Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Hari Bersama Emma
Tak butuh waktu lama, balasan dari Dirga langsung muncul.
Dirga: "Iya, Dirga Askara. Makasih ya udah bales."
Oca langsung membalas.
Oca: "Iya, sama-sama."
Beberapa detik kemudian, satu pesan lagi masuk.
Dirga: "Besok jadi kumpul kelompok, kan? Takutnya gue salah info. Jadinya mau ngerjain di kelas gue apa di kelas lo?"
Oca berpikir sejenak sebelum membalas.
Oca: "Jadi. Di kelas gue aja gimana? Soalnya Kinan juga di kelas gue."
Dirga: "Oke, sip."
Awalnya mereka hanya membahas tugas kelompok. Namun lama-kelamaan obrolan mereka melebar ke mana-mana. Mulai dari guru yang galak, makanan favorit, sampai hobi masing-masing.
Sesekali Oca terkekeh pelan membaca balasan dari Dirga. Cowok itu ternyata cukup asyik diajak mengobrol.
Perhatiannya benar-benar tertuju pada layar ponsel. Sampai-sampai ia tidak menyadari pintu kamarnya perlahan terbuka.
Anthony masuk tanpa suara, lalu berhenti beberapa langkah dari ranjang.
Pria itu berdiri dengan kedua tangan menyilang di dada. Alisnya sedikit berkerut saat melihat Oca yang sejak tadi sibuk tersenyum sendiri menatap layar ponselnya.
"Sudah malam. Kukira kamu akan tidur lebih awal karena besok sekolah," ucap Anthony.
Oca yang sedang asyik membalas pesan langsung mendongak. Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke arah Anthony. Wajahnya tampak bingung.
"Lo... ngapain ke sini?" tanyanya heran.
Sejak malam pertama menikah, Anthony memang tidak pernah tidur di kamar yang sama dengannya. Karena itu, Oca sama sekali tidak menyangka pria itu akan muncul begitu saja malam ini.
Anthony mengangkat sebelah alis. "Ini juga kamarku, kalau kamu lupa.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan melewati Oca menuju sisi ranjang. Ponselnya diletakkan di atas nakas, lalu ia membuka selimut dan bersiap merebahkan diri.
Oca yang sedari tadi memperhatikannya spontan membulatkan mata.
"Lah... lo beneran mau tidur di sini?”
Anthony tidak menjawab. Ia hanya merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan mata, seolah pertanyaan Oca barusan hanyalah angin lalu.
Oca mendengus pelan. Meski masih dipenuhi tanda tanya, ia memilih tidak bertanya lagi. Ponselnya ikut diletakkan di atas nakas sebelum ia membAlikkan tubuh, membelakangi Anthony.
Keheningan kembali memenuhi kamar. Hanya suara embusan napas mereka yang terdengar samar.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
"Kamu sudah tidur?" suara Anthony tiba-tiba memecah keheningan.
"Oca yang hampir terlelap kembali membuka mata.
"Belum," jawabnya pelan. "Lagi nyoba tidur."
Hening kembali menyelimuti kamar.
"Tiga hari ke depan aku tidak akan ada di sini," ucap Anthony. Nadanya tetap datar, tetapi kali ini terdengar lebih pelan. "Ada syuting di luar kota."
Tubuh Oca yang masih membelakangi Anthony sedikit bergerak untuk menoleh. “Apa Lo bakal pergi sama cewe yang namanya Emma?”
“Iya,” jawab Anthony singkat.
Oca menggigit pelan bibir bawahnya. Tatapannya kembali lurus ke depan. Dadanya terasa sedikit sesak, meski ia sendiri tidak mengerti alasannya.
Bukankah sejak awal ia sudah tahu kalau pernikahan ini hanya sebuah perjodohan? Seharusnya ia tidak peduli Anthony pergi dengan siapa. Namun, bayangan foto Emma yang melingkarkan tangan di lengan Anthony kembali memenuhi kepalanya.
Dan anehnya, pikiran itu membuatnya semakin sulit memejamkan mata.
Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Kamar kembali diselimuti keheningan. Keduanya sama-sama memejamkan mata, tetapi tak satu pun benar-benar terlelap. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.
...______...
Pagi berikutnya ketika Oca terbangun. Tak sengaja tangannya tangannya meraba sisi ranjang di sampingnya yang sudah kosong. Sepertinya Anthony bangun lebih dulu.
Oca meregangkan otot tubuhnya sambil menguap lebar. Namun saat matanya tanpa sengaja melirik jam dinding, ia langsung melotot.
"Shit! Gue bangun kesiangan! Kenapa nggak dibangunin sih..." gerutunya pelan.
Tanpa membuang waktu, Oca segera turun dari ranjang lalu berlari masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan seragam sekolah yang sudah rapi, lalu buru-buru menuruni tangga menuju lantai bawah.
Suasana mansion masih tampak sepi. Oca mempercepat langkah menuju ruang makan, berharap masih sempat sarapan sebentar.
Namun, baru saja tiba di sana, seorang pelayan lebih dulu menghampirinya.
"Tuan Anthony sudah berangkat sejak pagi, Nona. Beliau juga berpesan agar Nona tidak melewatkan sarapan.”
Oca melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu menghembuskan nafas pelan.
"Udah telat..."
Tak ingin membuang waktu lagi, Oca mengambil dua lembar roti tawar. Ia mengolesinya dengan selai kacang seadanya, lalu melipatnya menjadi satu sebelum menggigitnya.
Sambil mengunyah roti, Oca berjalan cepat menuju pintu depan mansion.
Mobil sedan hitam sudah menunggu di halaman seperti biasa. Begitu Pak Darto membukakan pintu, Oca langsung masuk dan duduk di kursi belakang, masih menggenggam sisa roti di tangannya.
Tak lama setelah itu, mobil pun melaju meninggalkan halaman mansion. Oca menyandarkan kepalanya ke kaca jendela sambil menghabiskan gigitan terakhir rotinya. Tatapannya menerawang ke arah jalanan yang terus berlalu menuju sekolah.
beda lagi sama aku lebih suka bahasa formal GK trlalu gaul karena aku sendiri mereka suka seperti itu 🤣