Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Kyra terasa seperti dihantam batu besar. Ada desiran aneh, campuran antara keharuan miris dan kebencian yang makin membakar. Felisha, gadis kecil berusia delapan tahun dengan gaun piyama sutra yang bersih dan harum adalah sosok anak yang mendapatkan seluruh kasih sayang yang seharusnya menjadi milik Kyra. Sementara Kyra dibuang ke neraka di pedalaman desa, Felisha dilimpahi kemewahan dan dimanja setengah mati.
"Tunggu Kak Kyra...?" Felisha memiringkan kepalanya, mencoba mengingat-ingat.
"Tapi kata Mama, aku tidak punya Kakak. Mama cuma punya aku!" ucap bocah itu dengan nada ketus yang meniru persis cara bicara ibunya.
Belum sempat Kyra menjawab, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar. Mama Dania muncul di ambang dapur dan ketika melihat Felisha berdiri berdekatan dengan Kyra, wajah wanita itu seketika memucat karena panik dan murka.
"Felisha! Kenapa di situ? Jangan dekat-dekat dengan dia!" jerit Mama Dania histeris.
Mama berlari cepat, menyambar tubuh Felisha dan menariknya jauh dari Kyra, seolah-olah Kyra adalah wujud wabah penyakit yang sangat mematikan.
"Mama, katanya Kak Kyra dia anak Mama sama Papa...,"
"Jangan dengarkan dia! Dia itu pembawa sial! Jangan dekat-dekat dia nanti kamu bisa sakit dan celaka!" potong Mama Dania kasar seraya menatap Kyra dengan pancaran mata penuh kebencian.
Mama Dania lalu menoleh pada Bi Inah yang baru keluar dari ruang cuci, "Bi Inah! Kenapa membiarkan anak ini berkeliaran di dapur utama saat anak saya bangun? Suruh dia kerja di luar atau di gudang belakang! Kalau sampai Felisha kenapa-napa gara-gara bertemu dia, Bi Inah saya pecat!" ucap Mama Dania.
"Ma-maaf, Nyonya! Ampun, Nyonya!" Bi Inah membungkuk-bungkuk ketakutan.
Begitu Mama Dania menuntun Felisha pergi ke lantai atas, Bi Inah melampiaskan ketakutannya kepada Kyra, ia menarik lengan Kyra dengan kasar hingga kain lap berair sabun di tangan Kyra terjatuh.
"Kau dengar itu, dasar anak sialan! Garam dan sapu lidi di halaman belakang menunggu! Cepat bersihkan dedaunan di taman luar dan jangan berani-berani menampakkan mukamu di area dalam!" bentak Bi Inah seraya mendorong bahu Kyra hingga Kyra hampir tersungkur di marmer licin.
Kyra menahan napasnya, mengepalkan jemarinya hingga memutih. "Baik, Bi," sahutnya lirih, tetap memasang raut wajah tunduk yang menyedihkan.
Seharian penuh, matahari terik ibu kota membakar kulit Kyra yang sudah pucat dan kusam. Ia dipaksa menyapu halaman rumput mansion yang sangat luas, membersihkan kolam ikan, serta mengangkat puluhan pot tanaman berat di bawah pengawasan ketat Tante Thania dan Sherly yang sengaja bersantai di tepi kolam renang.
"Lihat tuh, Ma. Gaya bajunya lusuh banget, mukanya kayak kurang gizi. Mirip banget sama pembantu, kok bisa-bisanya Om Freddy punya anak kayak gitu?" bisik Sherly seraya menyesap jus jeruknya dan menyilangkan kaki cantiknya.
Tante Thania terkekeh sinis, matanya melirik tajam ke arah Kyra yang sedang mengangkut ember air berukuran besar untuk menyiram tanaman.
"Namanya juga anak buangan, Sherly. Mau dikasih darah se-berkelas apa pun, kalau dasarnya pembawa sial dan dibesarkan di desa, ya tetap saja jadinya sampah. Baguslah dia balik, kita punya babu gratisan baru di rumah ini," balas Tante Thania.
Kyra mendengar setiap bait hinaan itu, perutnya yang masih menyisakan bekas luka jahitan akibat penusukan Yolla terasa sangat ngilu setiap kali ia mengangkat beban berat, keringat dingin mengucur membasahi pelipisnya. Namun, bukannya menangis, Kyra justru menggunakan rasa sakit fisik itu untuk mengunci ingatan akan wajah-wajah orang yang harus ia hancurkan.
Di saat Kyra sedang mengelap kaca jendela luar ruang kerja Papa Freddy, ia melihat pria tua itu sedang sibuk menelepon di dalam. Papa Freddy tampak sangat cemas, berkali-kali memijat pelipisnya seraya membolak-balikkan berkas keuangan perusahaan. Dari gerak-gerik dan beberapa patah kata yang tertangkap pendengarannya, Kyra tahu bahwa bisnis keluarga Andreas sedang mengalami krisis keuangan yang cukup serius akibat kalah bersaing di pasar.
'Jadi, karena ini kalian panik? Kalian takut miskin dan hancur, makanya kalian sangat menjaga reputasi dan takut pada apa pun yang kalian anggap sial,' batin Kyra.
Malam harinya, penderitaan Kyra belum berakhir. Setelah menyapu seluruh halaman, ia tidak diberi porsi makan malam yang layak. Bi Inah hanya memberikan sebungkus nasi sisa dari dapur yang sudah agak mengeras bersama sedikit kuah sayur kangkung.
"Makan itu di gudang! Nyonya Dania bilang kau tidak boleh makan makanan segar dari kulkas utama!" ketus Bi Inah sebelum mengunci pintu lorong belakang dari dalam.
Kyra duduk di atas kasur kapuknya di gudang yang gelap dan berdebu, hanya ada satu bohlam redup yang menerangi ruangan sempit itu dan mengunyah nasi keras itu perlahan.
Dalam kegelapan, ponsel yang sempat diselipkan Yolla di dalam baju Kyra sebelum ia berangkat ke ibu kota menyala singkat dan sebuah pesan singkat pun masuk.
[Bagaimana harimu di rumah keluarga tercintamu? Masih bertahan? - Yolla]
Jemari Kyra yang kasar dan berdebu mengusap layar ponsel, wajahnya yang semula tampak menyedihkan dan ketakutan saat di hadapan orang-orang rumah, seketika berubah menjadi sangat dingin dan tanpa ekspresi. Tatapan matanya kelam bagaikan dasar lautan yang paling dalam, lalu Kyra mengetik balasan dengan cepat.
^^^[Hari pertama berjalan dengan baik, mereka memperlakukanku seperti sampah dan pembawa sial, persis seperti yang kita perkirakan. Kerajaan kecil mereka mulai goyah karena krisis keuangan, biarkan mereka terus menghinaku... semakin tinggi mereka menginjakku, semakin hancur saat aku menjatuhkan mereka nanti.]^^^
Pesan terkirim, Kyra mematikan ponselnya dan membaringkan tubuhnya yang lebam dan pegal di atas kasur keras. Di balik kegelapan malam dan keheningan gudang tua itu, Kyra tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh dendam yang siap memangsa siapa saja yang telah melemparnya ke dalam neraka.
Suara dering jam dinding di sudut ruang keluarga berdentang pelan, menandakan waktu telah menunjukkan pukul dua pagi. Di saat seluruh penghuni rumah terlelap dalam kenyamanan kasur bulu angsa mereka, Kyra perlahan membuka matanya di dalam gudang sempit yang pengap.
Rasa nyeri di bekas luka tusukan di perutnya masih sesekali menyengat jika ia bergerak terlalu cepat, namun Kyra mengabaikannya. Malam ini adalah waktu yang tepat untuk mulai memetakan isi rumah keluarga Andreas secara lebih detail, bukan hanya dari luar, melainkan hingga ke rahasia-rahasia terkecil yang disimpan di dalam ruangan pribadi mereka.
Dengan mengenakan pakaian tidur yang sama sekali tidak mencolok, Kyra mendorong daun pintu gudang yang tidak pernah dikunci dari luar, karena keluarga Andreas terlalu meremehkannya untuk bisa kabur atau berbuat ulah. Engsel pintu berderit pelan, menciptakan suara kecil yang nyaris tak terdengar di tengah kesunyian malam.
Langkah kakinya ringan tanpa suara, berbekal pengalaman hidup bertahun-tahun di rumah panggung Paman Dion yang lantai kayunya rapuh, Kyra terbiasa berjalan tanpa meninggalkan jejak, ia menyusuri lorong belakang yang temaram menuju bagian utama mansion.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu