Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 2 Rapat Bisnis dan Asisten Berkacamata|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Ruang rapat lantai 34 menara perkantoran yang menyatu dengan salah satu mall terbesar di Jakarta Selatan.
Pemandangan kota Jakarta terbentang di balik kaca di sepanjang dinding. Langit sore kala itu berwarna jingga, sementara gedung-gedung pencakar langit mulai menyalakan lampunya satu per satu. Namun tak satu pun dari delapan orang di ruangan itu yang benar-benar bisa menikmatinya.
Bara Soryu duduk di ujung meja panjang dengan satu tangan bertumpu di sisi kursi dan pandangan yang sudah bosan sejak dua menit pertama pertemuan ini. Walaupun dalam balutan jas rapi. Wajahnya masih saja tetap datar seperti biasa, bukan karena dia tidak memperhatikan, justru malah sebaliknya.
Di sampingnya, Davian berdiri dengan postur bak asisten yang sudah hafal kapan harus diam dan kapan harus bicara. Kacamata bulatnya mengkilap di bawah sorot lampu ruang rapat. Sementara tangannya memegang tablet berisi semua dokumen yang seharusnya sudah dibaca oleh Hendra Wijaya sejak seminggu yang lalu.
"Pak Soryu." Ucap Hendra Wijaya—pemilik mall, pria paruh baya berwajah bulat dan berkumis tipis itu menggeser dokumen ke tengah meja dengan senyum yang terlalu lebar untuk situasi seperti ini.
"Saya sudah kirim proposal minggu lalu. Kenaikan dua puluh persen untuk perpanjangan tiga tahun ke depan. Sangat wajar mengingat kondisi pasar—"
"Tidak." satu kata yang keluar dari mulut Bara Soryu. Cukup membuat Hendra berhenti berbicara seketika.
"Pak Soryu, saya belum—"
"Kamu dengar itu, Davian?" Bara menoleh ke asistennya.
Davian menghela napas pendek. "Dengar, Wakadanna."
"Dia pikir aku orang yang suka mendengarkan omongan panjang yang tidak penting."
"Kelihatannya begitu, Wakadanna."
"Tapi sayangnya aku bukanlah orang yang seperti itu."
"Tentunya bukan, Wakadanna."
Hendra Wijaya batuk kecil. Wajahnya mulai memerah. "Pak Soryu, dengan hormat, ini murni soal bisnis. Harga properti di Jakarta semakin naik karena inflasi. Jadi cukup berpengaruh terhadap biaya operasional bisnis ini... Jadi ini bukan keputusan personal."
Bara menyandarkan punggungnya ke kursi. Satu tangannya masuk ke dalam saku jasnya. Matanya mulai menatap Hendra Wijaya. Dan entah kenapa tatapan itu jauh lebih tidak menyenangkan daripada sekedar amarah.
"Berapa banyak gerai Soryu Group yang beroperasi di Indonesia?" tanyanya.
Hendra mengerjap. "Emm... mungkin—"
"Dua ratus empat puluh tujuh," potong Bara. "Di tiga puluh kota yang berbeda. Dari Medan sampai Makassar." Dia memiringkan kepalanya sedikit. "Dari dua ratus empat puluh tujuh itu, berapa banyak yang ada di properti milikmu?"
Hendra tidak menjawab dan malah menelan ludah.
"Tiga," Bara melanjutkan sendiri. "Tiga gerai kecil di dalam satu mall. Dan kau minta kenaikan dua puluh persen padaku? Apa kau gila?"
"Ukuran gerai tidak menentukan nilai strategis—" Hendra mencoba membantah.
"Berapa persen kontribusi Soryu Group terhadap total transaksi di mall ini?" potong Bara lagi.
Hendra mulai berkeringat dingin, ia tak tahu harus menjawab apa.
"Tiga puluh tujuh persen." Bara mencondongkan tubuh ke depan, dengan siku di atas meja.
"Hampir empat puluh persen. Tanpa Soryu Group, mall ini sudah pasti akan kehilangan hampir separuh daya tariknya. Dan kau berani meminta kenaikan dua puluh persen kepadaku?"
Mendengar pernyataan dari Bara Soryu semua orang didalam ruangan itu terdiam.
"Lima belas persen," kata Hendra akhirnya, suaranya menurun.
Bara tidak menjawab.
"Sepuluh persen, bagaimana?" koreksi Hendra.
Tapi Bara masih saja diam.
"Pak Soryu, tolong jangan terlalu—"
"Lima persen, tidak ada negosiasi lagi," potong Bara.
"A-apa?! Lima persen?!" Hendra hampir berdiri. "Dengan inflasi dan biaya operasional yang semakin—"
"Lima persen," ulang Bara. "Atau aku cabut semua gerai dari mall ini. Kita lihat berapa lama pengunjungmu akan bertahan."
Hendra terdiam. Mulutnya membuka, menutup, membuka lagi seperti ikan. Akhirnya dia menghela napas berat dan meraih pena. Tangannya sedikit gemetar saat menandatangani revisi kontrak.
"Baik," katanya lirih. "Lima persen."
Bara tersenyum puas. "Keputusan bagus."
...***...
Lima belas menit kemudian, setelah mereka selesai dari rapat itu, Bara dan asistennya berjalan di koridor mall.
"Wakadanna," Davian bersuara dari belakang, setengah langkah di kiri Bara.
"Mobil sudah standby di B2. Kalau langsung turun, kita bisa—"
"Sebentar."
Davian menutup mulutnya. Kenapa dia selalu memotong ucapanku sih! Sebel banget!
Bara berjalan tanpa terburu-buru, kedua tangannya masuk ke saku celananya. Namun di kepalanya, satu pertanyaan terus berputar sejak kejadian itu.
Siapa sebenarnya orang itu? Siapa yang memasang target 5 miliar untuk kepalaku?
Kruyuk!!!
Bara tersadar dari lamunannya saat sebuah suara yang sangat tidak asing dan sangat tidak tepat waktu memecah kesunyian diantara mereka. Bunyi perut yang keroncongan itu bergema di antara keramaian pusat perbelanjaan, menghancurkan sisa-sisa atmosfer canggung yang baru saja mereka bangun.
Langkah kakinya seketika terhenti, menciptakan gema yang menggantung di udara. Ia menoleh perlahan, menemukan Davian berdiri mematung di sampingnya.
Wajah asistennya itu kini telah bertransformasi sepenuhnya, wajahnya kini berubah menjadi rona merah padam layaknya tomat matang yang siap meledak di balik bingkai kacamata bulatnya. Keheningan di antara mereka terasa begitu canggung, hanya diisi oleh suara napas Davian yang tertahan.
"Wakadanna, aku tadi tidak sengaja—" Davian memulai dengan suara mencicit, mencoba membela martabatnya yang baru saja runtuh akibat pengkhianatan perutnya sendiri.
"Ikut aku," potong Bara pendek.
"Tapi mobilnya diparkir di arah sana—" Davian menunjuk ke arah berlawanan dengan jari yang sedikit gemetar.
Bara tidak menoleh lagi. Ia sudah memutar tumitnya, melangkah dengan tenang menuju deretan restoran yang ada di dalam mall itu.
Davian hanya bisa menatap punggung majikannya yang tegap itu dengan bahu yang merosot. Ia mengembuskan napas panjang, sebuah desahan pasrah yang sarat akan penyesalan. Dengan langkah lunglai, ia terpaksa menyeret kakinya untuk mengikuti sang majikan.
"Aduh, perut... kenapa harus berdemo di saat yang tidak tepat begini, sih?" keluh Davian nyaris berbisik, meratapi nasibnya.
"Rencana pulang cepat langsung gugur seketika. Pupus sudah harapan maraton drama China malam ini. Maafkan aku, aktor-aktor tampanku, aku terjebak bersama kulkas berjalan ini sedikit lebih lama."
Bara, yang meski berjalan di depan seolah memiliki telinga di mana-mana, ia hanya memberikan satu lirikan tajam dari sudut matanya. Davian segera menutup mulutnya rapat-rapat, pura-pura sibuk membetulkan letak kacamatanya sambil terus melangkah di belakang bayang-bayang besar sang penerus Soryu.
...-Restoran-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Mereka berhenti di salah satu gerai bergaya Tionghoa klasik, tempat makan langganan Bara Soryu. Bahkan dari luar saja, aroma kecap manis, jahe, dan daging panggang sudah tercium kuat dari dapur restoran—seolah-olah restoran itu tak butuh papan nama untuk menarik perhatian pelanggannya.
Bara masuk dan duduk di meja dekat jendela yang menghadap ke lorong mall. Kemudian dia menunjuk kursi di seberangnya.
"Duduk." katanya kepada assistennya.
Davian duduk dengan punggung tegak. Tangannya langsung meraih buku menu di atas meja. Sebenarnya ia sudah hafal isi menu itu—karena mereka sering datang kesini. Namun tetap saja sok berpura-pura membacanya. Soalnya ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Tak lama pelayan pun datang.
"Bakmi ayam jamur, pangsit rebus, dan minuman es teh tawar," kata Bara tanpa membuka menu.
Pelayan langsung mencatat pesanan Bara, lalu menatap Davian. Davian melirik Bara, lalu ke buku menu. Setelah itu kembali menatap Bara lagi.
"Sama aja deh."
Bara meletakkan buku menunya. "Kamu tidak punya pendirian ya?"
Davian menutup menunya. "Wakadanna aku—"
"Setiap makan bareng, selalu pesan yang sama denganku."
"Karena pilihan Wakadanna sudah terjamin selalu enak," kata Davian dengan nada yang berusaha terdengar wajar.
"Jadi aku sekarang harus jadi konsultan kulinermu juga ya?"
"Bukan begitu, Wakadanna!"
"Sudah. Pelayan masih menunggu."
Davian menutup mulutnya. Pelayan mencatat dan pergi dengan ekspresi seseorang yang sudah terlalu sering melihat dinamika aneh antara orang kaya dan asistennya.
Beberapa saat kemudian makanan pun datang. Bara mulai makan dengan gerakan yang tidak terburu-buru. Davian mengikuti, ia justru lebih fokus pada perutnya yang sudah memprotes sejak satu jam yang lalu.
Dua menit berlalu dalam diam yang tidak terlalu canggung. Saat tengah makan, Bara tiba-tiba terdiam. Di luar jendela, tepatnya di lorong mall yang ramai orang berlalu-lalang, ia melihat seorang gadis berdiri sendiri di tengah-tengah keramaian.
Gadis itu berpakaian ala Korea, berambut hitam panjang yang dikepang kedua. Sebuah tas selempang ia genggam erat dengan kedua tangan. Matanya terus bergerak ke kiri dan kanan, seperti orang yang kebingungan
Bara langsung meletakkan sumpitnya.
"Anak itu kenapa?" tanyanya, lebih ke diri sendiri daripada ke Davian.
Davian menoleh ke luar. "Tersesat kayaknya. Biarin aja, Wakadanna. Nanti juga ketemu sendiri."
Bara tidak menjawab.
"Wakadanna?" Davian meliriknya.
Bara tiba-tiba berdiri.
Davian membelalak. "Eh?! Wakadanna, makanannya masih—"
"Tunggu di sini."
Davian menatap Bara yang melangkah keluar, lalu menatap piring makanannya yang baru setengah habis, lalu menatap punggung Bara lagi.
"Ya ampun," gumamnya. Dia meraih sumpitnya kembali. "Oke. Oke, gapapa. Kamu makan duluan, Dav. Ini momennya."
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉