Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir di Balik Reruntuhan
Reruntuhan kuno itu kembali diliputi kesunyian. Namun, ketenangan tersebut jelas tak akan bertahan lama.
Di tengah aula batu yang dipenuhi retakan, Lu Mingseng duduk bersandar pada sebuah pilar tua. Wajahnya pucat pasi, bibirnya pecah-pecah, dan seluruh tubuhnya terasa bagai dihancurkan lalu direkatkan kembali secara paksa.
Rasa sakit dari proses penghancuran segel pertama masih membakar setiap inci sarafnya.
Meski begitu, dibandingkan penderitaan dan penolakan yang pernah ia tanggung, rasa sakit ini justru terasa amat manis. Sebab rasa sakit inilah yang memberinya sesuatu yang tak pernah ia miliki selama tujuh belas tahun hidupnya: Harapan.
Lu Mingseng menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang kurus dan berdarah.
"Dahulu... mereka menyebutku sampah," gumamnya dengan tawa kecil yang pahit. "Ayahku bahkan tak sudi mengeluarkan tiga keping perak untuk membeli obat Ibu."
Tatapannya perlahan berubah menjadi sedingin es.
"Suatu hari nanti... aku akan membuat mereka sadar betapa bahagianya mereka saat menginjak-injakku dahulu, dan betapa bodohnya keputusan mereka."
Namun, Mingseng mendadak mengepalkan tangannya. Ia tahu betul realitas dunia kultivasi. Tanpa kekuatan, dendam hanyalah lelucon yang membunuh pemiliknya. Ia tak boleh mati konyol sebelum sempat mengubah nasibnya.
Ia menarik napas panjang, memejamkan mata untuk memfokuskan pikiran.
'Jangan terburu-buru...'
Sebuah suara tua yang ghaib tiba-tiba bergema di benaknya.
Mingseng membuka mata. Sosok samar berjubah putih melayang di hadapannya—roh Kaisar Keabadian.
"Senior," Mingseng segera menegakkan tubuh. "Apakah aku sudah bisa mulai berkultivasi?"
"Sudah, tapi jangan bermimpi menjadi naga dalam semalam," sahut sang Kaisar datar. "Pembukaan meridian pertama baru saja memberimu pijakan dasar. Dibandingkan para kultivator di luar sana, kau bahkan belum layak disebut kultivator sejati."
"Aku paham, Senior."
Kaisar Keabadian mengibaskan tangannya, menampilkan proyeksi keemasan sembilan jalur energi di tubuh Mingseng.
"Warisan ini bukanlah hadiah cuma-cuma. Setiap kali kau berniat membuka meridian berikutnya, kau harus melewati siksaan yang seribu kali lebih membakar dari ini. Jika gagal, meridianmu hancur dan jiwamu musnah."
Mingseng menatap sembilan jalur itu tanpa berkedip. Ingatannya kembali melayang pada malam ketika ibunya menghembuskan napas terakhir di atas ranjang lapuk.
"Aku tidak takut mati," desis Mingseng pelan namun tajam. "Aku hanya tidak ingin hidup berlutut seperti dulu lagi."
Roh Kaisar Keabadian menatap Mingseng cukup lama, sebelum raut wujudnya mendadak berubah serius. Kepalanya menoleh cepat ke arah lorong bagian atas.
"Ada yang datang."
Jantung Mingseng melonjak mendadak. "Siapa?!"
"Tiga orang. Yang paling depan berada di ranah Fondasi Spiritual. Dua lainnya berada di tingkat Pengumpulan Qi."
Wajah Mingseng langsung memucat. Fondasi Spiritual!
Bagi Mingseng yang baru saja menginjakkan kaki di ranah kultivasi, ahli Fondasi Spiritual ibarat dewa yang sanggup melumatnya hanya dengan kibasan lengan.
"Sembunyikan aura dan keberadaanmu. Jangan sampai mereka menyadari warisan ini!" tegas Kaisar Keabadian sebelum wujudnya memudar lenyap. "Dan ingat satu hal... jangan pernah percaya pada senyuman orang di dunia kultivasi."
Mingseng bergerak cepat. Dengan tubuh menahan ngilu, ia menyelinap ke balik celah sempit di belakang sebuah patung batu raksasa tanpa kepala. Ia menarik beberapa bongkahan batu untuk menutupi tubuhnya, merapatkan jubah lusuhnya rapat-rapat.
Ia menahan napas, menekan fluktuasi energi di dalam tubuhnya hingga ke titik terendah.
Langkah... langkah...
Suara derap langkah kaki yang mantap bergema, memecah kesunyian aula.
"Penatua Han, gelombang energi aneh tadi jelas berasal dari tempat ini," ujar sebuah suara pemuda.
Tiga sosok melangkah masuk. Pria di paling depan mengenakan jubah putih bersulam lambang pedang biru—Dialah Han Qingshan, seorang Tetua dari Sekte Pedang Awan. Di belakangnya, berdiri dua murid dalam berpedang, Zhao Feng dan Lin Hao.
Han Qingshan mengibaskan lengan jubahnya.
WUSSH!
Gelombang tekanan spiritual menyapu seluruh isi ruangan, menerbangkan debu dan batu-batu kecil.
Mingseng yang bersembunyi di balik patung merasa dadanya mendadak amat sesak. Tulang Jari Emas yang menyatu di dadanya sempat bergetar halus merespons tekanan itu, namun Mingseng menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan gejolak energi tersebut.
Han Qingshan menghentikan langkahnya di tengah ruangan, matanya menatap ukiran sembilan lingkaran di dinding batu.
"Sembilan lingkaran... mengelilingi matahari emas," gumam Han Qingshan, wajahnya berubah sangat serius saat menyentuh ukiran itu.
JLEB!
Sebuah sengatan energi kuno memantul memukul jarinya. Han Qingshan menarik tangannya cepat-cepat dengan raut terkejut. "Ini... ini bukan sekadar reruntuhan biasa!"
"Penatua, apakah ini peninggalan sekte masa lalu?" tanya Zhao Feng penasaran.
"Mungkin lebih tinggi dari itu. Periksa seluruh ruangan! Jangan sentuh apa pun secara sembarangan!" perintah Han Qingshan tegas.
Kedua muridnya segera menyebar. Han Qingshan sendiri berjalan perlahan mendekati patung batu tanpa kepala—tempat Mingseng bersembunyi!
Deg! Deg! Deg!
Setiap derap langkah Han Qingshan terasa memukul dada Mingseng.
"Menarik... ada jejak hawa kehidupan di balik batu ini," desis Han Qingshan tiba-tiba.
BRAK!
Dengan satu kibasan tangan, bongkahan patung itu runtuh seketika! Celah persembunyian Mingseng terbuka lebar.
Mata Han Qingshan menyipit tajam menatap gumpalan kain lusuh di balik batu. "Siapa di sana?!"
Zhao Feng dan Lin Hao seketika melompat maju, menghunus pedang perak mereka.
Mingseng tahu ia tak bisa lari. Dengan gerakan perlahan dan tubuh gemetar, ia merangkak keluar dari balik reruntuhan batu. Tubuhnya kurus, jubahnya compang-camping, dan wajahnya dipenuhi pudar tanah—tampak persis seperti gelandangan kotor.
"Pfft! Cuma bocah pengemis?" Zhao Feng bersedekap sambil tertawa mengejek.
Han Qingshan tidak tertawa. Tatapan matanya yang tajam seolah menembus jiwa Mingseng. "Siapa namamu? Mengapa bisa ada di tempat berbahaya ini?"
Mingseng menundukkan kepala dalam-dalam, berpura-pura gemetar ketakutan. "Na-namaku Lu Mingseng, Senior... Aku tergelincir dari tebing saat dikejar serigala dan jatuh ke sini..."
"Apakah kau melihat benda aneh atau cahaya di ruangan ini?!" cecer Zhao Feng kasar sambil mencengkeram leher baju Mingseng.
"Lepaskan dia, Zhao Feng," potong Han Qingshan pelan namun penuh wibawa.
Han Qingshan mendekat, lalu menempelkan telapak tangannya di pundak Mingseng untuk memeriksa saluran meridian pemuda itu.
Mingseng menahan napas. Namun, begitu aliran energi Han Qingshan masuk ke dalam tubuhnya, hal aneh terjadi—energi itu mendadak diserap habis dan menghilang di dalam jalur Meridian Pertama milik Mingseng!
Han Qingshan terperanjat, menarik tangannya seketika. "Meridiannya... mampu menelan energiku? Apa-apaan struktur tubuh ini?!"
Tatapannya pada Mingseng mendadak berubah rumit dan penuh pertimbangan.
"Kau... ikut aku kembali ke Sekte Pedang Awan," ujar Han Qingshan tiba-tiba.
Zhao Feng terbelalak kaget. "Penatua! Kenapa kita harus membawa gelandangan ini ke sekte?!"
"Aku yang menentukan!" bentak Han Qingshan dingin. Ia lalu menatap Mingseng. "Di sekte, tubuhmu akan diperiksa lebih lanjut. Jika tak ada bahaya, kau bisa dijadikan murid luar."
Mingseng menunduk hormat, menyembunyikan kilatan dingin di matanya. 'Sekte Pedang Awan... Ini bisa jadi batu loncatan, atau justru tempat pembantaianku.'
"Terima kasih atas kebaikan Senior," ucap Mingseng berpura-pura lugu.
Beberapa saat kemudian.
Saat kedua muridnya sibuk menggeledah sudut lain aula, Han Qingshan melangkah ke depan altar utama. Ia membersihkan debu di atas lempengan batu hitam di bawah altar.
Di sana, terukir sebuah kalimat bahasa kuno yang baru saja aktif dan memancarkan pendar redup:
"SEMBILAN MERIDIAN TELAH TERBANGUN. PEWARIS KEABADIAN TELAH MUNCUL."
DUAR!
Pikiran Han Qingshan serasa dihantam petir! Wajahnya seketika pucat pasi, matanya bergetar hebat.
Ia perlahan membalikkan badan, menatap punggung Lu Mingseng yang berdiri lusuh di dekat pintu keluar.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, seorang Tetua ranah Fondasi Spiritual merasakan sensasi yang amat mengerikan: Ketakutan.
Sebab ia baru saja menyadari... bocah pengemis yang dianggap sampah itu, adalah sosok yang ditakdirkan untuk mengguncang seluruh Alam Kultivasi!
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳