Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sihir Alam dan Jalinan Hijau
Mohon maaf dari Author sebelumnya, karena sedikit merubah alur cerita, di karenakan ada beberapa Revisi, pembaca bisa mengulang untuk membaca di bab sebelumnya jika di rasa tidak nyambung.
***
Hera membersihkan sisa lemak daging dari jemarinya menggunakan selembar daun basah yang disediakan Sulung.
Meski perutnya sudah terisi penuh dan rasa lemas di tubuhnya berkurang, sifat keras kepala dan ego akademisnya belum juga surut. Dia berdiri, merapikan jaket gunungnya, dan kembali menatap Sulung yang sedang berdiri di tepi pelataran kayu luar gubuk.
"Dengar, Sulung," Hera membuka suara, melangkah mendekat dengan angkuh. "Aku akui kemampuan berburumu lumayan. Tapi argumenku tadi pagi tetap berlaku. Manusia tidak bisa bertahan hidup lama di tempat terisolasi ini tanpa sistem sanitasi dan teknologi modern. Kehidupan klanmu ini tertinggal ratusan tahun dari duniaku."
Sulung tidak membalikkan badan. Dia berdiri tegak membelakangi Hera, menatap hamparan kabut putih yang mulai terbelah oleh sinar matahari pagi.
Angin bertiup kencang, memainkan helai-helai rambut panjang hitamnya yang liar.
"Duniaku tidak butuh teknologi kotamu, Wanita luar," ucap Sulung. Suaranya terdengar sangat tenang, berat, namun sarat akan kekuatan yang pejal.
"Alas Purba memberi semua yang kami butuhkan. Alam di sini mendengar bagi mereka yang tahu cara berbicara."
"Mendengar? Kau bicara seolah hutan ini punya telinga dan otak," cibir Hera, melipat kedua tangannya di dada. "Itu hanya personifikasi puitis. Secara biologi, tanaman dan hewan bergerak murni karena insting dan stimulus lingkungan, bukan karena mereka mengerti bahasamu."
Sulung menoleh sedikit, memberikan lirikan mata elangnya yang tajam dan dingin. "Kau terlalu banyak melihat kertas dan angka sampai matamu buta terhadap apa yang nyata di depanmu. Lihat ke atas."
Hera mengerutkan dahi, menuruti perintah itu dengan dongkol. Dia mendongak menatap langit biru di atas kanopi Alas Purba.
Kaaaaakk!
Sebuah pekikan melengking yang luar biasa nyaring mendadak memotong keheningan pagi. Suara itu begitu menggelegar hingga membuat gendang telinga Hera berdenging dan pelataran kayu di bawah kakinya bergetar pelan. Detik berikutnya, sebuah bayangan raksasa melintas di atas gubuk mereka, menutupi sinar matahari sesaat.
Hera terkesiap, melangkah mundur secara refleks hingga punggungnya menabrak dinding gubuk. Matanya membelalak sempurna penuh keterkejutan ilmiah.
Sesosok burung pemangsa dengan ukuran yang luar biasa masif—sebesar mobil jip milik Baskara—sedang melayang turun dari langit. Bulunya berwarna hitam legam dengan kilau keperakan di ujung sayapnya, dan paruhnya yang melengkung tajam tampak sewarna gading tua yang kokoh.
Burung raksasa itu mendarat dengan dentuman berat di atas dahan pohon terbesar yang berada tepat di samping pelataran gubuk Sulung.
"Astaga, makhluk apa ini? Struktur sayapnya... ini tidak ada di jurnal taksonomi manapun!" gumam Hera dengan bibir gemetar, insting profesor botaninya mendadak bergejolak hebat antara rasa takut dan ketakutan akademis.
Burung raksasa itu mendengus, menatap Hera dengan sepasang mata merah yang berkilat cerdas dan penuh ancaman. Parang tajamnya bergesekkan dengan kulit kayu, memancarkan aura predator yang mematikan.
Sulung melangkah maju dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun. Dia mendekati tepi pelataran, mengulurkan tangan kanannya yang kekar ke udara, lalu mengeluarkan serangkaian suara dari tenggorokannya—suara siulan rendah yang bergetar ritmis, berbaur dengan gumaman bahasa kuno yang terdengar berat dan berwibawa.
Mendengar suara Sulung, burung raksasa itu mendadak menurunkan kepalanya. Sikap agresifnya lenyap dalam sekejap. Hewan masif itu menggeser tubuh besarnya, mendekatkan paruhnya ke arah telapak tangan Sulung, lalu menggesekkan kepalanya dengan manja seperti seekor kucing rumahan.
Sulung membisikkan beberapa patah kata lagi di depan parang burung itu sembari mengusap bulu lehernya yang tebal. Burung raksasa itu mengangguk sekali, mengepakkan sayap lebarnya hingga menimbulkan badai angin kecil yang membuat rambut Hera berantakan, lalu melesat terbang kembali menembus awan dengan kecepatan tinggi.
Hera berdiri terpaku, kehilangan kata-kata.
"Kau,kau benar-benar berkomunikasi dengannya? Bagaimana bisa? Itu tidak masuk akal!"
Sulung membalikkan badannya, menatap wajah syok Hera dengan pandangan datarnya yang menyebalkan. "Sudah kukatakan, Alas Purba mendengar jika kau tahu caranya."
Pria itu berjalan masuk kembali ke dalam gubuk, diikuti oleh Hera yang melangkah cepat di belakangnya dengan rasa penasaran yang sudah menyentuh ubun-ubun. Watak keras kepalanya menolak untuk percaya begitu saja pada sihir hutan, otaknya terus berputar mencari penjelasan rasional.
"Dengar, Sulung! Itu pasti hasil penjinakan sejak kecil, kan? Refleks terkondisikan melalui pemberian makan!" cecar Hera saat mereka sudah berada di dalam ruangan. "Hewan bisa dilatih, itu fakta biologi perilaku. Jadi jangan sebut itu sebagai—"
Kalimat Hera mendadak terputus di tengah jalan untuk kesekian kalinya hari itu.
Sulung menghentikan langkahnya di dekat sudut ruangan terbuka, tepat di sebelah rak senjata kunonya.
Dia mengabaikan seluruh penjelasan ilmiah Hera. Pria tegap itu merunduk sedikit, meletakkan telapak tangan kirinya di atas permukaan salah satu batang tanaman merambat tebal yang menjalar menembus celah lantai papan gubuk dari arah luar pohon.
Sulung memejamkan matanya sejenak. Guratan otot di lengannya menegang, dan dia menggumamkan sebuah kata tunggal yang terdengar sangat dalam di tenggorokannya.
Sreeet... Kreeek...
Hera tersentak, matanya melebar sejauh mungkin. Di depan pandangannya, jalinan tanaman merambat berdiameter sebesar lengan manusia yang berada di sudut ruangan mendadak bergerak hidup.
Tumbuhan hijau itu menggeliat lambat seperti ular python, menjalar naik memutari tiang bambu hitam, lalu mulai saling melilit dan menganyam diri mereka sendiri di udara secara mandis.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, jalinan tanaman merambat itu telah bertransformasi menjadi sebuah struktur kerangka ranjang yang kokoh, lengkap dengan anyaman serat-serat halus di bagian tengahnya yang membentuk alas tidur yang elastis dan nyaman.
Beberapa pucuk daun hijau muda bermekaran di sudut-sudut ranjang baru tersebut, mengeluarkan aroma segar dedaunan hutan yang menenangkan.
"Ini_ranjangmu," ucap Sulung datar, melepaskan pegangan tangannya dari batang tanaman yang kini telah kembali diam membatu. Sulung membalikkan badan menatap Hera. "Agar kau tidak lagi mengoceh tentang privasi, sekat, dan lantai yang dingin."
Hera menatap ranjang hidup yang baru saja tercipta di depan matanya dengan tubuh yang gemetar hebat. Seluruh dinding logika modern, teori botani molekuler, dan dogma sains yang dia pelajari selama puluhan tahun di universitas kota seolah-olah hancur lebur berkeping-keping dalam hitungan menit di dalam gubuk ini.
Tumbuhan bergerak aktif membentuk furnitur atas perintah suara? Hal seperti ini tidak akan pernah bisa diterima oleh jurnal ilmiah manapun di dunianya.
"Bagaimana mungkin" bisik Hera, suaranya melemah sepenuhnya, kehilangan keangkuhan seorang profesor untuk pertama kalinya.
Dia melangkah perlahan, menyentuh jalinan tanaman merambat yang kini terasa sangat kokoh dan nyata di bawah jemarinya. "Ini menentang semua hukum alam yang aku ketahui."
Sulung melangkah menuju ranjang kulit beruang miliknya sendiri di seberang ruangan, lalu duduk di tepinya sembari mengambil kembali pedang Khanjar tulangnya untuk dibersihkan.
"Hukum duniamu sangat kecil" kata Sulung dingin tanpa melihat ke arah Hera. Aura kedigdayaannya yang mutlak kembali menguasai ruangan.
"Di tempat ini, kau harus mulai membuka matamu, atau kekeraskepalaan kotamu itu yang akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum kau sempat membawa obat untuk ibumu."
Hera terdiam, mendudukkan tubuh lelahnya di atas kasur tanaman merambat yang terasa sangat empuk dan hangat.
Dia memeluk tas ransel berisi sampel Dream Flower-nya dengan perasaan campur aduk yang luar biasa pekat—antara takjub, takut, dan jengkel yang mendalam karena lagi-lagi harus kalah telak dalam adu argumen melawan kedigdayaan sang Panglima klan misterius di atas awan.
Jangan lupa Komen ya.