NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Gelang yang Mengikat Jiwa

Sinar matahari pagi yang menembus ventilasi kamar tidak lagi terasa menyengat di kulit Sekar. Sebaliknya, kehangatan fajar itu seolah memantul sia-sia pada permukaan lengannya yang kini seputih porselen mati.

Di atas ranjang, Sekar masih menatap pergelangan tangan kirinya. Gelang Sangker Bumi itu melingkar di sana dengan keanggunan yang purba.

Motif sisik naga yang saling bertautan pada bilah emas tebal itu tampak berkilau redup, memancarkan pesona mewah sekaligus hawa dingin yang konstan membanjiri jalur nadinya.

"Lepas... kamu harus lepas..." bisik Sekar. Suaranya serak, menyisakan desisan ganda yang tipis namun tajam di ujung setiap helaan napas.

Dengan jemari tangan kanannya yang gemetar, Sekar mencengkeram tepian gelang emas tersebut.

Dia menariknya dengan paksa ke arah telapak tangan, berusaha meloloskan lingkaran logam itu dari tulang pergelangan tangannya.

Sreeet!

"Aaakh!" Sekar memekik tertahan, tubuhnya melengkung ke belakang menahan rasa sakit yang instan dan luar biasa dahsyat.

Saat gelang itu digeser barang satu milimeter, kulit di bawahnya tidak bergeser; kulit itu ikut tertarik, mengelupas dari dagingnya seolah-olah logam kuno tersebut telah menumbuhkan akar-akar mikroskopis yang menghujam dalam, mencengkeram urat saraf dan membungkus tulang pergelangan tangannya.

Rasa sakitnya tidak seperti luka sayat biasa, melainkan aliran sengatan listrik gaib yang langsung menghantam pangkal otaknya, memaksa pupil matanya menyusut vertikal seumpama bilahan silet dalam kegelapan.

Dari sela-sela jepitan emas purba itu, cairan bening kental sewarna getah pohon bercampur semburat darah encer merembes keluar.

Baunya harum—bau harum cendana yang pekat dan memabukkan, menutupi anyir darah manusianya yang kian menipis. Gelang itu telah menjadi bagian dari anatomi tubuhnya.

Memaksa melepaskannya sama saja dengan memutilasi lengannya sendiri secara hidup-hidup.

Di ambang keputusasaan itu, Sekar memandang pantulan dirinya di cermin lemari yang retak. Wajahnya tidak lagi menampakkan tanda-tanda kelelahan fisik.

Di bawah pengaruh gelang tersebut, bintik hitam, pori-pori kasar, dan rona kusam di wajahnya lenyap sepenuhnya. Kulit wajah Sekar berkilat halus seumpama dilapisi membran lilin yang tipis, memancarkan daya tarik yang tidak wajar—sebuah kecantikan yang magis, dominan, namun teramat dingin dan mati.

Pintu kamar terbuka dengan derit pelan. Rahayu berdiri di ambang pintu membawa secangkir teh hangat.

Namun, begitu wanita tua itu melihat gelang emas yang melingkar di tangan anaknya serta aura keperakan yang samar-samar menyelimuti tubuh Sekar, langkahnya langsung terhenti.

Rahayu tidak berani mendekat.

Sepasang matanya yang cekung menatap Sekar dengan kombinasi rasa ngeri dan ketundukan yang tidak bisa dilawan oleh insting manusianya. Tangan Rahayu yang memegang cangkir bergetar hebat, bukan hanya karena takut, melainkan karena atmosfer di sekitar Sekar kini terasa begitu menekan, mengintimidasi ego siapa pun yang berada di dekatnya seolah mereka sedang berhadapan dengan seorangan penguasa tirani.

"S-Sekar... jam kuliahmu..." bisik Rahayu, suaranya parau dan terbata-bata, pandangannya tertuju pada lantai, menolak untuk menatap langsung mata ular anaknya. "Kamu... harus berangkat, Nduk. Jangan membuat orang-orang semakin curiga dengan mengurung diri."

Sekar menatap ibunya dengan tatapan hampa. Benar.

Mengurung diri hanya akan mengundang spekulasi. Dia harus kembali ke kampus, berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja, meskipun di balik pakaiannya, kemanusiaannya sedang digrogoti dari dalam.

Sekar mengenakan kemeja lengan panjang berkerah tinggi untuk menutupi kerah sisik hitam di lehernya dan gelang terkutuk di pergelangan tangannya.

Namun, begitu dia melangkah keluar dari gerbang rumah, atmosfer kampung seolah-olah bergeser demi menyambut kehadirannya.

Pagi itu, beberapa tetangga yang biasanya berkerumun di tukang sayur mendadak senyap saat Sekar berjalan melewati mereka.

Tidak ada lagi bisik-bisik miring tentang penyakit anehnya. Tidak ada lagi tatapan sinis atau gunjingan.

Begitu Sekar menoleh ke arah mereka, sekelompok wanita paruh baya itu seketika menundukkan kepala dalam-dalam. Tubuh mereka menegang kaku, didera oleh rasa segan dan ketakutan primitif yang mendadak mencengkeram dada mereka.

Aura pengasihan Sang Kalingga yang tertanam di dalam Gelang Sangker Bumi telah aktif sepenuhnya. Di mata manusia biasa, Sekar tidak lagi tampak sebagai gadis kampung yang rapuh; dia memancarkan otoritas gaib yang mutlak, memaksa setiap mahluk hidup di sekitarnya untuk tunduk dan merasa kerdil.

Kengerian yang sesungguhnya dimulai ketika Sekar tiba di koridor kampus.

Saat dia melangkah melewati lobi utama, riuh rendah suara mahasiswa mendadak surut seperti air pasang yang ditarik badai. Setiap pasang mata berpaling ke arahnya.

Namun, tidak ada kekaguman yang normal di sana. Tatapan para mahasiswa dan dosen yang berpapasan dengannya tampak kosong, terhipnotis oleh pesona gelap yang memancar dari tubuh Sekar.

"Pagi, Sekar..." seorang dosen senior yang terkenal killer dan angkuh mendadak menghentikan langkahnya di depan Sekar. Pria paruh baya itu membungkukkan tubuhnya sedikit—sebuah gestur penghormatan yang tidak pernah dia berikan kepada mahasiswa mana pun, bahkan kepada dekan sekalipun.

Wajah dosen itu pucat, dahinya berkeringat dingin, dan suaranya bergetar halus saat berbicara. "Apakah... ada tugas atau berkas yang perlu saya bantu untuk nilaimu?"

Sekar terpaku di tempatnya. "Tidak ada, Pak. Terima kasih," jawab Sekar datar.

Mendengar jawaban itu, sang dosen tampak mengembuskan napas lega seolah-olah baru saja dilepaskan dari hukuman mati, lalu melangkah mundur dengan teratur tanpa berani memunggungi Sekar secara lancang.

Sekar berjalan menuju ruang kelas dengan perasaan yang kian berkecamuk.

Di sepanjang koridor, mahasiswa yang sedang duduk-duduk di lantai langsung bangkit berdiri serempak saat Sekar lewat, memberikan jalan yang lebar seakan seorang ratu besar sedang melintasi barisan abdi dalemnya. Mereka yang biasanya melempar lelucon atau menyapa dengan akrab, kini hanya bisa terpaku dengan tubuh gemetar, menatap ujung sepatu Sekar dengan rasa hormat yang berlebihan dan menyiksa.

Dia merasakan kekuasaan yang luar biasa.

Jika dia menghendaki, dia bisa memerintahkan siapa saja di ruangan ini untuk melakukan apa pun, dan mereka akan mematuhinya tanpa bantahan.

Namun, di balik kejayaan semu itu, Sekar bisa merasakan bagian dalam dadanya kian hampa dan dingin. Rasa hormat ini bukan miliknya. Ketundukan ini adalah hasil dari racun pengasihan siluman ular yang sedang mengisolasi jiwanya dari interaksi manusia yang tulus.

Manusia di sekitarnya tidak lagi melihat dirinya sebagai Sekar; mereka hanya merespons energi dominan Sang Kalingga yang sedang menggunakan tubuhnya sebagai wadah di dunia fana.

Dia berjalan mendekati bangku yang biasanya ditempati oleh Dinda di sudut kelas. Bangku itu kosong.

Dinda tidak masuk kuliah sejak hari teror itu. Ketika Sekar mencoba mengingat wajah sahabatnya, gelang di pergelangan tangannya mendadak berdenyut panas, menyalurkan rasa sakit yang halus ke kepalanya—sebuah peringatan dari Kalingga agar dia tidak memikirkan manusia lain.

Sekar duduk di bangkunya sendiri, dikelilingi oleh puluhan pasang mata rekan-rekan sekelasnya yang terus menatapnya dari kejauhan dengan tatapan patuh yang mengerikan, seumpama sekumpulan boneka daging yang telah kehilangan kehendak bebas mereka di hadapan sang ratu baru.

Kelas siang itu berlangsung dalam atmosfer yang mencekam. Biasanya, ruangan berkapasitas lima puluh orang itu selalu bising oleh celoteh mahasiswa, namun kali ini, keheningan yang berat mendarat di setiap sudut.

Dosen yang mengajar di depan kelas beberapa kali salah mengeja materi kuliah. Tangannya yang memegang spidol bergetar halus, dan pandangannya terus-menerus mencuri pelirik ke arah bangku Sekar di barisan tengah dengan sorot mata penuh kecemasan, seolah dia sedang diawasi oleh seekor predator puncak yang siap menerkam dari balik kegelapan.

Sekar hanya duduk diam, memangku tangan kirinya yang terasa semakin berat. Di balik lengan kemejanya, Gelang Sangker Bumi itu terus berdenyut ritmis, seirama dengan detak jantungnya yang kini melambat drastis di bawah ambang batas normal manusia.

Saat jam istirahat tiba, Sekar melangkah keluar menuju area taman kampus yang biasanya ramai. Dia berniat mencari udara segar untuk mengusir rasa sesak yang kian menghimpit dadanya. Namun, ke mana pun kakinya melangkah, realitas di sekitarnya seolah mendadak runtuh dan tunduk.

"Sekar..."

Sebuah suara memanggilnya dari arah belakang. Sekar berbalik dan menemukan Dimas, salah seorang mahasiswa tingkat akhir yang terkenal vokal, cerdas, dan selama ini selalu bersikap sinis terhadap hal-hal yang berbau mistis.

Beberapa hari yang lalu, Dimas adalah salah satu orang yang ikut menyebarkan selentingan miring tentang absennya Sekar dari kampus.

Namun siang ini, kondisi pria itu tampak mengenaskan.

Dimas berjalan mendekati Sekar dengan langkah yang kaku, seumpama digerakkan oleh tali-tali tak kasat mata. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak kosong dengan pupil yang bergetar hebat, dan keringat dingin bercucuran membasahi kaus yang dikenakannya.

Begitu jarak mereka tersisa dua meter, lutut Dimas mendadak lemas. Di hadapan belasan mahasiswa lain yang menyaksikan di taman, pria itu langsung menjatuhkan diri, berlutut dengan kedua lutut menghantam paving blok dengan keras.

"Maafkan saya, Sekar... maafkan saya..." ratap Dimas, suaranya parau dan dipenuhi keputusasaan yang murni. Dia menundukkan kepalanya hingga nyaris menyentuh ujung sepatu Sekar. "Saya salah... saya telah lancang membicarakan hal buruk tentangmu.

Tolong jangan hukum saya... jangan biarkan mereka merayap di dalam mimpi saya lagi..."

Sekar tersentak mundur satu langkah. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun atau menatap Dimas dengan amarah. Namun, aura Gelang Sangker Bumi telah membaca niat buruk masa lalu Dimas sebagai ancaman terhadap sang permaisuri, dan secara otomatis mengeksekusi mental pria itu lewat teror gaib yang dikirimkan langsung ke alam bawah sadarnya semalam.

"Dimas, bangun. Apa yang kamu lakukan?!" ujar Sekar, berusaha meraih bahu Dimas untuk membantunya berdiri.

Namun, baru saja tangan kanan Sekar menyentuh pundak Dimas, gelang emas di pergelangan tangan kirinya mendadak mengeluarkan kilatan cahaya keperakan yang samar.

Sreeet!

Dimas menjerit histeris. Tubuhnya kejang seketika di atas tanah, mencengkeram dadanya sendiri seolah-olah jantungnya baru saja diremas oleh kekuatan raksasa yang dingin. "Ampun, Sekar! Ampun! Saya tobat!" teriaknya histeris dengan air mata yang mulai mengalir deras, membasahi paving blok taman kampus.

Mahasiswa-mahasiswa lain yang berada di sekitar taman hanya bisa berdiri mematung. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani maju untuk melerai atau menolong Dimas.

Mereka semua menatap Sekar dengan pandangan yang mengerikan—sebuah kombinasi antara pemujaan yang fanatik dan ketakutan yang mutlak. Mereka memandang Sekar seumpama entitas suci yang membawa maut; mahluk anggun yang tidak boleh diganggu jika mereka masih ingin menghirup udara esok hari.

Sekar menarik kembali tangannya dengan ngeri. Dia memandangi telapak tangannya sendiri yang kian memucat, lalu beralih menatap kerumunan orang di sekitarnya yang kini serentak menundukkan kepala, tidak berani menantang pandangannya.

Pada titik itulah, kesadaran yang teramat pahit menghantam batin Sekar.

Kekuasaan ini adalah fatamorgana yang beracun. Kalingga tidak sedang memberinya hadiah berupa kehormatan atau perlindungan; mahluk itu sedang merajut jaring isolasi yang paling sempurna. Dengan membuat semua orang ketakutan dan tunduk secara ekstrem, Kalingga memastikan bahwa tidak akan ada lagi manusia yang berani mendekati Sekar sebagai seorang teman.

Tidak akan ada lagi pelukan hangat, tidak ada lagi tawa tulus, dan tidak ada lagi uluran tangan penolong.

Semua orang telah diubah menjadi budak ketakutan, sementara Sekar ditempatkan di atas singgasana kesepian yang dingin, menunggunya mati secara perlahan sebagai manusia untuk kemudian dilahirkan kembali sebagai mahluk melata.

Jiwanya kini terasa semakin kosong, keropos, dan hampa, menyisakan ruang gelap yang luas di dalam dadanya yang kini siap diisi sepenuhnya oleh eksistensi Sang Kalingga.

Sore harinya, Sekar pulang ke rumah dengan langkah kaki yang terseret berat. Efek pengasihan itu telah menguras energi manusianya secara gila-gilaan. Setiap kali gelang itu memaksa orang lain untuk tunduk, gelang itu mengisap secuil demi secuil sari pati kehidupan dari jiwa Sekar sebagai bayarannya.

Dia masuk ke dalam rumah yang temaram dan langsung menuju ke kamarnya. Saat dia membuka kemeja lengan panjangnya di depan cermin, Sekar nyaris menjerit hampa.

Transformasi itu telah melompat jauh dalam waktu satu hari.

Koloni sisik kelabu di punggungnya kini telah merayap melewati bahu, membungkus kedua selangka layaknya jubah zirah alami yang kaku. Dan yang paling mengerikan, di sekeliling kulit pergelangan tangan kirinya—tepat di bawah Gelang Sangker Bumi—kulit manusianya telah mengelupas sempurna, digantikan oleh barisan sisik emas kecil yang berkilau indah namun mematikan.

Gelang itu kini tidak lagi terlihat seperti perhiasan yang dikenakan, melainkan tumbuh keluar dari dalam daging dan sisik emasnya sendiri.

Sekar menyentuh sisik emas di tangannya dengan ujung jari.

Rasanya dingin, licin, dan sama sekali tidak memiliki sensasi rasa layaknya kulit manusia. Dia telah kehilangan satu bagian lagi dari tubuh manusianya hari ini.

Dari sudut plafon kamar yang gelap, aroma harum bunga kenanga dan kayu cendana kembali menguar samar, berbaur dengan suara desisan ganda yang terdengar begitu puas dan penuh kemenangan.

Kalingga sedang tersenyum di dalam kegelapan dimensinya, menyaksikan bagaimana belahan jiwanya kini telah menyerah kalah, merayap sukarela masuk ke dalam pelukan keabadian yang terkutuk.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!