NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Keesokan harinya, koridor lantai teratas Aetheris Games terasa seperti lorong menuju ruang eksekusi bagi Alesia Fiore. Kakinya bergetar pelan, sementara tangannya menggenggam erat tas jinjing berisi jas dan kemeja Dante yang telah rusak. Dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki, Alesia mengetuk pintu kayu ek besar di hadapannya.

Tok! Tok!

"Masuk," terdengar sahutan dingin dari dalam.

Alesia mendorong pintu perlahan. Di sana, Dante Luca Alessio sedang duduk tegak di balik meja marmer hitamnya. Di sebelah kirinya, berdiri sang asisten pribadi seorang pria muda berpenampilan rapi bernama Rey.

"Permisi, Pak," ucap Alesia dengan suara yang nyaris berbisik.

Dante mendongak, matanya yang abu-abu langsung mengunci pergerakan Alesia.

"Mana pakaian saya?"

Alesia menelan ludah dengan susah payah. Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan tas jinjing itu di atas meja dengan tangan gemetar.

"Pak... sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Ta-tapi... baju Bapak rusak, Pak."

Mendengar kata 'rusak', rahang Dante seketika mengeras. Pria itu langsung berdiri dari kursinya, menghampiri Alesia dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Ia merebut tas jinjing itu dari tangan Alesia dan langsung mengeluarkan isinya untuk melihatnya sendiri.

Mata Dante menyipit tajam saat melihat kemeja putih mahalnya kini penuh dengan bercak noda luntur merah muda dan biru tua, sementara lapisan dalam jasnya berubah warna menjadi belang-belang tidak karuan.

Dante membuang napas pendek, sebuah helaan napas yang terdengar sangat mematikan di dalam ruangan yang sunyi itu.

"Kamu... nyuci baju saja gak bisa?" ucap Dante pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan penekanan yang menusuk.

"Maaf, Pak... saya benar-benar gak tahu kalau baju tidur saya ternyata luntur," cicit Alesia, kepalanya tertunduk dalam.

"Jadi, kamu mencuci baju saya dicampur dengan baju-baju milikmu itu? Begitu?!" suara Dante meninggi, menyebarkan aura kemarahan yang pekat.

Alesia tidak bisa mengelak lagi. Ia hanya bisa mengangguk pasrah. Perlahan, ia memberanikan diri mendongak, menatap langsung ke dalam mata abu-abu Dante.

Pada saat itu, genangan air mata sudah menumpuk di pelupuk mata Alesia, siap meluncur jatuh kapan saja. Hatinya mencelos membayangkan ia harus kehilangan pekerjaan ini dan mengecewakan orang tuanya yang selalu menuntut kiriman uang.

"Pak, maafkan saya, Pak... Tolong jangan pecat saya. Saya sangat butuh pekerjaan ini, Pak... saya mohon," ucap Alesia dengan suara bergetar menahan tangis, jemarinya bertautan erat menahan takut.

Dante yang sudah bersiap untuk melayangkan amukan paling sarkastis mendadak tertegun. Demi melihat mata bulat Alesia yang berkaca-kaca dan tubuh kecilnya yang gemetaran karena takut, kemarahan di dada Dante entah mengapa mendadak menyusut. Tatapan matanya yang semula sekeras es batu perlahan mulai melunak.

Selama hidupnya, Dante Luca Alessio tidak pernah memberi ampun kepada siapa pun yang melakukan kesalahan dalam bekerja, bahkan kepada wanita sekalipun.

Namun, melihat air mata Alesia yang siap tumpah, ada secercah rasa iba yang asing mendadak menyergap hatinya. Dante berdeham pelan, mencoba mengembalikan wibawa dinginnya.

Ia melempar kembali jas rusak itu ke atas meja.

"Saya tidak akan memecatmu. Dan saya juga tidak akan menyuruhmu mengganti rugi dengan uang yang tidak kamu miliki itu."

Alesia mendongak dengan binar harapan di matanya. "Benarkah, Pak?"

"Sebagai gantinya," potong Dante tegas, membuat harapan Alesia kembali tertahan.

"Saya memberikan tugas kepadamu. Kamu harus menaikkan total pendapatan perusahaan Aetheris Games dalam waktu satu bulan. Jika kamu gagal, kamu terpaksa harus keluar dari perusahaan ini tanpa pesangon."

Alesia terkejut setengah mati. Matanya membelalak sempurna. Bagaimana mungkin seorang admin pemasaran tingkat bawah sepertinya bisa menaikkan jumlah pendapatan seluruh perusahaan game raksasa ini hanya dalam waktu tiga puluh hari? Itu adalah tugas tingkat direktur!

"Tapi, Pak... itu..." ucap Alesia mencoba memprotes.

"Saya tidak menerima alasan apa pun, Fiore," tegas Dante, kembali berjalan ke balik mejanya dan duduk dengan angkuh.

"Bulan depan, pendapatan Aetheris Games dari sektor pemasaran digital harus bertambah setidaknya 1%. Paham?"

Biarpun target 1% terdengar kecil bagi orang awam, dalam skala perusahaan multinasional seperti Aetheris Games, nilai 1% itu setara dengan miliaran won.

Namun, menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup, Alesia tidak punya pilihan lain.

Ia menarik napas panjang, lalu membungkuk hormat sedalam-dalamnya.

"Baik, Pak. Terima kasih atas kebaikan dan kesempatan yang Bapak berikan."

Dengan langkah yang masih lemas namun dipenuhi tekad baru, Alesia membalikkan badan dan pergi meninggalkan ruangan kerja Dante yang luas itu.

Setelah pintu kaca buram itu tertutup rapat dan langkah kaki Alesia tidak lagi terdengar, suasana di dalam ruangan kembali hening.

Rey, sang asisten pribadi yang sejak tadi hanya diam mengamati, akhirnya melangkah maju satu langkah. Ia menatap Dante dengan pandangan heran bercampur sangsi.

"Apa Bapak tidak terlalu kasar kepadanya, Pak?" tanya Rey dengan nada bicara yang lebih santai.

Hubungan Rey dan Dante memang bukan sekadar bos dan bawahan biasa. Rey adalah anak angkat yang diadopsi oleh orang tua Dante sejak kecil, membuat mereka tumbuh besar bersama seperti saudara, meskipun di tempat kerja mereka tetap menjaga profesionalitas.

Rey tahu betul bagaimana tabiat Dante yang biasanya langsung memecat karyawan ceroboh tanpa banyak bicara. Memberikan kesempatan kedua seperti ini adalah hal yang sangat langka bagi seorang Dante Luca Alessio.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!