NovelToon NovelToon
Pengantin Dalam Kegelapan

Pengantin Dalam Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Pengantin Pengganti / Perjodohan / Roman-Angst Mafia / Mafia
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.

Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.

Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang tak di duga

Cermin besar di sudut kamar memantulkan bayangan seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang yang terurai sampai pinggang. Kulitnya putih pucat malah sangat pucat, seperti porselen mahal yang tidak pernah tersentuh sinar matahari. Di bawah pantulan lampu kamar yang redup, sepasang mata hazel milik Celeste Delacroix menatap dingin pada pantulannya sendiri.

Bagi Celeste, siang hari adalah penjara. Penyakit langka yang diidapnya membuat sinar matahari jadi musuh paling mematikan. Saat orang-orang beraktivitas di bawah teriknya siang, Celeste cuma bisa mengurung diri di kamar dengan tirai tebal yang tertutup rapat.

Bosan?

Tentu saja sangat membosankan. Tapi Celeste tidak pernah mengeluh. Ia sadar dirinya tidak sempurna, dan keluarganya pun tidak pernah berusaha menghibur. Bagi keluarga Delacroix, ia cuma beban, beda jauh dari Caelia, saudara kembarannya yang sempurna dan selalu dipuja.

Namun, begitu malam tiba, aturan itu runtuh. Malam adalah satu-satunya waktu bebas untuk Celeste.

Dengan cepat, Celeste memakai gaun malam hitam yang pas di tubuhnya dan sepatu hak tinggi. Ia mengoleskan lipstik merah di bibirnya supaya wajahnya tidak terlalu pucat. Setelah memastikan situasi rumah sepi, Celeste menyelinap keluar lewat pintu belakang.

Di ujung jalan yang agak gelap, mobil hitam sudah menunggunya dengan mesin menyala. Di kursi kemudi, ada Roxy, sahabat tomboy-nya yang memakai jaket kulit hitam dan rambut pendek acak-acakan. Roxy adalah satu-satunya orang yang benar-benar paham perasaan Celeste.

Celeste langsung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Roxy.

"Kau terlambat lima menit, Princess," ledek Roxy sambil tersenyum miring dan menginjak gas.

Celeste tertawa kecil seraya merapikan rambutnya. "Kau tak tahu aja, bagaimana kondisi rumahku. Tapi tenang, malam ini milik kita."

"Bagus! Pokoknya malam ini kau yang membayar minumannya," sahut Roxy bercanda.

Tujuan mereka adalah Vortex, bar kelas atas di pusat kota. Musik dengan bass kencang langsung menyambut mereka begitu pintu dibuka. Lampu neon warna-warni memenuhi ruangan yang ramai.

Tanpa canggung, Celeste dan Roxy berjalan santai ke meja bar. Mereka sudah sering ke sini, jadi suasana bising ini terasa sangat biasa.

"Dua gelas tequila, cepat ya!" teriak Roxy ke bartender.

Dua sloki minuman langsung tersaji. Celeste mengangkat gelasnya dan menatap Roxy.

"Buat kebebasan malam ini!" seru Celeste.

"Gas!" balas Roxy.

Sekali teguk, minuman itu langsung habis. Rasa hangat terbakar menjalar di tenggorokan Celeste, menyegarkan pikirannya. Setelah itu, mereka masuk ke tengah kerumunan dan mulai bergoyang ikutan irama musik. Celeste tertawa lepas, menikmati kebebasannya. Malam ini, ia bukan gadis sakit-sakitan yang terkurung, ia cuma Celeste yang ingin bersenang-senang.

Setelah beberapa gelas lagi, kepala Celeste mulai terasa agak berat dan berputar.

"Rox, aku ingin mengambil minum lagi," pamit Celeste di tengah kebisingan.

"Perlukah aku menemanimu?" teriak Roxy.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" jawab Celeste sambil jalan agak sempoyongan.

Di sudut meja bar yang agak remang, duduk seorang pria jangkung dengan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka. Pria itu adalah Lucian St. Claire. Wajahnya yang tampan terlihat sangat tegang. Malam ini, musuh bisnisnya mencoba menjebaknya dengan memasukkan obat perangsang ke minumannya. Lucian sadar dan berhasil kabur, tapi efek obat itu sudah mulai membakar tubuhnya.

Celeste yang sudah teler duduk di kursi kosong tepat di sebelah Lucian. Matanya yang rabun melihat gelas berisi cairan jernih di meja yang sebenarnya milik orang lain dan langsung meminumnya sampai habis.

"Ah, segar..." gumam Celeste pelan.

Karena pusing, tubuh Celeste mendadak oleng dan ambruk tepat ke dada bidang Lucian.

Lucian refleks menahan pinggang Celeste. Sentuhan kulit halus dan wangi tubuh Celeste langsung menusuk indra Lucian yang sedang kepanasan karena efek obat. Lucian menunduk, menatap mata hazel Celeste yang terlihat sayu.

"Kau..." suara Lucian tertahan di tenggorokan. Karena trauma masa lalu, ia tidak bisa bersuara selain desahan napas yang berat, tapi matanya memancarkan gairah yang kuat.

Celeste mendongak. Dalam pandangannya yang kabur, pria di depannya ini kelihatan tampan sekali. Karena pengaruh alkohol, keberanian Celeste naik drastis. Tanpa mikir panjang, Celeste menarik kerah kemeja Lucian dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Lucian.

Sensasi pertama yang Celeste rasakan adalah bibir Lucian yang hangat dan sedikit basah. Awalnya cuma tempelan biasa, tapi dalam hitungan detik berubah jadi ciuman yang sangat dalam. Lucian yang emosi dan tubuhnya makin panas akibat obat tidak bisa menahan diri lagi. Ia membalas ciuman Celeste dengan bertenaga.

Bibir mereka saling melumat gemas. Lucian menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Celeste, mengabsen setiap sudutnya dengan lembut tapi menuntut. Celeste meraba tengkuk Lucian, menarik kepala pria itu agar ciuman mereka makin rapat.

Hati Celeste berdebar kencang, ada rasa tersetrum yang aneh sekaligus nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa pusing akibat alkohol malah membuat ciuman itu terasa sepuluh kali lebih dahsyat. Sementara bagi Lucian, rasa manis dari bibir Celeste seperti penawar rasa sakit dan panas yang membakar tubuhnya.

Napas mereka berdua makin memburu di sela-sela ciuman. Lucian menggigit pelan bibir bawah Celeste, membuat gadis itu mendesah pelan di dalam mulutnya. Desahan itu justru makin membakar gairah Lucian. Tangannya yang besar meremas pinggang Celeste, menarik tubuh cewek itu sampai tidak ada jarak sama sekali di antara mereka.

Hasrat yang makin gila membuat Lucian menarik tangan Celeste menjauh dari area bar. Tanpa melepas tautan bibir mereka secara penuh, mereka masih sempat-sempatnya mencuri ciuman kecil dan lumatan basah di sepanjang koridor.

Lucian menuntun Celeste naik ke area hotel di lantai atas.

Begitu pintu kamar hotel terbuka dan terkunci rapat, mereka langsung makin liar. Sepatu hak tinggi Celeste terlempar sembarangan. Lucian mendorong Celeste pelan ke tembok, kembali mengunci bibir Celeste dalam ciuman yang makin panas dan menuntut.

Malam itu, di dalam kamar yang remang-remang, dua orang yang sama sekali tidak saling kenal dan sama-sama dalam pengaruh alkohol itu pasrah diselimuti gairah sampai pagi datang.

Takdir mereka baru saja di mulai!!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!