**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Digendong di Tengah Mabuk
Beberapa hari kemudian, Cakra Tech mengadakan makan malam tim riset di SCBD.
Naila datang karena Radhika menjemputnya langsung dari kampus. Sepanjang acara, lelaki itu menerima beberapa gelas untuk bersulang tetapi hampir tidak menyentuh makanan.
"Mas nggak lapar?" bisik Naila.
"Nanti."
"Dari tadi jawabannya nanti terus."
Radhika kembali berbicara dengan kepala divisi. Jarak yang dibuatnya sejak malam di warung masih ada. Ia tetap menjemput, menjaga makanan Naila dari kacang, dan mengantar pulang, tetapi percakapan pribadi selalu dipotong pendek.
Setelah makan malam, pegawai muda mengusulkan karaoke di Crescent Club. Radhika langsung menolak.
"Pak, proyek kita selesai dua minggu lebih cepat," kata salah satu peneliti. "Sekali ini saja."
"Kalian boleh pergi. Biayanya kirim ke kantor."
"Kalau Bapak nggak ikut, semua orang tetap bicara kerja."
Radhika tidak tergerak. Naila yang sejak tadi memperhatikan akhirnya pindah kursi ke sampingnya.
"Mas ikut, dong," kata Naila. "Aku mau nyanyi."
"Kamu pulang sama Mas."
"Mas paling baik sedunia."
"Pujian nggak mempan."
"Aku paling sayang Mas."
Radhika menatapnya. "Jangan sembarang bilang sayang."
"Aku memang sayang. Ayo, cuma satu jam."
Ia menarik ujung lengan Radhika sampai Reyhan dan beberapa pegawai menahan senyum. Akhirnya Radhika mengangguk.
"Satu jam."
"Dua jam."
"Satu setengah."
"Deal."
Naila mengulurkan kelingking. Radhika menatapnya sebentar lalu mengaitkan jari agar perdebatan selesai.
Naila bersorak dan memeluk lehernya. Tubuh lembut serta aroma rambutnya membuat jantung Radhika menghantam dada. Tangannya baru terangkat untuk mendorong ketika Naila sudah melepaskan diri dan melakukan tos dengan Reyhan.
Radhika menurunkan tangan. Ia mengambil gelas air dan meminumnya dalam diam.
"Pak Radhika ketat sekali menjaga adiknya," komentar Reyhan yang sudah mulai ringan kepala.
"Pesan mobil untuk yang minum," jawab Radhika. "Nggak ada yang bawa kendaraan sendiri."
Di kamar karaoke pribadi Crescent Club, Naila bermain dadu bersama tim lalu menyanyikan lagu pop cepat. Radhika duduk jauh di ujung sofa, sesekali merokok di area berventilasi khusus sambil melihatnya. Ketika lagu selesai, ia bertepuk tangan tanpa suara.
"Lagi!" seru beberapa pegawai.
Naila memilih lagu kedua dan menarik dua perempuan dari tim produk untuk bernyanyi bersama. Ia tidak memiliki teknik terbaik, tetapi energinya membuat seluruh ruangan ikut berdiri. Reyhan mencoba mengikuti gerakan tari dan hampir tersandung meja.
Radhika menangkap sudut meja sebelum mengenai lutut Reyhan. "Kalau sudah nggak bisa berdiri, berhenti minum."
"Saya masih sadar, Pak."
"Kamu baru saja minta maaf ke speaker karena menginjak kakinya."
Satu ruangan tertawa. Bahkan Naila menutup mikrofon karena tidak bisa melanjutkan lagu.
Pelayan menaruh jus jeruk Naila di meja rendah. Pada saat bersamaan, seorang pegawai memindahkan gelas koktail berwarna hampir sama untuk memberi ruang pada piring. Ketika meja kembali ramai, kedua gelas tertukar.
Naila mengambil gelas yang salah.
Rasanya pahit dan hangat, tetapi ia mengira itu jus dengan soda aneh. Ia menyesap lagi sambil tertawa melihat Reyhan kalah bermain dadu. Beberapa menit kemudian, pegawai lain menuangkan isi pitcher beralkohol ke gelas tersebut tanpa menyadari Naila tidak minum.
Tidak ada yang memperhatikan sampai pipi Naila memerah dan tatapannya kehilangan fokus.
Ia kalah melempar dadu tiga kali berturut-turut, lalu menuduh angka pada kubus berubah sendiri. Ketika berdiri untuk mengambil mikrofon, tubuhnya bergoyang dan menabrak bahu pegawai di sebelah.
"Aku baik-baik saja," katanya sebelum ada yang bertanya.
Radhika melihatnya dari seberang ruangan.
Ia berdiri, mengambil mantel Naila dari sandaran kursi, lalu memegang pergelangan tangannya.
"Kita pulang."
"Aku belum selesai."
"Kamu minum apa?"
Naila menunjuk gelas. Radhika menciumnya dan langsung menegang.
"Siapa yang kasih ini?"
Satu ruangan terdiam. Reyhan memeriksa dua gelas di meja dan menyadari warnanya sama.
"Sepertinya tertukar, Pak. Saya panggil manajer dan cek pelayanannya."
Radhika mengangkat gelas jus asli yang masih utuh di sudut meja. Warna keduanya memang hampir sama di bawah lampu redup.
"Simpan rekaman CCTV dan catat siapa yang memindahkan gelas. Bukan untuk mencari kambing hitam. Aku mau tahu celah prosedurnya. Minuman nonalkohol harus diberi penanda berbeda mulai malam ini."
Manajer klub yang baru masuk mengangguk cepat. "Baik, Pak. Kami juga siapkan petugas medis."
Radhika memeriksa respons pupil dan napas Naila. Ia masih sadar penuh, hanya pusing dan mabuk ringan. "Siapkan air mineral. Kalau dia muntah atau kesadarannya turun, kita langsung ke rumah sakit."
"Pastikan semua yang minum pakai mobil sewaan. Besok kirim laporan ke aku."
Radhika membawa Naila keluar sebelum emosinya meledak pada orang yang belum tentu sengaja melakukan kesalahan.
Di lorong, mantel Naila terlepas dari bahunya. Gaun pendek yang dipakai terlihat lebih ketat setelah ia bergerak sepanjang malam.
"Naila Kinanti Prasetya," kata Radhika dingin. "Kenapa pakai baju sependek ini?"
Naila yang pusing menatapnya dengan mata berair. "Mas jahat lagi."
"Mas sudah bilang jangan sembarang ambil minuman."
"Aku nggak tahu itu alkohol." Bibirnya bergetar. "Mas marah terus sama aku."
Radhika langsung menyesal. Ia menarik napas dan menurunkan suara.
"Nai, jangan nangis. Mas bukan marah sama kamu. Mas takut kamu sakit."
"Tapi Mas galak."
"Iya, Mas salah. Maaf."
Radhika menyerahkan botol air. "Minum sedikit-sedikit. Jangan langsung banyak."
Naila meneguk dua kali, lalu menyandarkan dahi ke lengannya. "Mas belakangan nggak suka aku."
"Bukan begitu."
"Dulu Mas selalu dekat. Sekarang menjauh."
Radhika tidak sanggup menjelaskan di lorong, terlebih saat Naila sedang terpengaruh alkohol. "Kita bicara besok kalau kamu sudah sadar."
"Besok Mas pasti bilang capek lagi."
Kalimat itu mengenai tempat yang paling ingin ia hindari.
Ia memakaikan mantel, menutup semua kancing depan, lalu mengikat sabuknya agar gaun Naila tertutup sampai paha.
"Lebih hangat?"
Naila mengangguk kecil. Saat mencoba berjalan, lututnya kehilangan tenaga. Ia berpegangan pada dinding.
"Kepalaku muter."
"Bisa jalan?"
"Nggak. Kaki lembek."
Radhika membungkuk, menyelipkan satu lengan di bawah lutut dan satu lagi di punggungnya, lalu mengangkat Naila.
"Pegang leher Mas."
Naila menurut. Wajahnya bersandar di bahu Radhika, napas hangat menyentuh leher.
"Mas jangan jatuhkan aku."
"Nggak akan."
"Jangan tinggalin juga."
Langkah Radhika berhenti sepersekian detik. "Nggak akan."
Ia meminta petugas membawa kantong muntah dan air ke mobil. Reyhan menawarkan ikut, tetapi Radhika menyuruhnya tetap mengawasi transportasi tim yang minum.
Mereka melewati kamar karaoke dan lobi dalam tatapan banyak orang. Radhika tidak melambat atau melihat siapa pun. Ia membawa Naila keluar menuju kendaraan dengan langkah stabil, seolah seluruh keramaian itu tidak lebih penting daripada gadis mabuk dalam pelukannya.
Di luar, udara malam menyambut mereka, tetapi kepala Naila justru terasa semakin berat.