Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desperate Couple (1) Awal yang Buruk
April 2013
Alea jalan dengan terburu-buru, tangannya membawa beberapa buku dan makalah. Dari arah berlawanan tampak Ega sedang berlari menuju gedung fakultasnya sambil membawa makalah. Saat jarak mereka semakin dekat, Ega yang berlari tak melihat Alea lalu menabraknya. Seketika buku dan makalah yang mereka bawa jatuh ke lantai. Kompak, keduanya berjongkok mengambil barang-barangnya. Sesaat mereka saling berpandangan dan,
“Heh! Ngga punya mata ya lo!” sentak Ega pada Alea. Sontak gadis itu menjadi emosi.
“Elo yang ngga punya mata, kan elo yang nabrak gue!” Alea balas membentak.
Dengan cepat Ega mengambil makalahnya lalu pergi meninggalkan Alea yang mengambil buku-buku dan makalahnya sambil komat-kamit kesal. Setelah itu dia berlari menuju fakultasnya. Akhirnya sampai juga di gedung fakultas komunikasi, Susan teman sekelasnya sudah menunggu di depan kelas.
“Al, cepetan.. bentar lagi pak Asol datang.”
Alea sampai di depan Susan dengan nafas terengah, dia lalu memberikan makalah pada Susan.
“Al, ini makalah siapa?”
Susan memperlihatkan makalah pada Alea, tertulis judul “Peluang Bisnis Ternak Lele”. Alea terhenyak.
Ini pasti punya cowo nyebelin tadi.
“Makalah kita mana?”
“Kayanya ketuker deh, sialan. Bener-bener ya tuh orang.”
“Jadi gimana?”
“Ya gimana lagi, gue terpaksa cari tuh orang.”
Alea menitipkan buku yang dibawanya pada Susan. Lalu kembali pergi untuk mengambil makalah yang tertukar. Dia menuju fakultas ekonomi.
Sementara itu Ega masuk ke dalam kelas. Menyerahkan tugas makalahnya pada dosennya. Baru saja Ega akan pergi, bu Yulia memanggilnya.
“Graha.”
“Ya bu,” jawab Ega seraya membalikkan badan.
“Ini makalah apa?”
Ega melihat pada makalah yang dipegang bu Yulia. Tertera judul makalah “Busana Sebagai Bentuk Komunikasi Nonverbal”. Ega menepuk jidatnya.
Sialan.. ketuker sama cewe tadi.
“Maaf bu, kayanya makalah saya ketuker.”
Ega mengambil makalah dari tangan bu Yulia.
“10 menit ya, lebih dari itu tugas kamu ibu anggap gugur.”
Mendengar ucapan bu Yulia, Ega bergegas keluar kelas. Dia berlari menuju gedung fakultas komunikasi. Fakultas komunikasi berada di gedung E sedang fakultasnya di gedung C, berarti dia harus berlari secepat mungkin melewati fakultas teknik.
Ega sampai di gedung D tempat fakultas teknik berada. Dari jauh dia melihat seorang perempuan berlari ke arahnya. Ega mempercepat larinya. Sesampainya di dekat Alea, dia berhenti.
“Woi.. makalah lo nih,” Ega melempar makalah di tangannya dan jatuh tepat di depan Alea.
“Balikin makalah gue!” lanjutnya.
Dengan kesal Alea mengambil makalahnya. Setelah itu menggulung-gulung makalah Ega. Dengan sekuat tenaga dia melemparkan makalah tersebut dan segera pergi. Makalah mendarat tepat di kepala Ega.
“Heh perempuan sarap! Awas lo ya kalau ketemu lagi!” teriak Ega dengan kesal. Dengan cepat Ega kembali berlari menuju kelasnya. Bu Yulia baru saja akan keluar kelas ketika Ega sampai. Dia langsung memberikan makalah pada bu Yulia.
“Nilai kamu dikurangi lima poin ya.”
Setelah itu bu Yulia pergi meninggalkan Ega. Dengan kesal dia menendang pintu kelas, hari ini benar-benar sial.
Perkuliahan hari ini telah selesai. Ega bermaksud langsung pulang. Dia menuju parkiran motor. Tak berapa lama Kawasaki merahnya sudah berjalan meninggalkan area parkir. Saat sedang melaju, di dekat pintu keluar dia dikejutkan oleh kemunculan Alea yang tiba-tiba. Seketika dia mengerem. Ega membuka helmnya.
“Heh kalau nyebrang liat-liat dong!”
Alea yang mengenali Ega berbalik menyalahkannya.
“Oh.. elo masih dendam ya sama gue makanya sekarang lo mau nabrak gue. Turun lo!”
Ega tak mempedulikannya. Dia memakai kembali helmnya dan langsung tancap gas meninggalkan Alea.
“Heh jangan pergi!” teriak Alea, beberapa mahasiswa yang lewat di dekatnya hanya memperhatikan sambil senyum-senyum.
Alea berjalan keluar kampus, menuju para penjual kaki lima yang mangkal tak jauh dari kampusnya. Dia menuju ke sebuah gerobak ketoprak.
“Bang Agi, ketoprak satu yang pedes.”
Alea langung duduk menunggu pesanan. Agi dengan cepat menyiapkan ketoprak, lalu memberikannya pada Alea.
“Kenapa sih kayanya kesel bener?” tanya Agi.
“Tadi ketemu cowo nyebelin. Dia yang salah tapi dia yang nyolot, bikin emosi jiwa tau ngga.”
“Sabar.. sabar.. btw tuh cowo cakep kaga?”
“Kalau cakep kenapa kalo ngga kenapa?”
“Ya kalo cakep sapa tau bisa dijadiin pacar, lo kan masih jomblo.”
“Dih amit-amit deh, mending jomblo daripada punya pacar model begituan.”
“Jangan kelewat benci entar jadi cinta berabe.”
“Bang Agi ya tambah bikin kesel aja.”
Alea memukul lengan Agi dengan keras. Agi meringis kesakitan sambil tertawa namun terus menggoda Alea.
❤️❤️❤️
Ega sampai di rumahnya. Sesampainya di kamar dan langsung dihempaskan tubuhnya ke atas kasur. Tak berapa lama Adit masuk sambil membawa satu stel jas. Dia menggantungkan jas di lemari kemudian duduk di dekat Ega.
“Ga, bentar lagi lo siap-siap ya.”
“Siap-siap mau kemana sih,” tanya Ega malas.
“Ada acara makan malem sama keluarga pak Sasongko, biasa soal perjodohan.”
Ega langsung duduk bersila di samping Adit.
“Siapa yang dijodohin?”
“Kakak lo, Tombak.”
“Udah ngga jaman kali jodoh-jodohan, kaya Siti Nurbaya aja.”
“Jangan salah, buat keluarga konglomerat macem lo, yg namanya perjodohan pasti akan terus ada. Bukan karena cinta tapi untuk melanggengkan dinasti kerajaan bisnis. Setelah Tombak, lo siap-siap deh.”
“Ogah.”
Adit bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Debelum keluar dia kembali berkata.
“Jangan lupa jam enam lo harus udah siap ya.”
“Gue ngga mau ikut.”
“Ya udah kalo lo ngga ikut berarti ini hari terakhir gue kerja sebagai asisten elo ya.”
“Ah elo kang ngancemnya gitu mulu.”
“Kan emang tugas gue mastiin elo ikutin semua yang nyokap bokap lo rencanain. Kalo lo ngga nurut, yang kena imbasnya gue, langsung pecat.”
“Ya udah gue ikut. Keluarga gue kan cuma elo kang.. kalo lo pergi gue sama siapa?”
“Gitu dong” Adit tersenyum, setelah itu dia keluar kamar.
Ega adalah anak bungsu dari keluarga konglomerat Willy Irawan. Papanya pemilik grup usaha Golden Chains yang bergerak di bidang property, jasa dan juga kuliner. Adit merupakan asisten yang dipekerjakan Willy khusus untuk menemani dan memantau gerak-gerik anaknya.
Kehidupan Ega yang bergelimangan harta tak seindah yang terlihat. Setiap harinya dia merasa kesepian. Papanya sibuk mengurusi bisnisnya, baik yang ada di dalam maupun luar negeri. Mamanya tak kalah sibuk, selain ikut mengurusi bisnis sang suami, dia juga aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan kaum sosialita. Sedangkan kakak satu-satunya Tombak, bukanlah sosok yang hangat. Dia sangat tertutup dan tak tertarik dengan urusan pribadi orang lain, termasuk Ega.
Hanya Adit satu-satunya orang yang selalu berada di dekat Ega. Keberadaan Adit bukan hanya sekedar asisten yang membantu menyiapkan keperluannya sehari-hari. Baginya Adit sudah seperti teman, kakak sekaligus orang tua. Jika harus memilih, Ega lebih senang tinggal bersama Adit dibanding keluarganya sendiri.
Ega berdiri dan berjalan menuju lemari. Mengeluarkan jas yang tadi dibawa Adit. Sebuah jas berwarna blue black. Di dalamnya terdapat kemeja lengan panjang dengan warna biru muda. Ega menaruh jas di atas kasur lalu masuk ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian dia selesai mandi, namun tak langsung berpakaian. Masih mengenakan bahtrobe dia memilih bermain play station sambil menunggu waktu.
Adit masuk ke dalam kamar. Terkejut Ega masih belum bersiap-siap. Dengan kesal dia mencabut kabel play station.
“Cepetan siap-siap! Ini Jakarta, macet dimana-mana bro.”
“Iya.. iya.. bawel banget sih kaya nenek-nenek.”
Ega segera berganti pakaian. Adit membantu mengenakan jasnya. Setelah penampilan Ega dianggap cukup sempurna, mereka segera keluar kamar dan bergegas pergi ke tempat pertemuan.
❤️❤️❤️
Ega dan Adit memasuki Fifth Star restaurant. Seorang pelayan memandu mereka langsung menuju meja yang telah dipesan. Semua yang berkepentingan sudah hadir, Ega yang terakhir datang dalam perjamuan itu. Setelah menemani Ega sampai ke meja, Adit permisi keluar. Dia akan menunggu Ega di mobil.
Acara makan malam pun dimulai. Sambil makan mereka berbincang-bincang, tentang bisnis atau membanggakan anak masing-masing. Beni Sasongko hanya memiliki seorang anak tunggal, Kania Paramitha Maheswari. Yang nantinya akan dinikahkan dengan Tombak Gapura Bagja, kakak Ega.
Ega melihat pada kakaknya, dia tampak menikmati makan malam dengan tenang, tak berminat ikut campur dalam pembicaraan orang tua. Sesekali Kania terlihat mencoba berkomunikasi dengannya, tapi lelaki itu hanya menanggapi dengan kata-kata singkat.
Kania berdiri bermaksud pergi ke toilet. Saat berjalan dia menabrak seorang pelayan yang sedang membawa minuman. Gelas minuman langsung tumpah mengenai pakaian Kania, pelayan itu terkejut.
“Aduh maaf bu.. maaf,” ucap pelayan itu. Dia segera memungut gelas yang terjatuh lalu mengambil tisu hendak membersihkan pakaian Kania namun ditolaknya.
“Ngga apa-apa mba, ini salah saya. Ngga apa-apa, biar saya bersihkan sendiri.”
Setelah itu Kania segera pergi ke toilet. Sang pelayan bergegas kembali ke dapur. Ega yang melihatnya merasa cukup kagum dengan sikap Kania. Ternyata sosoknya tak seburuk yang dibayangkannya. Ega melihat jam tangannya, sudah hampir satu jam. Teringat kalau Adit belum makan. Dia memutuskan untuk keluar melihat Adit.
“Ma, pa, om, tante saya permisi sebentar ya.”
Ega meninggalkan meja makan. Sebelum keluar dia pergi ke toilet terlebih dahulu. Saat akan sampai, terlihat Kania sedang berbicara dengan pelayan tadi.
“Siapa nama kamu?” tanya Kania seraya melihat pada name tag pelayan itu.
“Oh.. Kanaya,” imbuhnya.
“Sekali lagi saya mohon maaf bu sudah mengotori baju ibu, saya…”
Belum sempat Kanaya menyelesaikan kalimatnya.
PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
“Kamu tahu berapa harga baju saya? Ini limited edition!! Gaji kamu setahun belum cukup untuk membeli baju ini. Berani-beraninya kamu merusak baju saya!”
Pelayan itu terkejut, sikap Kania berubah seratus delapan puluh derajat. Dia semakin menundukkan wajahnya dan terus meminta maaf tapi Kania tidak menggubrisnya.
“Panggil manajer kamu sekarang!”
“Maafkan saya bu, tolong maafkan saya.”
Tak lama manajer restaurant datang menghampiri.
“Mohon maaf bu Kania. Atas nama karyawan saya, saya benar-benar minta maaf. Kami akan mengganti kerugian bu Kania.”
“Tidak perlu! Cukup kamu pecat pelayan sialan ini!”
Setelah itu Kania segera pergi meninggalkan mereka. Saat berbalik, dia terkejut melihat Ega sudah ada di belakangnya. Ega memandang Kania dengan senyum sinis, kemudian tanpa berkomentar langsung masuk ke dalam toilet. Kania yang sedikit salah tingkah langsung kembali ke meja.
Selesai dari toilet Ega langsung menuju tempat parkir, tapi Adit tak ada di mobil. Ega berkeliling tempat parkir, kemudian menuju ke arah luar restauran. Akhirnya dia menemukan Adit sedang duduk di depan kios rokok. Ega langsung menghampiri.
“Udah beres Ga?” tanya Adit yang melihat Ega menghampirinya.
“Pulang yuk, bt gue.”
“Emang kenapa sih?”
Ega menceritakan apa yang barusan dilihatnya. Sikap munafik Kania jelas-jelas terlihat olehnya tadi.
“Ah elo, ngga usah heran, udah biasa itu mah. Di depan orang banyak mereka tuh harus jaga image, sebrengsek apa pun mereka begitu berhadapan dengan publik akan menjelma jadi malaikat. Justru yang aneh tuh elo, udah dikasih fasilitas mewah, dompet tebel, tinggal duduk manis di perusahaan. Eh malah pengen usaha mandiri, udah gitu ternak lele lagi,” ledek Adit.
“Ya suka-suka gue dong. Lagian gue ngga mau ya cuma jadi direktur boneka di perusahaan kaya kak Tombak. Jabatan boleh direktur tapi setiap keputusan ada di tangan papa, ogah banget.”
“Ya.. ya.. terserah elo deh.. lagian lo kan anak yang tak dianggap.. sebagai aaanak yang tak dianggap aku hanya bisa.”
Adit kembali meledek Ega sambil menyanyikan lagu Pinkan Mambo. Dipitingnya kepala Adit. Lelaki itu meminta ampun tapi Ega tak menghiraukannya. Dia membawa Adit menuju mobilnya.
“Eh lo ngga akan bilang dulu kalau mau langsung pulang?”
“Ngga perlu, nyokap ngga bakalan nyariin. Biar gue diculik alien juga dia ngga akan ngeh.”
Ega langsung masuk ke dalam mobil. Adit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengambil ponselnya, mengirim pesan pada Tombak kalau Ega pulang bersamanya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama mobil melaju meninggalkan area parkir.
❤️❤️❤️
**Hai author balik lagi nih. Sekarang mulai kisah pasangan ketiga ya. Simak yuk perjalanan mereka.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, comment dan vote nya. Biar author tambah semangat up nya😘**