Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Wajah Darmawan Adiwangsa yang biasanya setenang permukaan danau beku kini memerah padam, menampilkan urat-urat halus di pelipisnya.
Mulut pria paruh baya itu terbuka dan tertutup beberapa kali, persis seperti ikan mas koki yang kehabisan oksigen. Ia menoleh ke arah asisten pribadinya yang juga merangkap sebagai konsultan hukum, meminta penjelasan.
Sang asisten menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk kaku.
"E-benar, Tuan Darmawan. Menurut KUHP perdata, hak sewa tidak gugur meskipun properti dipindahtangankan. Jika kita mengusirnya paksa dengan alat berat hari ini juga tanpa kesepakatan kompensasi... secara teknis, kita bisa dituntut atas perusakan barang dan perbuatan melawan hukum."
Mendengar konfirmasi legal dari pihak musuh, dada Alea membusung dadanya dengan bangga. Ia mengibaskan kuitansi leceknya di udara layaknya memegang sertifikat saham mayoritas.
"Tuh, dengerin kata bawahan lo, Om!" seru Alea penuh kemenangan.
"Sekarang Om bisa pilih mau transfer uang pinaltinya ke akun DANA atau bayar cash dari koper itu juga gak masalah, atau mungkin Om mau Alea panggil wartawan lokal buat ngeliput Om, yang ngusir anak yatim piatu dari kontrakan pakai ekskavator? Lumayan nih, buat bahan vlog gue pasti langsung fyp!"
Arka tidak bisa lagi menahannya. Tawa bariton yang berat, maskulin, dan sangat lepas akhirnya mengalun dari bibir sang pewaris takhta sindikat bawah tanah. Suara tawa itu bergema di teras sempit kontrakan, membuat para pria berjas hitam di sana menatapnya dengan horor.
Seumur hidup, tidak ada satu pun anggota keluarga Adiwangsa yang pernah melihat Arka tertawa, apalagi di tengah konflik perebutan lahan.
Arka melangkah maju, berdiri berdampingan dengan Alea. Aura membunuhnya telah lenyap, digantikan oleh superioritas absolut yang jauh lebih merendahkan.
"Kau dengar sendiri kan, Paman," ucap Arka dengan senyum tipis yang mematikan.
"Manajer pribadi gue memiliki argumen hukum yang jauh lebih solid daripada firma hukum sewaan Papa. Bayar denda pinaltinya sekarang, atau aku sendiri yang akan memastikan video paman yang menindas anak yatim-piatu menjadi headline berita nasional besok pagi."
Darmawan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Menggunakan kekerasan fisik saat Arka berada dalam jarak serang adalah bunuh diri.
Dengan napas memburu karena harga dirinya diinjak-injak hingga rata dengan tanah, Darmawan menoleh pada asistennya.
"Cepat berikan uang itu pada tikus kecil ini."
"Oh satu lagi, Om!" sela Alea cepat sebelum asisten itu mulai menghitung tumpukan uang di dalam koper.
"Berhubung Om ngusirnya dadakan, tanpa ngasih waktu cukup untuk packing, jadi pinaltinya naik sepuluh persen!"
Darmawan tidak menjawab. Ia berbalik dengan gerakan kaku dan amarah yang meledak-ledak, melangkah masuk ke dalam sedan mewahnya tanpa menoleh lagi.
Asistennya meletakkan tumpukan uang tunai ke atas meja teras dengan tangan gemetar, lalu buru-buru menyusul bosnya. Sedan Maybach itu melesat pergi, meninggalkan kepulan debu di gang sempit tersebut.
Hening sejenak. Bu Ratna yang sejak tadi menahan ikut menahan nafas akhirnya pingsan di pelukan Pak RT saking shock-nya melihat uang tunai ratusan juta berserakan di depan matanya.
Alea langsung menerjang meja tersebut, memeluk gepokan uang seratus ribuan itu dengan air mata haru yang nyata.
"Bos! Nih bener-bener duit asli, kan?! Ini bukan halusinasi gue gara-gara kurang tidur, kan?! Uang pinaltinya beneran cair! Ya ampun, rezeki anak Sholehah yang rajin menabung dan baik hari memang tak kan kemana!"
Arka bersandar pada pilar kayu teras yang mulai keropos, menatap gadis itu dengan tatapan melembut.
"Lo sangat hebat Alea, dengan mudah lo berhasil memeras pamanku yang bahkan belum pernah terkalahkan dalam negosiasi bisnis tingkat Asia."
"Bukan meras, Bos! Ini namanya memperjuangkan hak konsumen!" ralat Alea sambil memasukkan gepokan uang itu ke dalam tas ranselnya dengan kecepatan kilat.
Namun, sedetik kemudian, gerakan tangannya melambat. Bahunya sedikit turun saat ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar kontrakannya yang kecil dan berantakan.
Realitas akhirnya menghantamnya. Uang pinalti memang sudah di tangan, tapi besok pagi, ia resmi menjadi tuna wisma di ibu kota yang kejam ini.
"Bos..." gumam Alea pelan, memeluk tas ranselnya erat-erat. Wajah cerianya redup seketika.
"Gue memang kaya mendadak, tapi malam ini gue tidur di mana? Cari kontrakan baru yang nerima bayaran bulanan dan nggak rese soal jam malam tuh susah banget. Mana barang-barang diskonan bgue lumayan banyak lagi..."
Melihat sorot mata gadis itu yang tiba-tiba kehilangan pendar percaya dirinya, dada Arka terasa ditarik oleh benang tak kasat mata. Insting protektifnya yang gelap dan posesif kembali mengambil alih. Papa-nya telah menghancurkan zona nyaman Alea, maka Arka akan membangun benteng baru yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh siapa pun.
"Kemasi barang-barang lo sekarang," titah Arka pelan, melangkah mendekat dan mengambil alih kardus kosong di sudut ruangan.
"Malam ini juga lo pindah. Gue punya sebuah apartemen kosong yang tidak terdaftar atas nama keluarga Adiwangsa."
Alea langsung mendongak, matanya membelalak waspada. Insting kapitalisnya kembali menyala bagai alarm kebakaran.
"Tunggu dulu! Apartemen? Yang ada kolam renang infinity dan lobi marmernya?! Nggak, deh, Bos! Gue nggak mau bayar maintenance fee, biaya parkir bulanan, sama iuran sampah yang harganya bisa buat beli beras sekwintal! Mending gue tidur di emperan minimarket untuk sementara!"
Arka menghentikan gerakannya. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat yang memancarkan ketakutan finansial luar biasa itu. Sebuah ide licik nan brilian melintas di kepalanya.
"Siapa bilang kau harus membayar iuran manajemen?" tanya Arka dengan wajah sedatar papan, memainkan perannya dengan sempurna.
"Apartemen itu adalah aset pribadi yang harus kujaga fisiknya agar harganya tidak turun. Jika dibiarkan kosong, debu dan kelembapan akan merusak perabotan. Aku justru sedang mencari seseorang untuk merawat apartemen itu."
Telinga Alea langsung berdiri tegak. "Tunggu, jadi... gue disuruh jadi penjaga properti gitu?"
"Hmm! Apa lo bersedia, kalau tidak gue bisa cari orang lain." sahut Arka santai, merajut kebohongan paling mulus sepanjang sejarah klan yang ia pimpin.
"Dan sebagai kompensasinya, lo boleh tinggal di sana secara gratis. Tidak ada biaya sewa, tidak ada tagihan air, dan seluruh perabotan bebas di gunakan. Tapi dengan syarat harus memastikan lantai dibersihkan dua hari sekali, dan tidak boleh ada lumut di kamar mandi. Apa lo sanggup menerima kontrak kerja tambahan ini?"
Mata Alea langsung berbinar-binar hingga nyaris menyilaukan. Tinggal di apartemen mewah gratis hanya dengan bayaran ngepel dan nyikat WC? Ini adalah durian runtuh yang harus segera di amankan.
"DEAL, BOS!" teriak Alea kegirangan, langsung lari masuk ke kamar lalu nyambar koper bututnya dari bawah ranjang.
"Gue bakal bikin lantai apartemen lo se- glowing mungkin! Ayo buruan bantuin gue packing, dong! Sebelum paman kacamata lo itu berubah pikiran dan bawa pasukan sniper ke sini, kita evakuasi malam ini juga!"
Melihat gadis mungil itu berlarian ke sana kemari memasukkan baju ke dalam koper dengan semangat membara, Arka hanya bisa menyembunyikan senyum puasnya.
Keluarga Adiwangsa mungkin berpikir mereka berhasil memutus rantai kehidupan Alea dengan mengusirnya. Namun tanpa mereka sadari, mereka justru baru saja menyerahkan Alea langsung ke dalam cengkeraman Arka.
Mulai malam ini, gadis absurd bermental baja itu akan sepenuhnya berada di bawah perlindungan sang Tuan Muda.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂