Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Penculikan di Taman Belakang
Pesta gala dinner berjalan dengan gemerlap. Lampu kristal berkilauan di atas kepala para tamu, orkestra memainkan lagu-lagu klasik yang mengalun merdu, dan aroma hidangan mahal memenuhi seluruh ruangan. Namun, di balik kemewahan itu, ada dua hati yang sedang bergejolak.
Arthur berdiri di dekat bar, segelas wiski di tangannya. Matanya tidak lepas dari satu sosok: Helena. Wanita itu sedang duduk bersama timnya, sesekali tertawa dan berbincang dengan Rangga serta Dinda. Gaun biru dongkernya berkilauan, membuatnya tampak seperti bintang di tengah keramaian.
Arthur menggigit bibirnya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menunggu hingga pesta selesai. Tapi melihat Helena tersenyum begitu lebar pada orang lain, terutama pada Rangga—pria yang duduk di sampingnya—membuat dadanya terasa terbakar.
"Pak, mungkin Bapak perlu menenangkan diri sedikit," bisik Aldi di sampingnya. "Helena hanya sedang berbicara dengan rekan kerjanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Kamu tidak mengerti, Aldi," jawab Arthur, suaranya rendah tapi penuh emosi. "Aku sudah kehilangan lima belas tahun. Dan sekarang, dia ada di depanku, tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Aku tidak bisa bicara. Aku hanya bisa menonton dia berdansa dengan orang lain."
Aldi menghela napas. "Bapak harus bersabar. Semua akan selesai setelah acara ini."
Namun, kesabaran Arthur benar-benar diuji beberapa menit kemudian.
Orkestra memainkan lagu lambat yang romantis. Beberapa pasangan mulai berjalan ke lantai dansa. Dan di antara mereka, Arthur melihat Helena berdiri. Rangga, rekan kerjanya, mengulurkan tangan dan mengajaknya berdansa. Helena tersenyum, menerima ajakan itu, dan mereka berdua melangkah ke tengah lantai dansa.
Tangan Rangga memegang pinggang Helena. Tangan Helena bertumpu di bahu Rangga. Mereka bergerak perlahan, mengikuti irama musik, dan Helena tertawa pelan saat Rangga membisikkan sesuatu di telinganya.
Arthur mengepalkan tangannya. Gelas wiski di tangannya hampir remuk. "Aldi, aku tidak bisa menahan diri. Aku ingin memisahkan mereka sekarang."
Aldi segera memegang lengan Arthur. "Jangan, Pak. Ini acara publik. Jika Bapak bertindak kasar, semua orang akan tahu. Citra Bapak sebagai pengusaha bisa hancur. Dan Helena sendiri mungkin akan semakin menjauh."
Arthur menelan amarahnya. Napasnya berat. Dia menatap Helena dan Rangga yang terus berdansa, dan setiap gerakan mereka seperti pisau yang menusuk hatinya. Dia tahu Helena berhak bahagia, berhak bergaul dengan siapa pun. Tapi sebagai pria yang masih mencintai Helena, melihat wanita itu berada di dekat pria lain adalah siksaan yang tak tertahankan.
"Baik," Arthur akhirnya berkata, suaranya serak. "Aku akan menahan diri. Tapi setelah dansa ini selesai, aku ingin bertemu dengannya. Sekarang."
Aldi mengangguk. "Saya akan mengatur pertemuan setelah pesta usai. Tapi Pak, tolong jangan lakukan hal bodoh."
Arthur tidak menjawab. Dia hanya menatap Helena, menahan setiap gelombang emosi yang ingin meledak.
---
Dua lagu kemudian, dansa pun selesai. Helena dan Rangga berpisah dengan sopan, saling tersenyum, lalu Helena berjalan ke meja untuk mengambil segelas air mineral. Arthur mengawasinya dari jauh, bersiap untuk mendekat.
Tapi sebelum Arthur bergerak, Helena berbalik. Dia terlihat sedikit kepanasan, mungkin karena dansa tadi. Dia membisikkan sesuatu pada Dinda, lalu berjalan keluar dari ballroom, melewati pintu samping.
Arthur mengerutkan kening. Ke mana dia pergi?
Tanpa berpikir panjang, Arthur mengikuti Helena. Dia berjalan perlahan, menjaga jarak agar tidak terlihat. Helena melewati lorong panjang, lalu membuka pintu kaca yang menuju ke area luar. Dia tidak pergi ke toilet. Dia justru berjalan ke arah taman belakang hotel.
Arthur mengikutinya sampai ke taman. Suasana di luar sangat tenang. Lampu taman berwarna kuning remang, menerangi jalan setapak berbatu. Helena berhenti di dekat sebuah kolam kecil, menatap bunga-bunga mawar yang bermekaran di sekitarnya. Dia menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba menenangkan diri.
Arthur berdiri di balik pilar taman, menatap Helena dari jauh. Rambutnya tergerai indah di bawah cahaya lampu, dan gaun birunya berkilauan. Dia terlihat begitu tenang, begitu rentan, dan begitu... miliknya.
Namun, rasa cemburu dan amarah yang tadi dia tahan kini berubah menjadi tekad yang nekat. Helena di depannya. Hanya dia berdua. Tidak ada tamu, tidak ada Aldi yang mengingatkan, tidak ada aturan sosial.
Arthur mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat pada Aldi. "Aku di taman belakang. Helena ada di sini. Aku akan membawanya pergi. Siapkan mobil dan tim di pintu belakang. Jangan ada yang menghalangi."
Aldi membalas cepat. "Pak, ini terlalu berisiko. Bisa disebut penculikan."
Arthur mengetik balasan. "Aku tidak peduli. Lakukan saja."
Dia mematikan ponselnya, lalu berjalan perlahan mendekati Helena. Di belakangnya, beberapa anak buah Aldi mulai bergerak diam-diam, mengamati pintu-pintu keluar.
Helena tidak menyadari kehadiran Arthur. Dia masih menatap bunga mawar, matanya tampak kosong. Mungkin dia sedang memikirkan James. Mungkin dia sedang memikirkan apa yang akan terjadi jika Arthur benar-benar tahu.
"Helena."
Helena terkejut. Dia berbalik, dan langsung menatap Arthur yang berdiri hanya beberapa langkah di hadapannya. "Arthur? Kamu... kamu mengikutiku?"
Arthur tidak menjawab. Dia hanya menatap Helena dengan tatapan tajam, tatapan yang membuat Helena merinding. "Kita perlu bicara. Dan tidak di sini."
Helena memundurkan langkahnya. "Arthur, kita bisa bicara besok. Sekarang aku lelah, aku ingin kembali ke hotel."
Arthur maju selangkah. "Kamu tidak akan kembali ke hotel malam ini."
Helena membelalak. "Apa maksudmu?"
Sebelum Helena sempat berteriak atau berlari, Arthur memberikan isyarat. Dari balik semak-semak, dua pria berpakaian hitam langsung melesat. Helena hanya sempat membuka mulut, tapi sebuah kain lembut dengan bau menyengat langsung menutupi hidung dan mulutnya.
"Arthur, kau...!" Helena meronta, tapi tubuhnya mulai lemas. Matanya berputar-putar, dan dalam hitungan detik, dia jatuh ke dalam pelukan Arthur.
Arthur menangkap tubuh Helena dengan lembut. Dia menatap wajah Helena yang sudah tertutup, dan dia menghela napas panjang. "Maafkan aku, Hel. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu melarikan diri lagi. Aku harus tahu kebenaran."
Aldi muncul dari kegelapan, dengan ekspresi cemas. "Pak, semua sudah siap. Mobil di pintu belakang. Tidak ada yang melihat."
Arthur mengangkat Helena, membawanya dengan hati-hati. "Bawa aku ke mobil. Dan pastikan tidak ada CCTV yang merekam."
Mereka berjalan cepat melalui taman, melewati pintu belakang yang sudah dijaga oleh anak buah Aldi. Mobil hitam sudah menunggu. Arthur membaringkan Helena di kursi belakang, duduk di sampingnya, dan menutup pintu.
"Sopir, ke mansion," perintah Arthur.
Mobil melaju meninggalkan hotel, meninggalkan pesta gala dinner yang masih ramai. Di dalam mobil, Arthur menatap wajah Helena yang tertidur lelap. Dia mengusap rambut Helena dengan lembut, bercampur antara rasa bersalah dan tekad.
"Maaf, Hel. Tapi aku sudah lelah menunggu dan kehilangan. Malam ini, aku akan mendapatkan jawaban. Dan mulai sekarang, kamu tidak akan pergi kemana-mana."
Helena hanya diam, terbaring lelap dalam pelukan mantan suaminya, tanpa menyadari bahwa hidupnya akan berubah total dalam beberapa jam ke depan.