NovelToon NovelToon
Against The World II: Transgression

Against The World II: Transgression

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Contest / Barat / Tamat
Popularitas:499.3k
Nilai: 5
Nama Author: Near

"Dunia ideal yang kau ingin wujudkan hanyalah sesuatu yang fana. Lambat laun kau akan menyadari...tentang betapa tak bergunanya idealisme naifmu. Tidak ada aturan yang dapat mempertahankan kedamaian – makhluk-makhluk fana bergerak di atas emosi! Hari ini mereka duduk semeja bercengkerama, hari lainnya mereka memalsukan senyum dan membuat siasat gelap. Makhluk-makhluk itu tak ubahnya binatang liar, hanya ketakutan yang akan membuat mereka mengerti. Dan aku akan menjadi sumber ketakutan itu – aku akan menjadi dewa dan memaksakan semuanya patuh. Kedamaian abadi, dunia di mana semuanya hidup penuh ketundukan, akan kuciptakan dunia yang seperti itu – dunia di mana seorang anak tak perlu melihat ibunya mati. Dunia yang abadi. Untuk itu, matilah di sini, Xavier von Hernandez, matilah demi dunia yang sempurna!"

—Nueva el Vermillion to Xavier von Hernandez—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Near, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Preparation, part 2

Senyap untuk beberapa saat mengisi ruang singgasana, sebelum kemudian berbagai geraman sayup terdengar.

Kemarahan yang diarahkan padanya begitu jelas terasa, tetapi Reinhart abai. Itu tidak masalah baginya mereka mau bereaksi seperti apa. Ia menggulung kembali surat, memasukkannya ke dalam saku jubah.

“Her Highness menginginkanku kembali dengan jawaban,” kata Reinhart. “Aku akan menunggu paling tidak dua jam, jika sampai dua jam Elf Kingdom ma—”

“Tidak perlu.”

Suara datar nan dingin sang ratu memotong ucapan Reinhart tanpa permisi.

“Kau bisa pergi sekarang. Waktumu satu menit. Dan itu dimulai dari sekarang.” Bersamaan dengan ultimatum itu disuarakan, bola energi berwarna merah gelap yang diselimuti percikan petir bermanifestasi di atas telunjuk kanan Evillia—dan ukurannya makin besar setiap detiknya.

Reinhart tidak mengatakan apa-apa lagi, ia langsung menghilang dalam silauan lingkaran sihir teleportasi.

“Camelia, aku ingin semuanya berkumpul dalam satu jam.” Evillia bangkit dari singgasananya segera setelah memberi perintah, kemudian ia melangkah lurus menuju pintu ruang singgasana.

...—Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...

“… Itu saja. Kita akan menyerang dengan separuh Divisi 12 dan semua Divisi 11. Ah, sebelum kau pergi, Xavier, aku punya satu pertanyaan untukmu.”

Xavier menaikkan sebelah alis mendengar hal itu. Tadi malam ia sudah berbaikan dengan Monica, dan gadis itu mengatakan hanya memberitahu Kanna perihal Desa Carnal tanpa menyebut apa pun yang berhubungan dengan iblis dan Throne of Heaven. Pun Monica tidak mengatakan apa-apa tentang mereka yang dilarikan ke Elf Kingdom. Dan ia juga yakin kalau Nueva menyembunyikan aksi rahasianya dari sang putri.

Xavier juga bisa menyimpulkan kalau Nueva tidak mengatakan mengapa Kanna harus mengobservasinya. Karena telah mendengar cerita Monica, Kanna tentu akan tiba pada kesimpulannya sendiri. Dan berdasarkan pada hal itu, kemungkinan yang menjadi pertanyaan Kanna hanya satu.

“Jika dalam duel yang telah kalian sepakati itu dimenangkan olehmu, apa kau akan membunuhnya?”

Xavier membiarkan bibirnya melengkung tipis mendengar hal itu. “Apa kau akan menghalangiku?” Xavier tak menunggu respons Kanna. Ia langsung berdiri dan melangkah pergi. Namun, Xavier tak pergi sebelum sekali lagi melempar kata: “Jika kau ingin menghalangiku, lakukanlah. Itu pun jika kau bisa. Namun, bukankah kau sendiri yang mengatakannya, kalau keadilan harus ditegakkan?”

Bibir Kanna melengkung tipis mendengar ucapan Xavier itu. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya memandang diam Xavier yang pergi. Bukan, Kanna bukan tersenyum lembut, apalagi senang, melainkan senyum menyesalkan.

Aku tak bisa memberi api itu padamu, batin Kanna, tangan kanannya terangkat, memunculkan api hitam tak biasa yang Retsu berikan padanya—tetapi api itu menghilang dengan cepat. Dan kau benar, keadilan harus ditegakkan. Karenanya, aku melenyapkan api ini. Aku sendiri yang akan menentukan apa yang harus dilakukan. Aku akan menguasai Rune Magic Manifestation dan menjadi simbol keadilan.

Kanna membulatkan tekadnya, ia akan memikul beban itu. Retsu telah memercayainya untuk melakukan apa yang ia rasa benar. Tidak membiarkan ayahnya dan Xavier saling membunuh adalah apa yang ia rasa benar. Ini bukan saja tentangnya, Retsu, Hernandez, Xavier, dan ayahnya. Sama sekali bukan. Ini juga untuk Islan. Ia akan menyatukannya dalam visinya, bukan lagi dalam visi ayahnya.

Tapi pertama sekali, aku harus menjadi lebih kuat; aku harus bisa menggunakan kekuatan dua belas seraph pada saat yang bersamaan dan selama yang kumau.

“Yang Mulia?”

Mata Kanna mengerjap. “Ah, ayo pergi, Emily. Pelantikanmu hari ini kita lakukan secara informal; kita akan lakukan pelantikan secara formal bila semua masalah saat ini selesai diatasi.”

Emily mengangguk. “Jika Yang Mulia tak keberatan,” ucapnya setelah berdiri. “Apa maksud dari percakapan singkat itu tadi?”

“Itu…kurasa lebih baik jika tidak ada yang tahu, Emily; ini urusan yang agak personal. Ini juga berhubungan dengan His Majesty. Aku harap kau bisa mengerti.”

“Tentu saja, Yang Mulia.”

“Terima kasih. Ayo, His Majesty sudah menunggu.”

...* * *...

Ketika Xavier tiba di penginapan tempatnya dan Monica bermalam, gadis berambut pirang itu sudah akrab dengan resepsionis. Mereka saling tertawa seolah sudah lama mengenal. Xavier membiarkan dirinya tersenyum kecil. Ia tidak bisa secepat itu akrab dengan orang lain, terlebih mereka yang “tidak penting” dalam urusan yang besar. Akrab dengan orang lain adalah keunggulan yang Monica miliki.

“Yo! Commander Xavier!”

“Ah, Xavier, kau sudah kembali rupanya.”

Xavier mengangguk pada keduanya, menghampiri mereka. “Terima kasih telah menemani Monica, Resepsionis.”

“Resepsionis? Aku ini punya nama, lho! Ah, jangan bilang kau sudah lupa namaku, Commander?”

“Tentu saja tidak,” bohong Xavier. “Aku lebih suka memanggilmu Resepsionis. Karena, panggilan seperti itu menunjukkan kalau kita cukup akrab, bukan?”

“Dusta!” seru Monica, dan sang resepsionis dengan cepat menganggukkan kepala. “Kejam sekali, kau, Commander! Padahal kita sering berjalan bersama sewaktu kau masih menginap di sini dulu….”

“Xavier….”

“Monica,” tegas Xavier sebelum keduanya sukses membawa dirinya ke dalam permainan mereka. “Aku, kau, dan dia tahu kalau perkataannya hanya lelucon.” Xavier mendesah pelan, menghela napas. “Ayo, kita harus segera ke Verada sekarang. Sekali lagi terima kasih, Resepsionis, ini tips untukmu.”

...—Verada, Imperial Army—...

“Apa kau punya rumah di sini, Vier?” tanya Monica begitu mereka tiba di kota paling barat kekaisaran.

Xavier menggeleng. “Aku anggota militer kekaisaran, tidak berkeluarga, sebatang kara; untuk apa aku membeli/mendirikan rumah di sini?” Xavier mendesah pelan. “Aku tinggal di barak. Kau bisa menempati kamar Emily.”

“Oh, begitu.” Monica mengangguk-angguk. “Ini akan menjadi pengalaman yang berbe—ah! Apa kamar itu bersebelahan dengan kamarmu?”

“Tentu saja,” respons Xavier cepat—selaras dengan langkah mereka. “Sudah seharusnya asisten dekat dengan commander. Sekarang, mari bergegas. Aku hanya akan memperkenalkanmu pada Heisuke dan para kapten; ada tiga kapten berjenis kelamin wanita, kau bisa akrab dengan me—”

Ucapan Xavier terputus tiba-tiba saat dalam sekejap mereka menemukan diri berada di padang pasir.

Meskipun panorama padang pasir yang terbentang sama persis dengan tempat yang sudah ia kunjungi, Xavier tahu mereka tidak diteleportasi paksa ke sana. Tidak ada sihir teleportasi yang bekerja pada mereka. Padang pasir ini pastilah ilusi, yang artinya….

“Menez,” gumam Xavier pelan, perlahan berbalik badan—Monica turut mengikuti pandangan Xavier.

Benar seperti asumsinya, Menez sudah berdiri beberapa meter di sana. Ia dalam balutan jubah Deus Chaperon. Melihat ekspresinya yang begitu serius, tidak salah lagi kalau Menez sudah mendengarnya dari Evillia/Luciel. Ia mengatakan pada Luciel untuk tidak mengatakan kebenarannya pada siapa pun. Jadi, Menez sudah pasti tidak tahu. Alasannya ke sini jelas adalah menuntut penjelasan.

“Kak Xavier, Kak Monica. Evillia sudah mengatakan apa yang terjadi padaku. Apa itu benar?”

1
Arief Wahyu's
kerenn
PHSNR👾
sebelum baca cerita ini harusnya baca cerita apa dulu ya?
Las Ruinas
keren gilaa
Ardianovich
Kok malah kek sistem
Ardianovich
BWHAHAHAHAHAA
Ardianovich
astagaaaaaa cari mati xavier wkwkw
kucing ungu
Luar biasa
Blue
bagian kw 3 nya kapan?
karyakarsa.com/Near: ATW III bisa dibaca di: k a r y a k a r s a.c o m/Near
total 1 replies
Fafarifa
kerennn
walaupun suka lupa sama tokoh sampingan
blueby
Seru
Zaenal Imron
👍👍👍
Lavendra
benar-benar sebuah mahakarya
MD🔸UT
story yg mantap 🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍
MD🔸UT
dannnn.......bersambung
MD🔸UT
gila, tarungnya
MD🔸UT
hahaha dasar clown, peeusak masterpiece🤣🤣🤣🤣
Hendra hmd
kereennnn
MD🔸UT
hehehe ini pasti seru
MD🔸UT
gile juga kemampuan VH
MD🔸UT
jurus yg mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!