NovelToon NovelToon
Jenderal Langit : Terbangun Di Benua Dewa

Jenderal Langit : Terbangun Di Benua Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Identitas Tersembunyi / Fantasi Timur
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.


Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.


Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun Kehidupan dan Sumpah di Ujung Kematian

Tenggorokan Vano terasa seperti terbakar oleh lahar pijar yang mendidih. Setiap kali ia berusaha menarik napas untuk mengisi paru-parunya, sensasi nyeri yang luar biasa tajam langsung menghantam rongga dadanya, membuatnya sesak setengah mati. Rasa logam yang pekat, panas, dan bercampur anyir darah segar mendadak memenuhi seluruh rongga mulutnya, membuat lidahnya terasa keluh.

Di hadapannya, di balik pandangan matanya yang mulai kabur dan berair, samar-samar ia melihat bayangan seorang pria berambut sebahu. Pria itu berdiri tegak dengan seringai kemenangan yang begitu menjijikkan, menatap rendah ke arahnya seolah-olah ia tidak lebih dari seekor serangga yang sekarat.

"Maafkan aku, Vano. Dunia hiburan ini terlalu sempit, dan dia tidak butuh dua bintang utama di puncak yang sama. Kursi panas itu hanya milikku seorang," bisik suara itu. Terdengar begitu dingin, menusuk jiwa, namun sangat familier di telinganya.

Roy. Asisten pribadi sekaligus orang yang paling ia percaya, diandalkan, dan dianggap sebagai saudara sendiri selama tiga tahun terakhir meniti karier di dunia hiburan.

Pria itu berdiri tegak tanpa secercah pun rasa bersalah di wajahnya, sambil memegang sebuah botol termos kosong di tangan kanannya—wadah yang baru saja ia sodorkan kepada Vano dengan senyum ramah dan penuh perhatian sebelum syuting adegan klimaks film dimulai. Air mineral dingin penyegar dahaga, yang ternyata telah dicampur dengan racun sianida murni berdosisi tinggi tanpa sepengetahuannya.

Vano ingin sekali berteriak meluapkan amarah, melayangkan tinju sekuat tenaga ke wajah keparat itu, atau setidaknya melontarkan kutukan terakhir sebelum nyawanya benar-benar melayang. Namun, racun tersebut telah melumpuhkan sistem saraf motoriknya secara total. Anggota tubuhnya terasa kaku, berat, dan tidak mau komando sama sekali.

Penglihatannya perlahan-lahan menggelap dari pinggir menuju ke tengah. Suara hiruk-pikuk para kru film di ambang pintu studio yang mulai menyadari kekacauan berangsur-angsur lenyap, berganti dengan dengung sunyi yang memekakkan telinga.

Pengkhianatan... Sialan. Aku mati di tangan orang yang paling kupercaya.

Itulah kalimat terakhir yang berputar di dalam benak Vano sebelum kesadarannya benar-benar terenggut oleh kegelapan abadi, membawanya jatuh ke dalam kegepapan tanpa batas.

Deg!

Sebuah hantaman rasa sakit yang begitu masif tiba-tiba menghantam kepalanya seperti palu raksasa, memaksa sepasang mata Vano terbuka lebar secara mendadak.

Bukan bau antiseptik ruang IGD rumah sakit yang menyengat, bukan pula kegelapan abadi di dalam liang kubur yang ia temui. Yang menyapa indra penciumannya saat ini adalah aroma dupa kuno yang pekat bercampur dengan bau kayu lapuk dan tanah basah. Vano terkesiap hebat, menegakkan tubuhnya secara refleks sambil mencengkeram erat bagian dadanya yang kini terasa sesak oleh beban emosi yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

"Di... di mana ini? Apakah aku sudah di neraka?" gumamnya dengan suara parau.

Namun, ada satu hal yang langsung membuatnya membeku sesaat setelah suara itu keluar. Suara yang lolos dari tenggorokannya bukanlah suara bariton tegas miliknya yang biasa terdengar di layar kaca, melainkan suara seorang pemuda yang terdengar lebih tipis, muda, dan rapuh.

Sebelum ia sempat mencerna kejanggalan tersebut, sebuah gelombang memori asing mendadak menghujam kepalanya layaknya ribuan jarum beracun yang menusuk otak secara bersamaan. Potongan memori, wajah-wajah orang asing, rasa dendam kesumat yang membara, serta sebuah nama berputar liar di dalam kepalanya, menciptakan badai informasi yang hampir memecahkan tempurung kepalanya.

Di dunia ini, tidak ada satu pun orang yang mengenal siapa itu Vano Andrian, aktor muda berbakat yang tewas diracun di bumi. Di Benua Dewa—sebuah dunia luas tanpa batas tempat para kultivator mengejar keabadian melalui jalur bela diri dan energi spiritual—ia sekarang adalah Gu Yan-Zhi.

Gu Yan-Zhi adalah seorang pemuda berusia delapan belas tahun, anak dari seorang selir yang telah lama diasingkan ke sudut terpencil dari Klan Gu, sebuah keluarga bangsawan menengah di Kota Awan Berkabut. Baru saja, beberapa jam sebelum jiwa Vano merasuki raga ini, pemuda malang bernama Gu Yan-Zhi itu tewas secara mengenaskan di ruang latihan bawah tanah. Pelakunya tidak lain adalah Gu Tianlang, sepupu kandungnya sendiri, yang dengan keji menyiksanya hingga menghembuskan napas terakhir demi merampas sebuah batu pusaka peninggalan mendiang ibu Gu Yan-Zhi.

Rasa sakit ini... kebencian yang mendalam ini...

Gu Yan-Zhi—yang di dalam lubuk hatinya masih membawa kesadaran, memori, dan mentalitas Vano—mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas lantai batu hingga buku-buku jarinya memutih dan kulitnya hampir terkoyak. Sisa-sisa emosi dari jiwa asli Gu Yan-Zhi bergejolak hebat, menyatu sempurna dengan amarah membara Vano atas pengkhianatan keji yang dilakukan Roy di kehidupan sebelumnya.

Dua jiwa yang sama-sama dikhianati oleh orang terdekat kini melebur menjadi satu, membentuk sebuah tekad baja yang tidak akan pernah bisa dipatahkan lagi.

"Kalian semua... para pengkhianat busuk di dunia lama, dan bajingan-bajingan keji di keluarga ini... Dengar baik-baik, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menginjak-injak harga diriku atau merenggut nyawaku dengan cara seperti itu lagi!" pekiknya dalam hati, penuh sumpah serapah.

Dengan susah payah, ia memaksakan raga mudanya untuk bangkit berdiri dari lantai batu yang dingin dan lembap. Pakaian tradisional yang ia kenakan robek di berbagai tempat, dipenuhi oleh noda darah kering berwarna kehitaman yang berkerak. Luka-luka lebam, bekas cambukan, serta sayatan pedang menghiasi sekujur tubuhnya, menunjukkan betapa kejam dan tidak berisinya perlakuan yang harus diterima oleh raga ini semasa hidup.

Sebagai langkah awal untuk memahami situasi, ia mencoba memusatkan kesadarannya ke bagian perut bawah, tepat di area pusat energi atau yang dalam dunia kultivasi dikenal sebagai Dantian. Ia ingin merasakan apakah ada aliran tenaga dalam atau energi spiritual yang bisa ia manfaatkan untuk bertahan hidup.

Namun, seketika itu juga ekspresi di wajahnya berubah menjadi sangat suram.

"Sial... Jalur meridiannya benar-benar diblokir total," gumamnya tajam.

Dantian tubuh ini tidak hanya rusak akibat siksaan brutal, tetapi juga tersegel rapat oleh sebuah paku energi berwarna hitam legam yang menancap di titik akupuntur utamanya. Di Benua Dewa, seseorang yang Dantiannya hancur dan tersegel tidak lebih berharga daripada seekor semut; mereka adalah sampah yang bisa diinjak-injak, disiksa, bahkan dibunuh kapan saja tanpa ada hukum yang melindungi.

Bagi orang biasa, segel kutukan semacam itu adalah vonis mati permanen yang menutup segala harapan untuk hidup layak. Namun bagi Vano—seorang aktor metode yang terbiasa mempelajari karakter paling rumit, membongkar naskah tersulit, dan menganalisis celah sekecil apa pun dari sebuah masalah—situasi mustahil ini hanyalah sebuah teka-teki logika yang harus segera ia pecahkan jalan keluarnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat yang diiringi suara logam bergesekan terdengar menggema dari ujung koridor gelap di luar ruangan bawah tanah tersebut.

Kriet...

Pintu kayu tua yang sudah lapuk berderit pelan saat seseorang mendorongnya terbuka dari luar. Sinar rembulan malam yang dingin merangsek masuk, menyoroti siluet seorang pemuda bertubuh tegap yang memegang sebilah pedang panjang berkilat di tangan kanannya.

"Hm? Bocah sampah itu... ternyata belum mati sepenuhnya?" suara Gu Tianlang terdengar menggema, disusul oleh tawa kecil penuh nada meremehkan dan kebencian. "Kuat juga daya tahan tubuh rendahan sepertimu. Tapi tenang saja, kali ini aku akan memastikan kepalamu benar-benar terpisah dari badan, agar tidak ada lagi sisa-sisa sampah yang mencemari nama baik Klan Gu!"

Mendengar ancaman kematian yang diucapkan dengan begitu santai di ambang pintu, Gu Yan-Zhi sama sekali tidak menunjukkan kepanikan ataupun rasa takut. Jantungnya memang berdegup kencang, namun insting tempur modern yang ia miliki, ditambah ketenangan mental baja dari seorang aktor profesional yang terbiasa improvisasi di atas panggung berbahaya, langsung mengambil alih kendali penuh atas tubuhnya.

Ia tidak memiliki energi spiritual, ia terluka parah, dan lawannya bersenjata lengkap. Tapi di dalam tatapan matanya yang kini memantulkan cahaya obor redup, terpancar sebuah kilatan kecerdasan dingin yang siap membalikkan keadaan.

Perburuan untuk bertahan hidup di Benua Dewa baru saja resmi dimulai.

1
Siskasuryaningsih
bapak mu piye nang? bok no tinggal ta?
ᵣₕyₜₕₘ.ₒf.ᵣₐᵢₙ: 😂😂lha harus gimana kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!