NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007

Retak di Nama Lestari

Lunch kecil yang disebut Melati ternyata tidak kecil bagi Bunga.

Restoran hotel itu hanya memiliki belasan meja, tetapi setiap kursinya seperti menuntut riwayat keluarga. Dinding kaca menghadap taman kering yang ditata sempurna. Pelayan bergerak tanpa suara. Menu tidak mencantumkan harga, hal yang menurut Bunga jauh lebih menyeramkan daripada angka mahal.

"Jangan mencari harga," kata Tuan Misterius.

"Justru karena tidak ada, aku makin curiga."

"Kalau tidak ada harga, artinya tamu dianggap tidak perlu bertanya."

"Atau takut pingsan."

Melati datang lebih dulu dan langsung melambaikan tangan. Bunga duduk di sampingnya, berusaha tidak terlihat lega. Ponsel pinjaman Melati ada di tasnya, sudah diisi pulsa oleh Bunga dari hasil membantu rental dua malam berturut-turut. Utang moral tetap ada, tetapi setidaknya ia tidak merasa mencuri sinyal.

"Kak Bas mungkin terlambat," kata Melati. "Dia ada meeting."

"Tidak apa-apa."

"Kamu tenang sekali."

Di dalam kepala, Tuan Misterius berkata, "Bagus. Pertahankan."

Bunga tersenyum. "Saya sudah lapar. Itu lebih penting dari gugup."

Melati tertawa, tetapi tawa itu berhenti ketika Ratih Permata masuk.

Perempuan itu mengenakan dress putih dengan tas kecil berwarna emas. Wajahnya cerah, langkahnya ringan, seolah kedatangannya murni kebetulan. Bunga tahu bukan. Orang seperti Ratih tidak datang ke meja tanpa tujuan.

"Melati, maaf aku ikut gabung. Tadi lihat story kamu, ternyata kalian di sini," kata Ratih.

Melati, terlalu baik untuk curiga, langsung menggeser kursi. "Duduk saja. Kami baru mau pesan."

Ratih duduk tepat di depan Bunga.

"Senang bertemu lagi, Bunga."

"Saya juga, Mbak Ratih."

"Masih kaku. Terlalu sopan bisa terlihat defensif," bisik Tuan Misterius.

Bunga ingin membalas, tetapi Ratih sudah membuka serangan dengan senyum.

"Kemarin aku sempat cerita ke Papa. Katanya keluarga militer Jawa Tengah itu lingkarannya kecil sekali. Mungkin kami pernah bertemu keluargamu."

Garpu di atas meja belum disentuh, tetapi Bunga sudah merasa seperti ada pisau di bawah taplak.

"Keluarga saya memang tidak banyak hadir di Jakarta," jawabnya.

"Nama belakang Lestari, ya?" Ratih memiringkan kepala. "Aku coba ingat-ingat. Dari jalur mana? Angkatan darat? Kepolisian? Atau sipil pertahanan?"

Tuan Misterius menjawab cepat, "Jangan pilih institusi. Kaburkan generasi."

"Generasi tua, Mbak. Banyak yang sudah pensiun dan lebih banyak tinggal di daerah."

"Daerah mana?"

Pertanyaan itu lembut. Terlalu lembut.

Bunga mengangkat gelas air. "Sekitar Jawa Tengah bagian selatan."

"Bagian selatan luas sekali."

"Itu sebabnya orang sering tersesat kalau tidak diantar."

Melati tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. Ratih ikut tertawa, tetapi matanya tidak lepas dari Bunga.

"Kamu lucu sekali. Aku jadi penasaran, sekolah di mana dulu?"

Kali ini Tuan Misterius terdiam sepersekian detik terlalu lama.

Bunga merasakan lubang terbuka di bawah kakinya. Sekolah. Data yang bisa dicek. Alumni yang bisa ditanya. Ia tidak punya ijazah sekolah elite, tidak punya foto wisuda, tidak punya cerita OSIS atau summer camp.

"Homeschooling," kata Bunga.

Tuan Misterius langsung berkata, "Terlalu cepat."

Ratih mengangkat alis. "Oh? Menarik. Kurikulumnya nasional atau internasional?"

"Campuran," jawab Bunga, lebih pelan.

"Guru privat dari mana?"

Sebelum Bunga menjawab, seorang pelayan datang menawarkan menu. Bunga hampir ingin memeluk orang itu. Melati langsung sibuk menjelaskan makanan yang aman dipilih, sementara Ratih membuka ponselnya di bawah meja.

Bunga melihat gerakan itu.

Tuan Misterius juga melihat.

"Dia mengetik," katanya.

"Aku tahu."

"Kamu harus mengakhiri topik sebelum pesannya kembali."

Bunga menurunkan menu. "Mbak Ratih, boleh saya tanya sesuatu?"

Ratih menatapnya. "Tentu."

"Kalau seseorang terlalu sering bertanya tentang keluarga orang lain, biasanya karena peduli atau karena mencari kesalahan?"

Melati terdiam.

Senyum Ratih tidak hilang, tetapi membeku sedikit.

"Kamu tersinggung?"

"Belum. Saya cuma ingin tahu harus menjawab dengan hati-hati atau sangat hati-hati."

Untuk beberapa detik, meja itu sunyi.

Lalu suara laki-laki rendah terdengar dari belakang.

"Kalau Ratih bertanya, biasanya dua-duanya."

Bunga menoleh.

Baskara Prawira berdiri di samping meja, setelan kerjanya rapi, wajahnya tetap dingin. Melati langsung tersenyum lega.

"Kak Bas."

Baskara duduk di kursi kosong di sebelah Ratih, tetapi matanya sempat berhenti pada Bunga. "Kita bertemu lagi."

"Iya," jawab Bunga. "Kali ini saya baru piring pertama."

Melati tertawa keras sebelum menutup mulut. Bahkan Baskara tampak menahan senyum.

Tuan Misterius berkomentar kering, "Kamu menjadikan kerakusan sebagai identitas sosial."

"Berhasil, kan?"

"Sayangnya, ya."

Kehadiran Baskara mengubah arah obrolan. Ratih tidak bisa terus menekan tanpa terlihat kasar. Ia beralih membicarakan rencana charity auction, lalu menanyakan pendapat Baskara tentang sponsor. Bunga mendengarkan lebih banyak daripada bicara. Tuan Misterius membisikkan nama-nama keluarga, hubungan bisnis, dan siapa yang harus diingat.

Saat pelayan mengganti piring, Baskara tiba-tiba bertanya tanpa menoleh penuh, "Kamu selalu menjawab pertanyaan tidak nyaman dengan pertanyaan lain?"

Bunga hampir mengira ia salah dengar. "Tidak selalu."

"Kapan tidak?"

"Kalau lawannya baik, saya jawab baik-baik."

Melati menahan senyum. Ratih mengaduk air lemonnya lebih keras dari perlu.

Baskara akhirnya menatap Bunga. Tatapannya dingin, tetapi tidak merendahkan. "Berarti kamu menilai cepat."

"Orang yang hidupnya sering ditanya macam-macam harus belajar cepat, Mas Baskara."

Tuan Misterius langsung berkata, "Kamu baru saja terlalu jujur."

Bunga menahan napas.

Namun Baskara hanya mengangguk kecil. "Kemampuan berguna."

Kalimat itu pendek, tetapi di meja seperti ini, dari pria seperti dia, itu terdengar hampir seperti pengakuan.

Namun retak itu sudah ada.

Homeschooling.

Jawa Tengah bagian selatan.

Keluarga yang tidak suka diekspos.

Terlalu banyak kabut bisa membuat orang curiga bahwa tidak ada rumah di baliknya.

Setelah lunch selesai, Melati pergi ke toilet. Baskara menerima telepon dan menjauh ke sisi jendela. Tinggallah Bunga dan Ratih di meja dengan dua gelas air yang sama-sama belum habis.

Ratih menyandarkan dagu pada punggung tangan. "Kamu menarik, Bunga."

"Terima kasih."

"Bukan pujian."

"Saya mulai terbiasa."

Ratih tersenyum lebih lebar. "Orang yang benar-benar berasal dari keluarga lama biasanya tidak perlu menjelaskan bahwa keluarganya lama."

Bunga menatapnya tenang. "Orang yang benar-benar sopan biasanya tidak perlu membuktikan bahwa dirinya sopan."

Mata Ratih menyala tipis.

"Aku akan mencari tahu," katanya pelan.

"Silakan."

"Kamu tidak takut?"

Bunga mengambil tasnya. Di dalam kepalanya, Tuan Misterius memperingatkan agar ia tidak bicara berlebihan. Namun ada hal-hal yang tidak bisa diwakili strategi.

"Saya takut banyak hal, Mbak Ratih. Tapi bukan sama orang yang senyumnya lebih tajam dari pisaunya."

Ia berdiri tepat saat Melati kembali, membuat suasana kembali aman di permukaan.

Malam itu, di mobilnya, Ratih menatap foto Bunga yang ia ambil diam-diam dari meja restoran. Ia mengirimkannya ke seseorang dengan pesan singkat:

`Cari semua keluarga Lestari di jalur purnawirawan Jawa Tengah. Terutama yang punya anak perempuan bernama Bunga.`

Jawaban datang kurang dari satu jam kemudian.

`Tidak ada yang cocok.`

Ratih membaca pesan itu dua kali.

Lalu ia tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!