NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Gerbang Tartarus

Satu minggu berlalu tanpa ada satu pun insiden yang mengganggu jadwal tidurku.

Semenjak 'negosiasi' damai di Ruang Dewan Bintang, Pangeran Julian benar-benar menepati janjinya. Kapan pun kami berpapasan di koridor akademi, sang Pangeran Keadilan itu akan menunduk kaku, tersenyum paksa, dan buru-buru mengambil rute lain. Sikapnya yang aneh tentu saja memancing kebingungan di kalangan murid dan guru, tapi tidak ada yang berani bertanya.

Sementara itu, bangsal medis masih menjadi rumah kedua bagi Leon. Kabarnya, pahlawan berambut merah itu sering mengamuk dan menghancurkan perabotan rumah sakit setiap kali mendengar namaku disebut. Sangat disayangkan. Padahal aku sudah berniat mengiriminya sekeranjang buah persik beracun sebagai ucapan lekas sembuh.

Dan hari ini, ketenangan sementaraku resmi berakhir.

Angin musim gugur bertiup kencang menyapu Dataran Tinggi Obsidian, sebuah area berbatu tandus yang terletak beberapa kilometer di belakang akademi. Ratusan murid tingkat satu dan dua berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka mengenakan zirah ringan, membawa ransel perbekalan, dan menggenggam senjata erat-erat. Wajah mereka tegang, dipenuhi campuran antara antusiasme dan ketakutan.

Di depan kami, menjulang sebuah pintu gerbang batu raksasa yang tertanam langsung ke dinding tebing. Ukiran tengkorak dan rune iblis menghiasi permukaannya.

Ini adalah pintu masuk menuju Labirin Bawah Tanah Tartarus. Lokasi Ujian Kelangsungan Hidup.

"Dengarkan baik-baik, para Kadet!" Suara bariton Profesor Aegis menggema melintasi dataran tinggi, diperkuat oleh sihir angin. Pria berwajah codet itu berdiri di atas sebuah panggung batu. "Ujian ini akan berlangsung selama tujuh puluh dua jam. Tujuan kalian hanya satu: Kumpulkan Token Bintang sebanyak mungkin."

Aegis mengangkat sebuah koin kristal berbentuk bintang yang memancarkan cahaya kebiruan.

"Token ini bisa didapatkan dengan membunuh monster di dalam labirin... atau dengan merebutnya dari peserta lain," lanjut Aegis, bibirnya melengkung membentuk senyum buas. "Di dalam Tartarus, hukum akademi diringankan. Pertarungan antar murid diizinkan. Kerja sama diizinkan. Pengkhianatan... juga diizinkan."

Bisik-bisik tegang langsung menyebar di antara para murid. Beberapa dari mereka mulai saling melirik curiga ke arah teman di sebelahnya.

"Setiap dari kalian telah diberikan Gelang Evakuasi," Aegis menunjuk ke pergelangan tangannya sendiri. "Jika kalian merasa nyawa kalian terancam, hancurkan kristal di gelang itu. Kalian akan diteleportasi keluar dari labirin dalam waktu lima detik. Tapi ingat... lima detik di medan pertempuran adalah waktu yang sangat lama. Jangan terlambat mengambil keputusan, atau kami hanya akan memulangkan nama kalian ke keluarga masing-masing."

Aku menunduk, menatap gelang perak tipis di pergelangan tangan kiriku.

Di dalam novel 'Crown of Ash', Ujian Tartarus ini adalah ajang di mana Leon bersinar terang. Dia berhasil bertahan hidup, mengalahkan puluhan senior, dan menemukan artefak kuno di lantai dua. Tapi karena sekarang Leon sedang berbaring menangis di rumah sakit... alur cerita di labirin ini pasti akan berubah secara drastis. Sistem dunia ini pasti akan mencari cara lain untuk mengisi kekosongan sang protagonis.

"Ujian... dimulai!" teriak Profesor Aegis.

Pintu gerbang batu raksasa itu berderak terbuka, melepaskan hembusan angin lembap yang berbau seperti lumut dan darah kering. Ribuan kelelawar malam berhamburan keluar, membuat beberapa murid perempuan menjerit.

Satu per satu, para murid mulai berlari memasuki kegelapan labirin. Beberapa membentuk kelompok besar beranggotakan lima hingga sepuluh orang.

Aku tidak terburu-buru. Aku berjalan santai dengan kedua tangan di saku celana, membiarkan rombongan besar masuk lebih dulu.

Saat aku melewati gerbang, pandanganku seketika berubah. Cahaya matahari dari luar seolah ditelan oleh kegelapan labirin. Ubin batu yang dingin menggantikan tanah berkerikil. Obor-obor sihir berwarna biru pucat menempel di dinding lorong, memberikan penerangan yang hanya cukup untuk melihat jarak lima meter ke depan.

Sistem labirin ini dirancang dengan sihir spasial. Begitu masuk, setiap murid atau kelompok akan diacak dan diteleportasi ke titik yang berbeda di Lantai Satu.

Sensasi pusing sesaat melanda kepalaku saat sihir spasial itu bekerja. Ketika pandanganku kembali fokus, aku mendapati diriku berdiri sendirian di sebuah lorong sempit yang dindingnya dipenuhi tanaman rambat berduri. Suara tetesan air bergema memecah kesunyian.

"Tempat yang suram. Aku suka," bisik Nox.

Gadis berambut perak itu muncul dari bayangan tubuhku sendiri, berjalan melayang beberapa sentimeter di atas genangan air kotor. Ia merentangkan tangannya, menghirup udara lembap itu dalam-dalam. "Hawa pembunuhan di tempat ini sangat kental, Arthur. Para senior akademi itu pasti sudah menunggu murid baru seperti serigala kelaparan."

"Senior hanyalah murid yang gagal lulus lebih cepat, Nox," balasku tenang. "Mereka tidak ada bedanya dengan kerikil."

Aku baru mengambil tiga langkah ketika pendengaranku yang tajam menangkap suara gesekan logam. Sangat pelan, berasal dari balik persimpangan lorong di depan.

Kutarik napas pelan, mengaktifkan teknik pernapasan Vespera. Alih-alih melepaskan mana gelap, aku menarik seluruh auraku ke dalam, membuat keberadaanku benar-benar menyatu dengan batu-batu di dinding ini. Aku melangkah tanpa suara, berbelok di persimpangan.

Tiga orang pemuda berseragam akademi kelas dua sedang berjongkok di balik stalagmit raksasa. Mereka sedang memasang perangkap jaring baja tipis yang nyaris tak terlihat di tengah jalan. Salah satu dari mereka memegang palu besar, sementara dua lainnya membawa tombak.

"Pastikan kawatnya tidak memantulkan cahaya," bisik si pembawa palu. "Murid kelas satu tahun ini bodoh-bodoh. Kita jaring mereka, kita patahkan kaki mereka agar tidak bisa menekan Gelang Evakuasi, lalu kita ambil semua perbekalan dan token mereka."

"Hei, kudengar si Tuan Muda Pendelton itu ikut ujian ini," kekeh salah satu pemegang tombak. "Bocah yang katanya mengalahkan Leon dengan satu pukulan itu. Kalau kita bertemu dengannya, bagaimana?"

Si pembawa palu meludah ke tanah. "Itu pasti hanya rumor murahan atau Leon yang sedang tidak sehat. Kalian percaya si Sampah Pendelton itu tiba-tiba jadi jenius bela diri? Jika aku melihat wajah pucatnya, akan kuhancurkan kepalanya dengan—"

"Dengan palu karatan itu?"

Ketiga senior itu terlonjak kaget. Mereka memutar tubuh secara serempak.

Aku sedang bersandar santai di dinding batu, tepat dua meter di belakang mereka, menyilangkan tangan di dada. Entah sejak kapan aku berada di sana, tak satu pun dari mereka yang menyadarinya.

Wajah si pembawa palu memucat sesaat, namun saat ia mengenali rambut putih dan mata biruku, senyum licik dan meremehkan kembali menghiasi wajahnya.

"Bicara soal iblis, dan iblisnya muncul," seringai senior itu, mengangkat palu raksasanya dan memukulkannya ke telapak tangan. "Arthur Pendelton. Kau menghemat waktu kami untuk mencarimu. Serahkan tas ranselmu dan semua token yang kau bawa, maka kami akan berbaik hati membiarkanmu menekan Gelang Evakuasimu sendiri."

Aku menatap mereka bertiga dengan pandangan bosan. "Kalian tahu apa yang membedakan pemburu sungguhan dengan pemulung amatiran?" tanyaku datar.

Ketiga senior itu saling berpandangan bingung. "Hah? Omong kosong apa—"

"Pemburu tidak pernah memunggungi mangsanya," potongku pelan.

Tanpa mengambil ancang-ancang, aku melesat maju. Kecepatanku di lorong sempit ini berada di luar batas nalar manusia biasa. Bagi mereka, aku seolah berteleportasi.

Si pembawa palu bahkan belum sempat mengayunkan senjatanya ketika telapak tanganku sudah mendarat di dada bidangnya. Aku tidak menggunakan sihir. Hanya dorongan fisik murni yang disalurkan melalui Tulang Obsidian di lenganku.

Baaam!

Pemuda itu terlempar ke belakang bagai ditembakkan dari meriam. Ia menabrak dinding lorong dengan keras hingga batu-batu di sekitarnya retak. Palunya terlepas dan jatuh berdenting, sementara ia langsung kehilangan kesadaran dengan mulut mengeluarkan busa.

Dua pemegang tombak di sebelahnya membeku. Mata mereka terbelalak melihat kapten mereka tumbang dalam sepertiga detik.

"M-Monster..." bisik salah satu dari mereka. Kepanikan mengambil alih. Dengan teriakan kalap, keduanya menusukkan tombak mereka secara bersamaan ke arah dadaku.

Aku tidak menghindar. Aku membiarkan kedua ujung baja tombak itu menghantam seragamku.

Ting! Ting!

Suara yang dihasilkan bukanlah suara daging yang terkoyak, melainkan suara logam yang membentur baja yang lebih keras. Ujung tombak mereka bengkok. Kulit dan tulang dadaku yang telah ditempa oleh racun Mandragora sama sekali tidak tergores.

Kedua senior itu gemetar hebat, menatap ujung senjata mereka yang kini berbentuk seperti kail pancing yang rusak.

"Sekarang giliranku," bisikku di antara mereka berdua.

Aku mengangkat kedua tanganku, mencengkeram wajah mereka berdua secara bersamaan, lalu membenturkan kepala mereka satu sama lain. Prak. Keduanya langsung lemas dan ambruk ke lantai seperti karung kentang.

Hanya butuh lima detik. Tiga murid kelas dua tumbang tanpa aku perlu mengeluarkan setetes keringat pun.

Aku berjongkok, menggeledah kantong mereka, dan menemukan tiga Token Bintang yang mereka bawa sebagai modal awal ujian. Kumasukkan token itu ke dalam sakuku, lalu menendang palu mereka hingga terlempar ke dalam jurang kecil di sisi lorong.

"Terlalu mudah," keluh Nox yang sedang duduk santai di atas stalagmit. "Sistem pertahanan tulangmu itu benar-benar curang. Tidak ada unsur ketegangannya sama sekali!"

"Ini baru pemanasan, Nox," aku bangkit berdiri, menatap ke arah ujung lorong yang semakin gelap. Suhu udara perlahan menurun, dan aku bisa merasakan fluktuasi sihir yang aneh merayap di udara. Bukan sihir monster, melainkan sihir kuno yang sangat pekat.

"Kau merasakannya?" tanyaku, memicingkan mata.

Nox berhenti mengayunkan kakinya. Mata emasnya berkilat serius. "Ya. Ada celah anomali di bawah sana. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di Lantai Satu Tartarus sedang terbuka."

Aku tersenyum tipis, sebuah senyum predator yang menemukan mainan baru. Karena Leon tidak ada di sini untuk mengaktifkan plot cerita, tampaknya sistem labirin ini memutuskan untuk melemparkan skenario terburuknya langsung kepadaku.

"Sempurna. Mari kita lihat rahasia apa yang disembunyikan kegelapan ini dariku."

Tanpa menoleh kembali pada tiga senior malang di lantai, aku melangkah semakin dalam menuju jantung Labirin Tartarus. Ujian yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!