Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 002: Langkah Pertama
Kevin menatap Meilin seolah dia baru saja mengucapkan lelucon paling buruk malam itu.
"Menjebak aku?"
Suaranya rendah. Tidak ada panik di sana. Hanya curiga yang dingin, juga sedikit lelah, seakan hidup sudah terlalu sering memberinya hal-hal buruk sampai ancaman baru tidak lagi mengejutkan.
Meilin mengangguk cepat.
"Benny," ucapnya. "Dia..."
Nama itu membuat rahang Kevin menegang.
"Jadi sekarang kamu menyebut nama dia di depanku?"
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
Pertanyaan itu pendek, tapi membuat Meilin kehabisan napas. Kalau dia salah memilih kata, Kevin bisa keluar dari kamar ini dengan kemarahan yang justru mendorongnya ke perangkap. Kalau dia berkata terlalu banyak, dia sendiri akan terdengar seperti orang gila.
Dia menunduk, membuka aplikasi catatan di ponsel, lalu mengetik dengan jari yang masih gemetar.
Kevin tidak bergerak. Hanya matanya yang mengikuti setiap gerakan kecilnya.
Meilin menulis:
Aku tahu kamu tidak percaya padaku. Tidak apa-apa. Tapi malam ini jangan pergi dengan siapa pun yang menghubungi atas nama pekerjaan cepat. Jangan bertemu Benny. Jangan keluar dari gang ini sendirian.
Dia menunjukkan layar itu pada Kevin.
Pria itu membaca tanpa ekspresi. Setelah selesai, dia justru menatap Meilin lebih lama.
"Kamu sedang main apa?"
Meilin menggigit bagian dalam pipinya.
Dia mengetik lagi:
Aku tidak main-main.
"Biasanya kamu tidak sesabar ini untuk berpura-pura."
Kalimat itu membuat jari Meilin berhenti di atas layar. Sakitnya aneh. Bukan karena Kevin kasar, melainkan karena setiap tuduhan darinya terdengar masuk akal. Meilin asli memang pasti sudah terlalu sering berbohong sampai kebenaran pun terlihat seperti jebakan.
Ponselnya bergetar lagi. Nomor tak dikenal.
Kevin melihat layar itu bersamaan dengannya.
Nomor tidak dikenal: Benny bilang cowoknya susah dibujuk. Bawa saja ke depan minimarket. Sisanya kami urus.
Hening jatuh di antara mereka.
Untuk pertama kalinya malam itu, kecurigaan di mata Kevin retak sedikit. Bukan berubah menjadi percaya. Belum. Tapi setidaknya dia melihat sesuatu yang tidak bisa Meilin karang dalam satu detik.
Meilin menekan layar, membuka pesan itu, lalu menggesernya ke arah Kevin.
"Aku tidak tahu nomor ini," katanya pelan. "Tapi aku tahu mereka bicara soal kamu."
Kevin mengambil ponsel itu tanpa meminta izin. Ibu jarinya bergerak cepat, membuka detail nomor, memeriksa waktu pesan, lalu kembali ke chat Benny yang diarsipkan Meilin.
Meilin menahan napas ketika Kevin melihat voice note yang belum dihapus.
"Kenapa tidak kamu hapus?" tanyanya.
"Bukti."
Kevin mengangkat mata.
Satu kata itu tampaknya lebih sulit dia pahami daripada semua kebohongan yang pernah dia dengar.
Di luar kamar, suara ketukan keras tiba-tiba terdengar dari pintu utama kos.
"Mbak Meilin! Token listriknya tinggal sedikit, ya. Kalau mati, jangan komplain. Bulan lalu juga belum lunas."
Wajah Meilin memanas.
Pemilik kos tidak menunggu jawaban. Sandalnya terdengar menjauh di lorong, meninggalkan rasa malu yang menggantung di kamar sempit itu.
Lampu neon di atas kepala berkedip sekali.
Lalu mati.
Kamar langsung tenggelam dalam gelap, hanya disinari cahaya ponsel di tangan Kevin.
Meilin memejamkan mata sesaat.
Sempurna. Di dunia asalnya, dia pernah mengeluh karena Wi-Fi kampus lambat. Di sini, bahkan lampu pun menyerah sebelum malam benar-benar dimulai.
Kevin mengembalikan ponselnya.
"Token habis," katanya datar.
"Aku dengar."
"Kamu biasanya menyuruh aku isi."
Meilin hampir menjawab, tapi dia menahan diri. Lagi-lagi ada ranjau. Hal-hal kecil yang tidak dia ketahui ternyata bisa membongkar dirinya kapan saja.
Dia membuka catatan lagi, lalu mengetik:
Mulai malam ini aku tidak akan menyuruhmu untuk hal-hal seperti itu. Kalau aku lupa diri, kamu boleh ingatkan.
Cahaya layar menerangi wajah Kevin dari bawah. Bayangannya jatuh di tulang pipi yang tajam.
"Kamu sakit?"
Pertanyaan itu muncul untuk kedua kalinya, dan kali ini terdengar lebih serius.
Meilin menggeleng.
"Aku cuma..." Dia berhenti. "Aku cuma capek menjadi orang jahat."
Kevin tertawa pelan.
Tidak ada humor di dalamnya.
"Kalimat bagus. Siapa yang mengajarimu?"
Meilin memasukkan ponsel ke saku celana pendeknya. Daripada memaksa Kevin percaya, dia berjalan ke sudut dapur kecil, mengambil panci, lalu membuka rice cooker.
Nasi di dalamnya keras di pinggir dan agak basi di bagian tengah.
Perut Meilin ikut melilit. Bukan lapar saja. Ada rasa ingin menangis yang naik ketika dia melihat dua butir telur menjadi satu-satunya pilihan makan malam mereka.
"Jangan makan itu," ucap Kevin dari belakang.
"Kenapa?"
"Sudah dari kemarin."
Meilin menutup rice cooker pelan.
Dia membuka keran wastafel. Air mengalir kecil, dingin, dan berbau besi. Di sebelahnya, pemanas air portable tergantung mati dengan kabel kusut.
"Tidak ada air panas?"
"Rusak."
"Sejak kapan?"
"Dua minggu."
Meilin menoleh.
Kevin berdiri di dekat pintu, punggungnya masih tegak meski wajahnya terlihat semakin lelah. Dalam gelap, matanya tampak lebih dalam. Dia tidak terlihat seperti pria yang minta dikasihani. Justru sebaliknya, dia seperti orang yang sudah memutuskan untuk tetap berdiri meski tidak ada satu pun yang membantunya.
Dada Meilin sesak.
Dia mengambil satu telur, memecahkannya ke mangkuk kecil, lalu menambahkan garam. Satu telur dibagi dua akan terlalu sedikit. Dua telur dihabiskan malam ini berarti besok pagi tidak ada apa-apa.
Dia berhenti.
"Aku punya uang?"
Kevin menatapnya seakan pertanyaan itu menjawab semuanya.
"Kamu habiskan kemarin."
"Untuk apa?"
"Durian."
Meilin membeku.
Durian. Dia samar-samar ingat bagian novel itu. Meilin asli membeli durian mahal lewat ojek online hanya untuk memamerkan hidup enak pada Benny, lalu memaki Kevin karena tidak ikut membayar. Sementara Kevin malam itu hanya makan sisa nasi dingin.
Rasa malu menjalar ke tengkuknya.
"Maaf," ucapnya lagi.
Kevin memalingkan wajah.
"Berhenti minta maaf kalau besok kamu akan mengulanginya."
Meilin mengambil ponsel dan mengetik lebih cepat.
Aku tidak akan mengulanginya. Aku tahu kamu tidak percaya. Jadi jangan percaya dulu. Lihat saja.
Dia meletakkan ponsel di meja, lalu menggeser layar itu ke arah Kevin.
Kevin membaca. Ekspresinya tetap tertutup, tapi kali ini dia tidak membalas dengan sindiran.
Di luar, suara motor berhenti di depan gang. Meilin langsung menegang.
Kevin juga mendengarnya.
Ada langkah beberapa orang, lalu suara laki-laki tertawa dekat pagar kos.
Meilin meraih lengan Kevin tanpa berpikir.
Sentuhan itu membuat keduanya sama-sama diam.
Lengan Kevin keras di bawah jari-jarinya, hangat meski tubuhnya tampak dingin dari luar. Meilin segera melepaskan tangan.
"Jangan keluar," bisiknya.
Kevin melihat bekas sentuhan di lengannya, lalu melihat wajah Meilin.
Untuk beberapa detik, dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi suara ponselnya memotong suasana. Notifikasi masuk ke perangkat Kevin, bukan milik Meilin.
Nomor tak dikenal: Bro, ada job angkut barang malam ini. Bayaran langsung. Lokasi depan minimarket.
Wajah Meilin memucat.
Kevin membaca pesan itu. Matanya semakin gelap.
Dia tidak membalas. Dia hanya mematikan layar, lalu memasukkan ponsel ke saku.
"Mereka punya nomorku," katanya.
Meilin mengangguk.
"Karena itu jangan pergi."
Kevin menatap pintu, lalu menatap panci kosong di tangan Meilin. Entah apa yang dia pikirkan, tapi akhirnya dia melepas jaket hitamnya dan menggantungkannya kembali di kursi plastik.
Baru saat itu Meilin sadar dia menahan napas sejak tadi.
"Aku tidak pergi karena percaya padamu," ucap Kevin.
Meilin mengangguk cepat. "Aku tahu."
"Aku tidak pergi karena orang-orang itu mencurigakan."
"Iya."
"Dan kalau ini jebakan darimu..."
"Aku terima kamu marah."
Kevin terdiam.
Jawaban itu sepertinya bukan yang dia tunggu.
Malam bergerak pelan dalam gelap. Meilin akhirnya merebus air dengan sisa gas kecil, membuat telur kuah asin yang nyaris hambar. Mereka makan bergantian dari dua mangkuk plastik, tanpa banyak bicara. Kevin hanya mengambil sedikit, lalu mendorong sisa telur ke arah Meilin.
"Makan," katanya.
"Kamu juga."
"Aku sudah."
Itu jelas bohong. Tapi Meilin tidak membongkarnya. Dia hanya membagi telur itu lagi dengan sendok, separuh ke mangkuk Kevin, separuh ke mangkuknya sendiri.
Kevin menatap mangkuknya lama.
Setelah makan, dia tetap keluar.
Meilin hampir panik, tapi Kevin hanya menunjuk laptop dan tas kecilnya.
"Aku kerja di warung internet dua gang dari sini. Listrik mereka hidup. Aku pulang sebelum subuh."
"Aku ikut."
"Tidak."
"Tapi..."
"Kunci pintu. Jangan buka untuk siapa pun."
Nada itu final. Untuk pertama kalinya, Meilin mendengar sisi lain dari Kevin. Bukan hanya dingin. Ada ketegasan yang tenang, keras, dan anehnya membuat orang ingin menurut.
Dia berdiri di dekat pintu ketika Kevin keluar. Dari celah tirai, dia melihat punggung pria itu berjalan menembus gang gelap, membawa laptop tua seperti membawa satu-satunya jalan keluar dari hidup mereka.
Malam terasa panjang.
Meilin tidak bisa tidur. Dia mengisi ulang daya ponsel dengan powerbank kecil yang hampir habis, menyimpan semua tangkapan layar pesan Benny, lalu menulis satu catatan baru untuk dirinya sendiri.
Mulai hari ini:
1. Jangan biarkan Kevin hancur.
2. Cari uang.
3. Jangan bicara sembarangan.
4. Ubah akhir cerita.
Menjelang pukul tiga pagi, suara kunci akhirnya terdengar.
Meilin langsung bangkit dari kasur.
Kevin masuk dengan langkah pelan. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, kemejanya lebih kusut daripada tadi, dan wajahnya pucat karena lelah. Tapi matanya tidak kalah.
Di bawah cahaya tipis dari layar ponsel, Meilin melihat sesuatu yang tidak sempat dia pahami saat membaca novel.
Pria ini bukan hanya tokoh utama yang kelak akan menang.
Dia adalah seseorang yang sejak awal sudah menolak untuk tumbang.