Hanya kau sajalah yang ceroboh dan mudah tertipu. Membuat orang selalu mengkhawatirkanmu."
Jesslyn pun mengelus dadanya pelan mencoba untuk meredakan emosinya agar tidak memaki atasan anehnya ini.
"Baiklah, Presdir Zhou, niat baik Anda aku terima. Aku akan menutup teleponnya. Selamat malam."
"Hey! Aku belum selesai bicara!"
"Anda bilang tadi aku tidak boleh menerima telepon dari pria asing. Bukankah Anda juga adalah seorang pria asing yang sedang meneleponku malam-malam, Presdir Zhou?"
"Sudah aku katakan, aku berbeda. Aku adalah atasanmu, dan kau harus selalu menjawab setiap panggilan telepon dariku sesegera mungkin, kapan pun itu. Jika tidak maka aku akan memotong gaji beserta bonus bulananmu!" ancam Jayden.
Jesslyn memijat pelipisnya lelah. Jayden sangat pintar berbicara. Dan lagi, semua yang dikatakannya sangat tidak masuk di akal.
"Sejak kapan ada peraturan seperti itu? Aku bekerja bersama dengan CEO Huang selama bertahun-tahun, tetapi ia tak pernah menggangguku di luar jam kerja. Apa Anda tahu jika Anda telah melanggar privasiku?"
"Jessy, sudah aku katakan berkali-kali tadi bahwa aku --"
"Berbeda. Anda adalah atasanku dan aku harus siap kapan pun saat Anda membutuhkanku. Begitu?"
Jesslyn memotong perkataan Jayden karena ia tahu itu adalah yang ingin diucapkan oleh Jayden.
'Bukan! Aku berbeda karena aku adalah ayah bayimu. Ya, kemungkinan aku ayah dari bayi itu,' gumam Jayden dalam hati.
"Ya, baiklah, jika tidak ada hal lain, maka aku akan tutup teleponnya. Aku ingin beristirahat."
"Baiklah. Tetapi, ingat yang aku katakan tadi. Kau sudah hampir memiliki bayi sekarang. Jadi berhentilah menggoda pria lain. Kau dengar aku, Jessy?!"
'Dasar gila. Seenaknya saja menuduhku bermain-main dengan pria lain di luar sana,' umpat Jesslyn kesal.
"Baiklah, Presdir Zhou. Selamat malam."
Jesslyn pun segera memutuskan panggilan telepon itu. Ia menekan tombol power untuk menonaktifkan handphone-nya yang seharusnya ia lakukan sejak tadi.
Jika saja ia melakukannya, maka ia tidak akan mendengar ocehan-ocehan tidak jelas dari mereka berempat yang mengganggu tidurnya.
Alasan mengapa ia memang tak mematikan handphone-nya tadi, adalah karena Jesslyn masih berharap Peter akan menelepon dan memberinya kabar malam ini.
Namun, kini hari semakin larut dan harapannya itu tidak mungkin lagi menjadi kenyataan. Peter tak akan ingat padanya. Jadi ia pun berhenti berharap dan segera memejamkan matanya.
.
.
.
Kediaman Pribadi Jayden, Ruang Kerja
Jayden terlihat kesal karena Jesslyn memutuskan panggilan telepon darinya begitu saja. Apalagi Jayden sebenarnya masih ingin berlama-lama mendengar suara Jesslyn. Ia juga ingin bertanya tentang lukanya, tetapi tak sempat dilakukannya karena sibuk berdebat dengan Jesslyn.
Padahal, selama ini ia tak pernah menelepon dan bertanya kabar seorang wanita terlebih dahulu. Para wanita itulah yang akan datang menghampirinya dan memohon cintanya dengan berbagai cara. Namun, tidak dengan Jesslyn.
Wanita itu selalu bersikap dingin kepadanya, meskipun Jayden berkali-kali selalu memberi perhatian kepadanya. Belum pernah ada orang yang berani berbuat seperti itu padanya. Membuatnya kesal dan gelisah dalam satu waktu. Merindu, tetapi tak dapat bertemu.
'Wanita ini! Semakin hari semakin berani menentangku saja. Heh! Tidak ada yang berani mengusikku sebelumnya, tetapi wanita lemah itu malah terus-menerus membuatku kesal.'
Jayden kemudian melemparkan handphone-nya ke atas meja kerjanya, dan berjalan ke arah mini bar yang terdapat di ruangan itu. Ia kemudian menuangkan v*dka ke dalam gelasnya dan langsung menenggaknya habis.
"Sayang, apa kau di dalam?" tanya Diana seraya membuka pintu ruang kerja Jayden.
Diana baru saja sampai di rumah dan langsung mencari pria idamannya ini. Sejak tadi pagi, Jayden memang sengaja untuk menyibukkan Diana dengan berbagai macam urusan kantor dan peluncuran produk parfum terbaru mereka.
Lalu malamnya, Jayden mengutus wanita itu untuk menghadiri sebuah pesta amal yang tak ingin didatanginya. Jayden beralasan jika ia mempunyai urusan yang lebih penting dan tak dapat menemani wanita itu untuk pergi ke pesta tersebut bersamanya.
Diana berjalan mendekati Jayden yang berada di mini bar, dan tengah asyik menenggak minuman keras di tangannya itu. Diana pun langsung merebut gelas Jayden, dan menjauhkan botol minuman itu saat Jayden ingin merebutnya kembali.
"Kembalikan padaku!" teriak Jayden.
"Jangan minum seperti itu, Sayang. Kau akan cepat mabuk nanti."
Jayden memang sengaja menenggak habis minuman beralkohol tinggi itu dan bukan menikmatinya secara perlahan. Ia memang ingin mabuk dan melupakan sosok Jesslyn yang terus saja mengganggu hati dan pikirannya. Ingin sekali ia bertemu dengan wanita itu sekarang dan mendekapnya erat.
"Pergilah! Jangan ganggu aku."
Jayden mengambil minuman lain yang terpajang di rak gantung itu dan langsung meminumnya dari botol.
"Hentikan, Jayden! Jika kau terus minum seperti ini, kau bisa mati nanti."
Diana meraih botol itu dari tangan Jayden dan meletakkannya di atas meja. Merasa ada yang janggal dengan perilaku Jayden, maka Diana pun berusaha untuk menenangkan pria ini.
"Ada apa, Sayang? Apa yang membuatmu kesal?"
Diana melingkarkan tangannya di leher Jayden dan membelai wajahnya. Pria itu sudah tampak mabuk sekarang.
"Katakanlah, Jayden. Kau bisa menceritakan semuanya padaku. Aku bersedia untuk menjadi tempatmu berkeluh kesah."
"Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu."
Jayden melepaskan tangan wanita itu dari lehernya, tetapi Diana tetap menempel lekat bak gurita.
"Jangan menolakku lagi malam ini, Jayden. Lepaskanlah bebanmu. Aku akan membuatmu relaks, Sayang. Kau mau, 'kan?" tanya Diana dan Jayden pun terdiam.
Diana mulai membuka satu per satu kancing kemeja pria itu, dan melepaskannya dari tubuh Jayden, kemudian ia pun mulai mencumbunya. Diana tersenyum karena Jayden tak menolak sentuhannya.
Merasa Jayden yang telah menyambutnya, ia pun semakin menggencarkan aksinya. Diana mencium pipi Jayden, lalu turun ke rahang dan leher kokohnya. Sementara, tangannya sudah bergerilya membelai dada dan otot perut pria itu.
Mengabsen inchi demi inchi tubuh kekar Jayden dengan sentuhan sensualnya. Membuat pria itu memejamkan matanya dalam dan mulai menikmatinya.
"Jayden, aku menginginkanmu, Sayang."
Diana menanggalkan gaun malamnya dan segera menjatuhkannya ke lantai. Kini tubuhnya hanya terbalut pakaian dalam yang sexy menggoda. Ia pun kembali memeluk dan mencumbu tubuh Jayden yang membuatnya sangat bergairah itu. Kulit tubuh mereka pun saling bersentuhan.
Jayden tenggelam dalam permainan cinta yang telah lama tak pernah dilakukannya lagi bersama dengan para kekasihnya itu. Ia pun membalas cumbuan Diana pada tubuhnya.
Jayden memeluk Diana dan membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Menyesapnya kuat dan meninggalkan jejak kepemilikkannya di sana.
Jayden mengangkat tubuh Diana dan membaringkannya di sofa besar itu, kemudian segera menguncinya di bawahnya. Sentuhan-sentuhan sensual pun terus dilancarkan oleh keduanya agar lebih membakar gairah mereka dalam bercinta.
Jayden pun menahan tengkuk leher Diana dan bersiap untuk mel*mat bibir tunangannya itu.
"Jadilah milikku. Aku mencintaimu," lirih Jayden dengan suara berat penuh gairah.
"Aku milikmu, Jayden. Aku milikmu."
Diana membalas ungkapan cinta Jayden dengan rasa bahagia. Namun, Jayden pun menghentikan aksinya. Ia membuka matanya dan terkejut saat menyadari siapa wanita yang kini tengah ia cumbui itu. Entah mengapa gairahnya pun padam seketika.
"Diana?!"
Jayden pun segera bangkit dari atas tubuh Diana dan berdiri menjauh.
"Ada apa, Jayden?" Diana bangkit dari sofa dan menghampiri Jayden.
"Berhenti di sana!" titah Jayden. Ia kemudian meraih kemejanya yang tergeletak di lantai dan memakainya.
"Sayang, kau kenapa?"
"Pergilah, Diana. Kembalilah ke kamarmu," ujar Jayden yang kini telah duduk di kursi di belakang meja kerjanya dan menyalakan rokoknya. Ia harus menenangkan dirinya.
"Apa?! Kau mengusirku?"
Tak peduli dengan penolakan Jayden, Diana pun berjalan menghampiri pria itu. Ia membiarkan tubuh polosnya yang hanya terbalut pakaian dalam itu, agar Jayden dapat melihat betapa molek tubuh Diana dan membuatnya kembali terbakar gairah. Diana kemudian duduk di atas pangkuan Jayden dan kembali menggodanya.
"Sayang."
"Pergilah, Diana. Aku lelah." Jayden memalingkan wajahnya saat Diana hendak menciumnya.
"Tetapi, Jayden, aku ... Argh!"
Jayden pun bangkit dari kursinya dan membuat Diana terjatuh ke lantai dengan keras. Ia kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Tinggallah di sini jika kau mau."
"Jayden! Kau mau ke mana?! Tunggu, Jayden!"
Jayden tak mempedulikan teriakan Diana. Ia pun kembali ke kamarnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan shower tanpa melepaskan satu helai pun pakaiannya.
"Sial!" umpat Jayden seraya meninju dinding kamar mandinya.
Ia kesal karena selalu terbayang akan Jesslyn. Saat ia tadi bersama dengan Diana pun, Jayden malah membayangkan jika ia sedang mencumbu Jesslyn. Ini adalah pertama kalinya Jayden menyentuh wanita lagi, sejak malam ia bersama dengan Jesslyn beberapa waktu yang lalu itu.
Namun, entah mengapa saat ia menyadari jika wanita itu bukanlah Jesslyn, gairahnya pun lenyap seketika. Ia bagaikan seorang pria lemah syahwat yang tak mampu melanjutkan permainannya.
Bukan Diana yang Jayden inginkan. Bukan pula para wanitanya yang lain. Ia menginginkan Jesslyn. Jayden pun merasa seperti sangat terobsesi dengan sekretaris barunya itu.
'Wanita itu! Aku harus mendapatkannya! Bagaimana pun caranya, aku akan membuatnya menjadi milikku!'
.
.
.