Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bazar makanan
Jakarta malam itu menunjukkan hingar-bingarnya ketika Rora dan Kay Morgan telah sampai di tempat tujuan. Mana lagi kalau bukan bazar makanan. Namun sayang sekali, lantaran tempat itu terlalu padat, mereka tidak mendapatkan tempat untuk parkir. Jadilah keduanya harus berjalan melewati trotoar pejalan kaki untuk sampai di sana.
"Sumpah ya! Harusnya gue ganti baju dulu tadi," rajuk Rora seraya menunduk-menatap nanar piyama bergambar doraemon yang dipakainya.
Rora menghela napasnya setiap melihat orang lain, khususnya gadis seumurannya yang memakai pakaian lebih 'layak'.
"Ke sini cuma makan, bukan mau catwalk," sanggah Kay Morgan, seraya menoel-noel pipi gadis di sebelahnya.
Di tempatnya Rora mengerang, nggak tahu aja si Kay Morgan kalau dirinya tuh termasuk orang yang mementingkan penampilan. Tahu kenapa? Ya karena Rora sadar, kalau dia nggak secantik Sheila atau se-keren Rami.
When insecurity, hits you so hard!
Sesaat gadis itu meringis mengamati penampilan Kay Morgan, hanya dengan kaos Erigo dan celana pendek sebatas lutut—cowok itu terlihat luar biasa tampannya.
Sial! Rora nggak terima!
"Kayaknya cuma gue yang ke sini pake baju tidur." Rora kembali membeo.
"Gue malu!" katanya lagi.
"Lo itu cantik, ngapain malu?" Kay Morgan berbisik, sebelum menggenggam jemari Rora untuk menyeberangi trotoar.
"Kok tangan lo dingin?" Kay Morgan mengernyit seraya mengangkat tautan tangan keduanya.
Rora gelagapan, bingung juga kok ngerasa panas dingin. "Nggak apa-apa!" desis Rora pelan, seraya menarik tangannya dari genggaman Kay Morgan.
Diam-diam Rora mengambil nafas banyak-banyak. Mencoba meredam rasa gugup dan rona merah pada wajahnya.
Kenapa sih, Kay Morgan kalau ngomong nggak mikir dulu dampaknya ke Rora?!
Sesampainya di sana, keduanya disambut oleh gemerlap lampu hias dan kibaran Bendera Indonesia di dekat pintu masuk. Suasana terasa ramai, belum lagi lagu Lost in Japan milik Shawn Mendes semakin memeriahkan suasana bazar malam itu.
Rora berdiri di tempatnya dengan sorot mata berbinar. Menatap satu per satu stan makanan yang langsung berhasil menarik perhatiannya.
Ini sih namanya surga dunia!
Tempat yang membentang luas itu nyatanya menyajikan makanan yang sukses membuat siapapun yang melihatnya meneguk ludah. Tidak percaya? Bayangkan saja, begitu masuk pengunjung akan dimanjakan dengan barisan stan yang menyajikan olahan makanan laut, panggang-panggangan, dan dimsum.
Jangan lupa dengan makanan seperti telur gulung, sosis, bakso dan jagung bakar di stan penjual kaki lima. Saking banyaknya makanan, Rora nggak kaget kalau ternyata bittersweet juga buka stan di sana.
"Ih! Gue pengen makan semua," kata Rora dengan mata berbinar.
Belum sempat Kay Morgan menyanggah, tiba-tiba lengannya sudah ditarik dulu oleh Rora. Gadis itu mengajaknya ke stan dimsum. "Lo lapar apa cuma doyan?" sindirnya ketika melihat Rora memesan banyak sekali makanan.
"Pesen secukupnya, kalau lo kenyang di awal nggak bisa cobain makanan yang lainnya."
Mendengar itu Rora mencebikkan bibirnya kesal, namun gadis itu menurut saja. Dan ya! Dirinya hanya memesan setengah porsi, itu pun akhirnya dimakan berdua bareng Kay Morgan.
"Tadi nggak mau pesan!" desis Rora kesal sendiri ketika Kay Morgan menghabiskan makanannya.
Kalian pasti punya kan, teman yang disuruh beli nggak mau, tapi ngerebusin makanan orang? Iya! Titisannya gopal!
Untung ya, Rora tahu diri—soalnya di sini dia kan ditraktir, jadi nggak bisa marah kalau Kay Morgan tiba-tiba mencomot makanannya.
"Pesan lagi! Ini buat gue," ucap Kay Morgan yang membuat Rora mau tak mau kembali mengantri di stan cumi-cumi bakar.
Selang beberapa menit, keduanya melanjutkan perburuan makanan. Mulai dari seblak, minuman boba, sampai sosis goreng tepung. Tahu apa yang lucu? Mereka berdua ini punya dua tiket, tapi yang dipakai cuma satu tiket. Ya! Kebanyakan pesan satu makanan untuk dimakan berdua, bukan apa-apa—tapi biar nggak cepat kenyang aja.
Oh! Satu hal yang Rora sadari, baik dirinya dan Kay Morgan sama-sama pecinta makanan pedas.
"Ayo makan bakso aci!" Lagi-lagi saja hanya mengekor langkah ketika Rora menariknya ke Sejak tadi memang Rora yang memilih makanan, sementara Kay Morgan hanya mengikuti gadis itu. Berjaga-jaga kalau makanan Rora nggak habis, yang harus turun tangan ya Kay Morgan. Tapi sejauh ini Rora selalu menghabiskan makanan yang dirinya beli, gadis itu tidak asal pesan.
Jujur aja sih, Kay Morgan agak kaget dengan porsi makan Rora. Kayak orang nggak makan seminggu.
"Bakso aci super pedas, 2 porsi!" kata Rora kepada kang bakso aci.
Gadis itu lantas duduk di bangku di hadapan Kay Morgan.
"Habis ini makan apa lagi ya?" tanya Rora seraya mengedarkan pandang ke sekitar. Mata tajamnya seolah mengabsen satu persatu stan makanan yang belum dirinya dan Kay Morgan coba.
"Terserah." Biasanya sih ceweknya yang bilang gini-eh! Ini malah kebalik.
"Coba makan kerang di sana yuk! Dari tadi belum makan makanan laut."
"Iya," jawab Kay Morgan kalem.
Keduanya lantas terdiam sampai makanan keduanya datang. "Makasih kang!" ujar Kay Morgan.
"Suapin, sayang!"
"Ih malu."
"Nggak apa-apa. Aku nggak mau makan kalau nggak disuapin."
"Kamu kok manja sih?"
"Biarin! Masa manja ke pacar sendiri, nggak boleh?"
"Deketan sini, nanti kuahnya tumpah."
"Buka mulut! Aaaa..."
Baik Kay Morgan dan Rora langsung menghentikan pergerakan masing-masing. Menatap tanpa minat sepasang kekasih yang tengah mabuk asmara di meja sebelah. Bukan meja sebelah aja sih, kebanyakan emang yang datang gitu orang pacaran—ada yang dari tadi gandengan tangan, rangkul-rangkulan, suap-suapan, ada juga tadi yang ribut gara-gara ketahuan selingkuh.
Komplit! Tapi nggak kaget sih, soalnya ini kan malam minggu.
"Kenapa nggak makan?" tanya Kay Morgan ketika Rora tidak kunjung menyentuh makanannya.
"Nggak nafsu." Gue iri, gue bilang! Nasib punya pacar, tapi LDR!
"Mau aku suapin?" tawar Kay Morgan tiba-tiba.
Rora melebarkan matanya. "A-aku?"
"Iya, kamu." Kay Morgan tersenyum penuh pesona detik selanjutnya.
"Ja-jangan ngaco!" herdik Rora, dengan wajah galak.
Sialnya, itu justru menggemaskan di mata Kay Morgan.
"Kenapa kamu nggak mau?" tanya Kay Morgan seolah semakin gencar menggoda Rora.
"Stop! Geli tau nggak?!"
"Dih ya udah! Jadi nggak mau?" tawar Kay Morgan belum berhenti mencoba.
"Nggak!"
"Kalau gitu, kamu aja yang nyuapin aku."
"Kay Morgan stop!" Gue baper! lanjutnya dalam hati.
Kay Morgan menyeringai kecil detik selanjutnya. "Iya-iya. Makanya buruan dimakan!"
"Iya." Rora menurut. Keduanya lantas mulai memakan bakso aci dengan ditemani keramaian malam itu.
Nyatanya semakin malam, lampu-lampu terlihat semakin semarak. Begitu juga dengan pengunjung yang terlihat semakin memenuhi bazar makanan.
Tiba-tiba saja Rora berdiri dari tempatnya. "Mau kemana?" tanya Kay Morgan, cepat.
"Beli minum, mau?" Kay Morgan menggeleng, dia udah mabok minum boba.
Lantas ekor matanya mengawasi sosok Rora yang saat ini berjalan ke arah stan minuman. Cowok itu tidak mengalihkan pandang sedetikpun dari figur Rora yang terlihat tengah mengantri minuman. Seolah ada magnet yang menarik Kay Morgan untuk terus mengawasi pergerakan gadis itu.
Dih! Protektif amat si bapak.
Barulah ketika Rora kembali duduk di depannya, Kay Morgan bisa mengalihkan pandangannya.
Rora mengernyit. "Kok nggak dimakan?" tanya Rora seraya menyeruput minumannya.
"Nungguin kamu." Sialan! Rora langsung keselek tenggorokannya.
Kay Morgan mengulas senyum gelinya, melihat Rora tengah memegangi perutnya sendiri dengan wajah kekenyangan. Ya gimana nggak kenyang, orang habis makan bakso aci Rora minta makan kerang, kebab sama takoyaki.
Kay Morgan mengulurkan tangannya, mengusap jejak saus pada ujung bibir Rora dengan jemarinya. Di tempatnya Rora terdiam, canggung.
Sial!
"Mau pulang?" tawar Kay Morgan yang membuat gadis itu mengangguk sebagai jawaban.
"Udah kenyang banget, sekarang gue pengen tidur."
Emang ya, orang kalau udah kenyang tinggal tidurnya.
"Yaudah ayo tidur!" ajak Kay Morgan, terdengar ambigu di telinga Rora.
"Hah?"
"Maksudnya ayo pulang, nanti lo tidur." Ditariknya lengan Rora untuk berdiri dari tempatnya. Keduanya lantas berjalan ke arah pintu keluar, kembali menyusuri trotoar yang tidak seramai tadi dengan langkah bersisian.
"Atas rangka apa lo ngajak gue ke sini?" tanya Rora, tiba-tiba merasa curiga.
Ya bukan apa-apa, tahu sendiri kan Kay Morgan kalau sama Rora sukanya ganggu. Nggak ada baik-baiknya tuh cowok kalau sama dia—eh! Ini tiba-tiba malah traktir makan.
"Gue ulang tahun."
"Hah?! Hari ini?!" tanya Rora super kaget.
Kay Morgan mengusap tengkuknya. "Nggak sih, besok."
Mendengar itu Rora langsung mengangkat jam tangan yang melingkar di tangannya.
23.56 WIB
"Terus kok lo kok malah ngajak gue sini?" selidiknya dengan tatapan terheran-heran.
"Kenapa emang, kan lo doyan makan?" balas Kay Morgan tanpa lupa menyindir Rora.
Sialan nih cowok!
"Nggak gitu! Maksud gue kan harusnya lo di rumah, nunggu orang tua lo kasih kejutan gitu."
Pasti nggak cuma Rora doang kan, yang kalau ulang tahun—setiap tengah malam bakal nggak bisa tidur, karena udah tahu bakal dikasih kejutan. Ya! Orang tuanya bakal kasih kejutan pakai kue ulang tahun mini, dan hadiah utama yang biasanya ponsel baru.
Peran Rora sih, setiap tahunnya cuma pura-pura kaget biar orang tuanya puas.
Lah! Ini sih Kay Morgan kok malah ngajak kelayapan sampai tengah malam? Aneh banget deh!
"Nggak," jawaban singkat dari Kay Morgan berhasil membuat kerutan pada dahi Rora tercetak jelas.
"Kok nggak?"
"Ya nggak." Kay Morgan mengalihkan pandang, memilih menatap ke arah lain.
Gimana mau ngerayain, boro-boro inget tanggal ulang tahunnya. Kay Morgan kelayapan sampai tengah malam gini aja, orang tuanya nggak tahu—oh! Atau mungkin mereka nggak peduli.
"Gue pengen sedekah aja, di hari spesial gini kan wajib hukumnya memberi kepada sesama," lanjut Kay Morgan yang sukses membuat Rora merasa tertohok.
"Maksud lo, gue kaum dhuafa?"
Dhuafa; istilah umum yang merujuk kepada suatu kondisi seseorang atau kelompok atau golongan yang hidup dalam ketidakberdayaan baik secara ekonomi maupun secara sosial.
Kay Morgan nyengir sambil nunjuk-nunjuk dahi Rora. "Gue nggak bilang gitu ya, lo yang ngerasa sendiri." Cowok itu lantas tertawa.
Ih! Demi Alek—ini cowok nyebelin banget!
Rora memegangi perutnya yang masih terasa penuh. Rasanya pengen keluarin lagi makanan yang ditraktir sama Kay Morgan. "Bercanda, jangan marah!" bujuk Kay Morgan dengan lembut.
"Diem!"
Sejurus kemudian, Rora merasa tangannya ditahan untuk menghentikan langkah.
"Apa?" tanya Rora ke arah Kay Morgan.
"Minta kado!" pinta Kay Morgan seraya menadahkan kedua tangannya di depan Rora.
Rora mengerjap melihatnya.
Ih! Kok... gemes?! Ini cowok kesambet apaan sih?!
Rora berdehem pelan. "Ka-do?" Rora mendengus mendengarnya. "Nggak ada! Lo nggak bilang sih kalau lagi ulang tahun."
"Kan sekarang udah bilang."
"Ya kan mendadak!" ketus Rora setengah emosi.
"Yaudah!" detik selanjutnya Kay Morgan melepaskan cekalannya pada Rora. Cowok itu lantas berjalan mendahuluinya.
Tunggu! Dia ngambek?!
Rora bergeming di tempat. Fix! Itu cowok kesurupan, masa kelakuannya kayak bocah gitu, tiba-tiba.
Anehnya tuh, Rora jadi panik waktu Kay Morgan ninggalin dia. Kampret!
Gadis itu lantas berlari mengejar langkah lebar milik Kay Morgan, diraihnya lengan cowok itu untuk berhenti. "Tunggu dong!" katanya dengan nafas tersenggal.
"Gue ada hadiah nih." Detik selanjutnya Rora merogoh sakunya, mengeluarkan sepasang gelang dari sana.
Sebelumnya Rora membelinya di toko cenderamata, gadis itu berniat membelikannya untuk Rami. Biar kembaran gitu. Tapi nggak tahu, Rora kok malah kasihnya ke Kay Morgan. Kebetulan juga gelangnya itu model cocok buat siapa saja.
"Tapi ini harganya cuma 14 ribu." ucap Rora canggung, seraya memasangkan gelang tali berwarna biru tua polos di tangan Kay Morgan.
Rora mengamati gelang yang melingkar di tangan Kay Morgan. Sesaat gadis itu meringis, duh! kelihatan murahan banget.
"Lepas aja deh! Jelek gitu—" Rora terkejut ketika Kay Morgan menjauhkan tangannya.
"Makasih buat kadonya." Kay Morgan berujar dengan netra memandang lekat wajah Rora.
Sekali lagi, Rora melirik gelang pemberiannya yang melingkar di tangan Kay Morgan. Aneh mendapati dadanya berdesir hangat mendapati cowok itu mau menerima hadiah kecil darinya. Bukan apa-apa, hanya saja Rora itu tahu Kay Morgan tajir melintir—hadiah kayak gitu pasti bukan apa-apa.
"Sama-sama," sanggahnya seraya mengangguk anggukan kepalanya.
Rora mendongak, membalas tatapan intens yang Kay Morgan berikan kepadanya.
"Selamat ulang tahun ya, adik ipar!" ucap Rora, seraya berjinjit untuk mengusap pelan ujung kepala Kay Morgan, sampai kepala cowok itu ikut tertunduk ke arahnya.
Rora juga melemparkan seulas senyum lebar kepada Kay Morgan.
Gadis itu jelas tidak sadar, jika perlakuannya sukses membuat tubuh jangkung itu bergeming kaku. "Makasih. Tapi gue bukan adik ipar lo," tandas Kay Morgan dengan nada dingin yang mengudara.
Di tempatnya senyum pada bibir Rora luntur, gadis itu mengerjap canggung dan langsung menarik tangannya yang masih berada di puncak kepala Kay Morgan—tetapi dengan cepat, cowok itu menahannya.
Tidak! Bukan hanya menahan, Kay Morgan juga menarik tangannya untuk melingkar di tengkuk pemuda itu. Kesadaran Rora masih terganggu ketika Kay Morgan sudah meletakkan kedua tangannya di pipi gadis itu.
"Jangan panggil gue adik ipar, gue nggak suka." Suara dengan intonasi rendah itu terdengar menginterupsi.
"Ma-maaf. Gue cuma—"
Kay Morgan masih memandang wajah Rora dengan sorot serius. "Ayo ciuman!"
Kedua mata Rora terbelalak terkejut, mendengar ajakan dari Kay Morgan. Jantung Rora berdegup sangat kencang, tatkala sosok jangkung di hadapannya itu mulai menempelkan dahi keduanya.
"Mau nggak?" tanya Kay Morgan, lagi.
Rora mematung, gadis itu masih diam bahkan ketika dirinya sadar jika udara yang bersarang di antara mereka sudah surut—tergantikan dengan deru nafas milik Kay Morgan semakin lama terasa mendera bibir dan wajahnya.
Menahan nafas, lantas dengan ragu—Rora mulai memejamkan matanya rapat-rapat.
Cup!
Kay Morgan menciumnya. Tepat di bibir.
Respon wajarnya, Rora akan mendorong tubuh Kay Morgan untuk menjauh, bahkan mungkin dirinya harus menampar sisi wajah cowok itu.
Namun sekali lagi, otak dan saraf tubuhnya tidak bekerja sama dengan baik. Di sisi lain, merasa tidak ada penolakan dari Rora—Kay Morgan memberanikan diri untuk menggerakkan bibirnya, menyapukannya dengan lembut di permukaan bibir tipis Rora.
Seolah lupa jika keduanya tengah berada di tempat umum.
Tubuh Rora meremang ketika Kay Morgan menyudahi aksinya, lantas memberikan sebuah kecupan penuh arti pada sudut bibirnya.
Rora menunduk mendapati tubuhnya bereaksi lain dengan otaknya. Bagaimana ini, nyatanya ribuan kupu-kupu terasa memenuhi perutnya. Gadis itu bahagia sekarang, walau tidak seharusnya. Bersama Kay Morgan dirinya bisa merasakan apa itu euforia; perasaan yang seharusnya dirinya dapat dari sosok Shayen Morgan.
Ini salah, bahkan kelewat salah. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya... hanya kali ini saja, Rora tidak ingin menjadi benar.
...****************...
Selamat, anda telah membaca cerita perselingkuhan-tapi boong! Ini cerita Azab Indosiar🤦♀️💅
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa baca buku yg lain yahh ...