Zareena sungguh tidak menyangka jika kedatangannya ke rumah sang kakak malah bertemu sosok pria menyebalkan bernama Tristan. Lebih parahnya lagi, saudaranya malah menitipkan dirinya kepada pria itu. Lantas, apa yang terjadi? Tristan yang merupakan casanova dan Zareena yang ingin melepaskan kegadisannya. Siapa di antara mereka yang akan takluk lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Tristan
Zareena kaget ketika melihat Tristan yang berada di bandara juga, padahal pria itu tidak ada membicarakan kepulangan ketika mereka berada di kamar.
"Kau satu penerbangan dengan kami?" tanya Zareena. Ia memang pulang bersama Colin dan beberapa tamu dekat lainnya.
Tristan memperlihatkan tiket pesawatnya. "Ya, dalam detik terakhir aku bisa mendapatkannya."
"Lalu, di mana kekasihmu itu?"
"Dia memakai penerbangan selanjutnya."
Tristan tidak ingin melewatkan begitu saja kesempatan untuk bersama Zareena. Ketika ia berkunjung ke kamar wanita itu dan mendapati Zareena akan kembali London, ia lekas memesan tiket pesawat.
Tentunya tanpa kabar langsung kepada Stacy. Tristan cuma mengirimkannya pesan serta mentransfer sejumlah uang kepada wanita itu. Terserah Stacy mau pulang atau menetap di Italia. Ia tidak peduli sama sekali.
"Bisakah kita duduk bersama nanti?" tanya Tristan.
"Kau harus bertanya pada teman dudukku untuk hal itu," jawab Zareena.
Keberangkatan menuju London diumumkan. Zareena serta yang lain segera menuju pesawat mereka. Nasib tidak beruntung dialami Tristan karena ia tidak bisa duduk bersama Zareena. Sang pujaan duduk dengan seorang pria paruh baya, sedangkan dia duduk dengan wanita gemuk. Sialnya pria yang bersama Zareena tidak ingin pindah meski Tristan telah membujuknya.
"Menurutku tubuh yang terlalu gendut tidak terlalu bagus," komentar Tristan pada teman duduk di sampingnya.
"Kau pikir dirimu adalah sosok yang sempurna? Kau itu pria yang paling jelek. Berani sekali kau mengomentari tubuh seksi ini," sahut wanita itu.
Tristan tercengang, tetapi itu salahnya sendiri yang tidak bisa menjaga mulut. Ia salah bicara. Maksudnya tidak baik untuk kesehatan bukan karena penampilan.
Dua jam yang tersiksa bagi Zareena terlewati setelah pesawat mendarat dengan selamat di kota London. Ia bergegas turun melewati pria tukang tidur dengan dengkuran yang mengganggu telinga.
"Kau langsung pulang?" tanya Zareena pada sahabatnya.
"Iya, kau lihat di sana. Justin sudah menjemputku. Aku bisa mengantarmu dulu, Sayang," ucap Colin.
"Aku tidak ingin menganggu acara temu kangen kalian."
"Zareena akan pulang bersamaku," sahut Tristan.
Colin bersiul. "Oh, aku tidak akan menganggu kalau begitu. Aku duluan, Sayang."
Colin memeluk Zareena sebelum berpisah. Tristan segera merangkul pundak wanitanya. Ya, Zareena adalah gadisnya mulai hari ini. Tanpa peduli wanita itu sudah memutuskan untuk bersamanya atau tidak.
"Aku ingin kau menjadi tamuku malam ini," bisik Tristan.
Zareena menoleh padanya. "Kau mengundangku ke rumahmu?"
"Makan malam spesial."
"Aku terima," sahut Zareena.
Tristan menghentikan taksi, lalu keduanya masuk ke dalam. Zareena tidak akan pulang ke tempatnya lebih dulu, melainkan berkunjung ke kediaman Tristan dan ia tidak dapat berpikir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Waktu itu Zareena hanya mengantar Tristan sampai di depan gerbang rumah saja. Namun kali ini, ia bahkan bisa memasuki kediaman seorang pria yang katanya tidak ada satu orang wanita pun pernah menginjakkan kakinya di sana.
"Tidak mungkin!" sanggah Zareena. "Lalu, di mana para wanita cantik itu menemuimu?"
"Kelab malam dan kantor."
"Oh, tidak. Aku tidak dapat membayangkan gosip di kantormu. Apa kau juga bermain dengan sekretarismu?"
"Aku tidak sebejat itu," ucap Tristan.
"Bagus. Setidaknya kau masih punya sisi baik dalam dirimu."
"Kau istirahat saja dulu. Aku akan datang kemari pada waktu makan malam," kata Tristan, lalu keluar dari kamar dengan menutup pintu.
Kamar yang begitu indah dan rumah yang sepi. Hanya Tristan sendiri yang tinggal dengan ditemani beberapa pelayan dan penjaga. Zareena cukup merasa istimewa kalau ia yang pertama kali di undang oleh pria itu.
Bersambung