NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

foto

Nayla menatap foto di layar ponselnya tanpa bergerak.

Foto itu buram karena diambil dari jarak jauh, tetapi wajahnya tetap terlihat jelas. Ia berdiri di bawah payung bersama Raka, mengenakan jas pria itu. Raka berada di sampingnya, sedikit condong untuk memastikan Nayla tidak terkena hujan.

Bagi orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, foto tersebut tidak berarti apa-apa.

Raka hanya mengantarnya ke rumah orang tua.

Raka hanya berusaha memastikan Nayla tidak sendirian setelah mengetahui suaminya berselingkuh.

Namun bagi orang yang ingin memutarbalikkan keadaan, foto itu bisa menjadi senjata.

Apalagi Nayla masih resmi menjadi istri Arga.

Tangannya mulai dingin.

Pak Hendra yang duduk di sebelahnya menyadari perubahan wajah putrinya.

“Ada apa?” tanyanya.

Nayla ragu sejenak, lalu menyerahkan ponsel kepada ayahnya.

Pak Hendra membaca pesan itu. Wajahnya mengeras.

“Siapa yang mengirim?”

“Nomor tidak dikenal.”

“Sudah berapa kali?”

“Ini yang ketiga. Sebelumnya dia mengancam karena Pak Raka membantu aku.”

Pak Hendra menatap Nayla dengan serius.

“Kita tidak boleh diam. Simpan semua tangkapan layar. Catat jam dan nomor pengirimnya.”

“Aku sudah simpan.”

“Bagus. Papa akan bicara lagi dengan teman pengacara Papa.”

Nayla tidak menolak kali ini.

Ia mulai menyadari bahwa pesan-pesan tersebut bukan sekadar upaya membuatnya takut. Seseorang sengaja mengumpulkan informasi tentang dirinya dan Raka. Seseorang menunggu kesempatan untuk menempatkannya sebagai pihak yang salah.

Ponselnya kembali bergetar.

Nomor yang sama menelepon.

Nayla memandangi layar itu.

“Jangan diangkat,” kata Pak Hendra.

Namun Nayla menggeleng perlahan.

“Kalau aku terus diam, dia akan merasa bisa terus mengancam.”

Pak Hendra tampak tidak setuju, tetapi Nayla sudah menekan tombol terima. Ia mengaktifkan pengeras suara dan meletakkan ponsel di atas meja teras.

“Halo,” ucap Nayla.

Tidak ada jawaban beberapa detik.

Hanya suara napas pelan di seberang telepon.

“Siapa kamu?” tanya Nayla.

Masih tidak ada jawaban.

“Kalau kamu punya masalah dengan saya, katakan langsung.”

Terdengar tawa pendek. Suara perempuan.

“Kamu berani juga,” ujar orang itu akhirnya.

Nayla mengenali suara tersebut.

“Siska.”

Perempuan itu tertawa lagi.

“Jadi kamu memang tahu.”

“Kenapa kamu kirim foto itu?”

“Karena aku ingin kamu sadar bahwa kamu tidak sepintar yang kamu kira.”

“Apa maksud kamu?”

“Kamu mungkin merasa hebat karena sudah mendapat perhatian dari Pak Raka.” Nada Siska terdengar mengejek. “Tapi semua orang akan melihatnya dengan cara berbeda.”

Nayla menggenggam sisi kursi.

“Tidak ada apa-apa antara saya dan Pak Raka.”

“Tidak ada apa-apa?” Siska terdengar seperti tidak percaya. “Seorang direktur mengantar istri bawahannya tengah malam, membawanya ke kafe, lalu berdiri berdua di bawah payung. Kamu yakin orang kantor akan percaya itu?”

“Itu bukan urusan kamu.”

“Justru itu urusan aku. Karena Pak Raka sedang mencari masalah dengan Arga. Kalau dia terus ikut campur, aku akan memastikan dia juga merasakan akibatnya.”

Nayla terdiam.

Jadi benar.

Siska tidak hanya ingin menghancurkan Nayla. Ia juga ingin melindungi dirinya sendiri dengan menyerang Raka.

“Kamu yang mengirim foto ini ke Arga?” tanya Nayla.

“Aku belum melakukannya.” Nada Siska terdengar santai. “Tapi aku bisa. Tinggal satu kali tekan tombol.”

“Kalau kamu melakukannya, kamu hanya membuktikan kalau kamu memang sengaja memperkeruh semuanya.”

“Tidak masalah. Selama kamu dan Pak Raka berhenti sok menjadi orang baik.”

Nayla menatap langit sore yang mendung.

Dulu, suara Siska mungkin akan membuatnya takut. Namun setelah semua yang terjadi, Nayla justru merasa lelah.

Lelah terus dibuat seperti pihak yang salah.

Lelah selalu harus menjelaskan dirinya.

“Kamu boleh menyebarkan apa pun,” kata Nayla perlahan. “Tapi kamu tidak bisa mengubah fakta bahwa Arga mengkhianati aku dan kamu tahu dia sudah menikah.”

Di seberang sana, Siska terdiam.

“Jangan bicara seolah kamu korban,” katanya kemudian, kini dengan nada tajam. “Arga memilih aku karena dia tidak bahagia dengan kamu.”

Kalimat itu terasa seperti pisau.

Namun Nayla tidak lagi ingin membiarkannya menancap terlalu dalam.

“Arga bertanggung jawab atas pilihannya. Kamu juga bertanggung jawab atas pilihanmu.” Nayla menarik napas. “Saya tidak akan lagi menyalahkan diri sendiri atas kesalahan kalian.”

Siska tertawa tanpa humor.

“Kita lihat saja sampai kapan kamu bisa bicara seperti itu.”

Panggilan terputus.

Nayla menatap layar ponsel yang kembali gelap.

Pak Hendra segera mengambil ponsel itu.

“Kamu dengar sendiri,” katanya dengan wajah serius. “Ini sudah jelas ancaman.”

Nayla mengangguk.

Dadanya masih berdebar, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ia berhasil menjawab Siska tanpa menangis, tanpa memohon, dan tanpa menyalahkan dirinya sendiri.

Namun rasa takut tetap ada.

Siska tampak tidak akan berhenti.

***

Di kantor PT Arunika Properti, Raka sedang memeriksa beberapa dokumen ketika Dimas masuk tanpa banyak bicara.

“Pak, ada perkembangan,” kata Dimas.

Raka mengangkat wajah dari layar laptopnya. “Apa?”

“Saya berhasil menelusuri nomor pengirim pesan ancaman ke Bu Nayla.”

Dimas meletakkan sebuah berkas tipis di atas meja.

“Nomor itu menggunakan kartu prabayar. Namun ada riwayat isi ulang yang dilakukan melalui minimarket dekat apartemen Bu Siska.”

Raka membuka berkas itu. Tatapannya mengeras ketika melihat data yang tercetak.

“Sudah dipastikan?”

“Belum seratus persen, Pak. Tapi cukup kuat untuk menunjukkan keterkaitan.”

“Dan foto Nayla dengan saya?”

“Diambil dari seberang Kafe Madero. Kamera jalan di sekitar sana memperlihatkan mobil Bu Siska berada di area tersebut malam itu.”

Raka menutup berkas.

“Siska mencoba menekan Nayla,” ujarnya.

“Sepertinya begitu.”

“Dan dia juga ingin memakai Nayla untuk menyerang saya.”

Dimas mengangguk.

“Pak, apa kita perlu mengajukan laporan resmi?”

“Belum.” Raka memandang keluar jendela. “Kumpulkan bukti lebih lengkap. Saya tidak ingin memberi celah bagi siapa pun untuk mengatakan kita bertindak tanpa dasar.”

Dimas tampak ragu.

“Pak Raka,” katanya hati-hati, “kalau Bu Nayla terus menerima ancaman, menunggu bukti lengkap bisa berisiko.”

Raka mengatupkan rahangnya.

“Saya tahu.”

Sejak bertemu Nayla di ruangannya, Raka berusaha menjaga jarak. Ia tahu Nayla masih menjadi istri Arga. Ia tahu setiap bentuk perhatian bisa dipelintir menjadi rumor. Namun semakin banyak yang terjadi, semakin sulit bagi Raka untuk sekadar berdiri diam.

Ia pernah gagal melindungi seseorang yang ia cintai dari kebohongan.

Kali ini, ia tidak ingin membiarkan Nayla menghadapi semuanya sendirian.

“Hubungi Nayla,” kata Raka. “Tanyakan apakah dia bersedia bertemu dengan pengacara perusahaan untuk mendapatkan arahan terkait ancaman ini.”

Dimas mengangguk. “Baik, Pak.”

***

Tidak sampai lima belas menit kemudian, ponsel Nayla berbunyi.

Pesan dari Dimas masuk.

**Dimas:** Bu Nayla, kami menduga pengirim pesan ancaman memiliki keterkaitan dengan Bu Siska. Pak Raka menyarankan agar Ibu mempertimbangkan konsultasi singkat dengan pengacara untuk mengetahui langkah yang aman. Tidak ada paksaan. Keputusan sepenuhnya di tangan Ibu.

Nayla membaca pesan itu perlahan.

Ia duduk di ruang tamu bersama Bu Ratih dan Pak Hendra. Setelah percakapannya dengan Siska, orang tuanya tidak membiarkannya sendirian.

“Dari siapa?” tanya Bu Ratih.

“Dimas. Asisten Pak Raka.”

Nayla menunjukkan pesan tersebut kepada kedua orang tuanya.

Pak Hendra membaca dengan saksama.

“Ini bagus,” katanya. “Kamu tidak harus langsung melapor, tapi setidaknya kamu tahu pilihan kamu.”

Bu Ratih mengangguk. “Mama setuju. Kita dengar penjelasannya dulu.”

Nayla menatap kedua orang tuanya.

Tiba-tiba, ia merasa sangat bersyukur. Meski hidupnya sedang berantakan, ia tidak benar-benar sendirian.

“Aku setuju,” kata Nayla akhirnya. “Aku mau konsultasi.”

Nayla membalas pesan Dimas.

Beberapa detik kemudian, jawaban masuk.

**Dimas:** Baik, Bu. Besok pukul 10.00, pengacara kami dapat menemui Ibu di kantor. Saya akan menunggu Ibu di lobi.

Nayla baru saja hendak menyimpan ponselnya ketika sebuah pesan baru masuk dari Arga.

**Arga:** Kita perlu bicara sekarang. Siska mengirim foto kamu sama Pak Raka ke aku.

Jantung Nayla seolah berhenti.

Pesan kedua menyusul.

**Arga:** Jangan bilang tidak ada apa-apa. Aku sudah lihat sendiri.

Nayla menatap layar ponsel dengan wajah pucat.

Siska benar-benar mengirim foto itu kepada Arga.

Rumor yang selama ini hanya berupa ancaman kini telah berubah menjadi masalah nyata.

Dan Nayla tahu Arga tidak akan melihat foto itu dengan pikiran jernih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!