Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Hari Bersama Emma
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Oca masih sibuk berbalas pesan dengan Dirga. Awalnya mereka hanya membahas tugas kelompok, tetapi lama-kelamaan obrolan mereka melebar ke mana-mana. Sesekali Oca bahkan terkekeh pelan membaca balasan dari Dirga.
Perhatiannya benar-benar tertuju pada layar ponsel. Sampai-sampai ia tidak menyadari pintu kamar perlahan terbuka. Anthony masuk tanpa suara, lalu berhenti beberapa langkah dari ranjang.
Anthony berdiri dengan kedua tangan menyilang di dada. Alisnya sedikit berkerut saat melihat Oca yang masih sibuk tersenyum sendiri menatap layar ponselnya.
"Sudah malam. Kukira kamu akan tidur lebih awal karena besok sekolah," ucap Anthony.
Oca mengangkat kepala. Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke arah Anthony. Wajahnya terlihat bingung.
"Lo... ngapain ke sini?" tanyanya heran.
Sejak malam pertama menikah, Anthony memang tidak pernah tidur di kamar ini. Karena itu, Oca sama sekali tidak menyangka pria itu akan muncul begitu saja malam ini.
Anthony mengangkat sebelah alis. "Ini juga kamarku, kalau kamu lupa.”
Tanpa menunggu tanggapan Oca, ia langsung berjalan melewatinya menuju sisi ranjang. Ponselnya diletakkan di atas nakas, lalu ia membuka selimut dan bersiap merebahkan diri.
Oca yang sedari tadi memperhatikannya spontan membulatkan mata.
"Lah... lo beneran mau tidur di sini?”
Anthony tidak menjawab. Ia hanya berbaring di sisi ranjang yang kosong dan memejamkan mata.
Oca yang sedari tadi masih memandang ke arahnya akhirnya ikut meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia membalikkan tubuh, membelakangi Anthony. Keheningan kembali memenuhi kamar. Hanya suara embusan napas mereka yang terdengar samar.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
"Kamu sudah tidur?" suara Anthony tiba-tiba memecah keheningan.
"Belum, lagi berusaha," jawab Oca singkat.
Hening lagi sejenak.
"Tiga hari ke depan aku tidak akan ada di sini," ucap Anthony. Nada suaranya tetap datar, hanya saja kali ini terdengar lebih pelan. "Ada syuting di luar kota.”
Tubuh Oca yang masih membelakangi Anthony sedikit bergerak untuk menoleh. “Apa Lo bakal pergi sama cewe yang namanya Emma?”
“Iya,” jawab Anthony singkat.
Oca menggigit pelan bibir bawahnya. Tatapannya kembali lurus ke depan. Dadanya terasa sedikit sesak, meski ia sendiri tidak mengerti alasannya.
Bukankah sejak awal ia sudah tahu pernikahan ini hanya sebuah perjodohan? Seharusnya ia tidak peduli Anthony pergi dengan siapa. Namun, bayangan foto Emma yang melingkarkan tangan di lengan Anthony kembali muncul di kepalanya. Dan anehnya, itu membuatnya semakin sulit memejamkan mata.
Tak ada lagi percakapan setelah itu. Kamar kembali diselimuti keheningan. Keduanya sama-sama memejamkan mata, tetapi tak satu pun benar-benar terlelap. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
______
Pagi berikutnya, Oca terbangun. Tak sengaja tangannya menyentuh tempat di sampingnya yang sudah kosong—sepertinya Anthony memang bangun lebih dulu.
Oca meregangkan tubuh sambil menguap lebar. Namun saat matanya tanpa sengaja melirik jam dinding, ia langsung melotot.
Shit!! Dia bangun kesiangan!!
"Kenapa sih nggak dibangunin..." gerutunya pelan.
Tanpa membuang waktu, Oca segera turun dari ranjang dan berlari masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan seragam sekolah yang sudah rapi, lalu buru-buru menuruni tangga menuju lantai bawah.
Suasana mansion tampak sepi. Langkah kakinya bergerak menuju dapur, namun tidak ada siapa pun di sana—hingga seorang pelayan mendekat.
"Tuan Anthony sudah berangkat sejak pagi, Nona. Beliau juga berpesan agar Nona tidak melewatkan sarapan.”
Oca melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu menghembuskan nafas pelan.
"Udah telat..."
Ia akhirnya mengambil dua lembar roti tawar, mengolesinya dengan selai kacang seadanya, lalu melipatnya menjadi satu sebelum menggigitnya. Sambil mengunyah roti, Oca berjalan cepat menuju pintu depan mansion.
Mobil sedan hitam sudah menunggu di halaman seperti biasa. Begitu sopir membukakan pintu, Oca langsung masuk dan duduk di kursi belakang, masih menggenggam sisa roti di tangannya.
Tak lama kemudian, mobil pun melaju meninggalkan halaman mansion. Oca menyandarkan kepalanya ke kaca jendela sambil menghabiskan gigitan terakhir rotinya, matanya memandang kosong ke arah jalanan yang terus berlalu menuju sekolah.