Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Situasi makin rumit dengan hadirnya Liam, investor besar yang selalu ada untuk Mia setelah perceraian. Dengan ketulusannya, Liam siap melindungi Mia dan menjadi saingan berat Ethan yang ingin merebut kembali hati sang mantan istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Bukan Milikmu Lagi
Suasana di ballroom utama Grand Hyatt malam itu berkilauan bagai lautan bintang. Lampu-lampu gantung kristal membiaskan cahaya ke sekeliling ruangan, memantul di atas deretan kaca pameran yang memajang perhiasan bernilai ratusan juta dolar.
Puluhan fotografer dan awak media sudah memadati area red carpet. Kilatan lampu kamera tak henti-hentinya menyambar setiap kali jajaran tamu VIP melintas.
Di dalam ruang tunggu eksklusif, Ethan berdiri di depan cermin berbingkai emas, merapikan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya. Setelan jas tuksedo hitam buatan Issey Miyake melekat sempurna di tubuh tegapnya, memberikan kesan elegan namun misterius.
Pikirannya melayang pada peringatan Marcus kemarin. Liam Vance yang memegang kendali. Frasa itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak, membakar harga dirinya perlahan.
Pintu ruang tunggu terbuka. Sarah Parker melangkah masuk dengan gaun satin champagne bergaya strapless yang menjuntai indah. Sebuah kalung berlian melingkari leher jenjangnya, memancarkan kilau mewah yang memikat.
“Kamu terlihat sangat siap untuk memasuki sarang serigala, Ethan,” ujar Sarah seraya tersenyum tipis, mengamati rahang Ethan yang kaku.
“Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai profesional, Sarah,” balas Ethan singkat, berusaha menyembunyikan getaran ketegangan dalam suaranya.
“Bagus. Karena bagaimanapun juga, malam ini semua mata tertuju pada kita berdua. Jangan biarkan emosimu merusak sorotan,” bisik Sarah lembut sambil menyatukan lengannya ke lengan Ethan.
Saat mereka melangkah keluar menuju ruang utama pameran, suara riuh tepuk tangan dan brondongan jepretan kamera langsung menyambut kehadiran dua bintang utama tersebut.
Ethan mengulas senyum terbaiknya di depan kamera, bergerak anggun dari satu stan pameran ke stan lainnya, memperagakan lini koleksi terbaru dari Vance Jewelry sesuai arahan koordinator acara.
Namun, fokusnya seketika buyar ketika riuh rendah di pintu masuk utama mendadak senyap, digantikan oleh bisik-bisik kagum yang menjalar cepat ke seluruh ruangan.
Barisan pengawal berjas hitam membuka jalan. Seorang pria bertubuh jangkung melangkah masuk dengan aura dominasi yang begitu pekat hingga mampu menyerap perhatian seluruh isi ruangan.
Liam Vance.
Pria itu tampak sangat berkuasa dengan jas abu-abu gelap potongan savile row.
Akan tetapi bukan kehadiran Liam yang membuat napas Ethan tertahan di tenggorokan, melainkan wanita yang berjalan di sisi pria itu.
Mia.
Wanita itu tampak sangat memesona sekaligus rapuh. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru navy berlengan panjang berbahan sutra halus, salah satu koleksi gaun yang dikirimkan ke penthouse pagi kemarin.
Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajah cantiknya yang dipoles riasan tipis. Di lehernya, terlingkar sebuah liontin safir biru yang dikelilingi berlian kecil, memancarkan pesona yang sangat anggun.
Ethan terkesima sekaligus syok ringan karena wanita yang dicarinya beberapa hari belakangan ini, bagaimana bisa datang bersama Liam.
“Apa wanita itu benar-benar Mia atau aku hanya berhalusinasi?” bisik Ethan di dalam hatinya. Tak percaya dengan penglihatannya.
Tatapan mata Ethan dan Mia bertabrakan di udara. Mia menghentikan langkahnya sejenak, matanya melebar penuh keterkejutan saat menyadari Ethan berdiri hanya belasan meter darinya. Bibirnya sedikit terbuka, memanggil nama Ethan tanpa suara.
Liam menyadari perubahan dinamika itu. Tanpa menghentikan langkah, jemari Liam bergeser menangkup pinggang Mia dengan posesif, menarik tubuh wanita itu lebih rapat ke sisinya. Tatapan tajam Liam berganti mengarah lurus pada Ethan, sebuah tatapan penuh kemenangan dan peringatan yang amat dingin.
Ethan mengepalkan tangannya di balik saku celana hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang ditahannya sejak kemarin kini memuncak, membakar seluruh bujukan masuk akal dari Marcus.
Liam sengaja mengosongkan jadwal syutingnya, memaksanya hadir di sini, hanya untuk menyaksikan secara langsung bahwa Mia kini berada di bawah kendalinya.
“Ethan, kamera masih mengawasi kita,” bisik Sarah, menyadari perubahan raut wajah Ethan yang terlihat tak nyaman.
Liam membawa Mia melangkah mendekati area pameran utama tempat Ethan dan Sarah berdiri. Setiap langkah Liam terasa bagai ketukan drum perang yang semakin mendekat.
“Selamat malam, Ethan,” sapa Liam dengan suara beratnya yang tenang, berhenti tepat di hadapan aktor tersebut.
“Aku harap perubahan jadwal syuting tidak mengganggu profesionalisme kerjamu.”
Ethan menatap Liam tanpa gentar, lalu matanya beralih menatap Mia yang menunduk tak berani menatapnya balik.
“Tentu saja tidak, Tuan Vance,” jawab Ethan dengan nada dingin yang teratur.
Ia kemudian menarik napas panjang, memaksakan suaranya tetap stabil walau dadanya terasa bergemuruh hebat. “Seorang profesional sejati selalu tahu cara menyesuaikan diri dengan situasi, sehebat apa pun manipulasi yang terjadi di balik layar, Tuan Vance."
Senyum tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibir Liam. Tanpa melepas genggamannya pada pinggang Mia, ia mengibaskan sebelah tangan dengan santai.
“Baguslah kalau begitu. Sebab di dunia bisnis dan hiburan, kemampuan untuk menerima kenyataan adalah aset paling berharga. Terkadang, kita harus belajar merelakan hal-hal yang memang sejak awal bukan milik kita,” sahut Liam dingin.
Sindiran itu mendarat tepat di ulu hati Ethan. Membuat hatinya serasa seperti diremas kuat.
Namun di sisi lain, Mia justru merasa dadanya dihantam kepanikan luar biasa. Cengkeraman jemari Liam di pinggangnya membuat seluruh tubuh Mia kaku seketika. Pertemuan yang paling dihindarinya adalah berdiri tepat di hadapan mantan suami rahasianya di bawah sorotan puluhan kamera itu kini terjadi dengan cara yang paling mengerikan.
Mia meremas kain gaun birunya, berusaha keras menyembunyikan getaran di tangannya. Rasa canggung yang amat hebat menjalar cepat di antara dirinya dan Ethan. Ada dinding ketidaknyamanan yang tebal melingkupi mereka berdua.
Mia tak berani menatap mata Ethan secara langsung, takut jika rahasia masa lalu mereka yang terkubur rapat tiba-tiba membayang di wajahnya. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke lantai, ingin rasanya lantai tempatnya berdiri retak dan menelannya bulat-bulat.
Liam menarik Mia sedikit lebih maju ke hadapan media dan orang-orang di sekitar.
“Kenalkan, ini Mia. Dan malam ini, dia adalah pusat dari seluruh perhatianku,” ujar Liam penuh keyakinan.
Kilatan lampu kamera kembali menyambar ganas. Mia memaksakan sebuah senyum tipis yang amat kaku, menahan napas sewaktu menyadari tatapan Ethan masih tertuju padanya. Ada banyak pertanyaan dan kekecewaan di mata pria itu, namun Mia enggan memberi ruang sedikit pun untuk nostalgia.
Bagi Mia, Ethan adalah masa lalu yang penuh risiko, seorang mantan suami yang sengaja ia jauhi demi menata kembali hidupnya yang terpisah dari bayang-bayang pria itu.
Sarah Parker, yang mengamati interaksi sarat ketegangan tersebut, segera mengambil alih kendali. Ia mengetatkan pegangannya pada lengan Ethan untuk memberi peringatan keras, lalu tersenyum menawan ke arah kamera.
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda malam ini, Tuan Vance,” potong Sarah manis, memecah suasana canggung yang menyesakkan. “Dan Nona Mia terlihat sangat anggun memamerkan koleksi Anda.”
Liam mengangguk tipis, mengabaikan ramah-tamah Sarah. Tatapannya tetap tertuju lurus pada Ethan. “Maaf, kami permisi dulu. Ada beberapa investor yang harus kusapa.”
Sebelum berbalik, Liam merapatkan tubuh Mia ke sisinya. Mia menurut pasrah, bukan karena dorongan romantis pada Liam, melainkan semata-mata karena ia ingin secepat mungkin keluar dari jarak pandang Ethan. Perasaan canggung dan serba salah itu terlalu menyiksa.
Mia melangkah menyusuri red carpet mengikuti ritme Liam tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia melangkah lurus ke depan, berusaha keras mengunci rapat-rapat fakta bahwa pria yang baru saja ia lewati adalah pria yang pernah mengikat janji suci dengannya di masa lalu.
–tbc–
Buat teman²... Thank you so much sudah mampir di karya recehan ini🙏🏻