Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Penyatuan Mutlak
Cahaya bulan purnama seolah meredup di hadapan aura yang memenuhi Kawah Es Abadi.
Xue Ling'er melayang sejengkal di atas permukaan es yang mulai mencair. Wujudnya telah jauh melampaui manusia maupun iblis.
Rambut merah darahnya berkibar tanpa angin. Iris berbentuk teratai emas menyala di tengah mata hitam pekatnya. Dari pori-pori kulitnya mengalir cairan hitam kemerahan yang membawa Qi Yin dari Jurang Sembilan Kegelapan dan api Yang dari Teratai Darah Yang Ekstrem.
Cairan itu perlahan berkumpul di sekeliling tubuhnya. Dalam beberapa tarikan napas, seluruhnya mengeras menjadi sebuah zirah.
Zirah Darah.
Permukaannya hitam seperti obsidian, dihiasi urat emas yang menyerupai aliran lahar. Aura yang dipancarkannya membuat seluruh kawah bergetar.
Ular Es Berekor Sembilan segera merasakan ancaman tersebut.
Binatang penjaga tingkat Jiwa Baru Lahir Awal itu mengangkat kepala dan meraung. Sembilan ekornya menyapu udara, membangkitkan badai salju yang kembali mengamuk di seluruh kawah.
Tubuhnya yang sebesar pagoda menerjang Ling'er.
Rahang raksasanya terbuka lebar. Qi Es murni berkumpul di dalam mulutnya dan berubah menjadi hawa pembeku yang mampu membekukan segala sesuatu di hadapannya.
Namun Ling'er sama sekali tidak bergerak. Ia hanya memiringkan kepala.
“Es ini dulu adalah mimpi burukku.” Tatapannya dingin.
Ling'er mengangkat tangan kanannya.
Darah yang menggenang di seluruh kawah mulai mendidih.
Darah para Tetua Inti Emas bercampur dengan darah Mo Xie lalu terangkat ke udara. Dalam sekejap, ribuan panah darah terbentuk dan memenuhi langit di atas Ling'er.
Namun panah-panah itu tidak lagi seperti sebelumnya.
Urat emas menyala di sepanjang permukaannya. Api Yang Ekstrem mengalir di dalam darah Yin dan membuat setiap panah memancarkan panas yang mengerikan.
Ling'er menurunkan tangannya.
Ribuan panah langsung melesat.
Badai es dan hujan darah bertabrakan di tengah kawah.
Hawa beku yang dilepaskan Ular Es menguap begitu bersentuhan dengan panah darah. Kabut panas segera memenuhi udara.
Tanpa kehilangan momentum, panah-panah itu terus melaju dan menghujani tubuh sang ular.
Sisik yang bahkan sulit ditembus pedang pusaka mulai mencair satu demi satu. Panah darah menembus dagingnya dan membawa api Yang jauh ke dalam tubuh.
Ular itu meraung kesakitan.
Sembilan ekornya bergerak serentak dan menyapu Ling'er dari berbagai arah. Namun sebelum serangan itu mencapai sasaran, jaring darah telah terbentuk di belakang tubuh sang Ratu.
Jaring tersebut menjerat kesembilan ekor es itu sekaligus.
Ling'er mengepalkan tangannya.
Dalam sekejap, ekor-ekor raksasa itu retak dan hancur menjadi bongkahan es yang langsung mencair.
Ribuan panah masih tertancap di tubuh Ular Es.
Ling'er menutup telapak tangannya.
“Meledak.”
Boom!
Seluruh panah darah meledak bersamaan.
Api Yang menyapu tubuh raksasa tersebut dan mengubah sisa tubuh Ular Es menjadi uap panas yang memenuhi Kawah Es Abadi.
Binatang penjaga tingkat Jiwa Baru Lahir Awal itu mati dalam satu serangan.
Ling'er bahkan tidak perlu bergeser dari tempatnya.
Di seberang kawah, Xuan Ji menatap pemandangan tersebut dengan tubuh gemetar.
Ia sulit menerima kenyataan di hadapannya.
Murid yang dahulu ia siksa kini telah menelan pusaka tertinggi sekte dan berdiri di luar jangkauan kekuatannya.
Ling'er turun perlahan.
Kakinya menyentuh genangan air hangat yang tersisa dari tubuh Ular Es. Tanpa memperdulikan apa pun di sekitarnya, ia mulai berjalan menuju Xuan Ji.
Setiap langkahnya meninggalkan bayangan teratai darah di atas permukaan es.
“Jangan mendekat!”
Xuan Ji mencoba merangkak mundur.
“Aku adalah Ketua Sekte Lembah Obat Abadi! Aku dilindungi Istana Dao Surgawi! Jika kau membunuhku, Leluhur Huanshen akan meremukkan jiwamu!”
Ling'er berhenti di hadapannya.
Zirah darah di tubuhnya memancarkan panas yang perlahan mencairkan es yang membelenggu tubuh Xuan Ji.
Namun panas itu tidak memberinya kelegaan. Sebaliknya, rasa sakit justru semakin dalam.
“Istana Dao Surgawi?” Ling'er tertawa pelan. “Di mana hukum mereka saat kau menguras darah anak-anak fana demi mencari sumsum Yin?”
Ia mencengkeram jubah Xuan Ji dan mengangkat tubuhnya hanya dengan satu tangan.
“Di mana keadilan itu saat kau mematahkan kakiku dan menyebutnya sebagai pengorbanan demi dunia?”
Tubuh Xuan Ji gemetar.
“Kau selalu mengejar keabadian, Guru.” Tatapan Ling'er menusuk matanya. “Kau mencuri umur dari darah orang lain dan meminum penderitaan mereka demi memperpanjang hidupmu.”
Ia mendekatkan wajahnya.
“Tapi kau tidak pernah mengerti apa itu keabadian.”
“T-Tolong...” Untuk pertama kalinya, seluruh harga diri Xuan Ji telah lenyap. “Ling'er... Aku yang membesarkanmu. Aku yang memberimu makan...”
“Dan kau juga yang menyerahkanku kepada Kegelapan.” Wajah Ling'er tetap dingin. “Namun di Kegelapan, aku menemukan jalan yang tidak pernah kau pahami.”
Tatapannya beralih kepada Mo Xie.
Pemuda itu masih berlutut puluhan meter jauhnya. Darah terus mengalir dari lehernya, tetapi matanya belum tertutup.
Ia masih bertahan hanya dengan kehendaknya sendiri.
“Kematianmu bukan milikku, Guru.” Ling'er kembali menatap Xuan Ji. “Kau akan menjadi persembahan pertama untuk Tahta Tulang Kaisar Kematian.”
Tangannya terlepas.
Tubuh Xuan Ji jatuh ke tanah. Namun sebelum tubuhnya menyentuh es, kaki Ling'er telah bergerak.
Bam!
Tendangan keras menghantam dada kirinya.
Xuan Ji memuntahkan darah dan tubuhnya terlempar melintasi kawah sebelum jatuh tepat di hadapan Mo Xie.
Ia mengerang, tetapi tidak lagi memiliki kekuatan untuk bangkit.
Ling'er melesat menyusul.
Sesaat kemudian, ia mendarat di samping Mo Xie.
Wajah pemuda itu pucat. Luka di leher kanannya masih terbuka dan darah terus mengalir tanpa henti.
Lebih buruk lagi, Qi Yang dari tulang belikat emas terus bertabrakan dengan Qi Yin yang berasal dari Lengan Kera Iblis. Kedua kekuatan itu saling menolak dan terus merusak tubuhnya dari dalam.
Bahkan tulang lehernya hampir tidak mampu menahan tekanan tersebut.
Ling'er segera berlutut di hadapannya.
“Aku di sini, Mo Xie.”
Seluruh hawa membunuh yang sebelumnya memenuhi tubuhnya menghilang. Yang tersisa hanya kelembutan.
Ia mengangkat wajah Mo Xie dan memandangnya.
“Aku terlambat...”
Mo Xie menarik napas berat. “Lima tarikan napas.” Sudut bibirnya terangkat tipis. “Aku hampir menggigit tanganku sendiri.”
Air mata darah jatuh dari mata Ling'er. “Aku tidak akan membiarkanmu hancur.”
Ia menempelkan dahinya pada dahi Mo Xie.
“Darahku kini membawa Yin Sembilan Kegelapan dan Yang dari Teratai Darah Yang Ekstrem.”
Suaranya semakin lembut.
“Buka meridianmu. Biarkan darahku menyatukan tulangmu.”
Ling'er memuntahkan seteguk esensi darah merah keemasan.
Darah itu melayang di udara sebelum perlahan menempel pada luka Mo Xie.
Begitu menyentuh dagingnya, Qi Yin dan Yang yang sebelumnya saling bertabrakan kembali mengamuk.
Namun kali ini, tidak terjadi penolakan.
Esensi darah Ling'er menjadi jembatan yang menyatukan kedua kekuatan tersebut.
Puluhan benang darah melesat dari ujung jarinya dan masuk ke leher Mo Xie.
Benang-benang itu menjahit urat yang putus, menyatukan daging yang terkoyak, lalu melilit pangkal Lengan Kera Iblis hingga terhubung dengan tulang belikat emas.
Api Yang dari Teratai Darah Yang Ekstrem perlahan melebur kedua kekuatan yang selama ini saling bertentangan.
Mo Xie menggertakkan giginya. Rasa sakitnya luar biasa.
Namun untuk pertama kalinya, ia merasakan tubuhnya tidak lagi menolak kekuatan tersebut.
Daging di lehernya mulai menutup.
Bekas luka hitam keemasan menjalar dari pangkal telinga hingga leher, kemudian menyatu dengan pola teratai iblis di dadanya.
Lengan Kera Iblis berderak keras.
Qi yang sebelumnya liar perlahan menjadi tenang.
Di sisi lain, Lengan Harimau Kegelapan ikut bergetar sebelum akhirnya tunduk pada aliran Qi baru.
Tulang emas di bahunya berdenyut.
Qi gabungan mengalir dari bahu menuju seluruh tubuhnya.
Pada saat itulah perubahan terakhir terjadi.
Kerangka Besi Hitam Kegelapan akhirnya mencapai kesempurnaan.
Mo Xie membuka mata.
Tatapannya telah berubah.
Kegelapan di dalam matanya menjadi jauh lebih dalam, sementara aura iblis yang keluar dari tubuhnya begitu berat hingga udara di sekelilingnya seolah membeku.
Ia telah bangkit.
Bukan lagi pemuda yang berjuang mempertahankan tubuhnya dari kehancuran.
Kini seluruh tulang, darah, dan Qi di dalam tubuhnya telah menyatu menjadi satu.
Ling'er perlahan menjauh.
Zirah darah yang membungkus tubuhnya mulai mencair dan kembali menyatu dengan gaun hitamnya. Hanya tanda teratai darah yang tertinggal di lehernya.
Mo Xie berdiri.
Gerakannya tampak tenang.
Namun saat kakinya menyentuh tanah, permukaan es di bawahnya langsung retak.
Di dekat kakinya, Xuan Ji membuka mata dengan susah payah.
Ia menatap Mo Xie dengan ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan.
“Kau... iblis...”
Darah mengalir dari sudut bibirnya. “Istana Dao Surgawi... akan membalas...”
Mo Xie menunduk.
“Istana Dao Surgawi akan terlalu sibuk mengumpulkan tulang. Belum tentu mereka punya waktu untuk membalas.”
Mo Xie mengangkat Lengan Harimau Kegelapan. Cakar obsidian perlahan terbuka.
Ia melangkah mendekati Xuan Ji.
“Kau telah menjalani hidup panjang dengan meminum darah murid-muridmu. Sekarang lepaskanlah sisa kehidupan itu bersama tulangmu.”
Cakar obsidian perlahan menekan tengkuk Xuan Ji.
Sang Ketua Sekte hanya mampu menatap dengan mata penuh ketakutan.
Di samping Mo Xie, Ling'er berdiri dalam diam.
Senyum tipis muncul di wajahnya.