DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Petunjuk
Angin pagi itu berhembus kencang, mengibarkan ujung jubah Kakashi yang kini tertambal di beberapa tempat. Ia melangkah terus, meninggalkan gubuk kakek tua yang menyelamatkannya, meninggalkan tempat di mana ia sempat menemukan kembali sebagian dirinya. Di pinggangnya, pedang hitam berukir wajah iblis tergantung kokoh — berat, dingin, seakan bernapas mengikuti detak jantungnya. Setiap langkah kakinya kini lebih mantap, lebih teguh, seakan tanah di bawahnya tahu bahwa ia tidak lagi berjalan tanpa tujuan yang jelas.
Namun keraguan masih menyelimuti pikirannya. Ke mana tepatnya ia harus pergi? Jejak yang ditinggalkan para penculik itu terputus di tepi tebing sungai. Tidak ada tanda, tidak ada bukti, tidak ada petunjuk yang bisa diikuti. Hutan utara ini begitu luas, begitu lebat, sehingga mencari seseorang di dalamnya sama saja dengan mencari sebutir pasir di tengah pantai. Kadang keraguan itu datang menyelinap — bagaimana jika mereka sudah menyeberang ke negeri seberang? Bagaimana jika Aoi sudah dibawa ke tempat yang tak akan pernah bisa ia jangkau?
Ia menggeleng keras, menepis pikiran itu. Tidak. Aku tidak akan berhenti. Aku tidak akan menyerah sebelum napas terakhirku berakhir.
Matahari mulai merangkak naik ke atas kepala, menyinari jalan tanah yang berdebu dan panjang. Kakashi berhenti sejenak di bawah pohon besar yang rindang, menyeka keringat di dahi dengan lengan bajunya. Ia menatap ke arah utara — arah yang dituju para penculik itu, namun arah yang begitu samar tujuannya. Napasnya terasa berat. Rasa lelah perlahan mulai merayap masuk, namun ia menolaknya. Ia harus terus berjalan. Selama kakinya masih sanggup melangkah, ia tidak akan berhenti.
Tiba-tiba, sesuatu bergerak di udara, membelah angin dengan kepakan sayap yang cepat dan teratur. Kakashi mendongak. Seekor burung merpati putih melayang turun perlahan, mendarat di dahan pohon rendah tepat di hadapannya. Burung itu tampak tidak takut, menatapnya dengan mata bulat yang cerdas, sayapnya sedikit bergetar.
Kakashi melangkah mendekat perlahan. Ia melihat pita kain kecil yang terikat di kaki burung itu — tanda pesan. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengulurkan tangan, dan burung itu dengan tenang melompat ke telapak tangannya.
Dengan hati-hati, ia melepaskan gulungan kertas kecil yang terikat di sana. Tinta di atasnya masih terlihat cukup baru, tulisan tangan yang ia kenal baik — tulisan Daiki. Tangannya sedikit gemetar saat membacanya.
"Kakashi-san,
Semoga surat ini sampai kepadamu dengan selamat. Aku menulis ini dengan tangan yang masih gemetar, namun aku tahu aku harus kuat. Sejak kepergian Paman Kenzaburo, banyak hal berubah dengan cepat. Para pedagang dan pengikut setia Paman memintaku mengambil alih tempatnya. Tadi pagi, secara resmi, aku diangkat menjadi pemimpin persekutuan pedagang menggantikan Paman.
Dari kursi ini, aku mulai melihat hal-hal yang dulu tersembunyi. Aku meneliti catatan perdagangan, surat-surat, pertemuan-pertemuan rahasia yang tidak pernah diketahui orang luar. Dan akhirnya aku menemukannya — benang merah yang menghubungkan semuanya.
Dalang di balik semua ini adalah Garo Takemaki.
Namanya mungkin pernah kau dengar. Ia pedagang yang licik, ambisius, tak segan melanggar aturan demi keuntungannya sendiri. Selama bertahun-tahun ia bersaing ketat dengan Paman, namun Paman selalu menolak menindak tegasnya, berkata bahwa persaingan sehat tetaplah persaingan. Ternyata Garo tidak puas bersaing secara jujur. Ia menyewa orang-orang bayangan itu untuk menyingkirkan Paman.
Dari apa yang kutelusuri, rencana aslinya mungkin hanya mengancam atau menakut-nakuti. Kematian Paman diduga terjadi karena ia melawan — ia tidak diam saja, ia berusaha melindungi kami, dan itulah yang mengakibatkan nyawanya terenggut. Garo sendiri tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Namun kematian Paman justru menguntungkan rencananya. Sejak berita itu tersebar, ia langsung menguasai jalur perdagangan utama di wilayah Utara. Ia kini penguasa baru di sana.
Aoi dibawa ke kediamannya yang tersembunyi di kawasan pegunungan utara, tempat ia mengumpulkan kekuatan dan kekayaan yang ia curi selama ini. Kakashi-san... aku tahu beban ini berat, tapi hanya kaulah yang bisa menyelamatkannya. Garo sangat berbahaya. Ia memiliki banyak pengawal dan pengikut setia.
Hati-hati. Dan bawa Aoi pulang. Kami menunggumu.
Daiki"
Kertas itu tergenggam erat di tangan Kakashi, hingga ujung-ujungnya terlipat dan kusut. Darah mendidih di pembuluh darahnya, panas dan meluap-luap, seakan ada api yang membakar dari dalam dada. Garo Takemaki. Nama itu terngiang di kepalanya, membawa kembali kenangan beberapa tahun silam — saat ia ikut mendampingi Tuan Kenzaburo ke wilayah Utara untuk urusan perdagangan.
Ia masih ingat jelas wajah pria itu. Senyum yang terlalu lebar, tatapan mata yang menyelidik dan licik, cara bicaranya yang manis namun penuh kepalsuan. Saat itu Kakashi sudah merasakan ketidaknyamanan, namun Tuan Kenzaburo hanya tersenyum dan berkata, "Jangan menilai orang terlalu cepat, Kakashi. Mungkin hatinya tidak seburuk yang terlihat."
Ternyata kebaikan tuannya dibalas dengan belati di punggungnya.
"Garo Takemaki..." gumam Kakashi, suaranya rendah dan berat, penuh dengan kebencian yang tak lagi bisa disembunyikan. "Aku sudah tahu sejak dulu. Aku sudah melihat wajah licikmu itu. Namun tak kusangka... tak kusangka kau berani bermain sejauh ini."
Ia mengepal tangannya begitu kuat hingga kuku menancap ke telapak tangan, meninggalkan lekukan yang dalam. Rasa sakit itu tak sebanding dengan luka di hatinya. Pria itu membunuh orang yang paling baik, orang yang memperlakukannya seperti anak sendiri, orang yang tidak pernah menyakiti siapa pun — hanya demi kekuasaan, hanya demi uang, hanya demi ambisi yang hampa. Dan kini ia menahan Aoi, gadis yang tak berdosa, di tempat yang jauh dari siapa pun yang bisa melindunginya.
"Aku akan ke sana," janjinya dalam hati, menatap ke arah utara dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Aku akan datang ke kediamanmu, Garo Takemaki. Dan kau akan menyesal telah melakukannya."
Ia melipat surat itu dengan hati-hati, menyimpannya di bagian terdalam jubahnya, dekat di dada — di tempat yang tak akan hilang, tak akan hancur. Lalu ia menoleh ke arah jalan yang terbentang panjang di hadapannya.
Jarak dari tempatnya berdiri hingga ke wilayah Utara tidaklah dekat. Ia tahu persis seberapa jauhnya. Dulu, saat bepergian bersama Tuan Kenzaburo menggunakan kereta kuda yang baik dan kuda yang kuat, perjalanan itu memakan waktu tujuh hari penuh tanpa henti. Dan jika berjalan kaki sendirian, tanpa bantuan, tanpa istirahat yang cukup... itu akan memakan waktu dua minggu.
Dua minggu. Waktu yang terlalu lama. Terlalu lama untuk menunggu, terlalu lama untuk membiarkan Aoi berada di tangan pria seperti Garo.
"Tujuh hari... dua minggu..." Kakashi menggerutu pelan, menatap jalanan yang sepi dan berdebu. "Aku tidak punya waktu sebanyak itu. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi selama dua minggu?"
Namun ia tidak memiliki kuda. Ia tidak memiliki kereta. Yang ia miliki hanyalah kedua kakinya, kekuatannya, dan pedang yang digenggamnya erat. Ia tidak bisa meminta bantuan siapa pun. Daiki sedang berjuang menata kembali persekutuan pedagang, memegang kendali yang baru saja diwarisi, dan ia tidak boleh membebani pemuda itu lebih jauh lagi.
"Maka aku akan berlari," ucapnya tegas, seakan berjanji pada dirinya sendiri. "Aku akan berlari sejauh yang kubisa, secepat yang kubisa. Biarkan tubuhku lelah, biarkan kakinya terluka. Aku tidak akan berhenti."
Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa, lalu melangkah. Bukan berjalan pelan seperti sebelumnya, melainkan berlari — cepat, mantap, menembus angin yang menyapu wajahnya. Debu beterbangan di belakangnya, dan sosoknya perlahan menghilang di kejauhan, menuju arah utara yang kini bukan lagi sekadar arah, melainkan tujuan yang jelas.
Sepanjang siang itu ia berlari. Ia melewati desa-desa kecil, sungai-sungai dangkal, bukit-bukit rendah yang berderet tanpa henti. Penduduk yang melihatnya hanya menatap heran — seorang pemuda berpakaian gelap, berlari sendirian dengan wajah yang keras dan penuh tekad, seakan dikejar oleh hantu-hantu masa lalu. Ia tidak berhenti untuk makan, tidak berhenti untuk beristirahat, kecuali sebentar untuk minum dari mata air di pinggir jalan. Setiap detik yang berlalu terasa berharga, setiap napas yang memburu adalah pengingat bahwa Aoi sedang menunggu, bahwa Garo Takemaki sedang merasa aman di atas tumpukan kejahatannya sendiri.
Saat matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan warna merah darah yang suram, Kakashi akhirnya melambat. Kakinya terasa berat, betisnya terasa kencang dan perih, napasnya memburu di tenggorokan yang kering. Ia duduk sejenak di bawah pohon besar, menatap ke arah utara yang kini mulai tertutup kabut malam.
"Sudah sejauh ini..." batinnya, mencoba memperkirakan jarak yang telah ditempuh. "Masih jauh. Masih terlalu jauh."
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan kenangan-kenangan itu datang — wajah Tuan Kenzaburo yang tersenyum, suara Aoi yang memanggil namanya, tatapan Daiki yang penuh harap. Semua itu menjadi bahan bakar yang menyalakan kembali semangatnya yang mulai meredup. Ia tidak boleh lelah. Ia tidak boleh menyerah. Ia adalah satu-satunya harapan mereka.
Malam turun perlahan, namun Kakashi tidak tidur. Ia berdiri kembali, mengusap keringat di dahi, lalu melanjutkan perjalanannya. Di bawah cahaya remang bulan yang baru muncul, ia berlari lagi — lebih pelan dari sebelumnya, namun tidak berhenti sedetik pun. Jalanan yang gelap dan sepi tidak menakutinya. Kegelapan justru sahabat lamanya, tempat ia biasa bersembunyi, tempat ia biasa mengawasi. Kini kegelapan itu membantunya bergerak tanpa terlihat, tanpa dihalangi oleh keramaian atau pertanyaan orang-orang.
Hari berganti pagi, lalu siang, lalu malam lagi. Begitu terus selama tiga hari berturut-turut. Kakashi tidur hanya sejenak, duduk bersandar pada batang pohon, mata terpejam namun telinga tetap mendengarkan setiap suara di sekitarnya. Ia makan apa saja yang bisa ditemukan di pinggir jalan — buah liar, umbi-umbian, air dari sungai yang jernih. Tubuhnya yang kuat dan terlatih selama sepuluh tahun menanggung beban itu dengan luar biasa, meski perlahan ia mulai terasa menipis.
Pada hari keempat, ia sampai di perbatasan wilayah Utara. Udara di sini terasa lebih dingin, pepohonan lebih rimbun, dan jalanan mulai dipenuhi kendaraan serta pedagang yang lalu-lalang. Kakashi menutupi sebagian wajahnya dengan kain, bergerak menyatu dengan keramaian, berusaha tidak menarik perhatian. Ia tahu nama Garo Takemaki kini besar di sini. Siapa pun yang mencurigakan bisa langsung dilaporkan.
Ia berhenti di sebuah kedai kecil di pinggir jalan, duduk di sudut yang agak tersembunyi, mendengarkan percakapan orang-orang di sekitarnya.
"Kau dengar kabarnya? Tuan Garo sekarang memegang semua jalur perdagangan," kata seorang pria paruh baya sambil menyesap minumannya. "Kata-katanya adalah hukum sekarang."
"Memang untung baginya Tuan Kenzaburo pergi begitu saja," jawab yang lain dengan nada rendah. "Sekarang tidak ada yang berani menentangnya. Katanya siapa yang menentang, akan hilang tanpa jejak."
"Jangan bicara begitu. Dinding punya telinga. Lebih baik diam dan patuh."
Kakashi mengepal tangannya di bawah meja. Setiap kata yang mereka ucapkan seperti pisau yang mengiris hatinya. Garo tidak hanya mengambil alih kekuasaan — ia juga menanamkan ketakutan di hati setiap orang, sehingga tidak ada yang berani melawan.
Ia berdiri, meninggalkan uang logam di meja, lalu melangkah keluar. Dari kedai itu, ia tahu arah ke kediaman utama Garo — di kawasan pegunungan yang terisolasi, jauh dari keramaian, dijaga ketat oleh pengawal-pengawal bayaran yang dikenal kejam.
Jaraknya masih memakan waktu dua hari perjalanan dengan berjalan kaki cepat. Dua hari lagi. Kakashi mengatupkan rahangnya. Ia harus mempercepat langkahnya.
Sore itu, saat ia melintasi jembatan kayu di atas sungai yang deras, ia melihat sekelompok pengawal berseragam hitam melintas di bawah pimpinan seorang pria berwajah keras. Mereka memeriksa setiap orang yang lewat, meminta izin perjalanan, menanyai ke mana mereka pergi. Kakashi menyadari — kawasan kekuasaan Garo sudah dijaga ketat. Semakin dekat ke kediamannya, semakin sulit untuk masuk tanpa terlihat.
Ia menyelinap ke balik semak belukar, membiarkan mereka lewat, lalu mengambil jalan setapak yang berkelok dan curam, memanjat lereng bukit di sisi lain sungai. Jalannya berat, penuh batu licin dan duri, namun ia tidak peduli. Ia harus sampai di sana sebelum terlambat.
Malam kelima tiba. Kakashi duduk di atas batu besar yang menghadap ke lembah luas. Di kejauhan, di atas bukit yang menjulang, terlihat cahaya-cahaya lampu yang berkelompok — kediaman Garo Takemaki. Besar, megah, dikelilingi tembok tinggi yang tak bisa dipanjat begitu saja. Di sekelilingnya berkeliling pengawal, terlihat jelas meski dari kejauhan.
Kakashi menatap tempat itu dengan tatapan tajam. Di sana. Di tempat itulah Aoi ditahan. Di tempat itulah kejahatan itu bersembunyi.
"Sebentar lagi..." bisiknya, menyentuh gagang pedang hitam di pinggangnya. "Tahanlah sedikit lagi, Aoi. Aku datang."
Ia tidak bergerak menuju sana malam itu. Ia tahu ia harus mengamati, mencari celah, memikirkan cara masuk tanpa memancing kekacauan yang bisa membahayakan Aoi. Ia berbaring di balik semak tinggi, matanya tak lepas dari cahaya-cahaya itu, merencanakan setiap langkah yang akan diambil.
Namun di dalam hatinya, amarah itu masih membara — tak padam, tak mereda, semakin kuat setiap kali ia teringat wajah Garo yang tersenyum licik, wajah Tuan Kenzaburo yang terbaring diam, wajah Aoi yang ketakutan. Ia tahu ia harus tenang. Ia tahu kemarahan yang buta hanya akan menghancurkan segalanya. Tapi sulit menahan api yang sudah menyala begitu besar.
Ia teringat pesan kakek tua itu — "Jangan biarkan kebencian menguasaimu."
Kakashi menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Aku tidak akan menjadi seperti mereka, janjinya. Aku akan menegakkan keadilan, bukan balas dendam yang buta.
Namun di kejauhan, di balik tembok kediaman itu, Garo Takemaki duduk di kursi kebesarannya, tersenyum puas melihat tumpukan emas dan dokumen kepemilikan yang kini semuanya menjadi miliknya. Ia tidak tahu bahwa bayangan yang ia kira sudah hilang selamanya sedang berdiri di ambang pintu dunianya. Ia tidak tahu bahwa pengawal yang tenang dan setia itu telah berubah menjadi kekuatan yang tak bisa dihentikan.