NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Bayangan Raxenswood

Lantai tiga gedung utama Raxenswood Academy selalu punya aroma yang sama setiap kali bel istirahat berbunyi: wangi parfum mahal bercampur kelembapan dingin AC central, dan bau samar ketakutan yang baunya mirip besi berkarat.

Clyrine Elamora Rexander bersandar di sudut koridor dekat deretan loker baja, menyilangkan kedua tangan di dada. Seragamnya sengaja tak dirapikan—kancing atas terbuka, dasi dilonggarkan, dan rok dilipat dua kali di pinggang agar lebih pendek. Di mata ratusan murid yang lalu-lalang, dia hanyalah sampah keluarga Rexander yang lolos masuk sekolah elite ini lewat belas kasihan. Tidak ada yang tahu kalau sekolah megah berarsitektur Gotik ini sebenarnya milik keluarga yang nama belakangnya ia sandang.

"Gue udah bilang, jangan pernah berdiri di jalur jalan gue, kan?"

Suara halus nan merdu itu terdengar dari arah sudut loker. Siapa lagi kalau bukan Claire Elowen Rexander—saudara tiri Clyrine yang berwajah bagai malaikat. Claire berdiri anggun dengan senyum manis yang dipoles sempurna. Di sampingnya, dua sahabat setianya, Genevieve Ramose dan Victoria Sterling, melipat tangan sembari menatap seorang siswi beasiswa yang tersudut di lantai. Suasana koridor mendadak hening, murid-murid lain memilih menunduk atau pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.

"M-maaf, Claire... gue nggak sengaja nyenggol tas lo..." cicit siswi itu, bahunya gemetar hebat.

"Gengsi banget sih tinggal minta maaf yang bener?" celetuk Genevieve dengan tawa sinis. "Tas Claire itu dibeli langsung di Paris, ya. Kena debu dari baju murahan lo aja udah bikin nilainya turun."

"Gue rasa dia butuh diajarin sopan santun sedikit, Gen," tambah Victoria sembari mengambil botol minuman kemasan dari tangannya dan menyerahkannya ke Claire.

Clyrine menghembuskan napas pelan dari balik poni oranye-tembaga yang menutupi dahinya. Pemandangan seperti ini sudah terlalu sering ia lihat. Caranya membantu memang tidak pernah terdengar seperti pahlawan—dia tidak akan berpidato tentang keadilan atau mengetuk pintu guru dengan sopan.

Brak!

Clyrine sengaja menendang pintu loker di dekatnya hingga menimbulkan dentuman keras yang menggelegar di sepanjang koridor. Semua mata langsung tertuju padanya.

"Berisik banget sih kalian," ujar Clyrine dingin, melangkah santai menghampiri kerumunan itu. Katanya tertuju pada Claire. "Gue mau tidur di pojokan, tapi suara nenek sihir sama anak buahnya ganggu banget."

Mata Claire berkilat marah, tapi raut wajahnya dengan cepat berubah menjadi tatapan terluka yang luar biasa natural. "Clyrine... kamu kok ngomongnya gitu? Aku cuma lagi ngobrol baik-baik sama dia."

"Ngobrol baik-baik pakai numpahin air ke kepalanya?" Clyrine terkekeh sinis. Tanpa peringatan, Clyrine mencengkeram kerah seragam Genevieve yang paling dekat dengannya dan mendorong gadis itu ke dinding loker hingga berderit keras. "Lo berdua, kalau mau jadi anjing suruhan Claire, setidaknya jangan gonggong di dekat gue. Muak gue dengernya."

"Clyrine! Lepasin Genevieve!" jerit Claire, matanya mulai berkaca-kaca.

Di saat bersamaan, dari ujung koridor tampak dua sahabat Clyrine, Zerin Edlyna dan Rebecca Thorne, berlari mendekat. Zerin langsung menarik tangan siswi beasiswa yang gemetar di lantai untuk berdiri dan membawanya mundur dari area konflik.

"Cly, udah, jangan pakai otot melulu!" bisik Rebecca panik sembari menahan lengan Clyrine. "Nanti lo masuk BK lagi, Cly!"

"Biarin," gumam Clyrine pendek. Dia melepaskan cengkeramannya dari Genevieve, lalu menatap Claire penuh intimidasi. "Coba aja sentuh dia lagi besok, Claire. Tinju gue nggak bakal cuma berhenti di loker."

Tapi Claire adalah ratu drama di sekolah ini. Begitu melangkah mundur dan melihat langkah kaki guru piket mendekat dari kejauhan, Claire sengaja menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai, memegang pergelangan tangannya seolah-olah baru saja dihantam keras oleh Clyrine.

"Aww! Sakit, Clyrine... aku cuma mau ngingetin kamu belajar, kenapa kamu tega mukul aku lagi?" tangis Claire pecah seketika.

Genevieve dan Victoria langsung bertindak sebagai saksi yang tersakiti. "Pak Guru! Lihat tuh! Clyrine tiba-tiba ngamuk dan dorong Claire sampai jatuh!" teriak Victoria histeris.

Clyrine hanya berdiri diam, memutar bola matanya malas. Zerin dan Rebecca mencoba membela, "Nggak gitu Pak, Claire yang duluan!" Tapi argumen mereka tak ada gunanya di hadapan citra murid teladan milik Claire.

Dua puluh menit kemudian, Clyrine berdiri di dalam ruang BK yang dingin dan beraroma kayu tua. Di balik meja kerja yang tertata rapi, Pak Antonio Roberto menatapnya dari balik kacamata berkulit penyu dengan gelengan kepala kecewa.

"Clyrine Rexander," panggil Pak Antonio Roberto dengan suara berat dan tegas. "Ini sudah ketiga kalinya dalam bulan ini kamu masuk ke ruangan saya karena laporan tindak kekerasan. Kamu mengancam murid lain dan mendorong Claire sampai cedera?"

"Saya nggak dorong dia, Pak," sahut Clyrine santai, menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. "Dia sendiri yang akting jagoan, terus mendadak rubuh kayak papan kena angin."

Pak Antonio Roberto menepuk meja pelan. "Cukup dengan alasan kamu, Clyrine. Saksi-saksi menyatakan hal sebaliknya. Claire itu saudara kamu sendiri, murid teladan di sekolah ini. Kenapa kamu selalu cari masalah sama dia dan teman-temannya?"

Clyrine hanya tersenyum tipis—senyuman pahit yang menyembunyikan kebenaran. Mau dijelaskan seratus kali pun bahwa ia hanya pasang badan untuk murid-murid yang dibuli Claire, Pak Antonio Roberto dan seluruh staf sekolah tidak akan pernah percaya. Di mata mereka, Claire adalah malaikat tanpa cela, dan Clyrine adalah benalu bertato kelakuan buruk.

"Saya tidak punya pilihan lain," lanjut Pak Antonio Roberto seraya menarik selembar kertas formulir dari laci mejanya. "Kali ini kamu di-skor selama tiga hari. Dan besok pagi, saya minta orang tua kamu—Tuan dan Nyonya Rexander—hadir di ruang ini untuk menandatangani surat peringatan resmi."

Mendengar kata 'orang tua', kedataran di wajah Clyrine sedikit retak. Rasa malas dan muak menjalar cepat di dadanya. Panggilan orang tua hanya berarti satu hal: caci maki dari daddynya dan tatapan jijik dari sang ibu, disusul pujian setinggi langit untuk Claire.

"Panggil aja orang tua saya, Pak," jawab Clyrine dengan nada dingin dan tak peduli. "Tapi kalau mereka nggak datang, ya jangan salahin saya."

"Pasti mereka datang, Clyrine. Ini menyangkut nama baik keluarga Rexander," tegas Pak Antonio Roberto.

Clyrine tidak membalas lagi. Ia langsung berdiri, berbalik, dan melangkah keluar dari ruang BK tanpa meminta izin.

Di luar ruangan, Zerin dan Rebecca sudah menunggu dengan raut wajah cemas.

"Gimana, Cly?" tanya Zerin pelan saat Clyrine menutup pintu rapat-rapat. "Pak Antonio Roberto bilang apa?"

"Gue di-skor tiga hari," jawab Clyrine santai sembari menyampirkan tas di satu bahu. "Plus, dia minta daddy sama mommy datang besok."

"Duh, mampus," ringis Rebecca sambil menepuk jidatnya. "Kalau orang tua lo sampai datang ke sekolah, pasti si Claire makin dipuja-puja dan lo yang dimarahin habis-habisan di rumah. Lo tahu sendiri kan gimana reaksinya Tuan Rexander kalau denger nama lo bikin masalah?"

"Makanya gue malas banget," gumam Clyrine seraya berjalan mendahului kedua sahabatnya menyusuri koridor yang mulai sepi. "Gue mending dikurung di kamar daripada harus duduk bertiga sama orang tua gue dan liat Claire senyum kemenangan di belakang mereka."

"Terus lo mau gimana besok?" tanya Zerin prihatin.

Clyrine mendengus pelan, menatap lurus ke arah gerbang sekolah yang terpapar sinar matahari sore. "Gue bakal mikir cara lain. Yang jelas, gue nggak bakal biarkan mereka makin injak-injak gue."

Gadis itu berjalan melangkah keluar dari area Raxenswood Academy dengan kepala terangkat, menyembunyikan luka dan kelelahan jiwanya di balik topeng gadis pembuat onar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!