Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Obrolan Wanita
Bab 32. Obrolan Wanita
(POV Author
Jantung Lyra berdegup kencang mana kala mendengar kata rindu dari Teguh. Ia tidak bisa menyembunyikan lagi rasa sukanya terhadap pria yang selalu menolongnya.
Pipinya masih bersemu merah dengan jantung yang masih berdebar-debar walau pintu telah tertutup rapat. Jutaan kupu-kupu rasanya menari-nari dalam hatinya. Lyra serasa terbang ke awang-awang.
"Diapain sama Teguh?"
Jleb.
Anjlok seketika. Bunga yang mekar tiba-tiba kuncup bagai putri malu. Kupu-kupu yang menari-nari seakan kabur di kejar Patrick dan Spongebob. Senyum Lyra pudar seketika berganti suasana tegang ketika suara wanita paruh baya terdengar di telinganya. Lyra lupa sang Umi ada di kamar sedang menunggunya.
Lyra gelagapan bagaimana harus menjelaskannya pada wanita pemilik pria yang baru saja menggetarkan hatinya.
"Umi belum tidur?" Tanya Lyra mencoba membuang rasa canggungnya dan mengalihkan pembicaraan.
"Belum, kemarilah."
Lyra mengangguk. Meski dalam hatinya ada rasa takut dan sungkan, ia mencoba untuk tetap bersikap tenang.
Lyra melangkah perlahan, lalu duduk di tepi ranjang yang kosong. Kemudian merebahkan dirinya di samping sang Umi.
Degup jantungnya kembali berdebar-debar. Bukan karena cinta yang bersemi, melainkan getar-getir menghadapi calon mertua. Eh...
Lyra ngatur napasnya perlahan setenang mungkin.
"Coba ceritakan pada Umi, apa yang terjadi padamu Nak."
Rasa gugup itu mendadak lenyap hanya dengan satu kata 'Nak'. Dan itu membuat Lyra berani menoleh wajah sang Umi.
Tatapan mata teduh penuh kasih itu membuat Lyra merasa bersalah telah menganggapnya sebagai wanita yang galak.
Lyra menari napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Saya wanita yang gagal Umi. Gagal membina dan mempertahankan rumah tangga saya yang masih seumur jagung." Tutur Lyra.
"Ceritakan semuanya. Umi akan mendengarkan keluh mu Nak."
Walau malu dan berat mengingat kenangan pahit berumah tangga dengan Andi, perlahan Lyra menceritakan semua kepada sang Umi tanpa ditutupinya.
Dari perkenalannya dengan Andi sampai menikah, dan menemukan kejanggalan-kejanggalan, hingga kabur dari rumah dan tinggal di Apartemen Teguh, semua Lyra beberkan dengan suara bergetar menahan sesak dari air mata.
"Astagfirullahaladzim..., kasihan sekali nasibmu Nak. Jadi sampai saat ini kamu masih perawan?"
Lyra mengangguk.
"Teguh tahu?"
Lyra menggeleng.
Umi menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.
"Sini...." Ujar Umi dengan lembut mengajak Lyra masuk dalam dekapannya.
Tanpa ragu Lyra menurut dan menggeserkan tubuhnya masuk dalam dekapan Umi.
Satu elusan di punggung yang lembut membuat tangis Lyra pecah. Mata yang sedari tadi mengembun namun ditahan agar tidak tumpah pada akhirnya menetes juga.
Lyra merintih dalam pelukan Umi, merintih dalam tangis akan sakit yang ia rasakan seorang diri selama ini. Ini lah yang Lyra butuhkan. Sebuah dekapan hangat dan kasih sayang seorang ibu yang mengerti akan jeritan hatinya.
"Semua akan baik-baik saja Nak. Allah Maha Mengetahui, dan Maha Adil. Bersimpuhlah padanya agar diberikan kemudahan segala urusanmu dan diberikan kebahagiaan setelah kesusahanmu."
Umi mengusap lembut punggung yang bergetar itu. Cukup lama Umi membiarkan Lyra larut dalam kesedihan untuk mengeluarkan beban hatinya.
Setelah puas menangis Lyra melepaskan dekapannya, dan melihat kepada Umi yang tersenyum padanya.
"Saya jarang sholat Umi."
"Sholatlah Nak, karena itu kewajiban kita yang telah diberikan kehidupan oleh-Nya untuk selalu mengingat-Nya."
"Iya Umi."
Dalam hati Lyra berjanji pada dirinya sendiri, untuk memperbaiki diri dengan lebih mendekatkan diri pada Ilahi dari sebelumnya.
"Mulai besok tinggallah dengan Umi dan Abi. Tidak baik bagimu dan Teguh tinggal bersama sedangkan kalian bukan muhrim. Kamu mau?"
"Iya Umi, Lyra mau."
"Tidurlah. Kamu pasti lelah."
"Iya Umi. Umi juga pasti lelah habis perjalanan jauh."
Keduanya lalu mengambil posisi tidur senyamannya. Umi mengusap-usap lembut kepala Lyra seakan-akan wanita itu adalah gadis yang baru berumur 10 tahun. Sampai i Lyra tertidur, barulah Umi memejamkan matanya.
***
Menjelang subuh, Umi membangunkan Lyra untuk di ajak sholat bersama. Dengan perlahan Lyra mengerjap matanya dan beranjak bangun untuk bersiap melakukan sholat. Ternyata Teguh dan Abi pun sudah siap dengan baju koko mereka untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Lyra merasa malu akan dirinya yang selama ini telah lalai akan kewajibannya. Namun ia sangat bersyukur di pertemukan dengan keluarga yang dengan ramah dan perhatian yang dengan sabar menuntunnya memperbaiki diri.
Mereka berempat lalu melakukan sholat subuh berjamaah. Kemudian sambil menunggu pagi tiba, Teguh menyelesaikan sedikit pekerjaannya sambil menunggu sarapan yang sedang di siapkan Lyra dan juga sang Umi.
Rencananya hari ini Teguh akan mendaftarkan gugatan cerai Lyra ke kantor Pengadilan Agama. Berkas-berkas telah ia siapkan tinggal Lyra menandatangani bahwa ia menyerahkan kepengurusannya kepada pengacara.
Hal ini sudah mereka bicarakan sebelumnya, agar hak atas harta yang berikan kepada Andi segera terputus, dan kembali kepada Lyra secara utuh.
"Kamu sudah siap Cil?"
"Sudah Bang."
"Tanda tangan di sini Cil."
Teguh menyodorkan dua berkas di atas meja kepada Lyra.
"Pagi ini Abang akan segera urus perceraianmu. Abang rasa, hakim akan mengabulkan gugatanmu, mengingat bukti yang kita kumpulkan sudah sangat memberatkannya." Kata Teguh lagi.
"Apa aku perlu ikut Bang?"
"Kamu ada kegiatan kampus?"
"Nggak ada sih Bang, cuma perlu cari bahan aja buat rampungkan skripsi."
"Ikut saja. Nanti kita sekalian ke toko buku cari referensi mu." Ajak Teguh.
"Sarapan dulu kalian. Koper mu sudah kamu bereskan Ra?" Tanya Umi.
"Sudah Mi." Jawab Lyra.
"Ya sudah nanti Umi angkut sekalian."
"Berat Mi, biar Lyra saja. Lumayan jauh ke baseman."
"Nggak perlu. Kita pindah di sebelah Unit Teguh aja kok." Ujat Umi.
"Hah?"
Lyra masih bingung dengan apa yang baru saja di katakan oleh Umi.
"Kamu belum tahu Cil? Unit sebelah Umi sama Abi yang sewa. Jadi selama Umi di Jakarta, Umi akan tinggal di situ." Ujar Teguh menjelaskan.
"Oh, aku kira akan pindah kemana, gitu."
Mana boleh kamu jauh dari Gue Cil. Ntar Gue kangen kan berabe. Batin Teguh. Eh...
Setelah menghabiskan sarapan mereka, Teguh dan Lyra pun berangkat menuju Pengadilan Agama hari itu.
Bukan tanpa alasan kini Teguh ingin selalu Lyra bersamanya. Mengingat apa yang terjadi dengan Lyra sebelumnya, Teguh takut wanita itu dalam keadaan bahaya bila sampai Andi berhasil membawanya secara paksa.
Gugatan telah di daftarkan dengan agenda sidang pertama tanpa melalui tahapan mediasi. Sidang itu akan digelar 10 hari kedepannya.
Teguh bergerak cepat menggunakan otoritasnya sebagai pengacara. Dan itu membuat Lyra kagum atas sosok Teguh yang baru saja ia lihat dalam bekerja.
Handphone milik Teguh berdering ketika mereka memasuki mobil hendak menuju ke toko buku.
"Hallo Bro."
"Gue udah dapatkan informasi siapa itu Hasan Sanusi."
"Siapa?"
"Dia seorang pensiunan dari Kepala Bank yang cukup besar. Akan Gue kirim datanya lewat e-mail. Lo periksa saja. Disana sudah tertera alamat tempat tinggalnya."
"Alhamdulillah, thanks ya Bro."
"Oke. Kalau butuh bantuan lagi, seperti biasa, call me."
"Pasti."
Teguh mematikan handphone-nya. Kabar yang baru saja ia terima membuatnya tersenyum. Ada titik terang kejelasan untuk masalah warisan Lyra. Dan Teguh berencana akan mendatangi rumah Hasan Sanusi setelah Lyra membeli buku-buku yang ia perlukan.
Bersambung...
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄