Perjuangan seorang Nayra Kalista yang menghadapi begitu kerasnya dunia ini, dunia yang tak adil untuk dirinya hidup. Dari kecil menjadi seorang yatim-piatu, hidup di panti asuhan, rela putus sekolah demi menjadi tulang punggung bagi saudaranya di panti asuhan. Sampai akhirnya harta satu-satunya yang dijaga selama ini direnggut oleh pria asing yang Nayra sama sekali tak kenal.
Hidupnya hancur bertubi-tubi. Apakah ia bisa menjalani hidup nya kembali setelah apa yang ia alami selama ini? Apakah Nayra bisa bahagia dengan cobaan yang begitu berat ini?
yuk mampir biar tau perjalanan hidup Nayra!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cacil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 18
🍁🍁🍁
"Sekarang Bapak jelaskan ke saya kenapa Bapak mengatakan kita akan menikah? Sedangkan perjanjian kita hanya sebatas pacar bohongan saja."
Nayra membuka suaranya ketika orang tua Andrian sudah jauh dari sana.
"Saya terpaksa mengatakan itu pada orang tuaku, tapi kamu jangan khawatir karena perkataan ku hanyalah pembohong semata."
"Apa Bapak tak takut bila selalu berbohong seperti ini kepada orang tua Anda? Sekali kita berbohong dengan rencana ini maka seterunya kita akan berbohong sampai ke depannya."
"Bila kamu rasa berbohong itu tidak baik, apa kamu mau menikah denganku?"
Deg!
Nayra menelan ludahnya mendegar ajakan Andrian untuk menikah. Tapi tidak mungkin Nayra mau.
"Bukan seperti itu, tapi..."
"Jadi biarkan saja untuk sementara ini kita berbohong, lagian berbohong demi kebaikan tak pa-pa. Kamu sendiri kan yang tidak mau saya ajak menikah."
"Bukan itu yang saya maksud, tapi Bapak tak perlu mengatakan bahwa kita akan menikah."
"Hanya ini satu-satunya cara agar saya terhindar dari perjodohan. Kamu tenang saja ini urusan saya jadi kamu hanya membantu saya sampai sini saja."
Andrian memegang pundak Nayra tanpa menyadari itu, Nayra begitu tak karuan ketika dipegang oleh Andrian. Ia melirik tangan Andrian yang memegang pundaknya itu.
"Maaf! Saya tak sengaja tadi memegang pundak mu."
Dengan cepat Andrian menarik tangannya dari pundak Nayra. Ia tak mau bila Nayra akan berpikir tidak-tidak tentangnya.
Kemudian Andrian mengajak Nayra duduk di kursi tamu. Lalu Andrian juga membawakannya makanan yang ada di pesta itu.
"Kamu makan dulu ini! Nanti saya kembali."
"Bapak mau ke mana?"
"Saya mau menyambut tamu dulu, kamu makan saja dulu."
"Pak!" ujar lagi Nayra ketika melihat Andrian ingin pergi dari sana.
"Ada apa?"
"Jangan lama-lama! Saya tak mengenal siapa-siapa di sini, jadi saya takut bila berbuat sesuatu yang salah di sini."
Andrian hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Nayra barusan. Lalu ia pergi dari sana. Sedangkan Nayra mengutuk dirinya karena mengatakan hal seperti itu tadi.
"Semoga saja Pak Andrian tak berpikir macam-macam tentang ku," gumam Nayra sambil menikmati makanan di pesta itu. Nayra begitu menikmatinya karena makanannya begitu sangat enak.
Lama menunggu tapi Andrian sama sekali tak kunjung-kunjung kembali sampai makanan Nayra sudah habis.
"Mana Pak Andrian? Kenapa belum datang sampai saat ini. Mana udah jam segini lagi pasti Alden udah tidur," gerutu Nayra dalam hati.
"Hai... Boleh duduk di sini nggak?" tanya seseorang laki-laki yang menghampiri Nayra. Laki-laki itu adalah Kelvin teman Andrian.
"Bukannya Tuan sudah duduk? Kenapa harus meminta izin lagi," ujar Nayra yang melihat Kelvin sudah terlebih dahulu duduk sebelum dipersilahkan duduk.
"Hehehe... Itu cuma basa-basi untuk bisa mendekatkan mu," Kelvin mulai dengan gombalan mautnya tapi tak berlaku untuk seorang Nayra.
"Ngomong-ngomong kamu bukannya asisten Andrian bukan? Kenapa kamu berada di sini?"
"Astaga! Aku lupa kalau laki-laki ini adalah laki-laki yang kemarin datang ke perusahaan Pak Andrian. Kenapa aku bisa seceroboh ini," gumam Nayra.
"Ekspresi mu kenapa seperti itu?" tanya Kelvin melihat raut wajah Nayra terlihat cemas.
"Tidak pa-pa!"
"Kenapa kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi?"
"Yang mana?" Nayra sengaja tak tau apa maksud Kelvin tadi.
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu hanyalah asistennya Andrian?"
"I-itu..." Nayra tak tau harus mengatakan apa. Bila dia jujur nanti Kelvin akan mengatakannya terhadap orang tua Andrian membuat rencana mereka menjadi hancur.
"Aku yang mengundangnya datang ke sini," tiba-tiba saja Andrian datang dari belakang lalu menjawab pertanyaan Kelvin.
"Apa jangan-jangan ada sesuatu di antara kalian? Mana mungkin lo mengundang asisten lo ke acara keluarga besarmu seperti ini."
"Kalau iya kenapa?" Nayra memelototi matanya mengarah ke Andrian. Tanpa bersalahnya Andrian begitu percaya dirinya mengatakan tadi di depan Kelvin sahabatnya.
"Wah... Wah... Jadi selama ini lo bohong sama gue kalau lo masih jomblo."
"Aku tak membohongi mu, kami baru saja jadian. Iya nggak Sayang?"
Andrian memegang pinggang Nayra untuk lebih dekat dengannya. Nayra merasa risih tapi apa boleh buat. Ia juga terpaksa mengatakan 'Iya' karena itu sudah perintah dari bosnya sendiri.
"I-iya..." ujar Nayra ragu-ragu.
"Wah parah lo bro... Lo sudah punya pacar, lah sedangkan gue belum mendapatkan cewek satupun yang benar. Padahal awalnya gue mau incar Nayra tapi gue udah keduluan dari lo."
"Sekarang kamu sudah tau kan kalau aku dan Nayra sepasang kekasih, jadi sekarang kamu nggak usah mengganggunya lagi, mengerti!!"
"Kalau masih pacaran kenapa nggak? Baru kalau lo udah nikah sama Nayra baru gue berhenti deketin dia," ujar Kelvin bercanda.
"Udah ku bilang jangan dekat-dekat dengan apa yang sudah aku miliki, lagi pula sebantar lagi Nayra akan menjadi istriku," ujar Andrian terlihat seperti tak suka dengan Kelvin.
"Cih! Memangnya aku barang apa yang bisa dimiliki olehnya, siapa juga yang mau menikah dengan laki-laki beregsek sepertinya," gumam Nayra memaki-maki Andrian dalam hati.
"Jangan marah dulu bro! Gue cuma bercanda tadi," Kelvin hanya cengengesan melihat raut wajah Andrian.
"Saya permisi ke kamar mandi dulu..." seru Nayra membuat argumen kedua laki-laki di depannya berhenti.
Nayra pergi dari sana lalu menuju kamar mandi. Tapi bodohnya ia lupa bertanya kepada Andrian di mana letak kamar mandinya.
"Astaga! Kenapa aku seceroboh ini tak menanyakan kamar mandi kepada Pak Andrian. Kalau aku balik lagi nanti keburu pipis di celana," gumam Nayra.
Untung saja Nayra melihat seseorang laki-laki paruh baya yang lewat depan sana.
"Permisi Pak, apakah Anda tau di mana letak kamar mandi?" Tanya Nayra kepada laki-laki paruh baya itu. Laki-laki tua itu menatap Nayra dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan wajah terlihat menakuti bagi Nayra.
"Mari saya antarkan!"
"Tapi..."
"Ayok! kamar mandinya tak terlalu jauh."
Nayra terpaksa mengikuti laki-laki paruh baya itu, ia merasa akan terjadi sesuatu tapi entahlah apa yang akan terjadi. Yang terpenting Nayra ingin pergi ke kamar mandi.
"Ini tempatnya."
"Loh! Mana kamar mandinya Pak? Bukannya ini gudang ya?"
"Iya..."
"Lalu kenapa Bapak membawa saya ke tempat sini? Saya meminta untuk diantarkan ke kamar mandi."
"Alah jangan sok polos kamu! Pasti kamu wanita bayaran. Jadi malam ini saya meminta kamu melayani saya sampai pagi."
Plak!
Nayra langsung menampar wajah laki-laki yang sudah berumur itu. Nayra begitu emosi mendegar bahwa dirinya wanita bayaran.
"Ingat Pak! Saya wanita baik-baik, jadi tolong jangan mengira saya wanita seperti itu."
See you again...
typoo yaaaa