Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. Hukuman yang Mendebarkan.
Suasana di dalam mobil Toyota Alphard hitam milik keluarga Voss terasa begitu mencekik. Hanya ada suara deru AC yang halus dan alunan musik instrumental klasik dari dashboard yang sama sekali tidak membantu mencairkan keheningan.
Aletha duduk menyandar di dekat jendela baris kedua, melipat tangan di depan dada dengan wajah cemberut maksimal. Matanya menatap lurus ke arah luar kaca, memperhatikan jalanan Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan. Di sebelahnya, dipisahkan oleh jarak satu jengkal yang terasa seperti benua, Langit duduk dengan posisi tegap yang kelewat tenang. Cowok itu sibuk membaca tablet digitalnya, mengabaikan eksistensi Aletha seolah gadis di sampingnya ini hanyalah pajangan interior mobil.
"Puas lo sekarang, tiang listrik?" desis Aletha tiba-tiba tanpa menoleh, memecah keheningan dengan nada ketus.
Langit tidak langsung menjawab. Jari panjangnya menggeser layar tablet dengan santai sebelum akhirnya ia melirik Aletha melalui sudut matanya.
"Puas buat apa, Kurcaci?"
"Puas karena strategi lo gagal total!" Aletha berbalik, menatap Langit dengan mata melotot kesal.
“Katanya kerja sama buat batalin perjodohan! Tapi gara-gara lo belaga jadi pahlawan kesiangan semalam, sekarang kita malah dihukum buat nempel terus kayak prangko! Tiap hari harus berangkat-pulang bareng lo itu... neraka tahu nggak?!"
Langit mengembuskan napas pendek, lalu mematikan layar tabletnya dan menaruhnya di atas pangkuan. Ia memutar tubuhnya sedikit menghadap Aletha. Sudut bibirnya yang lebam karena pukulan kemarin tampak sedikit berkedut, namun tidak mengurangi ketajaman sorot mata hazel-nya.
"Gunakan otak udang lo itu buat berpikir jernih, Aletha," ucap Langit dengan nada suara yang teramat tenang namun menohok.
"Kalau semalam gue nggak datang dan nggak nerima tantangan balapan itu, mantan pacar berandalan lo itu bakal terus maksa lo. Dan kalau dia nekat macem-macem lagi ke lo di sekolah, rahasia perjodohan kita justru bakal terbongkar dengan cara yang jauh lebih menjijikkan."
"Tapi kan nggak harus sampai balapan liar dan bikin orang tua kita tahu, Langit!" balas Aletha, suaranya naik satu oktav karena frustrasi. "Sekarang Ducati lo disita, dan gue kehilangan kebebasan gue! Lo tahu nggak gimana rasanya harus semobil sama musuh bebuyutan sendiri?"
"Nggak tahu. Karena buat gue, semobil sama cewek berisik yang hobinya mencak-mencak kayak burung pipit kehilangan anak ini... juga bukan hal yang menyenangkan," sahut Langit datar, kembali ke mode tripleksnya yang menyebalkan.
"Lo…"
CIITTTTTTT!
"Aaaakh!"
Belum sempat Aletha melontarkan makian berikutnya, suara decitan ban mobil yang bergesekan ekstrem dengan aspal terdengar sangat nyaring. Pak Joko, sang sopir pribadi, terpaksa menginjak pedal rem sedalam-dalamnya secara mendadak karena sebuah sepeda motor di depan mereka memotong jalur tanpa lampu sen.
Gaya inersia yang brutal langsung melempar tubuh mungil Aletha ke depan dengan sangat keras. Karena ia tidak sempat berpegangan dan sabuk pengamannya belum terkunci dengan sempurna, tubuhnya melesat tak terkendali.
Namun, sebelum tubuh Aletha menghantam sandaran kursi depan, sebuah lengan kekar berbalut seragam putih-abu-abu bergerak dengan kecepatan kilat. Langit merentangkan tangan kirinya, menahan dada Aletha dengan kuat untuk menahan laju tubuh gadis itu. Di saat yang sama, tangan kanan Langit menarik pinggang Aletha dengan sentakan protektif, membawa tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang.
DUG!
Tubuh mereka bertabrakan dengan keras. Mobil Alphard akhirnya berhenti total dengan posisi sedikit miring di tengah jalan.
Keheningan yang teramat pekat langsung menyergap kabin mobil seketika. Supir di depan buru-buru menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi.
"Maaf, Den Langit, Non Aletha! Itu tadi ada motor motong jalan sembarangan! Kalian nggak apa-apa?"
Tidak ada jawaban dari baris kedua.
Aletha mematung dengan mata membelalak sempurna. Posisi mereka saat ini benar-benar berbahaya bagi kesehatan jantungnya. Wajah Aletha terbenam sempurna di ceruk leher Langit, sementara kedua tangannya secara refleks mencengkeram erat kerah seragam cowok itu karena panik. Jarak mereka begitu rapat hingga Aletha bisa merasakan dengan sangat jelas dada bidang Langit yang naik-turun karena napas yang memburu.
Aroma parfum cedarwood bercampur mint yang mahal dari tubuh Langit langsung mengepung indra penciumannya, membuat kepala Aletha mendadak semakin pening.
Di atasnya, Langit juga membeku total. Tangan kanannya masih mendekap erat pinggang Aletha, mengunci tubuh gadis itu agar tidak bergeser sedikit pun. Untuk beberapa detik, topeng es di wajah Langit retak total. Sepasang mata hazel-nya menatap puncak kepala Aletha dengan sorot mata yang bergetar hebat. Di balik seragam sekolahnya, jantung Langit berdegup dengan ritme maraton yang sangat keras, ritme yang begitu kencang hingga Aletha yang menempel di dadanya bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Jantung... jantung si tiang listrik kok detaknya kencang banget? batin Aletha mendadak linglung. Debaran itu bertabrakan dengan detak jantungnya sendiri yang juga sudah berpacu tidak keruan.
Langit perlahan melonggarkan cengkeraman tangannya di pinggang Aletha, namun ia tidak langsung menjauh. Ia menundukkan kepalanya sedikit, hingga hembusan napas hangatnya menerpa daun telinga Aletha yang kini sudah memerah hebat.
"Lo... nggak apa-apa, Kurcaci?" tanya Langit. Suaranya terdengar sedikit serak, kehilangan nada datarnya yang biasa.
Aletha buru-buru mendorong dada Langit dengan kaku, menjauhkan tubuhnya dan kembali duduk di kursinya sendiri dengan gerakan kikuk yang sangat kentara. Ia merapikan seragamnya yang agak kusut, matanya menatap ke mana saja asal tidak beradu dengan mata Langit.
"G-gue nggak apa-apa," jawab Aletha gagap, suaranya cicitan pelan. Wajahnya saat ini sudah matang sempurna seperti kepiting rebus, terasa sangat panas.
Langit berdehem pelan untuk menguasai dirinya kembali. Ia membetulkan posisi duduknya, memasang kembali wajah tripleksnya, lalu menoleh ke arah supir di depan.
"Nggak apa-apa, Pak Joko. Lanjutkan jalan saja. Jalannya lebih hati-hati."
"Baik, Den," sahut Pak Joko, buru-buru kembali memajukan mobil membelah jalanan.
Suasana di dalam mobil kembali hening, namun kali ini keheningan itu tidak lagi terasa mencekik, melainkan dipenuhi oleh kecanggungan yang teramat manis dan mendebarkan. Aletha kembali menatap keluar jendela, menyentuh dadanya sendiri yang masih bergemuruh hebat. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa musuh bebuyutannya tidak se-mati rasa yang ia kira selama ini. Detak jantung Langit yang menggila tadi adalah bukti nyata bahwa ada sesuatu yang sedang mulai berubah di antara mereka.