'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Aneka Ria
...~•Happy Reading•~...
Nelson memasukan uang ke dalam paper bag, lalu dimasukan ke dalam ransel. Supaya besok bisa ditabung seperti permintaan Kakeknya. Dia tahu, jika lulus dan kuliah S2 di lain daerah, itu akan sangat membantu.
Kemudian dia mengeluarkan pakaian dalam untuk dicuci. Tanpa menemui Mamanya di dapur, dia masuk ke kamar mandi. "Nel, taru di situ saja. Nanti Mama cuci." Teriak Bu Wenny dari dapur saat mendengar suara air, yang menandakan Nelson sedang mencuci di kamar mandi.
"Aku saja, Ma. Cuma underwear. Kalau yang lain, sudah dicuci Tine." Nelson menjelaskan setelah keluar dari kamar mandi untuk menjemur.
"Tine baik padamu?" Tanya Bu Weny.
"Baik, Ma. Sekarang dia sudah besar, cantik dan baik hati. Wajahnya lebih mirip Kakek..." Nelson menceritakan tentang Tine, tanpa menyinggung orang tuanya atau Zeth.
"Syukurlah, dia tumbuh dengan pemikiran dan hati yang berbeda dari Mamanya." Bu Weny tidak bisa menyalakan sikap Papanya yang dikenal baik, dan berubah setelah menikah.
"Iya, Ma. Papa sudah tahu, kalau Tine tinggal sama Kakek?" Tanya Nelson saat Papanya masuk ke dapur.
"Tidak. Apa sebelum kau datang dia sudah tinggal sama Kakek?"
"Sudah, Pa. Sekarang Tine lebih memilih tinggal dengan Kakek...." Nelson menceritakan hari-hari yang dilakukan Tine bersama Kakek.
"Syukurlah. Jadi kita bisa tenang, ada yang temani Kakek."
"Iya, Pa. Kalau tahu Tine tinggal di rumah, kita titip sesuatu padanya dengan Kakek." Bu Weny ingat yang dibawa Nelson hanya buat Kakek Samy.
"Tine ngerti, kok, Ma. Aku sudah jelasin, karna gak tahu dia tinggal dengan Kakek..." Nelson menceritakan dan menyampaikan terima kasih Kakek buat titipan Mamanya.
"Oh, iya. Papa tahu kalau jalan ke gunung sudah rapi dan keren?"
"Iya. Ada teman di kantor cerita. Bagaimana menurutmu?"
"Hotmixnya bagus dan marka jalannya jelas, Pa. Jadi sekarang ke gunung lebih cepat. Jadi kalau pergi pagi, sore bisa pulang lagi, Pa..." Nelson menjelaskan lagi, agar Papanya tergerak ke gunung bersamanya.
"Baguslah. Kalau cuma Tine yang tinggal dengan Kakek, nanti kita bisa ke sana lihat Kakek." Pak Esra memutuskan, disambut tautan tangan senang Nelson dan Mamanya.
Nelson memasukan tangan ke kantong celana. "Ma, ini ada sedikit uang. Mungkin hari selasa Mama mau masak enak buat kita setelah aku pulang ujian." Nelson meletakan beberapa lembar uang ratusan ribu di depan Mamanya.
"Kau dapat uang dari mana?" Mamanya melihat dengan mata membulat, begitu juga dengan Papanya.
"Dikasih Kakek buat traktir teman, Ma, Pa."
"Kau simpan saja. Mama sudah siapkan. Apa lagi ada ikan yang dikasih Monce." Bu Weny menolak.
"Iya, simpan saja. Mungkin kau butuh untuk yang lebih penting." Pak Esra menambahkan dengan perasaan penuh ingat Papanya.
~••~
Ke esokan pagi ; Nelson pergi ke bank untuk menabung uang pemberian Kakeknya sebelum ke kampus.
Dia tidak mengatakan kepada Angga dan Monce, kalau mau ke kampus untuk mengecek situasi sebelum ujian. Agar dia bisa cepat pulang ke rumah.
Setelah tiba di kampus, dia menitip helm, lalu berjalan cepat meninggalkan tempat parkir. "Pagi Kak Nelson." Sapa Alena yang melihatnya keluar dari tempat parkir motor.
"Pagi. Kau ada kuliah pagi ini?" Nelson heran melihat kehadiran Alena di kampus.
"Belum, Kak. Tadi bertemu dosen, tanggung kalau pulang lagi. Jadi tunggu di sini saja." Alena menjelaskan detail, karena melihat alis Nelson bertaut melihat dia sendiri, tanpa teman-temannya.
"Oh, ok. Aku mau ke atas." Nelson menunjuk ke arah atas fakultas teknik.
"Silahkan, Kak. Semangat. Semoga besok sukses." Alena memberi semangat lalu berjalan ke arah fakultasnya.
Nelson makin heran melihat sikap Alena. 'Dia tahu aku mau ujian besok?' Nelson membatin sambil berjalan ke fakultasnya.
~•~
Ke esokan hari ; Nelson ke kampus dengan penampilan rapi dan formal, hingga membuatnya bersinar di antara beberapa mahasiswa senior yang mengikuti sidang skripsi di hari yang sama.
Sambil menunggu waktu dipanggil, dia duduk jauh dari para senior, agar tidak diajak bercakap-cakap. Dia butuh konsentrasi, agar yang sudah dipersiapkan tidak buyar.
'Tuhan tolong aku.' Hanya itu yang terucap berulang kali dalam hatinya. Dia yakin, walau sudah persiapan sebaik mungkin, dia butuh ketenangan agar mampu memaparkan hasil penelitian dan menjawab pertanyaan dosen penguji dengan tepat dan benar.
Terutama saat hadapi pertanyaan kritis dan menjebak dari para penguji. Hanya Tuhan yang bisa membuatnya tenang, berpikir jernih dan menyempurnakan persiapannya.
Ketika namanya dipanggil, Nelson masuk disertai tatapan para senior yang menyemangatinya. Dia kembali berdoa dalam hati, saat merasakan aura tegang yang dingin, juga tatapan tajam para penguji.
'Ternyata begini ujian skripsi. Kalau tidak tenang dan kuat mental, bisa ambyar semua.' Nelson membatin sambil berdoa. Dia duduk tenang dan percaya diri dengan semua persiapannya.
Para penguji yang sudah mengetahui prestasi Nelson, jadi penasaran dan ingin mengetahui pengetahuannya. Mereka menguji dia dengan berbagai pertanyaan. Nelson menjawab semua pertanyaan penguji dengan jelas dan padat.
Para penguji takjub mendengar setiap jawaban Nelson yang tepat, hingga tidak perlu diulang. Membuat sidang skripsi berlangsung cepat dan efektif.
Ketika diumumkan nilai skripsi nya A dan merai predikat kelulusan dengan summa cumlaude, Nelson serasa terbang. Hatinya menunduk, bersyukur. 'Terima kasih Tuhan.' Dia yakin, Tuhan telah membuat dia mampu menguasai materi dan hasil penelitiannya.
Sebelum keluar, dosen pembimbing mendekatinya. "Ingat, kau sudah berjanji akan menjadi dosen di sini. Sambil menunggu wisuda dan lainnya, kau akan lanjut sebagai asisten dosen." Dosen pembimbing tidak ingin Nelson dibajak oleh kampus lain.
"Iya, Pak. Terima kasih." Nelson menyalami dengan hati penuh. Dengan demikian, dia pasti akan melanjutkan S2, agar bisa menjadi dosen.
Ketika keluar, dia terkejut melihat Angga dan Monce sudah menunggu. "Selamat ya, Son." Angga langsung memeluknya.
"Kalian sudah tahu aku lulus?" Tanya Nelson sambil balas memeluk Angga dan Monce.
"Dinding bertelinga. Apa lagi pintu." Ucap Monce sambil tersenyum dan menepuk pundak Nelson berulang kali. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa bangga padanya yang sangat membanggakan.
"Ayo, kita pergi sebelum ada yang menarikmu dan siang baru sampai kota." Ajak Angga serius. Tidak ada lagi canda tawa seperti sebelumnya.
"Kita mau kemana?"
"Kau lupa janjiku untuk mentraktir, kalau kau lulus ujian?"
"Tapi kenapa di kota?"
"Di kota, ada restoran lezat yang cocok dengan predikat summa cumlaude." Ucapan Angga membuat Nelson merangkul bahunya.
"Tapi tunggu ya. Aku mau telpon Papa Mama dan Kakekku." Nelson mau keluarkan ponsel, tapi dicegah Monce.
"Nanti telpon di mobil, supaya tidak diganggu." Angga dan Monce tidak melepaskan Nelson. Mereka merangkulnya ke tempat parkir mobil.
Alena yang mengikuti berita tentang ujian skripsi Nelson dan sudah tahu hasilnya, melihat Nelson dari jauh dengan suasana hati seperti ombak ditiup angin timur.
Namun dia tidak bisa mendekati Nelson yang dikawal oleh Angga dan Monce. Hatinya makin bergelombang melihat kegembiraan Nelson dan kedua temannya. Sangat berbeda dengan pertemanannya yang mulai suam-suam.
...~•••~...
...~•○♡○•~...