Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Sang Kompas dan Raja Pembantai
Bilah bayangan raksasa di tangan Han Do-Yoon bergetar, memancarkan dengungan pelan yang melahap suara di sekitarnya. Udara di dalam Aula Utama Museum Nasional menjadi sangat dingin. Niat membunuh yang murni merembes keluar dari tubuh sang Pewaris Ketiadaan, membuat Yoo Ji-Ah yang berdiri puluhan meter di belakangnya tanpa sadar menahan napas.
Dua Ksatria Perunggu Terakota yang tersisa tidak memiliki rasa takut. Mereka diprogram untuk menghancurkan penyusup, apa pun risikonya.
WUSSH! WUSSH!
Kedua patung raksasa itu menerjang dari dua sisi yang berlawanan, mencoba menjepit Do-Yoon. Tombak kapak mereka diayunkan secara mendatar dengan kekuatan penuh, menciptakan tekanan angin yang sanggup meremukkan tulang manusia normal bahkan sebelum mata pisaunya menyentuh kulit.
"Mati," ucap Do-Yoon datar.
Ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat dalam satu gerakan yang sangat mulus. Bilah raksasa dari Penebas Malam menyapu udara, membentuk lengkungan bulan sabit berwarna hitam pekat yang meluas.
SYRIINGGG!
Lengkungan bayangan itu menabrak kedua Ksatria Perunggu beserta senjata mereka secara bersamaan. Waktu seolah berhenti berdetak selama satu detik, sebelum akhirnya suara derak logam patah bergema nyaring.
Tombak kapak raksasa yang terbuat dari perunggu ajaib itu terpotong menjadi dua. Tak berhenti sampai di situ, sabetan bayangan Do-Yoon terus melaju, memotong pinggang kedua patung raksasa itu seakan mereka hanyalah lilin mainan.
Tubuh bagian atas kedua Ksatria Perunggu itu bergeser dari pinggangnya, lalu jatuh berdebum ke atas lantai pualam. Api merah di rongga mata mereka berkedip-kedip sejenak, menatap Do-Yoon dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Kekuatan absolut. Tanpa setitik pun gerakan yang sia-sia.
[Anda telah menghancurkan Ksatria Perunggu Terakota (Tingkat C) x2.]
[Misi Pemusnahan diselesaikan!]
[Anda mendapatkan 15.000 Poin Pengalaman.]
[Tingkat Anda telah naik!]
[Tingkat Anda telah naik!]
[...Tingkat Anda saat ini adalah 20.]
Rasa hangat yang jauh lebih intens dari sebelumnya mengalir di sekujur tubuh Do-Yoon. Mencapai Tingkat 20 di hari kedua kiamat adalah sebuah pencapaian yang bahkan menentang logika Sistem itu sendiri.
[Pencapaian Hebat! Anda adalah manusia pertama di Bumi yang mencapai Tingkat 20!]
[Anda mendapatkan Gelar: 'Pelopor Batas'.]
[Gelar 'Pelopor Batas' memberikan regenerasi Energi Sihir dan Stamina sebesar 50% lebih cepat saat berada dalam pertarungan.]
[Batas Atribut Maksimal Tahap Pertama telah dibuka.]
Do-Yoon mengibaskan pedangnya, mengembalikannya ke dalam wujud bayangan yang menyusup ke bawah sepatunya. Ia mengabaikan rentetan pesan kebanggaan dari Sistem dan fokus pada Jendela Rasi Bintang yang sedang ricuh di sudut matanya.
[Rasi Bintang 'Dewa Tombak Api' mengutuk kelemahan penjaga museum!]
[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' membuang napas lega melihat keselamatan Anda dan inkarnasinya.]
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' mengirimkan pesan: "Tebasan yang indah. Ilmu berpedangmu tidak lahir dari bakat, melainkan dari lautan darah. Aku menyukainya."]
[Rasi Bintang 'Raja Serigala Pemakan Bangkai' tidak berhenti melolong kegirangan! Ia menyumbangkan 5.000 Koin Emas!]
"Dewa Perang itu setidaknya memiliki mata yang lebih baik daripada dewa picik lainnya," guman Do-Yoon pelan. Ia tidak salah; ilmu pedangnya adalah hasil dari penderitaan dan usahanya bertahan hidup sebagai kuli panggul yang dipaksa bertarung di kehidupan lalu.
Ia berbalik dan melangkah tenang menuju tumpuan pualam di tengah aula.
Di atas sana, Kompas Dimensi masih berputar pelan, memancarkan cahaya keemasan. Do-Yoon mengulurkan tangannya dan meraih artefak tersebut. Logam peraknya terasa dingin namun berdenyut selaras dengan detak jantungnya.
[Anda telah mengklaim Pusaka Tersembunyi: Kompas Dimensi!]
Peringkat: Pahlawan (Bisa Berkembang)
Keterangan: Artefak yang ditinggalkan oleh Penjelajah Kehampaan kuno. Mampu mencatat koordinat dari berbagai labirin, dimensi saku, dan celah ruang.
Keahlian Bawaan (Aktif): 'Lompatan Ruang' - Mengizinkan pengguna untuk memindahkan dirinya dan maksimal tiga orang di sekitarnya ke koordinat yang telah dicatat (Waktu jeda penggunaan: 7 Hari).
"Sempurna," senyum kepuasan akhirnya mengembang di wajah Do-Yoon. Ia memasukkan benda itu ke dalam Ruang Penyimpanan.
Dengan artefak ini, ia tidak hanya bisa melarikan diri dari situasi krisis mutlak, tetapi juga bisa menyusup ke dalam wilayah para Rasi Bintang di tahap akhir nanti. Rencananya perlahan terbentuk menjadi kenyataan yang tak terhentikan.
Dari arah pintu masuk, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar. Ji-Ah berlari menghampirinya, matanya masih terbelalak menatap sisa-sisa potongan Ksatria Perunggu yang berserakan.
"K-kau menghancurkan mereka semua," ucap Ji-Ah takjub, suaranya sedikit gemetar. "Do-Yoon... Tingkat berapa kau sekarang sebenarnya?"
"Cukup tinggi untuk memastikan kita tidak mati hari ini," jawab Do-Yoon diplomatis. Ia tidak berniat membeberkan statusnya secara gamblang. "Apakah adikmu baik-baik saja?"
Ji-Ah menoleh ke punggungnya. Ji-Hye masih menutup matanya erat-erat, menempelkan wajahnya ke leher sang kakak. "Dia ketakutan karena suara benturannya, tapi dia tidak terluka."
"Bagus. Beristirahatlah lima menit. Kita telah membuang cukup banyak waktu di sini," kata Do-Yoon sambil memeriksa jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 07:30 pagi.
Di luar sana, Gelombang Pawai Kematian pasti telah membanjiri seluruh jalanan. Keluar dari museum ini sama saja dengan menyelam ke dalam lautan monster. Namun, tinggal di dalam museum juga bukan pilihan, karena Misi Utama mengharuskan mereka bertahan hidup atau membunuh Pemimpin Gelombang. Jika mereka bersembunyi hingga batas waktu, mereka tidak akan mendapatkan Poin Pengalaman berharga dari misi tersebut.
Namun, sebelum kelima menit itu berakhir, getaran yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya mengguncang seluruh bangunan museum.
GERRRUMMMM!
Cahaya kristal biru di atas langit-langit berkedip hebat lalu pecah berkeping-keping, meninggalkan Aula Utama dalam keadaan remang-remang yang hanya diterangi cahaya matahari pagi dari celah jendela di kejauhan.
Debu tebal berjatuhan layaknya hujan salju. Dari arah permukaan tanah di atas mereka, terdengar suara hantaman yang luar biasa keras, seolah sebuah komet raksasa baru saja menghantam atap gedung.
[Peringatan Darurat!]
[Konsentrasi Energi Sihir dari artefak yang baru saja dicabut segelnya telah menarik perhatian entitas raksasa!]
[Gelombang Pawai Kematian memusatkan serangannya ke koordinat Anda!]
Wajah Ji-Ah memucat. "Apakah patung-patung penjaga lainnya terbangun?!"
"Bukan dari dalam museum," ucap Do-Yoon, matanya menatap tajam ke arah langit-langit beton. "Dari luar."
Tepat setelah ia mengucapkan hal itu, atap beton setebal lima puluh sentimeter di sudut utara Aula Utama hancur berantakan. Bongkahan batu dan besi beton berjatuhan ke lantai pualam. Sinar matahari pagi yang merah menyinari celah yang baru saja terbuka tersebut.
Dan dari celah itu, melompat turun sesosok makhluk raksasa yang membuat keempat Ksatria Perunggu tadi terlihat seperti mainan anak-anak.
BUMMM!
Lantai museum hancur membentuk kawah saat makhluk itu mendarat. Ia memiliki tinggi nyaris enam meter. Kulitnya berwarna merah darah dengan otot-otot yang menonjol menjijikkan, dipenuhi bekas sayatan pertempuran lampau. Ia mengenakan mahkota yang terbuat dari jalinan tulang belulang putih, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah palu godam raksasa yang terbuat dari bongkahan baja hitam.
[Pemimpin Gelombang: Raja Orc Darah (Tingkat B-) telah muncul!]
[Seluruh monster di radius tiga kilometer mendapatkan dorongan moral. Kecepatan dan Kekuatan mereka meningkat 20%!]
[Zona Aman Museum Nasional telah dihancurkan secara paksa.]
Di balik lubang atap, Ji-Ah bisa melihat ratusan Orc dan Goblin menyeringai, bersiap untuk ikut melompat turun mengikuti raja mereka.
Raja Orc Darah mendengus, melepaskan uap panas berbau amis dari hidungnya. Mata kuningnya yang buas mengunci pandangan pada Do-Yoon, menyadari bahwa manusia di depannyalah yang menyimpan sumber energi lezat dari Kompas Dimensi.
"Manusia kecil. Bau sihir. Serahkan padaku," geram monster itu dalam bahasa iblis yang terbata-bata, namun cukup jelas untuk dipahami. Suaranya menggetarkan udara di sekeliling mereka.
Yoo Ji-Ah menelan ludah. Keringat dingin mengalir deras di punggungnya. Ini adalah bencana tingkat menengah yang biasanya baru muncul di bulan ketiga kiamat. Munculnya makhluk ini di hari kedua adalah sebuah anomali mematikan.
Bahkan ia, dengan Kelas Pahlawannya yang baru mencapai Tingkat 9, merasa bahwa satu ayunan palu dari makhluk itu sudah cukup untuk menghancurkan tubuhnya dan adiknya menjadi bubur daging.
Namun, di tengah keputusasaan yang mencekik itu, terdengar suara dengusan meremehkan.
Han Do-Yoon melangkah maju, memosisikan dirinya tepat di depan Ji-Ah dan sang Pemimpin Gelombang. Tidak ada ketakutan, tidak ada keraguan. Matanya yang segelap kehampaan justru memancarkan gairah seorang pemangsa yang baru saja menemukan mangsa setimpal.
"Kau pikir kau raja di tempat ini, babi kotor?" ucap Do-Yoon, merentangkan kedua tangannya.
Gelombang energi bayangan yang jauh lebih pekat dan masif dari sebelumnya meledak dari tubuhnya, menelan cahaya matahari yang masuk dari atap. Udara di dalam museum seakan membeku oleh niat membunuh absolut.
"Biar kutunjukkan padamu," bisik Do-Yoon, menyeringai iblis, "siapa penguasa sejati di wilayah kematian ini."
jangan lupa hadir juga 😉