Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 PERTEMUAN YANG BOLEH DIBATALKAN
Kaluna tiba di rumah Mahardika tujuh menit sebelum waktu yang disepakati. Di dalam mobil, map berisi catatan tentang Bayu masih di pangkuannya. Nama itu terus mengganggu pikirannya, tetapi ia memasukkan map ke dalam tas sebelum turun.
Hari ini ia datang bukan untuk membicarakan rekening, laptop, atau pekerja yang menghilang. Ia datang untuk Elara.
Petugas keamanan membuka gerbang setelah memeriksa kendaraan. Tidak ada wartawan di depan rumah, meskipun dua sepeda motor sempat berhenti cukup lama di ujung jalan.
Kaluna tidak terlalu memikirkan dua motor itu.
Elara sudah menunggu di ruang keluarga dengan kotak permainan dokter di atas meja. Begitu Kaluna masuk, anak itu langsung berdiri.
“Kamu hampir terlambat.”
“Masih tujuh menit.”
“Tujuh menit itu hampir.”
Kaluna tersenyum. “Maaf. Jalanan agak macet.”
“Kamu cari orang hilang lagi?”
Pertanyaan itu membuat Kaluna berhenti.
“Siapa yang bilang?”
Elara mengangkat bahu. “Papa tadi telepon. Katanya kamu mungkin datang terlambat karena masih mencari orang.”
Kaluna menoleh ke Arsen yang berdiri dekat tangga.
“Aku cuma bilang supaya dia nggak khawatir,” kata Arsen.
“Aku tidak khawatir,” sahut Elara. “Aku cuma tidak suka menunggu.”
Kaluna berjalan mendekat dan duduk di karpet.
“Ya sudah, sekarang aku datang.”
Elara membuka kotak permainan. Di dalamnya terdapat stetoskop plastik, termometer mainan, beberapa botol obat kosong, dan kartu bergambar bagian tubuh.
“Kamu jadi pasien.”
“Kenapa aku?”
“Karena aku dokternya.”
“Dokter tidak boleh memaksa pasien.”
Elara berpikir sebentar.
“Kalau begitu, kamu mau jadi pasien?”
Kaluna mengangguk. “Mau.”
Veyra berdiri di dekat pintu ruang keluarga. Kali ini ia tidak masuk.
Ia hanya melihat Elara memasangkan stetoskop plastik ke leher Kaluna, lalu berkata pelan, “Aku ada di ruang makan.”
Elara menoleh. “Mama tidak ikut?”
Veyra tersenyum kecil. “Kamu bilang ingin bermain berdua.”
“Aku tidak menyuruh Mama pergi.”
“Mama tahu.”
Veyra meninggalkan ruangan sebelum Elara sempat menjawab.
Pandangan Elara masih tertuju ke pintu.
“Kamu mau memanggil Mama Veyra?” tanya Kaluna.
Elara menggeleng. “Nanti saja.”
“Kamu tidak perlu merasa bersalah karena ingin bersamaku.”
“Aku tidak merasa bersalah.”
Jawabannya terlalu cepat. Kaluna tidak memaksanya bicara. Ia membiarkan Elara menempelkan termometer plastik ke dahinya.
“Panas,” kata Elara serius.
“Berapa?”
“Seratus.”
“Kalau seratus, aku harus dibawa ke rumah sakit.”
“Jangan. Aku bisa kasih obat.”
Elara menuangkan pil plastik ke telapak tangannya.
“Minum tiga.”
“Bukankah terlalu banyak?”
“Nggak. Ini kan obat mainan.”
Kaluna menelan obat itu secara pura-pura.
Elara tertawa.
Mereka baru bermain sekitar dua puluh menit ketika suara kendaraan berhenti di depan gerbang. Lalu kendaraan lain menyusul. Kaluna mendengar suara petugas keamanan berbicara melalui radio.
Arsen keluar dari ruang kerjanya dengan telepon di tangan. Wajahnya langsung berubah setelah membaca layar.
“Ada apa?” tanya Kaluna.
Arsen diam sebentar. Ia berjalan ke jendela, membuka sedikit tirai, lalu menutupnya kembali.
“Wartawan.”
Elara yang sedang menulis resep mengangkat wajah.
“Wartawan yang suka teriak?”
“Iya,” jawab Arsen.
“Kenapa datang?”
“Entahlah.”
Telepon Kaluna ikut bergetar. Salindri mengirim tautan berita yang baru diterbitkan beberapa menit lalu.
Judulnya tampak jelas.
PEREMPUAN YANG KEMBALI DARI KEMATIAN AJUKAN TUNTUTAN UNTUK MEREBUT PUTRI KELUARGA MAHARDIKA
Kaluna membuka berita tersebut.
Berita itu menyebut permohonan pengaturan pertemuan sementara yang diajukan ke pengadilan. Kaluna digambarkan sebagai perempuan yang berniat mengambil Elara dari keluarga yang telah membesarkannya selama tiga tahun.
Sebagian isi permohonan itu belum seharusnya diketahui media. Tanggal pengajuan. Permintaan jadwal dua kali seminggu. Permintaan pertemuan tanpa pengawasan Veyra.
Seseorang telah membocorkan isi permohonan hukum.
“Dari mana mereka tahu?” tanya Kaluna.
Arsen membaca artikel yang sama.
“Bukan dari aku.”
“Kamu selalu mengatakan itu.”
“Aku memang nggak memberi tahu siapa pun.”
Veyra datang dari ruang makan.
“Ada apa?”
Arsen menyerahkan telepon. Wajah Veyra memucat saat membaca judul berita.
Elara berdiri dan mencoba melihat layar.
“Apa katanya?”
Veyra buru-buru menurunkan telepon.
“Bukan apa-apa.”
“Kalau bukan apa-apa, kenapa banyak orang di luar?”
Tidak ada yang menjawab.
Kaluna mengambil kotak permainan dokter dan menutupnya perlahan.
“Elara, kita pindah bermain ke atas.”
“Kenapa?”
“Supaya tidak terlalu berisik.”
“Aku mau lihat wartawan.”
“Tidak.”
Kaluna mengatakannya lebih tegas dari yang ia inginkan. Elara langsung diam.
Kaluna menarik napas, lalu menurunkan suaranya.
“Mereka mungkin memotretmu. Aku nggak mau wajahmu muncul di berita.”
“Kan wajahku sudah pernah masuk berita.”
“Bukan berarti mereka boleh seenaknya masukin wajahmu lagi.”
Elara memegang kotak permainan, lalu berjalan menuju tangga. Sebelum naik, ia menoleh ke Kaluna.
“Kamu ikut?”
“Iya.”
Arsen menahan Kaluna sebelum ia mengikuti.
“Kita perlu bicara.”
“Setelah dua jamku selesai.”
“Ini tentang pertemuanmu dengan Elara.”
Kaluna langsung mengernyit.
“Apa maksudmu?”
“Tadi pengacara keluarga menghubungiku. Mereka minta pertemuan hari ini dihentikan lebih awal.”
“Karena media datang?”
“Karena di luar mulai ramai.”
“Justru Elara lebih aman di dalam rumah.”
“Berita itu bisa bikin masalahnya makin besar.”
“Dan solusinya aku harus pergi?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi pengacaramu menyarankan itu.”
Veyra masih berdiri di dekat mereka.
“Elara mulai gelisah kalau ada wartawan.”
“Aku tidak membawa wartawan ke sini.”
“Aku tahu,” kata Veyra.
“Kalau begitu jangan gunakan mereka untuk mengakhiri pertemuanku.”
Arsen mengusap wajah.
“Kaluna, nggak semua keputusan begini maksudnya buat menjauhkan kamu.”
“Tiap ada masalah, waktu aku sama Elara yang kena.”
“Karena sekarang mereka lagi ngejar kamu.”
“Aku jadi disorot karena ada yang bocorin permohonanku.”
Suara Kaluna mulai meninggi. Dari lantai atas terdengar langkah kecil berhenti.
Kaluna langsung menyadarinya. Elara mungkin sedang mendengarkan.
Ia menurunkan suaranya.
“Pertemuan ini masih punya waktu lebih dari satu jam. Aku tidak akan pergi.”
Arsen menoleh ke tangga.
“Baik. Tapi tetap di dalam rumah.”
“Aku juga tidak berniat membawanya keluar.”
“Dan jangan membahas berita ini dengannya.”
“Aku nggak pernah pakai Elara buat urusan kita.”
Veyra terdiam sebentar.
“Aku cuma takut nanti jadi begitu.”
Kaluna menoleh.
“Apa maksudmu?”
Veyra menarik napas.
“Di permohonanmu ada soal pertemuan tanpa pengawasan. Bahkan ada kemungkinan Elara dibawa ke tempatmu nanti.”
“Itu bukan berarti aku akan membawanya pergi.”
“Tapi pengacaramu memang minta itu.”
“Aku nggak mau terus-terusan ketemu putriku di bawah pengawasanmu.”
“Aku membesarkannya selama tiga tahun.”
“Dan aku ibunya.”
“Kaluna.”
Arsen memperingatkan.
Kaluna menahan diri.
Setiap kali pembicaraan tentang Elara memanas, mereka kembali ke hal yang sama. Kaluna bicara tentang haknya sebagai ibu. Veyra bicara tentang tiga tahun yang ia jalani bersama Elara.
“Aku naik,” kata Kaluna. “Elara menungguku.”
Ia meninggalkan Arsen dan Veyra di bawah.
Elara duduk di kamar bermain lantai dua. Kotak dokter sudah dibuka kembali, tetapi ia tidak menyentuh isinya.
“Papa menyuruh kamu pulang?” tanyanya.
“Tidak.”
“Mama marah?”
“Tidak juga.”
“Mukanya kayak marah.”
Kaluna duduk di sampingnya.
“Kadang orang dewasa kelihatan marah saat mereka sedang takut.”
“Takut apa?”
Kaluna tidak ingin menjawab mewakili Veyra.
“Banyak hal.”
“Karena wartawan?”
“Mungkin.”
Elara melirik jendela yang tirainya tertutup.
“Mereka bilang kamu mau merebut aku?”
Kaluna terdiam sebentar.
“Kamu membaca beritanya?”
“Temanku kirim ke tablet.”
“Siapa?”
“Nadya. Mamanya baca berita.”
Kaluna mengulurkan tangan.
“Boleh aku lihat?”
Elara mengambil tablet dari bawah bantal.
Pesan dari teman sekolahnya hanya berisi tangkapan layar judul berita dan pertanyaan:
Itu ibu kandungmu? Katanya mau ambil kamu.
Kaluna langsung kesal. Masalah mereka sudah sampai ke sekolah Elara.
Ia menutup layar tablet.
“Berita itu tidak benar.”
“Kamu tidak mau ambil aku?”
“Aku ingin lebih sering sama kamu.”
“Itu sama atau tidak?”
“Tidak sama.”
“Soal tinggal sama siapa, kita belum sampai ke sana.”
Elara menunduk.
“Semua orang bilang belum dibicarakan, tapi semua orang ribut.”
Kaluna tidak bisa menyangkalnya.
“Aku nggak akan bawa kamu pergi diam-diam,” katanya. “Aku juga nggak akan maksa kamu ninggalin orang yang kamu sayang.”
“Kalau hakim suruh?”
“Kamu juga boleh bilang kamu maunya apa.”
“Aku tidak mau pilih.”
“Kamu tidak harus memilih sekarang.”
“Kalau nanti?”
Kaluna memperhatikan wajah Elara yang mulai tegang. Ia meraih kedua tangan anak itu.
“Dengar. Kamu boleh sayang sama aku. Kamu juga boleh sayang sama Mama Veyra. Nggak perlu pilih salah satu.”
Elara diam.
“Kalau Mama tidak mau?”
Kaluna belum sempat menjawab.
Suara Veyra terdengar dari lorong. Ia sedang berbicara dengan Arsen melalui telepon atau mungkin seseorang yang baru datang. Pintu kamar bermain tidak tertutup rapat.
“Aku nggak bilang Kaluna akan menculik Elara,” ujar Veyra dengan suara tertahan. “Aku cuma takut kalau pertemuannya diperluas, nanti Elara dibawa pergi dan nggak dikembalikan.”
Elara menegang.
Kaluna segera berdiri dan menutup pintu, tetapi sudah terlambat. Anak itu mendengar semuanya.
“Mama takut kamu bawa aku?”
“Elara—”
“Berarti Mama tidak percaya sama kamu.”
“Dia sedang takut.”
“Takut itu berarti percaya atau tidak?”
Kaluna duduk kembali.
Sulit menjelaskan bahwa seseorang bisa memercayai niat baik orang lain, tetapi tetap takut kehilangan.
“Kalau lagi takut, orang kadang memikirkan macam-macam.”
“Kalau Mama takut, nanti aku tidak boleh ketemu kamu?”
“Aku tetap akan datang.”
“Bagaimana?”
“Kita ngomong sama Papa, Mama Veyra, sama hakim kalau perlu.”
“Lagi-lagi hakim.”
Kaluna tidak memiliki jawaban yang bisa membuat masalah tersebut terdengar sederhana.
Setelah dua jam selesai, wartawan masih berada di depan gerbang.
Arsen meminta mobil Kaluna keluar lewat gerbang samping agar Elara tidak ikut melihat keributan.
Sebelum Kaluna turun ke lantai bawah, Elara menarik ujung bajunya.
“Kaluna.”
“Iya?”
“Kalau Mama takut kamu bawa aku, kamu masih datang besok-besok?”
“Masih.”
“Walaupun Mama bilang jangan?”
Kaluna diam sebentar.
“Aku tetap datang. Aku cuma harus ikuti aturan yang ada.”
Elara tidak tampak puas, tetapi akhirnya melepaskan pegangannya.
Di ruang bawah, Salindri sudah tersambung lewat telepon. Ia memberi tahu bahwa pihak keluarga Mahardika meminta perubahan syarat pertemuan sementara.
Mulai pertemuan berikutnya, mereka meminta kehadiran pendamping profesional.
Bukan Veyra atau Arsen. Pendamping profesional.
Artinya, Kaluna tetap tidak akan benar-benar berdua dengan putrinya.
“Siapa yang meminta?” tanya Kaluna.
Arsen berdiri di dekat pintu.
“Pengacara keluarga.”
“Itu bukan jawaban.”
Arsen menoleh ke Veyra.
Veyra tidak menyangkal.
“Aku cuma mau memastikan Elara nggak dibawa keluar tanpa persetujuan,” katanya.
Kaluna melirik tangga.
Elara berdiri di bagian atas, memeluk pagar tangga sambil mendengarkan.
Wajah anak itu tidak tampak marah. Hanya kecewa.
Semua orang sibuk menentukan apa yang terbaik buat Elara.
Tak satu pun bertanya apa yang ia mau.