NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyerangan mendadak

Sebuah permen lolipop tiba-tiba sudah melayang di depan hidung Adit.

“Nih,” gumam Ana pendek.

Adit melirik sekilas benda manis itu lalu mendengus sambil membuang muka. “Nggak mau. Aku bukan anak kecil lagi kak.”

“Yaudah kalau nggak mau.” Ana langsung menarik tangannya kembali tanpa berniat membujuk. Dia melenggang pergi begitu saja.

Baru berjalan lima langkah, Adit yang tertinggal di belakang buru-buru melirik bungkus permen di tangan kakaknya. Secepat mungkin, cowok itu berlari kecil dan langsung merebut permen itu dari genggaman Ana.

“Siapa juga yang bilang gak mau?” gerutu Adit sambil pura-pura sibuk membuka bungkusnya.

Ana menghentikan langkahnya membalikkan badan, lalu menatap adiknya dengan pandangan datar. “Dasar bocah gengsian.”

Langkah mereka terhenti tepat di pintu keluar mall. Empat orang pria berbadan tegap mendadak mengadang jalan. Pakaian mereka biasa saja hanya kaus oblong dan celana jins akan tetapi cara mereka berdiri dan tatapan matanya yang liar langsung membuat Ana sedikit waspada.

Adit yang kaget refleks pasang badan melangkah kedepan Ana. “Kalian siapa? Mau apa?”

Salah satu preman yang memakai jaket kumal menyeringai, memperlihatkan deretan giginya. “Jadi bener, kamu yang namanya Adit Pramudia?”

“Iya. Kenapa emangnya?”

“Hajar!”

Belum sempat Adit mencerna situasi, sebuah balok kayu sudah terayun deras mengincar kepalanya. Adit yang syok hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

Namun, benturan yang ia takuti tidak pernah terdengar.

Di belakangnya, mata Ana mendadak menajam. Aliran energi tak kasatmata memancar dari pupil matanya.

Wusss! Batang kayu itu mendadak membeku di udara, tertahan gaya magnet tak terlihat tepat beberapa sentimeter dari kening Adit.

Preman itu melotot panik. Karena kehilangan momentum akibat serangannya tertahan mendadak tubuhnya limbung ke depan. Dia justru menubruk senjatanya sendiri, lalu jatuh terjungkal di atas aspal sambil mengaduh kesakitan.

Adit membuka mata perlahan, lalu menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan bingung. “Loh? Kok…”

“Sialan pakai trik apa kamu?!” bentak preman lain yang mulai ketakutan.

Ana melangkah maju melewati Adit. Wajahnya sedingin es. “Empat orang dewasa ngeroyok satu anak sekolahan? Gak punya harga diri banget ya kalian.”

“Bos cewek ini aneh! Dia kayaknya main dukun!” teriak pria yang masih terduduk di tanah sambil memegangi dahinya yang benjol.

“Alasan aja! Semuanya maju, habisi mereka!” perintah si ketua komplotan.

Tiga preman tersisa langsung merangsek maju dari berbagai arah. Namun bagi Ana, gerakan mereka terasa lambat. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya Ana kembali memutar tubuh. Dua tendangan melingkar yang cepat dan presisi mendarat telak di dada dua penyerang. Tubuh mereka berdua melayang beberapa meter sebelum akhirnya terjatuh dan berguling di jalan.

Kini, tinggal satu orang yang tersisa. Pria itu gemetaran, memegang pisau lipat dengan tangan yang sudah basah oleh keringat dingin.

Ana hanya mengangkat tangan kanannya, lalu menekuk jari telunjuknya sedikit ke bawah. Detik itu juga, ruang di sekitar pria itu mendadak bertekanan tinggi. Tubuhnya mendadak kaku, bergetar sebelum dan akhirnya lututnya lemas dan jatuh bersujud di depan sepatu Ana.

Ana berjalan mendekat tanpa suara, lalu mencengkeram kerah baju pria itu hingga terangkat. “Siapa yang nyuruh kalian?”

Pria itu meneguk ludah susah payah, matanya bergerak liar. “Aku…. aku gak tahu!”

Cengkeraman Ana berpindah ke leher pria itu, sedikit menekan jalur napasnya. “Coba tebak. Kalau aku tambahin tenaga sedikit aja di jari-jariku, leher kamu ini bakal patah apa gak?”

Wajah preman itu langsung berubah pucat pasi seperti mayat. “A-ampun! Ada orang yang bayar kami! Tugas kami cuma buat patahin tangan kanan Adit, biar dia gak bisa ikut seleksi menembak sore ini!”

“Siapa orangnya?” tanya Ana lagi, nadanya makin menusuk.

“Sumpah aku nggak tahu! Kami cuma dapet transferan dan perintah lewat telepon umum!”

Ana menatap mata pria itu selama beberapa detik untuk memastikan dia tidak berbohong.

Setelah yakin, Ana mengempaskan tubuh pria itu ke tanah hingga terbatuk-batuk.

“Pergi, sebelum aku berubah pikiran.”

Tanpa menunggu perintah dua kali, keempat preman yang tadinya sangar itu langsung bangkit dengan tertatih-tatih. Mereka berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri, bahkan tidak berani menoleh ke belakang sama sekali.

Ana membalikkan tubuhnya, menatap Adit dengan dahi berkerut. “Lomba menembak apa?”

Adit maju selangkah, garuk-garuk kepala yang tidak gatal. “Itu… cuma kompetisi tingkat pelajar yang diadakan sekolah nanti sore Kak. Aku juga nggak tahu kenapa sampai ada yang niat jahat begini.”

Ana menyipitkan matanya menganalisis situasi. “Kalau sampai ada pihak yang niat nyewa preman cuma buat bikin cacat peserta, berarti kompetisi ini punya taruhan yang jauh lebih besar dari sekadar piala sekolah.”

Adit terdiam, tidak bisa membantah logika kakaknya.

Ana berbalik dan kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. “Nanti sore aku ikut.”

“Eh? Kak tunggu!” Panggil Adit.

Namun Ana terus berjalan tanpa memedulikan seruan adiknya. Di dalam benaknya, sebuah pertanyaan besar mulai muncul siapa sebenarnya yang begitu ketakutan dengan bakat menembak Adit sampai harus menggunakan cara sekotor ini?

Di belakangnya, Adit meremas permen lolipop yang ada di genggamannya. Rasa kesal karena selalu dianggap anak kecil mendadak sirna. Untuk pertama kalinya, cowok itu menyadari satu hal selama kakaknya berdiri di dekatnya, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menyentuhnya

1
SRIANA
bagus ceritanya, semangat KK.
Syifaa
👍
Syifaa
🙏
Syifaa
👍
imran
Lanjut lagi
yuyusss: 🙏🙏😍😍😍😍
total 1 replies
imran
Makin penasaran
imran
Gregetnya
yuyusss: 😍baguss banget lanjut
total 1 replies
Syifaa
Jangan lupa like
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!