Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 31
Ambulan terus membunyikan sirine selama perjalanan ke rumah sakit. Saat sampai, Rara yang belum sadar langsung dibawa masuk ke IGD. Dokter langsung gerak cepat memberi penanganan padanya.
Disisi lain, tepatnya dirumah, Nadia dan suaminya sedang fokus menonton film bersama. Film drama romantis yang membuat penonton kadang terharu atau bahagia yang menyentuh hati.
Ponsel Nadia yang ia letakkan diatas meja berdering. Layarnya menyala dan menampakkan panggilan dari nomor tak dikenal. Ia meraih ponselnya, sempat ada perasaan ragu untuk menjawabnya namun ia abaikan perasaan itu.
"halo, ini siapa ya ?" tanya Nadia.
Selamat malam ibu. Maaf menganggu malamnya. Apakah ini dengan keluarga Rara ?
"iya benar, saya kakaknya. Ada apa ya sama adik saya?" jawab Nadia. Ia menoleh ke suaminya dan beradu pandang padanya.
kami mau mengabarkan kalau Rara sekarang ada dirumah sakit. Sedang dalam penanganan pasca kecelakaan.
Nadia langsung terkejut. Jantung berdegup kencang dan dihantam perasaan cemas terhadap kondisi adiknya.
"Rara kenapa ?" tanya Rio lirih. Ia langsung penasaran setelah melihat reaksi istrinya.
"terus sekarang dimana adik saya ? Dan gimana kondisinya ?" tanya Nadia panik.
untuk kondisinya masih belum sadar dan sekarang Rara ada di rumah sakit Harapan Kasih.
"baik, baik, saya akan segera kesana," jawab Nadia. Ia langsung matikan panggilannya.
"mas sekarang kita kerumah sakit. Rara habis kecelakaan," ajak Nadia sambil berdiri.
"oke, oke, tenang dulu sayang," jawab Rio. Ia berharap istrinya bisa lebih tenang.
"aku harus tenang gimana ? Rara itu habis kecelakaan, kita harus segera kesana," Jawab Nadia kesal.
"iya aku tahu. Tapi kamu juga harus nenangin kamu dulu. Jangan panik gini. Kalau kamu panik, nanti akan muncul pikiran negatif tentang kondisi Rara dan itu akan semakin memperburuk suasana," jelas Rio. Ia mendekat, lalu menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin.
Nadia perlahan mengatur napasnya dan berusaha menghilangkan paniknya. Perlahan detak jantungnya berdegup normal.
"maaf mas. Aku panik," jawab Nadia
"oke, sekarang kalau kamu sudah tenang, kita kerumah sakit, aku akan ambil kunci mobil dikamar," ucap Rio dengan tatapan lembut. Ia kini berjalan menuju kamar.
Setelah pintu utama rumah sudah dikunci, Nadia segera masuk mobil menemani Rio yang sudah menunggunya. Sesaat kemudian, mobil perlahan melaju menuju rumah sakit.
sekitar 18 menit Nadia dan Rio sampai rumah sakit. Malam ini jalan raya lumayan sepi jadi bisa lebih cepat sampai.
Rumah sakit tempat dirawatnya Rara merupakan tempat kerja Rio. Tidak heran jika sebelum masuk IGD seorang perawat menyapanya saat berpapasan.
"pasien atas nama Rara, dirawat sebelah mana ?" tanya Nadia kepada perawat jaga didampingi Rio.
"pasien tersebut ada diruangan intensif sekarang, sedang dalam penanganan dokter," jawab perawat.
"kamu tenang ya. Semua akan baik-baik saja. Kita tunggu aja sampai penanganan selesai," ujar Rio sambil merangkul Nadia dan mendekatkan ke tubuhnya.
Nadia merasa tenang saat dekat dengan tubuh suaminya. Seakan ia merasakan kehadiran malaikat pelindung yang membuatnya merasa aman.
Rio pun mengajak istrinya duduk dikursi panjang didepan IGD. Kemudian ia meninggalkan istrinya disana. Ia ingin pergi ke ruang intensif dan melihat bagaimana keadaan adik iparnya serta memastikan dalam penanganan yang terbaik.
"kamu tunggu disini ya sayang. Aku mau masuk dulu, lihat Rara. Nanti kalau kamu udah diperbolehkan menjenguknya, aku kabari. Tetap tenang ya," Jelas Rio sebelum melangkah. Ia mengecup kepala istri saat akan berjalan pergi.