kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU, DEBU DAN JALANAN YANG GELAP.
pagi itu udaranya sejuk, dan di sekolah gue juga ke datang ngan murid baru. Semuanya belajar kayak biasa nya — sampai seseorang datang.
Namanya Rey. Murid baru, pindahan dari kota besar. Sopan, cerdas, dan entah kenapa selalu cari alasan buat berdiri agak terlalu deket, dan ngobrol yang agak terlalu lama menurut gue. dan itu sedikit bikin gue risih.
"Kak Aluna, cara ngerjain ini gimana ya?" tanyanya sambil senyum lebar. "Kakak jelasinnya gampang banget, beda sama yang lain."
Gue tertawa biasa, nggak mikir aneh-aneh. "Sini gue bantu ya." Gue cuma anggap dia anak yang butuh bantuan, itu saja.
Tapi di balik pintu, Arka berdiri.
Dia jemput gue kayak biasa. Matanya yang biasanya menyala senyum pas lihat gue… sekarang dingin. Tatapannya tajam, kaku, seakan semua yang dia lihat tadi ngerusak sesuatu yang dia jaga erat.
Saat kita jalan pulang, suasananya hening.
"Siapa itu?" tanyanya tiba-tiba, suaranya datar.
"Rey? Murid baru. Ramah ya?" gue senyum, nggak sadar apa-apa.
Arka berhenti melangkah. Natap gue lekat-lekat, matanya gelap.
"Ramah atau naksir lo?"
Gue bingung. "Apa sih? Dia cuma minta bantu pelajaran!"
"Lo nggak lihat caranya natap lo?!" suaranya naik sedikit, tegang. "Lo selalu nggak peka ya? Dia nggak lihat lo kayak teman biasa, Luna!"
"Terus gimana? Gue nggak bisa larang orang natap gue!" gue mulai kesal. "Arka, lo berlebihan banget!"
"Gue berlebihan karena gue tahu dunia luar kayak apa!" dia maju selangkah, napasnya berat. "Ada banyak orang yang nggak peduli lo udah milik siapa! Dan lo… lo selalu baik sama semua orang, sampai nggak sadar ada yang mau ambil lo!"
"Jadi lo curiga sama gue?!" dada gue sesak. "Lo nggak percaya sama gue?!"
"Bukan nggak percaya sama lo… gue nggak percaya sama mereka!" suaranya pecah pelan. Tapi kata-kata itu udah terlanjur keluar, tajam, nyakitin.
Gue mundur selangkah. "Kalau gitu pergi. Kalau lo nggak percaya, buat apa di sini?"
Dia menatap gue, bibirnya mengatup rapat. Lalu berbalik — cepat, seakan takut kalau berlama-lama bakal berubah pikiran. Naik motornya, nyalakan mesin, dan melesat pergi. Tanpa pamit. Tanpa menoleh.
Gue berdiri sendirian di sana, angin sore menyapu wajah. "Arka…" panggil gue pelan, tapi dia udah hilang di tikungan.
Malam turun, tapi dia nggak pulang. Telepon nggak diangkat, pesan nggak dibalas. Gue duduk di teras, cemas, sampai langkah kaki terdengar terburu-buru. Itu Raka, napasnya terengah.
"Luna… Arka ikut balap liar malam ini. Kami nggak bisa nahan dia."
Gue meloncat berdiri, jantung gue berdegup kencang. "Di mana?!"
"Jalan pinggir lembah. Jalannya gelap, licin… dia minta jalannya sendiri, nggak mau dengar siapa pun. Dia… dia marah banget, dan takut banget."
Gue ikut Raka naik motor, angin malam menampar wajah. Di kejauhan, suara deru mesin menderu — banyak motor, lampu sorot, orang-orang berdiri berkerumun.
Di tengah keramaian itu, Arka berdiri. Jaket hitamnya tertiup angin, wajahnya keras, matanya tajam — bukan Arka yang gue peluk tiap malam. Ini sisi lain dirinya, sisi yang dia sembunyikan buat lindungi gue.
"Arka!" teriak gue, suaranya pecah di tengah bising.
Dia menoleh, kaget. Lalu wajahnya kembali dingin. "Lo ngapain di sini? Pulang."
"Gue nggak mau pulang!" gue melangkah mendekat, nggak peduli siapa yang lihat. "Lo mau lari ke mana? Lo mau buktiin apa dengan bahaya in diri lo sendiri?!"
Dia diam, rahangnya mengeras. "Gue cuma mau buktiin kalau gue masih kuat. Kalau gue masih bisa jaga apa yang gue miliki."
"Jaga dengan cara nyakiti diri lo?!" mata gue panas. "Arka, gue udah pilih lo! Hanya lo! Kenapa lo nggak pernah cukup yakin sama itu?!"
Suara orang mulai berisik, memanggil namanya, menantang. Arka melirik mereka, lalu balik natap gue.
"Kalau gue lemah… kalau gue santai… lo bisa pergi tanpa gue sadar. Gue takut itu terjadi, Luna."
"Gue nggak akan ke mana-mana!" gue mendekat, tatapnya lurus. "Lo dengar? Gue di sini. Gue tetap lo. Tapi kalau lo lari ke jalan gelap begini… justru lo yang bisa hilang dari gue. Lo pikir gue mau itu?"
Dia terdiam. Keras kepalanya mulai perlahan runtuh. Tangan yang mengepal erat perlahan terbuka, seakan ingin menyentuh tapi takut.
"Kalau sesuatu terjadi sama lo karena gue… gue nggak akan maafin diri gue sendiri," suaranya bergetar.
"Maka jangan biarkan itu terjadi," bisik gue. "Pulang sama gue. Sekarang."
Dia menatap gue lama sekali — seakan memastikan gue beneran ada, beneran miliknya. Lalu berbalik ke arah teman-temannya.
"Malam ini batal," suaranya tegas, tenang tapi tak bisa dibantah. "Gue pulang."
Ada yang protes, ada yang kecewa — tapi Arka nggak peduli. Dia matikan mesin, kunci motor, dan berjalan ke arah gue.
Perjalanan pulang hening, tapi bukan hening yang berat. Tangan Arka pegang pinggang gue erat, seakan takut lepas. Sesampainya di rumah, kita duduk di teras, tempat biasa. Dia menatap tanah lama, lalu bicara pelan.
"Maaf…" suaranya serak. "Bukan soal Rey saja. Gue selalu merasa gue nggak cukup baik buat lo. Gue punya masa lalu yang gelap, gue sering pergi tanpa bilang, gue bikin lo cemas… dan Rey dia cerah, tenang, biasa. Kadang gue pikir — lo pantas dapat yang kayak gitu."
Gue pegang wajahnya pelan, jari gue usap sudut matanya.
"Arka, gue pilih lo bukan karena lo sempurna. Gue pilih lo karena itu lo — yang jaga gue diam-diam, yang takut kehilangan gue sampai lupa diri, yang berjuang walau sendirian. Rey cuma orang asing. Lo suami gue. Rumah gue. Tempat gue pulang."
Dia menutup matanya, menarik gue ke pelukan erat banget. "Gue sayang lo, Luna. Kadang gue takut sayang ini bikin gila."
Gue peluk balik, dekatkan wajah ke dadanya. "Gue tahu. Gue juga takut. Tapi kita hadapi bareng, kan? Nggak sendirian lagi."
Dia mengangguk di bahu gue, napasnya mulai tenang. "Iya. Bareng."
Malam itu kita tidur berdekatan, tangan saling genggam. Cemburunya belum hilang sepenuhnya, ketakutannya juga masih ada — tapi sekarang dia tahu: gue nggak ke mana-mana. Dan gue tahu: dia berjuang bukan karena ragu sama gue, tapi karena dia sayang dan cinta sama gue.
OKAY SAMPAI SINI DULU YAHHH, BAY BAY SEMUA SEE YOU NEXT TIME ❤️
JANGAN LUPA BUAT, VOTE, LIKE, SUBSCRIBE DAN KOMEN YAAA... ꈍ◡ꈍ