NovelToon NovelToon
Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Update santai sesuai mood Othor 😋

Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

#29

Hari itu, menjadi hari yang mengejutkan untuk Zion, teriakannya histeris, jantungnya seperti diremas secara paksa oleh kekuatan tak kasat mata setiap kali melihat wajah pucat Lizie. Bila pakaian Zion berwarna cerah, mungkin akan terlihat darah Lizie yang membasahi seluruh pakaiannya. 

Roda brankar berderit, laksana nyanyian pilu di telinga Zion. Bagaimana tidak, Lizie telah kehilangan banyak darah sejak awal mula perjalanan mereka. Karena di rumah Alan tadi, Zion masih harus berjuang ekstra keras agar mereka bisa keluar dari kepungan pasukan Alan yang ada di luar bangunan rumah. Jadi Lizie tak bisa segera mendapatkan pertolongan. 

Untung saja mereka sigap, dan saat anak buah Alan mengetahui kematian pemimpin mereka, satu-persatu mereka pergi dan menghentikan pertempuran adu senjata dengan sendirinya. 

“Sayang, bertahanlah,” ucap Zion sepanjang perjalan, meski Zion tak yakin sang istri mendengarnya. Yang jelas ia benar-benar panik, rasanya ia seperti mau gila dan memarahi semua orang yang dijumpainya. Apalagi melihat sang istrinya yang ceria kini diam menutup mata dengan kesadaran yang nyaris diambang batas. 

Pandangan matanya kabur, karena air mata yang membanjir. Biarlah ia terlihat cengeng, tapi Zion tak bisa berbohong bahwa ia takut kehilangan istrinya. 

Terlepas dari seperti apa masa lalu Lizie sebagai seorang pembunuh yang dibayar seseorang, tapi pada saat itu keadaan tak memberinya pilihan. Pasti Lizie melakukannya demi bisa bertahan dari situasi yang penuh ketidakpastian, dan demi mempertahankan hidupnya. 

Beberapa saat yang lalu, Zion terpaksa mengeluarkan skill mengemudi ala sang mommy, agar bisa tiba lebih cepat di rumah sakit. Terserah dengan para pengemudi lain yang mungkin mengeluarkan sumpah serapah padanya yang mengemudi tanpa mempedulikan aturan lalu lintas. 

Tapi nyawa sang istri lebih berharga, bila Lizie berani berkorban nyawa demi melindungi dirinya, maka pengorbanan Zion beberapa saat lalu tak berarti apa-apa. 

Situasi gawat yang baru saja berakhir, masih menyisakan kekhawatiran terutama pada Zion, yang masih harap-harap cemas menanti dokter keluar dari ruang operasi. Anak buah Zion dan para agent AG yang terkena luka tembak pun dievakuasi ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan. 

Menit dan detik yang berlalu, rasanya seperti siksaan sangat lama bagi Zion, saat menunggu di luar ruang persalinan dulu, rasanya tidak se menegangkan saat ini. Padahal wanita melahirkan sama-sama berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan si buah hati. 

Zion terus berjalan mondar-mandir di depan lorong ruang operasi, rambut hitam kecoklatannya berantakan seperti sarang burung, wajahnya pucat dan kusut, kedua manik mata hijaunya kini dikelilingi warna merah karena Zion belum benar-benar bisa menghentikan tangisnya. 

Setiap kali ia mengingat istrinya yang buru-buru datang menyusul ke Rusia pasca mengetahui dirinya yang dikabarkan meninggal. Zion merasa sangat bersalah karena sempat merahasiakan keberadaan dirinya yang masih hidup. “Maafkan aku, maafkan aku yang telah berbohong,” ucap Zion, entah berapa kali hari itu. 

Andai kemarin ia tak berbohong dan mengirimkan pesan secara rahasia, mungkin Lizie masih baik-baik saja di Jakarta bersama anak mereka. Sekarang, Zion bahkan belum mendengar kabar selanjutnya soal putrinya. Kini ia pun masih harap-harap cemas soal kondisi istrinya. 

Para agent AG yang telah selesai mendapatkan perawatan, kini ikut menemani komandan mereka berjaga di depan ruang operasi. Wajah mereka pun ikut tegang manakala melihat sendiri bagaimana cemasnya wajah Zion. 

Operasi pengangkatan peluru seharusnya tak membutuhkan waktu yang lama, yang menjadi masalah, bila ada peluru yang mengenai organ vital pasien, seperti jantung, paru-paru, atau liver. Mungkin operasinya akan berlangsung lebih lama. 

Benar dugaan Zion, tak berselang lama, Dokter yang mengoperasi Lizie keluar dari pintu utama ruang operasi. 

“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Zion dengan bahasa setempat. 

“Kami telah berhasil mengeluarkan tiga buah peluru yang bersarang di punggung istri Anda. Dalam perjalanan operasi, beliau kehilangan cukup banyak darah, tapi untung saja stok darah di rumah sakit saat ini aman, jadi istri Anda bisa langsung mendapatkan transfusi.” 

“Sesaat lagi, pasien akan keluar dari ruang operasi, tapi kami masih harus terus memantau pasien di ruang ICU.” 

“Terima kasih, Dok,” ucap Zion, tak bisa membendung perasaan lega setelah mendapatkan kabar pasti soal kondisi Lizie saat ini. 

“Terima kasih, Tuhan, terima kasih, karena Engkau masih berkenan memberi kami kesempatan untuk bersama.” 

•••

Zion kini sudah berganti dengan pakaian bersih, karena ia tak mungkin masuk ke ruang ICU dengan pakaian yang masih berbau darah dan asap senjata api. Selain itu, Zion tahu, Lizie membenci kedua aroma tersebut, mungkin ia muak karena sejak kecil bergumul dengan aroma darah dan bubuk mesiu untuk bertahan hidup. 

Zion duduk di kursi yang berada di sisi pembaringan Lizie, tangannya menggenggam tangan Lizie yang hangat, namun, belum ada tanda-tanda kapan wanita itu akan membuka mata. 

“Cepatlah bangun, Sayang. Lalu kita sama-sama pulang ke Jakarta. Ingat Zea yang sedang menunggu kita,” ucap Zion dengan suara berbisik syahdu. “Dan ingat, kita sedang program anak kedua, kamu gak boleh lupa itu. Kita wajib memberikan banyak adik untuk Zea, supaya Mommy dan Daddy juga punya banyak pekerjaan. Karena mereka sudah terlalu lama menganggur.” 

Bodo amat, andai Zion terdengar asbun tak jelas, saat ini ia hanya ingin mendapatkan respon dari istrinya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian, ia merasakan jari tangan Lizie bergerak walau masih samar-samar. 

“Kamu mendengarku, Sayang? Bagus, dengarkan aku saja, jangan yang lain. Ingatlah bahwa kamu memiliki suamimu yang kadang tak pulang ke rumah karena di kungkung pekerjaan.” 

Meski hanya merasakan gerakan lembut dari tangan istrinya, Zion amar sangat bahagia. Karena itulah ia terus berceloteh seperti sales yang kebingungan bagaimana cara membuat barang dagangannya laku terjual. 

•••

Di Jakarta. 

Semua orang sudah mendengar kabar berita soal kondisi Lizie, mereka tak bisa menahan kesedihan, namun, tetap berusaha bersikap biasa saja agar Zea tak perlu mengetahui keadaan mamanya yang masih belum sadarkan diri. Bukan Zion yang memberi kabar, karena pria itu mengabaikan ponselnya, tapi para agent AG yang mengirim kabar terbaru ke Jakarta. 

“Everybody, how are you?” 

Siapa yang datang? Bukan Mayra, tapi Mauren, atau yang akrab dipanggil Molen, karena dulu Mayra yang masih cadel memberikan julukan tersebut. 

Putri sulung Dokter Kenzo itu diminta Mayra datang untuk berganti Shift menemani Zea, karena Mayra sedang ada janji dengan teman-temannya. Emang paling pinter Mayra jika soal beginian, setelah mendapatkan imbalan sepatu seharga 30 juta, kini ia mengalihkan tugas pada juniornya. 

Soal kelakuan, Molen 11 12 dengan Mayra. “Hai, Sayang, sudah makan? Atau mau ngemil?” tanya Onty Naya. 

“Boleh, deh, Onty. Kalau bisa yang manis-manis, ya?” 

“Boleh, ambil sendiri di lemari es, tadi pagi Onty Aya bikin es teler sultan yang kekinian itu, loh.” 

Tak! 

Molen memetik jarinya. “Pas banget! Mana panasnya potato-potato.” (dalam bahasa jawa kentang-kentang). 

Onty Naya mengantar sang keponakan ke dapur, “Onty, kenapa semua orang murung?” bisik Molen.

“Oh, itu karena—” Dengan wajah murung, Onty Naya pun menceritakan tentang kondisi Lizie yang masih berada di ruang ICU. Tapi Onty Naya lupa memberitahukan jangan sampai Zea tahu. 

Molen menganggukkan kepala, “Oce, Onty. Aku akan ajak Zea main,” kata Molen. 

Setelah meletakkan tas di sofa, gadis itu pun membawa mangkuk besar berisi es teler sultan buatan Onty Aya. 

“Hai, Cantik, kok murung, sih?” sapa Molen, ceria seperti tak punya masalah hidup. 

Zea menoleh sepintas, lalu kembali fokus dengan boneka barbie-nya. “Hai juga, Onty Moyen.” 

Panggilan Molen berubah lagi, sesuai dengan situasi Zea. Namun, gadis itu acuh, lalu duduk di dekat Zea, “Sudah, jangan sedih, mama pasti kembali dalam keadaan sehat.” 

Tak ada maksud Molen membongkar hal yang seharusnya dirahasiakan, tapi Zea yang beberapa hari belakangan murung karena belum bertemu mamanya, langsung mengangkat kepalanya. 

“Memang mama sakit? Iya, kah, Onty? Huaaa! Mama! Mama! Aku mau tetemu mama!” Zea berlari masuk menghampiri opa dan omanya. 

“Duh, salah ngomong gue,” keluh Molen, ia menepuk jidat, wajahnya memperlihatkan rasa bersalah.

1
Shee_👚
wah kayanya zea bakalan punya adik inu
Shee_👚
ini kalau udah gese persis mayra kayanya, atau lebih2 dari mayra
Shee_👚
kayanya ada dendam tersembunyi zea sama Romeo🤣
Shee_👚
ampun bu gulu sampai hapal😂
Dozky 2 Crazy
😁😁😁 jgn cpt gede y Zea gemesss deh
Dozky 2 Crazy
😁😁😁 gemess deh
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sepertinya kalian berdua hamil 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mantap nih 🤤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
wah 🤣🤣🤣
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
tertarik*
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
akhirnya nambah up jg🤭
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸: SEMANGAT KAK OTHOR 💪💪💪
total 4 replies
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
semangat up othor
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Habisin dulu baksonya,ga enak kl dingin 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul banget🤭🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤣🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
wowwwwww🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪💪❤️❤️❤️❤️❤️
🌷Vnyjkb🌷
👍👍🙏🙏❤️❤️❤️❤️❤️
Shee_👚
siap
Shee_👚
zain itu baksonya boleh buat aku gak🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!