NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Antara Kebencian dan Harapan

Meloudy menerima rokok itu dengan jari-jemari yang sedikit gemetar, menyandarkan bibirnya di ujung yang telah disiapkan, lalu menarik napas pelan saat api menyala. Asap tipis menyembul dari bibirnya, menyatu dengan angin sore yang sejuk. Ia tersenyum tipis, lalu melangkah berdiri tepat di samping Vano, menyandarkan pinggangnya ke pagar pembatas yang dingin, membiarkan pandangannya menyapu hamparan kota yang mulai berkilauan.

Mereka berbincang ria — hal-hal sederhana, cerita-cerita kecil yang tak sempat terucap di siang hari, tawa yang pelan namun tulus. Di sini, di antara langit yang memerah dan angin yang bebas, semua kesibukan, semua jabatan, semua urusan dunia terasa jauh sekali. Vano tertawa, lepas dan ringan, seperti beban yang memunggunginya perlahan terangkat. Meloudy ikut tersenyum, hatinya terasa tenang — namun ia sadar sepenuhnya, ini sekadar kebersamaan sesaat, tidak lebih.

Namun tawa itu perlahan lenyap, digantikan keheningan yang tiba-tiba.

Ponsel di saku Vano bergetar kencang, suaranya memecah kehangatan yang baru saja tercipta. Ia mengeluarkan benda itu perlahan, dan nama yang terpampang terang di layar itu terlihat jelas —

Ina Marlina.

Meloudy sama sekali tidak tahu siapa sosok itu sesungguhnya. Tidak tahu bahwa Ina adalah orang yang juga pernah tidur dengannya, orang yang telah mengancamnya, orang yang membuatnya begitu frustasi hingga ia memilih melampiaskan kebingungannya bersama wanita lain di kamar hotel kemarin. Ia hanya melihat nama asing di layar, tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba berubah begitu gelap.

Vano tidak berjalan menjauh. Sebaliknya, ia justru berdiri di tempatnya, tepat di samping Meloudy, lalu menekan tombol terima panggilan dan menyalakan pengeras suara. Ia sengaja melakukannya — bukan karena lupa, bukan karena tak berpikir, melainkan karena ia ingin Meloudy mendengar semuanya. Ia ingin meluapkan segala unek-unek yang selama ini tertahan di kerongkongannya, dan ia ingin wanita ini menjadi saksi — satu-satunya orang yang ia percaya untuk mendengar kebenarannya.

"Kau akhirnya mengangkat, Vano!" suara melengking terdengar nyaring dari pengeras.

"Sudah kubilang kau tak bisa lari dari ku!"

Vano menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan getaran yang tak disembunyikan lagi. Ia berbicara lantang, tegas, seakan melepaskan rantai yang selama ini mengikatnya.

"Cukup, Ina. Berhentilah."

Suaranya tidak lagi berbisik, tidak lagi menahan diri.

"Kau mengancamku, kau menekanku, kau membuatku merasa terjebak tanpa jalan keluar. Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan? Kau pikir aku tidak lelah dipaksa menuruti semua kemauanmu?"

Meloudy tertegun di tempatnya, matanya membelalak perlahan. Ia tak menyangka akan mendengar hal seperti ini. Ia hanya diam, berdiri di sampingnya, mendengarkan setiap kata yang meledak dari dada pria itu.

"Kau akan bilang pada Damian, terserah!" seru Vano tiba-tiba, suaranya meninggi, penuh kebencian sekaligus kelelahan yang luar biasa.

"Aku sudah tidak peduli lagi! Aku muak!!!"

Ia berhenti sejenak, napasnya memburu, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar namun teguh:

"Lebih baik aku dibenci Damian seumur hidup daripada dia ditempeli benalu sepertimu, Ina! Aku hanya ingin saudaraku bahagia, dan kau bukan jalan menuju kebahagiaan itu!"

Keheningan menyusul setelah kalimat terakhir itu terucap. Hanya suara napas Vano yang masih berat terdengar di udara sore yang mulai mendingin. Meloudy menatapnya, terkejut namun diam, ia tidak tahu siapa Damian, tidak tahu seluruh kisah di baliknya, namun ia bisa merasakan betapa beratnya pertarungan yang baru saja dimenangkan pria itu.

Vano mematikan panggilan tanpa menunggu balasan. Ia meletakkan ponsel itu di saku, lalu berdiri diam, napasnya masih memburu, seolah baru saja melepaskan beban yang beratnya berton-ton.

"Maaf…" ucap Vano pelan, akhirnya menatapnya langsung.

"Aku sengaja membiarkanmu mendengar. Aku tidak ingin menyembunyikannya lagi. Dan… aku tidak punya siapa siapa lagi selain kau untuk mendengarkanku."

Kata-kata itu terucap begitu berat, seakan setiap suku katanya tertahan di kerongkongan sebelum akhirnya meloloskan diri. Vano menatapnya lekat, matanya memerah, penuh keputusasaan yang tak sanggup ia sembunyikan lagi.

"Apa kau merasa jijik padaku, Meloudy?" suaranya pecah pelan, tangan kanannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

"Karena aku pria brengsek seperti yang sudah kau dengar? Aku sudah tidur dengan banyak wanita, Meloudy! Dan di hotel kemarin… itu adalah salah satunya!"

Ia mundur selangkah, seakan menjauhkan diri dari sesuatu yang dianggapnya kotor, tak layak berada di dekat wanita yang berdiri tenang di hadapannya itu.

"Kau mendengarnya tadi dari Ina, kau melihatku pergi malam itu… dan kau tahu? Kau benar-benar melihatku dengan wanita lain. Aku pergi bersamanya, aku menemaninya, dan aku melakukannya bukan karena aku menginginkannya — tapi karena aku lelah, aku bingung, aku ingin lari dari semua tekanan itu, dan aku tak tahu ke mana lagi aku harus pergi!"

Suaranya meninggi, penuh kepedihan yang meluap-luap.

"Aku membiarkan diriku hancur, Meloudy. Aku membiarkan diriku menjadi orang yang paling aku benci, dan melampiaskan kebingungannya pada orang lain. Dan sekarang… sekarang aku takut sekali kau melihatku sama seperti mereka — pria yang tak berharga, yang tak pantas kau tatap, apalagi kau dengarkan."

Ia menunduk, bahunya turun naik menahan napas yang memburu.

"Jadi katakanlah… katakanlah kau jijik, katakanlah kau tak mau lagi berdiri di sini bersamaku. Aku mengerti. Aku pantas mendapatkannya."

Meloudy diam, mendengarkan setiap kata yang menghantam dadanya. Ia tidak mundur. Tidak menatapnya dengan ngeri seperti yang ditakuti pria itu. Sebaliknya, ia justru melangkah selangkah lebih dekat, menatapnya dengan pandangan yang tenang, jernih, tak diwarnai penghakiman sedikit pun.

"Saya tidak merasa jijik pada Anda, Tuan," jawabnya pelan namun tegas, suaranya menembus kesunyian yang berat.

"Saya tidak melihat Anda seperti itu."

Vano mengangkat wajah perlahan, tak percaya.

"Bagaimana bisa? Kau mendengarnya sendiri…"

"Saya mendengar seseorang yang lelah, yang frustasi, yang hilang arah," potong Meloudy lembut namun tak tergoyahkan.

"Kesalahan yang Anda buat… itu tidak mendefinisikan siapa Anda sepenuhnya. Anda bukan sekadar apa yang Anda lakukan di saat terlemah Anda."

Ia berhenti sejenak, menatapnya lekat-lekat.

"Dan saya tidak menilai Anda dari hal-hal itu, Tuan. Saya melihat Anda berusaha berubah. Saya melihat Anda berani berkata jujur. Dan itulah yang penting bagi saya."

Vano menatapnya, matanya berkaca-kaca, seakan ada sesuatu yang lama terkunci perlahan terbuka.

"Kau sungguh…" suaranya tercekat.

"Kau sungguh tidak melihatku sebagai orang yang kacau?"

"Orang yang lelah, mungkin," jawab Meloudy pelan, namun tulus.

"Tapi bukan brengsek, setidaknya bagi saya."

^^^Bersambung...^^^

1
Miranda.
terus kalo lu awalnya ga suka sama elona, kenapa berhubungan sama dia jir?😡😡
Miranda.
Vano brengsekk. mentang² kaya aja mempermainkan wanita kau jingan!!😡😡😡
Miranda.
yep. sadar juga nih orang/Smug/
Miranda.
gajelas jir si Vano. aku kalo jadi elona kek eughh
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Tak ada yang bisa mengalihkan pikiran Vano dari sosok gitaris yang terus membayangi pikirannya. Ya, meskipun disekelilingnya penuh dengan suara musik, tapi pikirannya tetap tertuju pada Laudys
Xlyzy
Alhamdulillah semoga ibu lekas membaik dan puluh supaya melody ga sedih lagi
Xlyzy
dengarkan ibu mu mel pasti itu pertanda baik
Isma Iis
gak sekalian aja orangnya langsung bawa pulang suruh main gitar di depan anda Tuan Vano
Isma Iis
gak bisa Tuan, meloudy harus menyembunyikan lengannya terutama dari anda Tuan Vano
Isma Iis
pas tau ternyata meloudy itu Laudy, nyesal tau rasa
Isma Iis
galak amat
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!