Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Balik Tirai Malam
Gema langkah sepatu bot pengawal elit yang menyeret Tuan Marcus keluar dari aula utama Grand Ballroom perlahan lenyap di telan kesunyian malam, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih pekat, kaku, dan mencekam di dalam ruangan megah tersebut. Tidak ada satu pun tamu undangan dari kalangan petinggi sindikat, faksi independen, maupun para pembunuh bayaran berdarah dingin yang berani mengangkat kepala atau sekadar berbisik-bisik rendah. Seluruh pasang mata kini menunduk patuh, mengakui dominasi mutlak, kekuasaan mutlak, dan teror mutlak yang baru saja ditegakkan oleh sang penguasa sindikat dan ratunya di atas altar kehancuran faksi barat.
Di sudut gelap ruangan yang tersembunyi di balik pilar marmer besar yang dingin, Bianca mencengkeram erat pegangan kursi rodanya hingga buku-buku jarinya memutih, menegang, dan hampir pecah. Napas wanita itu memburu liar, tercekat di tenggorokan, menciptakan suara isak tertahan yang bercampur dengan rasa takut yang teramat sangat hingga meremukkan sekujur saraf tubuhnya. Sekujur tubuhnya bergetar hebat di balik balutan gaun putih gadingnya yang kini terasa seperti kain kafan. Rencana besar yang ia susun berbulan-bulan—yang ia harapkan menjadi pisau beracun paling mematikan untuk merobohkan mahkota Ceisya—kini berbalik menghujam jantungnya sendiri, mencabik-cabik sisa harga diri keluarganya hingga tak bersisa menjadi debu.
Sial... Sialan! Bagaimana mungkin dokumen arsip keramat itu bisa bocor ke tangan mereka? Di mana celahnya? batin Bianca histeris, manik mata biru terangnya melotot liar penuh teror, menatap nanar ke arah panggung utama tempat Ceisya berdiri dengan begitu anggun, seolah mengejek seluruh kebodohannya.
Di atas panggung utama, di bawah pendar lampu kristal raksasa yang memantulkan ribuan cahaya dingin, Sylus tidak membuang waktu sedikit pun untuk memedulikan sisa-sisa pengikut faksi barat yang kini duduk terpaku dalam ketakutan. Pria berdarah dingin itu melingkarkan sebelah lengannya semakin erat, protektif, dan posesif di pinggang ramping Ceisya, menarik tubuh istrinya hingga menempel sempurna tanpa celah sedikit pun di dada bidangnya. Manik mata merah menyala Sylus melirik sekilas ke arah sudut gelap tempat Bianca bersembunyi, menangkap getaran ketakutan dari wanita di kursi roda itu dengan seringai predator yang mematikan.
"Sepertinya pesta pembuka kita sudah selesai dengan cukup memuaskan, Ratu kecilku," bisik suara bariton Sylus serak tepat di daun telinga Ceisya, sarat akan keintiman gelap yang hanya bisa didengar oleh wanita itu di tengah keheningan aula. "Dan tikus-tikus ketakutan itu sudah mulai menggigil di sarang mereka. Apa kau ingin kita mengakhiri malam ini di sini, atau kau ingin aku menyeret saudari tirimu itu langsung berlutut di hadapanmu sekarang juga?"
Ceisya mengangkat dagunya sedikit, manik mata hijau terangnya memantulkan kilat kemenangan yang dingin dan mematikan. Ia bisa merasakan tatapan putus asa dan kebencian dari Bianca dari kejauhan, dan sensasi itu jauh lebih memabukkan daripada anggur termahal di meja perjamuan manapun di dunia ini.
"Tidak perlu sekarang, King," balas Ceisya dengan suara berbisik yang lembut namun mengandung racun yang mengalir di setiap desahnya. "Biarkan ia menikmati sisa-sisa malam ini dalam teror yang mencekam. Ketakutan perlahan jauh lebih menyiksa daripada kematian instan yang cepat. Mari kita pulang ke penthouse... aku ingin merayakan kemenangan ini bersamamu di tempat di mana tidak ada satu pun pengganggu yang bisa menemukan kita."
Mendengar bisikan menggoda dan penuh tantangan itu, manik mata merah menyala Sylus menyala semakin terang, membakar habis sisa-sisa kesabaran di dalam diri sang raja mafia. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sylus membimbing langkah Ceisya berbalik meninggalkan aula perjamuan megah tersebut, dikawal oleh barisan pengawal elit bersenjata lengkap yang langsung membuka jalan bagaikan barisan pengawal kaisar menuju takhta kegelapan.
Suasana di dalam kabin belakang SUV lapis baja berkecepatan tinggi yang membelah jalanan malam kota Manhattan terasa sangat kontras dengan kemegahan aula perjamuan tadi. Di dalam ruang sempit yang terisolasi sepenuhnya dari dunia luar, lampu interior diredupkan hingga menyisakan temaram warna merah darah yang misterius dan intim.
Begitu pintu kabin tertutup rapat tanpa suara dan mobil melaju mulus membelah aspal basah, Sylus langsung menarik tubuh Ceisya ke pangkuannya tanpa memberi wanita itu kesempatan untuk bernapas atau mencari jarak. Pria itu mengurung tubuh istrinya di antara dada bidangnya yang keras bagaikan baja dan jok kulit Nappa hitam, menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Ceisya yang terekspos bebas akibat kerah gaunnya yang sedikit tersingkap.
Hawa napas panas Sylus yang beraroma tembakau mahal, maskulinitas yang pekat, dan whiskey berkualitas tinggi menyapu lembut kulit sensitif di sana, membuat bulu kuduk Ceisya meremang hebat seketika dan mengirimkan sengatan listrik ke seluruh pembuluh darahnya. Cengkeraman tangan besar pria itu di pinggangnya begitu kuat, posesif, dan menuntut—sebuah pernyataan bisu bahwa di atas dunia ini, Ceisya adalah satu-satunya mutlak milik The Crimson King.
"Kau benar-benar membuatku kehilangan akal sehat malam ini, Ceisya," bisik Sylus parau, suaranya bergetar dalam selimut hasrat yang gelap dan mendalam. "Cara berdiri di atas panggung itu, cara matamu menatap rendah para sampah dewan... kau adalah karya seni paling mematikan dan indah yang pernah diciptakan di muka bumi ini."
Ceisya mendongakkan sedikit kepalanya, membiarkan bibir panas Sylus menelusuri rahangnya perlahan, meninggalkan jejak ciuman basah yang membakar. Jari-jari lentiknya merayap naik, mencengkeram kuat kerah kemeja hitam pria itu, meremas kain mahal tersebut untuk menyalurkan debar jantungnya sendiri yang berpacu liar tak beraturan.
"Apakah kau terkejut, Sylus?" tanya Ceisya berbisik tepat di bibir suaminya, manik mata hijau terangnya bersinar penuh tantangan erotis yang membakar habis logika. "Kau pikir aku hanya akan bersembunyi di balik punggungmu dan membiarkanmu melakukan semua pekerjaan kotor di dunia hitam?"
Sylus mendengus rendah—sebuah tawa tertahan yang terdengar sangat memabukkan dan berbahaya di ruang sempit itu. Ibu jari pria itu terulur, dengan lembut namun penuh otoritas mengusap bibir bawah Ceisya yang merona basah, menekannya perlahan hingga terbuka sedikit, meminta izin atas apa yang sudah menjadi hak istimewanya seorang.
"Tidak, Ratu kecilku," gerus Sylus sebelum membungkam bibir istrinya dalam sebuah ciuman yang langsung merenggut seluruh sisa akal sehat mereka.
Ciuman itu bukan lagi sekadar penuntutan, melainkan ledakan hasrat yang tertahan sepanjang malam di tengah ketegangan perjamuan. Bibir Sylus melumat bibir Ceisya dengan dominasi penuh, menghisap setiap desahan tertahan yang lolos dari tenggorokan gadis itu tanpa ampun. Lidah mereka beradu dalam ritme yang liar, basah, dan menuntut, menciptakan ketegangan erotis yang luar biasa pekat di dalam ruang kabin yang sempit dan pengap.
Tangan besar Sylus merayap turun, menyusup ke bawah belahan gaun malam hitam berkilau itu, merayap di kulit paha mulus Ceisya dengan sentuhan panas yang meninggalkan jejak sengatan listrik di setiap saraf tubuhnya. Sentuhan itu begitu posesif, seolah ingin meleburkan raga mereka menjadi satu kesatuan yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh kekuatan apapun di dunia hitam.
Ceisya mendesah tertahan di dalam ciuman tersebut, jemarinya semakin mengeratkan cengkeraman di rambut hitam Sylus, menarik kepala pria itu agar semakin mendekat, menuntut lebih banyak lagi dari sentuhan candu yang mematikan itu. Mobil SUV mewah terus melaju kencang menembus kegelapan malam Manhattan, membawa mereka menuju sarang singa di mana keintiman kelam dan rantai obsesi mutlak menunggu untuk disempurnakan hingga fajar menjelang.