OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Raka Adhitama punya masalah baru.
Masalah itu bukan strategi lawan yang sulit ditebak, bukan ayahnya yang terus mendesaknya mengambil tanggung jawab di Adhitama Global, dan bukan pula tumpukan dokumen yayasan yang harus ia periksa.
Masalah itu bernama Nadira Prameswari.
Lebih tepatnya, senyum Nadira yang terus muncul di kepalanya sejak gala amal semalam.
Raka sedang duduk di ruang istirahat ASTRAL ketika Bima menjatuhkan diri ke sofa di sebelahnya. Pemain itu melirik layar ponsel Raka, kemudian wajahnya, lalu kembali ke ponselnya.
“Gue punya teori.”
“Gue tidak tertarik.”
“Lo bahkan belum dengar teorinya.”
“Biasanya itu justru bagian yang paling melelahkan.”
Bima mengabaikannya.
“Lo sedang jatuh cinta.”
Raka hampir menjatuhkan botol minumnya.
“Kesimpulan macam apa itu?”
“Kesimpulan berdasarkan pengamatan ilmiah.”
“Lo bahkan tidak lulus mata pelajaran biologi dengan nilai bagus.”
“Gue tidak perlu nilai biologi untuk mengetahui bahwa seseorang tersenyum setiap kali membaca pesan dari perempuan yang sama.”
Raka langsung mengunci ponselnya.
Bima menepuk pahanya sendiri, puas.
“Nah! Reaksi defensif. Bukti tambahan.”
“Kalau lo tidak berhenti bicara, gue akan meminta Arman menambah jadwal latihanmu.”
“Silakan. Setidaknya gue tidak perlu menghabiskan waktu memikirkan apakah seorang wartawan sudah membalas pesan gue.”
Raka terdiam.
Bima mendadak berhenti tertawa.
“Dia belum membalas?”
“Bukan urusan lo.”
“Wah, serius belum?”
Raka berdiri, mengambil botol minumnya, lalu berjalan menuju pintu.
Dari belakang, Bima masih sempat berteriak, “Kalau nanti menikah, jangan lupa undang gue!”
Raka mengangkat tangan tanpa menoleh.
Jarinya membentuk isyarat yang membuat Bima tertawa semakin keras.
Namun, ketika memasuki ruang latihan, Raka tidak bisa menyangkal satu hal.
Ia memang sedang menunggu pesan Nadira.
Dan kenyataan itu jauh lebih mengganggu daripada ejekan Bima.
Di kantor Media Arena, Nadira sedang berusaha menyelesaikan artikel tentang gala amal ketika Keisha datang membawa dua gelas kopi.
Satu diletakkan di atas meja Nadira.
Yang lain dibawa Keisha sendiri.
“Aku punya kabar,” kata Keisha.
“Kalau kamu akan mengatakan Raka mengunggah foto makanan lagi, aku sudah melihatnya.”
Keisha berhenti di tengah gerakan membuka tutup gelas.
Kemudian senyumnya melebar.
“Jadi, kamu memang mengikuti akunnya.”
Nadira mengangkat wajah.
“Aku mengikuti akun resmi ASTRAL untuk keperluan pekerjaan.”
“Tentu. Dan kamu membaca setiap komentar di unggahannya untuk keperluan penelitian.”
“Aku tidak membaca setiap komentar.”
“Berarti kamu membaca sebagian.”
Nadira mengambil kopi dan menatap temannya dengan kesabaran yang mulai menipis.
“Silakan sampaikan kabarmu sebelum aku mengusulkan pemotongan gaji untuk staf yang mengganggu konsentrasi wartawan.”
Keisha tertawa, lalu duduk.
“Baiklah. Aku hanya ingin tahu apakah kamu dan Raka sudah membicarakan hubungan kalian.”
Nadira hampir tersedak kopi.
“Hubungan apa?”
“Hubungan antara dua manusia yang terus mencari alasan untuk bertemu.”
“Kami memang punya urusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan yayasan.”
“Dan makan mi ayam?”
“Itu urusan kuliner.”
“Dan percakapan sampai larut malam?”
Nadira menatapnya tajam.
Keisha mengangkat kedua tangan.
“Baik, baik. Aku tidak akan mengganggu.”
Namun, sebelum berdiri, ia menambahkan, “Dira, kamu tidak harus buru-buru memutuskan apa pun. Tapi jangan sampai kamu terus bersembunyi di balik kata profesional hanya karena takut mengakui bahwa kamu mulai menyukai seseorang.”
Nadira tidak langsung menjawab.
Ia kembali menatap layar laptop, tetapi kalimat yang sedang dibacanya mendadak terasa tidak masuk akal.
Menyukai Raka.
Ia tidak pernah merencanakannya.
Awalnya, laki-laki itu hanya narasumber yang menyebalkan, terlalu percaya diri, dan gemar membalas setiap kritik dengan komentar yang membuatnya ingin melempar mikrofon.
Kemudian, Raka menjadi seseorang yang bersedia mendengarkan kritiknya.
Seseorang yang tidak memaksanya memaafkan kesalahan masa lalu.
Seseorang yang mengingat rekomendasi mi ayamnya dan bertanya apakah ia sudah makan.
Hal-hal kecil.
Sangat kecil, bahkan nyaris tidak berarti jika dilihat satu per satu.
Namun, ketika semuanya terkumpul, Nadira mulai kesulitan berpura-pura bahwa Raka tidak memiliki tempat khusus dalam pikirannya.
Ia mengambil ponsel dan membuka percakapan mereka.
Pesan terakhir dari Raka dikirim pagi tadi.
Raka: Semoga pekerjaanmu lancar hari ini. Jangan lupa makan.
Nadira tersenyum tanpa sadar.
Kemudian ia mengetik balasan.
Nadira: Kamu juga. Jangan mengganggu Bima terlalu banyak.
Balasan Raka muncul beberapa detik kemudian.
Raka: Kenapa? Dia mengadu?
Nadira: Tidak. Aku hanya bisa membayangkan betapa menyebalkannya kamu ketika sedang senang.
Raka: Jadi, kamu sedang menganggap aku senang?
Nadira berhenti mengetik.
Sial.
Ia baru saja membuka pintu bagi pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya.
Nadira: Aku sedang bekerja. Jangan mengganggu.
Raka: Baik, Bu Wartawan.
Nadira meletakkan ponselnya, lalu menutupi wajah dengan kedua tangan.
Dari meja seberang, Keisha tertawa.
“Aku tidak mendengar apa-apa,” katanya.
“Bagus.”
“Tapi aku melihat semuanya.”
“Keisha!”
Sore harinya, Raka menerima telepon dari Adrian.
Ayahnya meminta ia datang ke kantor untuk membahas persiapan rapat dewan dan evaluasi program yayasan. Raka menyanggupi, meskipun ia sudah menduga pembicaraan itu tidak akan berlangsung singkat.
Benar saja.
Begitu memasuki ruangan, ia mendapati beberapa dokumen telah tersusun rapi di atas meja.
“Ayah ingin kamu mulai menghadiri rapat dewan secara rutin,” kata Adrian. “Bukan hanya sebagai pewaris yang sesekali datang, tetapi sebagai seseorang yang memahami jalannya perusahaan.”
Raka duduk.
“Aku sudah mengatakan bahwa aku akan mempertimbangkannya.”
“Dan Ayah ingin keputusan yang jelas.”
“Aku belum berniat meninggalkan ASTRAL.”
“Tidak ada yang memintamu meninggalkan tim hari ini.”
“Namun, semua orang terus berbicara seolah-olah itu hanya masalah waktu.”
Adrian menyandarkan tubuhnya.
“Karena pada akhirnya, kamu perlu menentukan prioritas.”
Raka menatap ayahnya.
“Aku bisa memiliki tanggung jawab terhadap keluarga tanpa harus menghapus semua hal yang membentuk hidupku sendiri.”
“Dan bagaimana kalau pilihanmu menyulitkan orang-orang yang bergantung padamu?”
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.
Ia tahu ayahnya tidak sepenuhnya salah. Keputusan seorang pewaris memang memengaruhi banyak orang.
Namun, ia juga tahu bahwa menggunakan tanggung jawab sebagai alasan untuk mengendalikan setiap pilihan bukanlah jalan keluar.
“Aku tidak akan menghindari tanggung jawab,” katanya. “Tapi aku juga tidak akan membuat keputusan besar hanya karena takut mengecewakan orang lain.”
Adrian menatapnya lama.
“Kamu terdengar berbeda akhir-akhir ini.”
Raka mengernyit.
“Berbeda bagaimana?”
“Lebih tenang. Tetapi juga lebih keras kepala.”
“Bukankah Ayah selalu mengatakan aku keras kepala?”
“Dulu, kamu setidaknya masih mendengarkan sebelum membantah.”
Raka hampir tertawa.
“Aku tetap mendengarkan. Aku hanya tidak selalu setuju.”
Untuk sesaat, Adrian tampak ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun, ia akhirnya mengalihkan perhatian pada dokumen.
“Baik. Kita lanjutkan pembahasan ini pada rapat berikutnya.”
Raka mengangguk.
Ia meninggalkan ruangan dengan pikiran yang lebih berat daripada ketika datang.
Ada banyak hal yang belum selesai dalam hidupnya.
Ia masih harus menentukan bagaimana masa depannya di Adhitama Global akan berjalan. Ia juga belum menemukan jawaban tentang dokumen lama yayasan yang sedang diperiksanya.
Dan sekarang, ada Nadira.
Seseorang yang tidak pernah memintanya menjadi pewaris yang sempurna atau pemain yang selalu menang.
Seseorang yang hanya ingin ia berkata jujur.
Mungkin justru karena itulah, Raka ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata kepadanya.
Malam itu, hujan turun ketika Nadira keluar dari kantor.
Ia baru saja menyelesaikan revisi artikel dan berniat memesan kendaraan ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan gedung.
Kaca jendelanya turun.
Raka duduk di balik kemudi.
Nadira menatapnya dengan tidak percaya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Menjemput seseorang.”
“Siapa?”
Raka menunjuknya.
“Kamu.”
Nadira memandang mobil itu, kemudian kembali menatap Raka.
“Kamu sadar aku bisa pulang sendiri?”
“Sadar.”
“Lalu kenapa datang?”
Raka terdiam sebentar.
“Aku ingin menghabiskan waktu denganmu.”
Jawaban itu begitu lugas hingga Nadira kehilangan kesempatan untuk melontarkan sindiran.
Raka melanjutkan, “Kalau kamu tidak keberatan. Kalau kamu sudah punya rencana lain, aku bisa mengantarmu sampai depan gedung saja atau langsung pulang.”
Nadira memperhatikan wajahnya.
Ia menyukai cara Raka memberikan pilihan tanpa membuatnya merasa bersalah jika menolak.
Akhirnya, ia membuka pintu penumpang.
“Aku belum makan malam.”
Raka tersenyum.
“Bagus. Aku juga.”
“Jangan bilang kamu sengaja belum makan supaya bisa mengajakku makan.”
“Aku tidak akan mengatakan apa-apa yang bisa digunakan untuk melawanku di kemudian hari.”
Nadira memasang sabuk pengaman.
“Keputusan yang bijaksana.”
Raka menjalankan mobil menuju sebuah restoran sederhana yang masih buka.
Sepanjang perjalanan, mereka berbicara tentang hal-hal ringan. Nadira bercerita tentang artikel yang hampir membuatnya bertengkar dengan editor, sementara Raka menceritakan Bima yang mengancam akan membocorkan semua kebiasaan buruknya kepada media.
“Dia tidak mungkin berani,” kata Raka.
“Kenapa?”
“Karena aku tahu semua rahasianya.”
Nadira tersenyum.
“Jadi, kalian saling menyandera dengan informasi pribadi?”
“Persahabatan yang sehat.”
“Luar biasa.”
Raka meliriknya sekilas.
“Kamu terdengar lebih santai hari ini.”
Nadira memandang ke luar jendela.
“Mungkin karena aku sedang belajar bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus.”
Raka tidak bertanya lebih jauh.
Ia tahu masih ada persoalan yang membebani Nadira, terutama tentang ibunya dan Yayasan Adhitama Peduli. Ia juga tahu bahwa dirinya belum mampu memberikan semua jawaban yang dibutuhkan perempuan itu.
Namun, ia bisa berada di sana.
Mendengarkan ketika Nadira ingin bicara dan memberi ruang ketika perempuan itu membutuhkan waktu.
Untuk sekarang, itu yang bisa ia lakukan.
Mereka selesai makan ketika hujan mulai reda.
Di depan restoran, Nadira berhenti sebelum masuk ke mobil.
“Raka?”
Laki-laki itu menoleh.
“Terima kasih sudah datang menjemputku.”
“Sama-sama.”
“Aku tahu kamu punya banyak urusan.”
“Dan aku tahu kamu juga.”
Nadira tersenyum kecil.
“Aku senang kamu tetap menyempatkan waktu.”
Raka memandangnya dengan ekspresi yang tidak biasa.
“Dira, aku ingin mengatakan sesuatu.”
Nadira menunggu.
“Aku tidak tahu kapan kamu akan benar-benar percaya kepadaku lagi. Aku juga tidak tahu kapan semua masalah yang sedang kamu hadapi akan selesai.”
Ia berhenti sejenak, memastikan Nadira masih mendengarkan.
“Tapi aku ingin terus mengenalmu. Bukan hanya ketika kita punya urusan pekerjaan atau ketika ada masalah yang harus diselesaikan.”
Nadira merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Raka tidak sedang melontarkan rayuan. Ia bahkan tidak berusaha membuat kalimatnya terdengar sempurna.
Justru itulah yang membuatnya sulit berpaling.
“Aku juga ingin mengenalmu,” jawab Nadira akhirnya.
Raka tersenyum, tetapi tidak langsung menanggapi.
Nadira menarik napas.
“Aku belum siap memberikan jawaban untuk semua hal. Tapi aku tidak ingin kita kembali menjadi dua orang yang hanya berbicara ketika ada urusan pekerjaan.”
Senyum Raka semakin jelas.
“Kalau begitu, kita mulai dari sana.”
“Dari mana?”
“Dari keinginan untuk tetap bertemu.”
Nadira mengangguk.
“Baik.”
Tidak ada ciuman di bawah hujan.
Tidak ada pengakuan cinta yang mengubah segalanya dalam satu malam.
Hanya dua orang yang akhirnya berani mengakui bahwa mereka ingin saling mengenal lebih jauh.
Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
Dalam perjalanan pulang, Nadira menerima pesan dari Ratna.
Kami sudah menemukan satu catatan tambahan yang mungkin berkaitan dengan AP-17. Saya belum bisa memastikan isi lengkapnya sebelum pencocokan dokumen selesai. Apakah Anda bersedia datang untuk pertemuan resmi minggu depan?
Nadira langsung membalas bahwa ia bersedia.
Kemudian ia menatap layar ponselnya cukup lama.
Petunjuk baru.
Pertemuan resmi.
Kemungkinan jawaban yang semakin dekat.
Di sampingnya, Raka sedang berkonsentrasi menyetir. Ia tidak tahu isi pesan itu, tetapi ketika menyadari Nadira mendadak diam, ia bertanya, “Ada kabar buruk?”
“Belum tentu.”
Raka meliriknya sekilas.
“Kalau kamu ingin membicarakannya, aku mendengarkan.”
Nadira memasukkan ponsel ke tas.
“Nanti, ya.”
Raka mengangguk tanpa mendesak.
“Baik.”
Nadira memandangnya, lalu tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menjelaskan semuanya agar Raka tetap berada di sisinya.
Dan untuk pertama kalinya pula, ia mulai mempertimbangkan bahwa memilih seseorang bukan berarti menyerahkan seluruh kendali atas hidupnya.
Kadang-kadang, memilih berarti memberi orang itu kesempatan untuk membuktikan bahwa ia layak dipercaya.
Nadira belum tahu bagaimana kisah mereka akan berakhir.
Namun, malam itu, ia tahu satu hal.
Jika Raka terus berjalan ke arahnya dengan kejujuran yang sama, mungkin suatu hari nanti ia akan berani berjalan lebih jauh ke arahnya juga.