NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN YANG MENGHARUKAN

​​Pulang dari kantor, Xiao Luo langsung pulang ke rumahnya. Hari ini jadwalnya padat, tubuhnya sangat lelah setelah seharian bekerja. Begitu tiba di rumah, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama kemudian, ia langsung tertidur lelap.

​Xiao Luo tidur cukup lelap. Ia bangun setelah tidur selama tiga jam. Setelah bangun, ia langsung beres-beres rumah. Kemudian barulah menyiapkan hidangan untuk makan malam.

​Malam ini Xiao Luo masak cukup banyak. Ia ingin membawa makanan itu ke rumah keluarga Shen dan makan malam bersama mereka.

​Kompor di dapur kecilnya menyala, mengepulkan uap hangat dari panci sup daging dan tumis sayuran segar yang aromanya langsung meruap ke seluruh ruangan.

Selain itu, ia juga sengaja memasak seporsi besar nasi putih dan menyiapkan beberapa wadah kedap udara berisi lauk matang yang cukup untuk mengenyangkan perut keluarga Shen dan keluarga Xin.

Bagi Xiao Luo, memasak bukan lagi sekadar rutinitas untuk mengisi perutnya sendiri, melainkan wujud nyata kepedulian—sebuah jembatan kasih yang ia ulurkan melintasi batas dimensi demi menyelamatkan mereka yang kelaparan di pulau pengasingan.

​Setelah semuanya selesai dikemas rapi ke dalam tas ransel khusus yang kokoh, Xiao Luo segera bersiap. Ia mengenakan jaket tebalnya, memastikan ponsel dan senter dayanya berfungsi dengan baik.

Kemudian ia melangkah ke sumur tua yang ada di halaman tengah. Kini halaman itu sudah bersih. Ia perlahan masuk ke dalam sumur lewat menggunakan tangga yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Saat tiba di dasar ia pun menghilang dan muncul di dalam sumur di dimensi yang berbeda

melangkah pelan menuju sudut tersembunyi di rumahnya—jalan setapak gaib yang menghubungkan kamarnya dengan dinding batu sumur tua di dunia seberang.

​Sementara itu suasana di kediaman keluarga Shen terasa begitu tegang.

​Keluarga Xin yang terdiri dari Tuan Xin, Nyonya Xin, Xin Feng, Xin Mo, serta keluarga kecil Xin Mengyu, telah datang ke rumah sejak malam tiba. Mereka duduk bersila diatas lantai beralaskan jerami.

Mereka begitu penasaran dengan sosok gadis penyelamat berwajah mirip mendiang Nian-nian, sehingga mereka datang dengan terburu-buru.

​Sayangnya, hingga dua jam lebih berlalu, Xiao Luo tidak kunjung menampakkan diri.

​Angin laut berembus kencang, mengguncang dinding-dinding kayu pondok yang reot. Rasa cemas dan ragu mulai merayap di dada anggota keluarga Xin.

Bisik-bisik kekhawatiran terdengar di antara mereka; beberapa dari mereka bahkan hampir memutuskan untuk kembali ke pondok mereka karena mengira pertemuan malam ini gagal atau pintu dimensi tertutup.

Nyonya Shen mondar-mandir dengan cemas di dekat pintu, sementara Pelayan Ma sibuk menjaga Yujin dan Shen Tingting yang tertidur pulas di bilik sebelah.

​"Besan Shen," bisik Tuan Xin dengan nada ragu setelah meresapi keheningan yang cukup lama.

"Apakah gadis itu benar-benar akan datang? Jangan-jangan pintu dimensi itu tertutup, atau... atau kami telah menaruh harap pada sesuatu yang mustahil?"

​Nyonya Xin mengepalkan tangannya di atas lutut, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang tertahan. Menunggu di tengah kelaparan dan dingin bukanlah hal mudah bagi mereka yang fisiknya sudah melemah.

​"Sabarlah sebentar lagi, Tuan Xin," ujar Nyonya Shen mencoba meyakinkan, meski tenggorokannya sendiri terasa kering karena cemas. "Xiao Luo berjanji. Ia tidak pernah mengingkari kata-katanya

​Hampir saja mereka pulang, untungnya Xiao Luo datang.

​"Maaf... aku agak terlambat karena harus kerja dan memasak makanan yang banyak untuk kalian," suara lembut Xiao Luo memecah keheningan, membawa serta aroma harum masakan yang langsung menyergap indra penciuman seisi ruang.

​Nyonya Xin membelalakkan mata, menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar. Di bawah sorot cahaya senter gawai yang dibawa Xiao Luo, wajah gadis itu terlihat sangat jelas. Bulu mata yang lentik, garis rahang yang tegas namun lembut, hingga tahi lalat kecil di sudut mata kiri—semuanya benar-arah merupakan reinkarnasi visual dari mendiang putri mereka, Xin Nian.

​"Nian... Nian-nian-kah itu?" lirih Nyonya Xin terbata-bata, air matanya tumpah seketika tanpa bisa dicegah. Ia merangkak maju, hendak menyentuh pipi Xiao Luo.

​Xiao Luo tidak menghindar. Ia berlutut di hadapan wanita paruh baya itu, membiarkan jemputan keriput Nyonya Xin menyentuh wajahnya dengan penuh kasih.

​"Bibi, aku bukan Nian-nian," jawab Xiao Luo dengan nada penuh empati, menggenggam tangan Nyonya Xin yang terasa dingin. "Namaku Xiao Luo. Tapi, mulailah menganggapku sebagai bagian dari keluarga ini. Aku di sini untuk membantu kalian bertahan hidup."

​Tuan Xin yang tadinya berdiri kaku kini ikut terduduk lemas di lantai, air mata pria tua itu menetes membasahi janggutnya yang beruban. Bagi mereka yang telah kehilangan segalanya—kehormatan, harta, hingga putri tercinta—kehadiran Xiao Luo bagaikan keajaiban dari Langit yang turun di saat dunia menutup pintu bagi mereka.

​Xin Feng dan Xin Mo, dan keluarga Xin yang lain awalnya skeptis, kini tertunduk dalam. Melihat kemiripan luar biasa sekaligus ketulusan yang terpancar dari mata Xiao Luo, lenyap sudah segala kecurigaan di hati mereka.

​"Terima kasih... terima kasih, Nona Xiao," ucap Tuan Xin seraya membungkuk hormat, nyaris bersujud di lantai.

​Xiao Luo dengan sigap menahan lengan Tuan Xin. "Jangan lakukan itu, Tuan. Kita harus saling menguatkan di tempat ini."

​Tanpa membuang waktu, Xiao Luo menurunkan ranselnya dan mulai mengeluarkan berbagai bungkusan makanan yang ia bawa dari dunia modern: kotak-kotak nasi hangat dengan lauk pauk bergizi, roti manis berukuran besar, termos berisi air hangat, hingga beberapa pak vitamin dan obat-obatan dasar.

​Bau harum masakan rumahan langsung memenuhi ruangan yang tadinya hanya beraroma debu dan keputusasaan. Anak-anak Xin Mengyu menelan ludah, mata mereka berbinar-binar menatap makanan lezat yang belum pernah mereka saksikan seumur hidup.

​"Ayo, silakan dinikmati selagi hangat," ujar Xiao Luo ramah sambil membagikan porsi makanan kepada setiap anggota keluarga.

​Malam itu, di tengah keterasingan pulau buangan yang kejam, sebuah keluarga besar yang hancur berkeping-keping menemukan secercah kehangatan yang belum pernah mereka rasakan selama bertahun-tahun.

Selesai makan, suasana mulai mencair. Sambil menikmati kehangatan teh yang diseduh oleh pelayan Ma, mereka mulai berbincang lebih akrab.

Xiao Luo dikenal sebagai gadis yang supel dan cerdas, sangat pandai membawa diri sehingga kecanggungan di antara mereka lebur dengan cepat.

​Tuan Xin, dengan rasa penasaran yang teramat besar, menatap lurus ke arah Xiao Luo sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, "Sebenarnya, Nona Xiao ini berasal dari mana? Pakaianmu begitu unik, benda-benda yang kau bawa pun bukan barang dari daratan ini."

​Xiao Luo tersenyum kecil, merapikan duduknya sebelum menjawab dengan tenang. "Saya berasal dari ratusan tahun ke depan di masa depan. Di tempat saya, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang sangat pesat, dan tata kelola pemerintahan pun jauh berbeda dari era yang Tuan kenal saat ini."

​Ia terdiam sejenak, membiarkan para pendengarnya mencerna kalimat tersebut, lalu melanjutkan, "Di dunia saya, lelaki dan perempuan memiliki derajat yang setara di hadapan hukum dan sosial. Tidak ada lagi penindasan mutlak hanya karena perbedaan gender."

​Mendengar hal itu, Nyonya Xin dan Nyonya Shen saling berpandangan dengan mata terbelalak takjub. Di dunia kekaisaran tempat mereka hidup, perempuan sering kali dianggap sebelah mata dan tidak memiliki suara dalam urusan besar.

​Xin Feng yang duduk di dekat saudaranya tidak dapat menahan rasa penasarannya dan ikut bertanya, "Ratusan tahun di masa depan... apakah di era Nona tidak ada lagi perang dan penderitaan?"

​Xiao Luo menghela napas pelan, menatap lurus ke arah pemuda itu dengan tatapan menerawang. "Tentu saja perang masih ada. Sejarah manusia selalu diwarnai oleh konflik. Tetapi, sifat dan bentuk peperangan zaman sekarang sangat berbeda dengan perang di masa kalian. Peralatan yang digunakan jauh lebih canggih, berdarah, dan masif—bahkan dapat menghancurkan sebuah kota dalam hitungan detik dari jarak ribuan mil."

​Suasana ruangan seketika mendadak sunyi. Keluarga Xin dan Shen terkesima sekaligus ngeri membayangkan dunia masa depan yang digambarkan oleh Xiao Luo.

Dunia yang tampak begitu maju, namun tetap menyimpan bayang-bayang kehancurannya sendiri.

​

1
kaylla salsabella
hayo jodoh xiao Lou tuan muda atau jendral muchen
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
upnya jgn lma2 thor yg busnyk n hrs tiap hri sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪 n makacih tuk upnya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
Dinta Anikmah
bagus ceritanya, walaupun namanya susah banget buat nyebutinya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
menarik
Wahyuningsih
thor xiao luo dpt ruang dimensi biar mkin sru
Wahyuningsih
q mampir thor
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!